Dia yang selalu teringat di benak. Memberikan aura yang mampu memikat pandangan serta hati yang ada. Sehingga memunculkan suatu rasa dengan harap dapat memiliki dirinya. Dialah sang idola, penuh puja-puji karena daya tarik yang dimiliki olehnya.
Ezra sudah lama mengidolakan orang tersebut. Sejak pertama kali mengetahuinya, dirinya serasa jatuh cinta untuk pandangan pertama. Dan Ezra pun mulai mengikuti perjalanan karir sang idola sampai saat ini. Tiara, adalah nama dari idolanya. Dia adalah seorang penyanyi, berasal dari kota yang sama dengan Ezra. Lelaki itu menyempatkan waktu untuk mencari sang idola berada. Namun, hal itu terasa amat sia-sia. Sebab perempuan itu sulit untuk ditemukan. Mencari seseorang di kota yang besar ini tentulah tidak mudah. Dan hanya melalui media online atau event, dirinya bisa menemukan sang idola. Ezra hanya bisa menatapnya dari kejauhan tanpa bisa bercengkrama langsung dengan idolanya.
Walau begitu, Ezra masih tetap berusaha untuk melakukan keinginannya itu. Bertemu dan bisa merasakan waktu berduaan dengan sang idola. Itulah yang diharapkan olehnya selama ini.
Suatu hari, Ezra menghadiri sebuah acara musik. Dirinya hadir karena memiliki alasan tertentu. Alasan itu tidak lain adalah ingin bertemu dengan Tiara. Perempuan itu akan tampil di sebuah acara yang segera Ezra datangi.
Waktu penyelenggaraan acara musik pun tiba. Banyak orang menghadiri acara itu dan menikmati penampilan dari para musisi yang ada. Suasana begitu ramai dengan tambahan suara vokalis yang mengajak seluruh penonton untuk ikut nyanyi bersama. Setelah banyaknya pergantian tampilan dari musisi yang ada. Kini Tiara hadir untuk menunjukkan performanya di bagian akhir acara. Melihat idolanya ada di depan mata, membuat Ezra sangat bahagia dan menyerukan nama idolanya itu. Penonton lain pun juga melakukan hal yang sama.
Tiara langsung tampil dengan energik. Suasana semakin ramai dan bagian akhir lebih meriah dibanding penampilan sebelumnya.
Setelah tampil dalam waktu cukup lama, akhirnya acara musik itu selesai. Tiara berterima kasih pada para penonton yang hadir, lalu pamit menuju belakang panggung.
Tidak terlihat lagi wajah dari Tiara. Ezra kembali dalam suasana biasa. Semangatnya tadi sudah menurun dan dirinya pun memutuskan untuk pergi dari lokasi.
Ezra menyempatkan diri untuk membeli minuman sebelum pulang. Setelah itu, dirinya lanjut berjalan. Baru beberapa langkah ia pergi dari lokasi acara, tiba-tiba terlihatlah seorang Tiara sedang menelpon di satu sudut. Ezra tersentak, dan seketika memiliki niat untuk mendekati perempuan itu. Berjalan dengan perlahan. Semakin dekat dirinya mampu mendengar sedikit suara dari Tiara. Saat sudah di posisi yang mana jaraknya sudah sangat dekat sekali, Ezra mendengar dengan jelas bahwa orang yang ada di hadapannya itu sekarang tengah bersedih.
Hanya bisa diam dan tak mampu menyentuh atau pun angkat bicara. Ezra menunggu momen di mana perempuan yang merupakan idolanya itu berbalik arah dan memandang ke arahnya secara sendiri.
Benar saja, Tiara berbalik dan memandang Ezra yang ada didekatnya. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan rasa sedikit terkejut.
Ezra melihat tatapan sendu itu. Terlihat sangat jelas bahwa perempuan itu mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan.
Tiara beralih pandang, lalu melangkah pergi dari hadapan Ezra. Namun dalam sekejap saja, pergerakan itu terhenti. Sebab Ezra menahan sebelah tangan dari Tiara.
"Apa yang kamu lakukan?"
Tanya Tiara sembari memandang genggaman tangan dari Ezra.
"Bisakah aku berbicara denganmu?"
Tiara menatapnya dan terdiam.
-----
Di tepian sungai kala hari dalam suasana sore, Ezra duduk sambil memandang ke depan. Aliran sungai menjadi objek pandangan matanya. Dan hal itu tidak dilakukannya seorang diri. Terdapat Tiara juga yang ada di sebelahnya dengan duduk saling berjarak.
Ini merupakan langkah berani dari seorang Ezra. Bahkan lelaki itu sampai bingung ingin berkata apa selanjutnya. Mereka berdua tidak saling tatap dan tetap diam untuk beberapa menit yang cukup lama.
Waktu terus berjalan, hingga sinaran matahari sudah meredup. Ezra melihat jam tangannya. Dia menyadari bahwa hal ini hanyalah membuang-buang waktu saja. Tanpa bisa bicara banyak secara langsung dengan orang yang disukainya.
Merasa sudah gagal, Ezra pun memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini. Lelaki itu coba berdiri, kemudian memandang ke arah Tiara setelahnya.
Perempuan itu masih memandang ke depan dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Sendu telah berubah menjadi senyuman. Ini membuat Ezra begitu heran dengan apa yang dialami oleh perempuan disebelahnya.
"Ma..Maaf."
Ezra coba berbicara.
"Maaf? Untuk apa?"
tanya Tiara.
"Aku minta maaf karena sudah membuang waktumu."
Tiara menggelengkan kepala. Kemudian Tiara berdiri dan memandang wajah dari Ezra.
"Kamu tidak salah. Justru aku berterima kasih padamu."
ucap Tiara.
"Memangnya aku telah melakukan apa?"
tanya Ezra yang kebingungan.
"Kamu berhasil membuatku kembali merasakan ketenangan kala pikiranku sedang dilanda kejenuhan."
ungkap Tiara pada lelaki yang ada di hadapannya.
Hari sudah memasuki malam. Lampu jalan serta kota tampak sudah menyala. Ezra dan Tiara melihat nyalanya semua cahaya itu sekejap. Lalu kembali saling pandang.
"Sudah saatnya untuk pulang. Terima kasih atas waktunya."
Tiara membungkukkan sedikit badannya.
Dan sebelum pergi, perempuan itu memberikan sebuah kertas kecil.
"Aku yakin kamu menbutuhkannya."
tutup Tiara.
Setelah itu, Tiara pergi sambil melambaikan tangan.
Ezra hanya memandang kepergiannya. Dilihatnya kertas pemberian idolanya tersebut, dan rasa senang pun terasa oleh Ezra.
Di hari selanjutnya.
Ezra bertemu dengan Tiara di tempat yang sama seperti sebelumnya. Mereka berdua saling berkenalan dan menceritakan latar masing-masing. Momen berduaan itu berlangsung cukup lama. Ezra menikmati momen yang sudah lama dinantikannya selama ini. Sementara Tiara turut aktif bercerita pada pertemuan itu.
Hingga obrolan itu tiba di satu masa. Yang mana Ezra menanyakan hal terkait perasaanya.
"Apakah seorang penggemar bisa meraih cinta dari sang idola?"
Tiara menjawab pertanyaan itu. Tetapi jawaban tersebut belum mampu memuaskan Ezra.
Dengan poin inti, tanpa perlu basa basi lagi, Ezra bertekat dengan penuh keberanian.
"Apakah bisa aku memiliki dirimu? Tidak sebagai penggemar, namun sebagai kekasih.
Tiara diam dengan perasaan kejutnya. Ini memang terkesan mendadak, akan tetapi Ezra ingin tahu balasan dari idolanya tersebut.
"Bagaimana? Bisakah aku mendapatkan posisi penting di hatimu?"
Ezra lanjut bertanya.
Helaan nafas dilakukan oleh Tiara. Sekarang adalah waktunya bagi sang idola untuk menjawabnya.
"Menjadi idola tidaklah mudah. Bahkan dia harus membagikan cintanya kepada para penggemar. Ini sejujurnya membuatku bingung dalam memutuskan.
Tetapi bisakah kita mencoba dalam beberapa waktu ke depan? Agar aku bisa menjawabnya dengan pasti."
kata Tiara atas pertanyaan Ezra.
"Maaf sudah tergesa-gesa. Baiklah. Mari kita jalani beberapa waktu kedepan. Untuk meyakini perasaanmu itu. Menjadi idola tentu butuh orang terdekat kan?" kata Ezra yang menerima permintaan dari Tiara.
"Tentu saja. Aku tidak bisa berjalan seorang diri selamanya. Sama halnya karirku. Tanpa dorongan penggemar dan yang lainnya, aku tidak akan bisa sampai di titik sekarang ini."
balas Tiara pada lelaki yang ada di sebelahnya.
Ezra dan Tiara menjalani beberapa masa kedepan untuk memastikan langkah keduanya. Setelah menjalani berbagai hal dan melewati banyak waktu, akhirnya Tiara sudah bisa memastikan perasaanya itu.
Ezra dan Tiara bertemu di tepian sungai.
Momen menegangkan bagi Ezra. Sebab sudah waktunya untuk mendengar jawaban dari perempuan yang ada di hadapannya itu.
Langsung saja Tiara menjawab. Namun dengan bahasa tubuh. Gelengan kepala dilakukan oleh Tiara. Ezra yang melihat hal itu merasa sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang dinanti selama beberapa waktu ini.
Lelaki itu menghampiri idolanya, kemudian menyampaikan ucapan terimakasih serta pamit undur diri. Dan dia pun mulai melangkah pergi.
Langkah kaki itu tidaklah berlangsung jauh.
Sebab Ezra menghentikan geraknya kala mendengar suara panggilan dari sang idola barusan.
Tiara memanggil nama Ezra dengan lantang.
"Ezra! kenapa kamu pergi?"
tanya Tiara.
"Sudah jelas bukan? Kamu menolak cintaku. Jadi tidak ada yang bisa aku perbuat lagi."
"Kata siapa? Aku tidak mengatakan hal semacam itu."
"Gelengan kepala itu memiliki maksud bahwa... Aku tidak bisa menolakmu. Sulit bagiku untuk beralih dari dirimu. Kamu mampu mengisi akal pikiranku. Serta hati ini sudah merasa nyaman karenanya."
jelas Tiara pada Ezra.
"Kamu membuatku salah paham. Dan jika dugaanku salah, maka artinya kamu... menerimaku?"
"Tentu. Kamu telah berhasil membuatku luluh. Dan aku menyukai dirimu."
jawab Tiara.
Ezra diam ditempat sambil tersenyum bahagia.
Tak berapa lama Tiara menghampiri dengan pelukan mesra.
"Sekarang aku tidak hanya sekedar membuat lagu romantis saja. Tetapi aku juga turut merasakan sisi tersebut secara langsung. Yaitu bersamamu, sayang."
ucap Tiara dengan ekspresi bahagianya.
Sekarang mereka berdua resmi menjalin hubungan spesial. Walau posisi telah berubah menjadi orang yang begitu spesial bagi sang idola, Ezra masih setia memegang gelar sebagai penggemar dari pasangannya itu. Kekasih sekaligus seorang penggemar. Ezra pikir ini adalah hal yang bagus juga.
"Jalani karir bersama dukungan para penggemar. Serta jalani kehidupan bersama dukungan sang pasangan."
tutup Tiara pada momen romantis hari itu.
-----SELESAI-----