"Kamu kenapa diam aja? " menepuk pundak tari dari belakang
"ah, Maaf" berbalik badan
"Ayo balik. Gelap banget nih di toilet"
" Oh oke. Ayo" melangkah, mulai meninggalkan toilet
"Oke pelajaran hari ini selesai. Kalian bisa langsung pulang, dan kalau bisa jangan ada yang mampir-mampir langsung pulang ke rumah saja" Guru di depan dengan rambut panjangnya yang terikat, dengan setelan baju seragam berwarna coklat keluar kelas dan melangkah pergi menuju kantor yang berada di ujung.
Apa yang dikatakan guru barusan sepertinya tidak terlalu di pedulikan oleh para murid. Baru juga guru itu keluar, para murid sudah berbincang satu sama lain. Ada yang ingin ke warnet, mampir dulu ke warung, mampir dulu ke rumah temen lah, ya meskipun ada yang tetap menurut untuk langsung pulang ke rumah.
"Tari mampir ke warung depan dulu yuk, "
"Sorry ya. Nggak deh, gue langsung ke rumah aja"
"Oh, oke. Nggak papa Ya udah bye-bye" sambil Melambaikan tangannya
"Kalian tu seneng banget ngikutin gue. Tau nggak sih kalau gue risih? "
Dan yang tari maksud mereka itu, hanya tertawa senang karena sudah menjahilinya
Sesampainya di rumah, yang hanya berukuran enam kali enam meter itu, hanya ditinggali Tari seorang.
Setelah membuka pintu, Tari melempar asal tasnya di kursi berbusa dengan ukuran kecil di ruang tamu nya. Berjalan menuju kamar sambil membuka satu-persatu kancing baju, melepas dasi panjang nya yang berwarna biru, menaruhnya asal saja diatas kasur. Jika Ini adalah sebuah film kalian akan terkejut apa yang terdapat pada punggungnya Tari. Sebuah luka bergores-gores di punggungnya yang sudah berwarna gelap. Ada yang berukuran besar dan panjang, ada juga yang berukuran kecil. Kalau dilihat itu seperti luka lama.
"hihihihi.. lihat luka -luka itu! Kalau saja dia tidak nekat waktu itu! Tak kan jadi begitu! kakakaka! " Dia tertawa didepan pintu sambil duduk di udara.
"hush~diakan tidak suka kalau kita membicarakan itu..? " Satunya lagi yang duduk di ujung ranjang kasur
"Tapi kan, menang benar begitu?! Hanya saja dia memang tidak mau mendengarkan kita, kita inikan tidak terlihat. Mudah saja dia menyepelekan, " satunya lagi duduk diatas lemari kayu yang tidak begitu tinggi. Mungkin tidak sampai satu setengah meteran itu. Dengan kaki bergelantungan sambil menggerak-getakkan kakinya. Diayun.
Menghela nafas, "Kalian bisa tidak keluar? "
"Kenapa-kenapa? kau mengusir kami?! " yang duduk didepan pintu. Di udara.
"Menyebalkan" Gerutunya sambil membenarkan kerah baju didepan cermin.
Malam ini. Malam yang tidak memperbaiki mood hati Tari sama sekali. D3ngan langit yang tidak dapat diajak kompromi. Langit yang gelap
"haaah.., langit pun enggan menghiburku. Tak ada bintang_"
"dan tak ada bulan" Saut yang sedang berada pas dibelakang Tari. Tari pun terkejut saat berbalik badan.
"nggak bisa tah lo gak terus-menerus ngagetin gue? "
"kamu kelihatan murung ada apa? " bayangan laki-laki yang jauh lebih tinggi dari Tari
"bad mood"
"oh"
"gue mau langsung tidur. jangan ganggu ok? " ucapnya menarik selimut diatas kasur
"ok.lah, kalau begitu. Good night"
~ini adalah cerita nyata dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang aslinya memiliki segalanya selain kebahagian, bukan. Maksudnya keharmonisan. Membuat Perempuan itu membuat kebahagiaannya sendiri.tz 5
"Apa kabar? ucap lelaki tampan berpakaian serba hitam.
" Kau menungguku? " tanya Tari yang baru saja muncul seperti debu.
"Tentu saja. Aku tak mungkin tidak menunggumu. Jadi sekarang bagai mana? "
"Bagaimana apanya? "
setelah pertanyaan itu muncul. Rombongan orang berbaju serba hitam berjas dengan dasi yang melingkar di lehernya dengan rapih nya. Satu - persatu maju mendekati Tari dan lelaki itu.
BRMM. Suara motor rombongan datang menyelamatkan mereka dari rombongan itu. Namun tidak sampai disini saja. Rombongan tadi tetap mengejar mereka. sampai ke rel kereta. Mereka bertarung disana. Dan Tari mencoba menyelamatkan diri saat Lelaki yang Tari bersamanya menyuruhnya pergi. Nanti dia akan menyusul. Ucapnya lelaki itu sambil terus meladeni rombongan orang berjas hitam.
Tari berlari sampai ke gang-gang rumah kecil di dalam. Yang yang berkelok-kelok kelok. sangat sempit, hingga menemui gang yang menanjak. kali ini Tari tidak menuruti keinginannya tetap berlari lurus mengikuti alur. Dia memilih berbelok ketika ada pertigaan dan sayangnya itu jalan buntu. Kali ini Tari percaya bahwa insting memang benar.
"Lewat sini! teriak laki laki berbaju putih bersinar kepada Tari dari atas tembok"
kalau kalian berfikir Tari tidak akan bisa lompat ke atas tembok yang membuat jalan buntu. Jelas Tari bisa. Kenapa? Karena ini hanyalah mimpi.
Setelah Tari melompati tembok tadi Tari terjatuh, yang membuat dirinya terbangun dari tidur.
Matanya mengerjap- ngerjap, melihat jam dinding dengan jarum pendek sudah berada di jam setengah enam pagi.
"Lagi-lagi aku pergi tanpa pamit" ucapnya menghela nafas. Belum juga bangkit dari tidurnya.
Setelah bertahun-tahun Tari mendapat mimpi yang berlanjut. membuat dia menyukai sosok lelaki. Pria yang berada didalam mimpinya. Yang selalu menjaganya kapanpun. hingga disaat Tari duduk dikelas dua SMP. Tari berjanji pada dirinya sendiri
" Gue gak akan yang namanya Pacaran sampek umur gue enam belas tahun" Itulah janji pada dirinya sendiri.
Namun dia, Tari menyesal setelah mengucapkan janji pada dirinya sendiri itu.
Setelah mengatakan janjinya itu. Lelaki yang berada didalam mimpinya dan teman- temannya yang berada didalam mimpi Tari itu. Berpamitan termasuk lelaki yang selalu bersama Tari.
"Maaf aku bakal pergi. Esok. Carilah yang jauh lebih baik dari aku. Yang dapat ngejagain kamu didunia nyata. Ya?.. " sambil tersenyum dia menatap Tari. Tari menolak da berkata,
"Apa karena janjiku? " dan lelaki itu berkata
" iya " sambil mengangguk " Jadi carilah yang lebih baik dari aku., oh satu lagi. Jangan pernah berjalan dijalan yang gelap. Mengerti?" Tari sambil memegang paha lelaki itu. Mereka duduk santai berhadapan di rumput hijau dekat rumah.. Lalu lelaki itu menghilang. Tari terbangun. Awalnya tdi Tari kira hanya hayalan didalam mimpi. Tapi sayang, ternyata itu sungguhan. Bukan hayalan didalam mimpi. Tari mencoba melarang apa yang dikatakan lelaki itu. Lelaki didalam mimpi Taru. Disaat sebrang jalan mulai gelap. Tari mencoba mendekati kegelapan itu. Tidak ada salahnya mencoba. Tapi sayang keinginannya itu ditentang oleh laki-laki berbaju putih yang bersinar. Memeluknya dari belakang.
"Reza?! " Tari terkejut mengira dia lelaki yang selalu bersama nya tadi. ternyata yang lain.
" bukannya sudah diberitahu tidak boleh? "
Lagi-lagi Tari terbangun.
" Kenapa kalo ketemu elu tuh, gue pasti bangun sih?! " sebal Tari saat matanya sudah terbuka lebar. Terbangun dari tidurnya.
"Bangun-bangun udah marah-narah aja" Berdiri, berselender dipintu
"Apasih lo Pit! " melempar bantal. sayangnya itu menembus cowok yang dia panggil itu Pit, Pither. Itulah namanya.
Sekali lagi Tari menyesal kehilangan temannya lgi. bukan hanya teman. Bahkan penglihatannya pun memudar. Membuat Tari tidak lagi bisa melihat temannya itu, Pither.
Itu berawal dari pertama kali nya Tari masuk kelas satu SMA. dia bertemu teman sama-sama perempuan. Dia menceritakan semua tentang dirinya pada teman nya itu. termasuk tentang diabaikan melihat Mahluk lain. temannya itu tidak percaya. sebagian temannya yang lain menganggap Tari aneh. Tapi ketika ada satu teman yang percaya kepadanya. Dia terkejut saat pulang, semua yang biasanya dia lihat dalam rumahnya sekarang kosong melompong. Namun auranya tetap sama, itupun hanya tipis-tipis.
Sampai saat ini, Tari hanya bisa melihat asap tipis dan Aura tipis saja yang dapat dia rasakan. Hanya itu.