Lagi-lagi semalam wajahku mampang di salah satu foto dokumentasi OSPEK Kampus. Bukan apa-apa, aku hanya tidak suka menjadi bahan perbincangan orang-orang. Jika hanya satu atau dua foto saja tidak akan begitu ramai memang, tapi coba lihat, setiap dokumentasi perharinya pasti akan ada satu foto yang mengikutkan wajah menyebalkan ini. Hal itu cukup membuat banyak Maba lain yang mulai mempertanyaan siapa aku? Dari fakultas apa? Jurusan apa? Kalian tau, itu menjengkelkan saat kalian harus mendengarnya secara langsung orang berbisik.
Lalu siapa pelaku dibalik postingan menyebalkan itu? Rabara Adinata, ketua bidang dokumentasi OSPEK Kampus tahun ini. Apakah aku mengenalnya? Inginnya sih tidak, tapi terlambat. Setiap malam dia tidur berjarak kurang lebih 100 meter dari ranjangku. Bara adalah tetanggaku yang merangkap sebagai kakak kelas sekolah dari PAUD hingga sekarang menjadi kakak tingkat di kampus.
“Gue ubek-ubek juga nih lensa pake sendok.” Kak Bara yang sedang mengarahkan kameranya padaku, ku lawan dengan sendok bebek bekas makan siangku.
Dia langsung menjauhkan kameranya dari jangkauanku. “Tenang dulu, tenang. Gue jamin foto lu dari gue pasti kualitas premium.”
“Mau premium kek, atau platinum juga awas aja lu ya kalo hari ini ada foto gue lagi di sosmed resmi kampus. Gua ancurin pager rumah lu kak.” Dia hanya membalas dengan senyuman mengejek ke arahku. Sialan.
Beberapa Maba perempuan datang menghampiri kami, terlihat dari Name Tagnya jika mereka berbeda fakultas denganku. Mereka terlihat malu-malu ingin meminta difotokan oleh Kak Bara. Begitulah bagaimana goodlooking senior menjadi bahan rebutan perhatian para Maba. Aku bergegas membuang sampah makan siangku dan pergi meninggalkan mereka. Mereka saja mungkin tidak menyadari kepergianku, tertutup pesona Rabara yang berkilau. Ya itu sedikit berlebihan, maaf.
Saat kembali aku kira akan sedikit lebih tenang. Ternyata aku salah, disini lebih ramai orang-orang yang membicarakan Kak Bara. Bukannya aku iri atau bagaimana, aku hanya lelah mendengar hal yang sama dari tahun ke tahun mengenai manusia satu ini. Berbeda jauh denganku anak yang tidak akan dibicarakan jika bukan berkat orang lain.
Selesai OSPEK hari ini aku berusaha menghubungi Papa, tapi nihil. Tidak ada jawaban. Aku yang sedang duduk di pos satpam melihat seorang yang sedang duduk di atas motornya dengan helm yang bertengger di kepalanya. Orang itu melihat ke arahku, mengode untuk aku datang kepadanya.
Sesampainya aku di sebelah motor, orang itu menyodorkan helm lain untuk aku kenakan. “Om Nathan tadi telfon gue gabisa jemput, hari ini lembur katanya.” Aku hanya mengangguk menjawabnya, segera mengenakan helm dan naik ke atas boncengan.
“Pegangan.”
“Jalan dulu.”
Setelah cukup jauh dari area kampus, aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaket laki-laki di depanku. Selama perjalanan pulang sebenarnya aku agak merasa aneh dengan Kak Bara kali ini. Biasanya dia banyak bicara diatas motor sampai terkadang badanku begitu condong ke samping hanya untuk mendengarkan ocehannya
Ketika berhenti di lampu merah terakhir sebelum memasuki area perumahan rumah kami, Kak Bara akhirnya bersuara.
“Kenapa kita gak pacaran?” Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya, tapi aku berpikir, mungkin ini salah satu leluconnya lagi.
Aku jawab asal saja. “Karna lu kaga minta gue jadi pacar lu.”
“Kalo gue minta emang lu mau?” Aku tidak akan terjebak lelucon konyolnya.
“Coba aja.”
“Anya, kamu mau gak jadi pacarnya Bara?” Sial, aku tidak minum kopi hari ini, tapi jantungku rasanya mau copot.
Aku diam, tidak tau harus bagaimana. Kak Bara memang suka memberikan lelucon-lelucon aneh padaku, tapi tidak pernah sejauh ini.
Merasa aku yang diam saja, dia berkata lagi, “Ga harus dijawab sekarang. Gue udah nunggu lu dari lama, kalo suruh nunggu sebentar lagi masih sanggup kok.”
Aku masih diam sampai di depan rumah, lalu berpamitan dan berterimakasih sudah diantar dan bergegas masuk rumah. Sebelum itu dia sempat mengacak rambutku gemas. Cukup membuatku makin terpaku dengan perlakuannya padaku. Kulihat dia juga sudah memasukkan motornya ke halaman rumahnya.
Semalaman aku terus berpikir apa yang harus aku katakan pada Kak Bara. Aku tidak begitu mengerti. Dari dulu aku tidak berani menyukainya. Aku berusaha, dia seperti begitu tinggi untukku. Aku sungguh merasa tak pantas.
Aku terus berpikir hingga ponselku memberikan banyak notifikasi. Wajahku masuk lagi di laman sosial media kampus. Komentarpun semakin banyak menanyakan hal-hal mengenaiku. Rabara sialan.
Keesokannya adalah hari terakir OSPEK Kampus. Aku masih menyantap sarapanku ketika Papa memanggilku bilang jika Kak Bara sudah di depan siap untuk mengantarkanku ke Kampus. Aku segera berpamitan dan keluar rumah, tidak mau membuat orang lain menunggu terlalu lama.
Masih dengan separuh roti yang aku gigit, aku mendatangi laki-laki diatas motor yang sedang bertumpu pada helm di depannya. Aku mengulurkan tanganku untuk meminta helm padanya, tetapi ia malah mendekat lalu menggigit roti yang ada di mulutku. Aku terdiam, kaget luar biasa. Rasanya ingin kupukul laki-laki di hadapanku ini tapi badanku terlalu kaku untuk melakukannya.
Aku masih diam, dia lalu memakaikanku helm sambil terkekeh pelan melihatku. Rabara sialan, aku terus mengumpat dalam hati, tidak sanggup berkata.
Acara OSPEK hari ini begitu meriah, tidak banyak tugas. Sebentar lagi adalah acara penutupan. Aku terus menemukannya tapi aku tidak pernah mendapatkan waktu untuk berbicara dengannya. Bukan aku, tapi dia, terus-terusan di kerubungi perempuan-perempuan cantik dari berbagai fakultas. Ada yang tiba-tiba menyentuh tangannya, memanggil namanya dengan manja, dan yang paling membuatku tak habis pikir ada yang berpura-pura tersandung di hadapannya.
Aku menahan diri untuk tidak mendatanginya walaupun teman-temanku banyak yang merengek ingin pergi mendatanginya dengan alasan klise ingin di fotokan. Mereka semua akhirnya pergi kepada Kak Bara tanpa aku.
Aku duduk sendiri sambil menyesap minumanku. Melihat orang-orang sedang bersenang-senang, hingga seseorang duduk disampingku lalu terdengar suara jepretan kamera. Aku menoleh, Kak Bara baru saja memotretku.
“Hapus ih, jelek gua pasti.” Aku berusaha menggapai kameranya tapi dia terus berusaha menjauhkannya. Aku tidak mau rupa jelekku ini masuk lagi ke laman kampus.
“Engga gua upload ke lama kampus, yang ini koleksi pribadi.” Dia mengangkat sebelah alisnya. Jantung memang seharusnya berdetak, tapi tolong jangan begitu keras hingga Kak Barapun mungkin saja mendengarnya.
Saatnya berkumpul lagi. Panitia OSPEK memberikan satu agenda tambahan untuk Maba dan Panitia OSPEK. Setiap orang akan diberikan satu bunga mawar yang digantung sebuah note kecil berisikan nama pemilik bunga, lalu untuk memberikannya kepada seseorang favorit masing-masing. Satu orang bisa saja mendapatkan lebih dari satu bunga.
Aku tidak tau harus memberikan bunga ini kepada siapa. Aku melihat sekeliling, orang-orang sudah saling menyerbu. Datang dua orang laki-laki memberikan bunganya padaku. Waw, ada juga orang yang menjadikanku favorit mereka. Hal itu terus berlangsung hingga mungkin ada sekitar 100 lebih mawar di tanganku sekarang.
Aku masih menggenggam mawar milikku. Orang-orang melihatku, saling menebak kepada siapa aku akan memberikannya. Diseberang masih ada sebuah kerumunan, dia pasti sangat terkenal.
Ketika mulai sepi, orang yang menjadi pusat perhatian mulai terlihat, Kak Bara. Mungkin sekitar 100 mawar dia bawa dan sudah lebih dari 200 mawar ia taruh di kursi sampingnya. Orang terakhir datang, Viola, bisa dibilang dia Maba perempuan tercantik tahun ini, seorang influencer, begitu cocok dengan Kak Bara.
Orang-orang menyoraki mereka berdua, meminta Kak Bara untuk memberikan mawarnya pula kepada Viola. Entahlah, sedikit sesak rasanya. Aku berpaling, tidak ingin melihatnya.
Seseorang datang berdiri dibelakangku. Menyodorkan mawar melewati bahuku. Aku membaca note kecil tergantung, ‘Rabara’. Aku menoleh menemukan Kak Bara. Aku berbalik berhadapan dengannya.
“Kalo lu trima ini, brarti lu mau jadi pacar gue. Kalo lu gamau jadi pacar gue, lu bisa mundur dan kasih mawar lu buat orang lain.”
Aku mundur satu langkah. Kak Bara memandangku pasrah. Hatiku tertawa melihatnya, tapi aku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya. Aku segera mendekat lalu menukar mawarnya dengan mawarku. Kak Bara terlihat kaget, namun aku segera bergegas berjalan pergi.
“Dia pacar gua.” Aku langsung menengok ke arahnya, menatapnya sinis. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dihadapan orang banyak sambil mendudingku dengan telunjuknya. Dia hanya membalas dengan senyuman dan mengangkat sebelah alisnya.
Dan inilah aku sekarang, Anya, pacar ketua bidang dokumentasi OSPEK Kampus, idola para Maba tahun ini.