Jenna duduk dengan tangan menumpu wajahnya. Sesekali tersenyum ketika mengamati pria di depannya---lumayan jauh dari tempat Jenna duduk---- tengah berlatih dance sendiri. Di taman belakang tanpa musik pria itu meliuk-liukkan badannya seolah ada musik berdengung di kepalanya. Dia Hoseok
Si tanpa wajah, itulah julukannya. Julukan pria yang sudah lima tahun menjadi pelatih dance di akademi dance. Sudah lima tahun pula pria itu selalu tampil dengan masker yang menutupi setengah wajahnya. Tak pernah ada yang tahu wajah sebenarnya, banyak desas-desus mengatakan jika pelatih ini memiliki cacat wajah yang membuatnya tidak percaya diri menampilkan wajah aslinya. Tapi itu semua seperti angin lalu bagi Jenna.
Jenna sudah lama mengangumi Hoseok, entah sebagai murid kepada pelatihnya atau wanita kepada pria nya. Mengangumi dalam diam, mengamati dari kejauhan itulah yang bisa Jenna lakukan. Terkadang ia sedikit penasaran bagaimana paras si tanpa wajah itu. Tetapi tidak ingin mencari tau lebih dalam. Sejauh ini semua itu cukup, tak semua rasa kagum berasal dari wajah 'kan? Not everything is about face.
Tapi Jenna yang sedang menangkup wajahnya kala itu terperangah begitu melihat pemandangan diluar ekspektasi nya. Setelah berlatih pria itu membuka masker wajahnya, tepat saat Jenna masih sibuk memandanginya. Tidak disangka, adegannya begitu mendadak sampai jantung Jenna rasanya ingin keluar. Dari tempat Jenna duduk, Hoseok benar-benar terlihat menawan dengan rambut yang tersibak angin. Wajahnya terlihat berkeringat.
Sesaat setelahnya ia menyisir rambutnya ke belakang membuat Jenna reflek menjerit.
Jenna reflek menutup mulutnya, ingin berlari tetapi terlambat sebab Hoseok sudah menyadari keberadaannya. Hoseok bahkan sudah berlari ke arah Jenna.
"Kau tidak apa-apa? Aku mendengar mu berteriak." Huh, butuh beberapa saat untuk Jenna memproses ucapan Hoseok, pertanyaan yang justru diluar pemikirannya. "Aku tidak apa-apa, hanya saja..." Hoseok benar-benar tampan, Jenna sampai terdiam menelan ludah sebab pemandangan di depannya. Hoseok yang menyadarinya buru-buru membalikkan badan. Memasang kembali masker wajahnya kemudian berbalik lagi.
"Maaf aku harus pergi." Ucap Hoseok. Berbalik arah tetapi berhasil ditahan oleh Jenna.
"Berhenti!" Jenna menahan Hoseok.
"Aku sudah melihat mu, kau tidak bisa lari lagi." Hoseok berbalik kembali, terdiam sebentar sebelum melepaskan kembali masker nya. "Lalu apa? Kau ingin menyebarkan bagaimana rupa ku?" Tanya Hoseok dengan tangan melipat di depan dada.
"Kenapa kau selalu menutup wajah mu?" Tanya Jenna yang sukses membuat Hoseok terdiam. "Aku tidak harus menjawabnya 'kan?"
"Kau harus menjawabnya." Jenna menekan setiap kalimatnya. "Kenapa?"
"Karena aku mengagumi mu." Jawab Jenna benar-benar diluar pemikiran Hoseok.
"Kau becanda?" Jenna menggeleng. "Aku serius." Ucapnya kemudian untuk mencoba meyakinkan Hoseok bahwasanya apa yang ia utarakan adalah sebuah kenyataan. Hoseok membuang muka. "Sejak kapan?"
"Tidak tahu."
"Lalu kenapa kau menyukai ku?" Tanya Hoseok dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku tidak tahu."
Hoseok terkekeh sinis. "Kalau begitu lupakan saja perasaan kagum mu itu." Hoseok kembali berbalik. "Kenapa?" Tanya Jenna dengan buru-buru. Hal itu sukses membuat Hoseok kembali berbalik. Ia kemudian duduk di bangku yang semula diduduki oleh Jenna.
"Kau perlu alasan saat menyukai sesuatu." Hoseok mulai berbicara dengan menatap langit biru yang cerah. "Kenapa begitu?" Tanya Jenna lagi.
"Kau banyak tanya."
"Kalau begitu jelaskan semuanya, jangan setengah-setengah." Jenna juga mendudukkan diri di samping Hoseok dengan menjaga sedikit jarak. Takut jantungnya mendadak terlepas karena bekerja ekstra.
"Kau butuh alasan untuk bertahan dengan apa yang kau sukai. Jika kau tak memiliki alasan ketika menyukai sesuatu, kau juga akan mudah meninggalkan sebab kau tak punya alasan untuk bertahan." Terang Hoseok, sekarang arah pandangnya menuju Jenna yang sedang berfikir. "Jadi sekarang jelaskan kepada ku alasan mu menyukai ku." Ucap Hoseok.
Jenna menatap ke atas seolah sedang berfikir. "Aku dulu menyukai mu karena kau keren saat melatih dance. Dan sekarang aku menyukai mu karena kau--- " Jenna menatap Hoseok lekat, ia kemudian tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kau tampan, jadi aku mempunyai dua alasan kenapa aku menyukai mu. Apakah cukup?" Tanya Jenna.
Hoseok mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu setelah ini apa yang kau mau dariku?" Tanya Hoseok balik.
Jenna mengulurkan tangannya membelai pipi Hoseok pelan. Hoseok awalnya sedikit mundur ke belakang. Tidak terbiasa dengan apa yang Jenna lakukan.
"Jangan pakai masker mu lagi, aku ingin selalu melihat wajah mu."