Suara yang berdengung berusaha memelukku. Bahkan melodi yang tak terlupakan. Apakah ini perpisahan?
=•=•=
Sore yang hangat saat itu. Dedaunan tampak bergoyang dari luar jendela. Sinar jingga matahari senja memancar membuat bayangan tinggi aku dan dia serta alat-alat musik kami. Di dalam gudang yang berukuran cukup besar, kami berdua memainkan melodi dari dentingan piano serta nada-nada dari nyanyian suara.
"... Ki ga tsuite kureru yo ne ...." Suaraku semakin lama semakin mengecil, beriringan dengan suara piano yang berdengung.
Tling.
Setelah dentingan piano terakhir itu berbunyi, aku langsung menghela napas panjang. Akhirnya suaraku tak perlu lagi ditinggikan. Aarghh ....
"Hahaa semakin hari suaramu semakin merdu, ya!" puji seseorang dari balik piano. Seorang gadis yang memiliki rambut hitam dikucir kuda. Bulu matanya lentik, membuat dia semakin terlihat cantik. Dia teman, tidak, lebih tepatnya sahabatku.
Ikura Rin namanya. Teman-teman sekelas kerap memanggilnya 'Rin'. Memiliki sifat friendly, gadis itu mudah bergaul dengan siapapun. Tak peduli berapapun umurnya, siapapun dia. Jika dibandingkan denganku, dia sangat berbeda.
"Hahaa tidak juga, kok." Aku tertawa kecil untuk membalas pujian lembutnya.
"Oh ya, Ai. Kurasa latihan kita hari ini cukup sampai di sini saja. Kurasa kau sudah bekerja terlalu keras. Sini, minumlah dulu. Aku membeli dua minuman jus tadi," ajak Rin dengan satu tangan mengibas-ibas di udara. Memberiku isyarat agar mendekat ke tempatnya.
"Okee!"
Ya, seperti yang dikatakan oleh Rin. Ai adalah namaku. Shinaka Ai. Hanya seorang gadis yang hobi menyanyi dan akhirnya Rin mengajakku untuk membuat duo band. Awalnya, tujuan kami berdua cuma bersenang-senang. Namun beberapa waktu terakhir ini, kami mencoba untuk serius. Karena sekarang tujuan kami bukan "Bersenang-senang" tapi "Cita-cita".
Rin menekan kuat tenaga tangannya, memusatkannya dalam satu waktu, dia membuka segel tutup botol minuman jus. Hanya dalam sekali percobaan saja, dia langsung bisa membuka tutup botol keras ini.
Lihatlah, bukankah Rin memang gadis yang kuat?
Tak mau kalah, aku juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya barusan. Mengerahkan seluruh tenaga dalam satu momentum cuma karena ingin membuka segel tutup botol.
Ughhhh .... ARGHHHH ... awwww.
"Tanganku ...," keluhku kesakitan sembari meniupi bagian yang terasa sakit.
Huhh ... kenapa ini sulit sekali?
"Heeehh ... humpppp! Hah hah ...." Meski aku sudah mencobanya berkali-kali. Namun pada akhirnya, hasilnya sama saja. Aku tetap tak bisa membuka tutup botol minuman ini.
Rin menatapku sedari tadi. Senyuman menyebalkan terlihat ada di wajahnya.
Aku tau, dia ingin menertawakanku.
"Pftt ... Ai, apa kau kesulitan? Ya sudah, sini kubantu. Lain kali, jangan malu-malu kalau ingin minta bantuan. Apalagi kepadaku," ucap Rin. Tangannya menjulur, mengambil botol minuman jus dari tanganku.
Klek.
Lagi-lagi, dia berhasil membuka segel tutup botol keras tersebut. Masalahnya, dia tampak sama sekali tidak kesulitan. Hanya satu kali, langsung bisa. Aku dan dia memang benar-benar berbeda.
"Ini." Dia memberikan botol minuman yang telah terbuka kepadaku.
"Makasih, Rin." Aku berterima kasih.
"Sama-sama. Yaah. Ai, ini sudah sore. Lebih baik kita pulang. Lagian, aku mulai lapar hahaha ...," ungkapnya seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
Aku mengangguk, mengiyakannya.
Setelah itu, aku dan Rin berhenti minum dan segera membereskan alat-alat musik yang kita gunakan untuk berlatih. Piano hitam dan juga kursinya. Serta gitar juga. Saat semuanya telah selesai, barulah kita menutup pintu gudang lalu pulang ke rumah masing-masing.
=•=•=
"Aku pulang ...!" teriakku dengan tangan yang melepas sepatuku.
Ketika melangkah masuk ke dalam rumah, aku melihat adikku sedang tertidur lelap di pangkuan ibu.
"Ai, kau sudah pulang?" sambut ibuku. Anna Shinaka. "Ya sudah. Ganti baju dulu sana," lanjutnya menyuruhku.
"Iya." Tanpa perlu menjawab panjang, aku langsung masuk ke kamarku.
Samar-samar telingaku menangkap sedikit suara dari arah belakang. Seperti suara dering telepon. Kurasa, itu telepon dari rekan kerja ibu.
Yah, ayahku telah meninggal dunia beberapa tahun lalu, jadi ibuku harus bekerja sebagai karyawan kantor. Dan, dia selalu membawa Miku–adikku–ke kantornya.
Kadang saat melihatnya, aku merasa kasihan. Ibu rela lembur bekerja hanya untuk aku dan adikku. Hah ....
Kriet ...
Kugeser pintu kamar ke samping. Suasana kamar biasaku adalah pemandangan yang kulihat pertama kali. Aku berlari menuju satu tempat, yaitu kasur.
Bruk!
Kujatuhkan badanku dengan sengaja di kasur empuk ini. Nyaman sekali rasanya, aku tak mau bergerak dari sini.
"Huhh ...." Namun, pada waktu yang bersamaan aku mengingat ucapan ibu yang menyuruhku mengganti baju. Walau rasanya sangat berat, tapi aku harus segera menggangi baju seragam ini.
Kedua tanganku menekan ke kasur agar aku bisa berdiri. Setelahnya, aku pun bergegas mengambil baju santai di lemari. Tak perlu memilih, pokoknya yang kulihat pertama kali, kuambil. Sebuah kaus warna putih dengan gambar dari film anime yang kusukai. Tulisan di tengah menjelaskan semuanya, 'Merodi no Niwa'. Ya, itulah judul anime di kausku ini.
Aku memakainya cepat-cepat agar bisa segera beristirahat. Namun, saat hendak merebah, tiba-tiba sebuah suara muncul. Suaranya berhasil mengejutkanku. Saat aku menengok ke samping, ternyata itu ibu. Dia berdiri di pintu yang terbuka separuh.
"Ai, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu," ucapnya lirih disertai ekspresi wajah serius.
Entah kenapa, ketika melihatnya begitu, aku merasa tidak enak. Seperti, bagaimana, ya ....
Awalnya aku hanya diam, tapi akhirnya aku menjawab, "Iya."
=•=•=
Keesokan paginya, di sekolah. Ini adalah jam istirahat, aku terduduk melamun sendirian di dekat jendela kelas. Menatap suasana luar.
Semua terlihat tenang, tidak sampai seseorang datang.
"Boooo!" kejutnya.
"Kyaa!" Seketika, tubuhku langsung tegang. Jantungku rasanya mau copot.
"Ohayou, Ai!" sapanya sambil tersenyum.
Aku sudah menebaknya dari awal, dia pasti Rin. Ternyata benar.
"O-ohayou ...," balasku.
Setelah aku membalas sapaannya, tak tahu kenapa Rin malah menatapku serius. Jujur saja, ditatap seperti ini rasanya sangat menakutkan.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu, Rin ...?" tanyaku gugup sekaligus takut.
Rin berdecak. "Tck, harusnya aku yang bertanya kepadamu. Hei, Ai kenapa kau sedih? Ceritakan saja kepadaku!" ujarnya.
Bagaimana bisa dia mengetahui kalau aku ...
... tidak. Aku harus menutupinya.
"Ma-maksudmu apa, Ri-Rin?"
Rin menghela napas panjang. Menyisakan mimik muka sendu. "Kau akan gugup saat kau berbohong. Aku tau itu. Karena aku sahabatmu. Jadi, kau tak perlu berbohong. Katakan yang sebenarnya padaku," sambungnya.
Gigi atasku menggigit bibir, rasanya aku sudah tersudut. Aku tak bisa mengelak lagi. "Sejelas itu, kah?" tanyaku tak bersemangat. Aku lalu menarik napas dan membuangnya lagi. "Ya, aku memang memiliki sedikit masalah. Tapi maaf, Rin. Untuk kali ini, aku tak mau memberi tahumu dulu," lanjutku.
Rin kembali menatapku. Suasana sepi dan membingungkan ini kembali terulang. Namun, sesuatu terjadi tanpa diduga-duga.
Brak!
Suara pintu kelas dibuka paksa terdengar sangat jelas. Perhatianku, Rin, dan seluruh murid yang ada di kelas pun langsung teralihkan kepada sumber suara.
Dia ... Reina?!
"Cih, anak itu lagi. Mau apa dia sekarang?" gumam Rin pelan.
Reina serta kedua temannya berjalan pelan melewati sela-sela bangku murid. Ia berjalan elegan ke sini. Ke posisi bangkuku.
Sepertinya, hari ini bukan hari keberuntunganku.
"Heh, Ai. Minggir! Aku mau duduk di sini!" sinis gadis dengan permen di mulutnya. Reina Goharu. Semua orang menyebutnya Reina. Jika namanya berdengung maka artinya sebuah bahaya akan terjadi. Itu kata orang-orang.
Aku tertegun saat melihatnya begitu. Kuteguk ludahku karena saking takutnya.
"Heh, cepat!" Dia menarik tanganku kasar.
Spontan, Rin menghalanginya.
"Pergilah dari sini, jangan ganggu Ai!" pekik gadis itu. Tangannya menepis tangan Reina.
Plop.
Reina melepas permen yang dari tadi dia makan, dia lalu tertawa sinis. "Hahahaaa, Rin. Kita bertemu lagi. Nee nee, tapi hari ini aku tak mau berdebat denganmu. Urusanku adalah Ai, oke?" katanya. "Jadi sekarang enyahlah, jangan menghalangiku."
Slep.
Rin mencengkram yang w Reina kuat-kuat, sambil berkata,"Tidak dan tidak akan. Aku adalah sahabat Ai jadi kau lah yang harusnya pergi dari sini."
"He? Hahahaa ... hei, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan? Pfft, apa kau mau kulaporkan ke kepala sekolah lagi?"
"Laporkan saja. Aku tidak takut," jawab Rin membalas ancaman Reina.
Rin, apa dia serius?!
"Grhhh ... menyingkirlah!" Reina mendorong Rin hingga dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Melihatnya didorong begitu, tentu saja membuatku kaget. "Rin!"
"Kau benar-benar ingin mencari mati." Tak menggubrisku, Rin malah maju dan menampar Reina. Tak berhenti sampai di sana, dia juga menjambak rambut Reina.
Akhirnya, terjadi pertikaian di antara mereka berdua. Aku sudah mencoba untuk melerai tapi aku gagal. Mereka berdua saling menjambak rambut mereka satu sama lain.
Ini semua gara-gara aku.
=•=•=
Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku dan Rin berjalan pulang bersama. Setelah kejadian tadi, Rin dipanggil oleh guru konseling dan diberi peringatan. Sedangkan Reina, dia tidak dihukum sama sekali.
"Karena Rin yang memulai." Itu adalah alasan yang membuat Rin harus menanggung semuanya. Untuk alasan lain, itu karena "koneksi".
Aku jadi merasa bersalah kepadanya.
"Rin, aku minta maaf, ya. Gara-gara aku, kamu harus menanggung semuanya. Aku benar-benar minta maaf."
Kuharap, dia bisa memaafkanku.
Rin yang ada di sampingku hanya diam. Namun, setelah beberapa saat dia tersenyum. "Hahaa, kau tak perlu merasa bersalah begitu. Tak perlu minta maaf. Lagi pula, dari dulu aku memang ingin memberinya pelajaran. Saat menamparnya tadi, aku langsung merasa puas!" ungkap Rin disertai tawa lepasnya. Ia sama sekali tak merasa khawatir kalau dia akan dikeluarkan dari sekolah, dia justru tertawa.
Melihatnya begitu, aku pun tersenyum tipis.
Sekarang aku tau, sekarang aku paham kenapa aku sangat senang menjadi sahabatmu.
"Oh ya, Ai. Hari ini kau mau latihan lagi?" Rin bertanya kepadaku.
"I-eh ... ma-maksudku. Maaf, Rin. Hari ini aku sedang sibuk, jadi tidak bisa latihan. Maaf, ya?" tolakku halus.
Rin lagi-lagi tertawa lepas. Salah satu tangannya menepuk bahuku. "Haha! Nggak apa-apa kok. Aku tak memaksamu. Ya sudah, lain kali saja," kata Rin. "Kalau begitu, aku pulang dulu, ya. Mata ne~" Rin mengibas-ibaskan tangan kanannya dan kemudian berlari ke arah yang berlawanan dengan arah rumahku.
Ketika dia telah pergi, mendadak aku kembali mengingat perkataan ibu kemarin malam.
"Ai, rekan bisnis ibu meminta agar ibu pindah tempat bekerja. Katanya, ibu harus bekerja di Korea Selatan. Awalnya ibu ingin menolak, tapi dia direktur perusahaan. Jadi, ibu tidak bisa melakukan apa-apa." Aku teringat kata-kata yang diucapkan oleh ibu. "Jadi, ibu juga akan membawa kamu dan Miku ikut pindah ke luar negeri."
Arghhh ....
Aku harus pindah ke luar negeri. Padahal, aku sudah memiliki satu sahabat di sini. Huhh ... pilihan yang sulit ini.
Tapi, masih ada satu hari lagi sebelum aku berangkat. Apa aku harus memberi tahunya?
Hah ....
=•=•=
Keesokan harinya, saat sore hari, aku dan Rin sedang berlatih bermain musik. Sekitar tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya kami selesai membawakan tiga lagu yang berbeda.
Ting.
Dentingan piano terakhir oleh Rin mengakhiri lagu ketiga. Aku mengatur napasku agar bisa kembali seperti semula.
"Latihan yang bagus seperti biasa, Ai. Hari ini kita langsung pulang saja, ya? Aku harus mengerjakan tugas fisikaku hehehe ...," ucapnya.
Aku menganggukkan kepalaku dua kali.
Rin dan aku membereskan alat musik seperti biasa, mengunci pintu gudang seperti biasa, dan pulang. Namun, sebelum Rin pergi, aku memintanya untuk berhenti dulu.
"Kenapa, Ai?" tanya Rin.
Aku tertawa canggung. "Bu-bukan apa-apa kok hahaha ..., emm aku hanya ingin memberimu ini. Tadi, ada seorang laki-laki yang menitipkan surat ini kepadaku. Dia menyuruhku untuk memberinya kepadamu." Aku mengarang, agar dia tidak curiga. Ahhh, tapi apa ini terlihat berlebihan?
"Hmmm?" Rin memerhatikan surat itu sambil kebingungan. "Apa ini semacam surat cinta atau apa?" Ia lalu berniat membuka suratnya.
"Eehhh ja-jangan dibuka sekarang!" Namun, aku mencegahnya.
"Kenapa?"
Aku tertegun. "Emh ...." Di saat-saat seperti ini, aku malah bingung harus menjawab apa. "Itu, katanya dia ingin memberimu kejutan. Jadi, kau harus membuka surat ini besok lusa!"
"Hmm ... yah, oke. Aku akan membukanya besok lusa. Dadah, Ai!" Rin melambaikan tangannya, meninggalkanku di sini sendirian.
"Da. Dah ...." Saat melihatnya pergi, aku membayangkan bahwa aku akan pergi juga.
Sungguh, aku tak mau melihat ekspresi wajahku sendiri saat ingin pergi nanti. Aku tahu, aku pasti akan menangis sejadi-jadinya di dalam pesawat.
=•=•=
Keesokan harinya. Di bandara, aku, ibu, serta Miku berjalan bersama melewati kerumunan orang-orang. Wajah-wajah orang Eropa mendominasi penglihatanku. Kurasa, mereka adalah turis yang berkunjung ke Jepang.
"Baiklah. Kita akan berangkat sebentar lagi. Ai, kau tak melupakan barang-barangmu, kan?" tanya ibu.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku sudah membawa semuanya." Kemudian, tatapan mataku berubah. Menatap beberapa pesawat yang ada di luar.
Apa Rin sudah membaca suratku? Ya, mungkin saja dia sudah. Haha, aku tau dia tak menahan rasa penasarannya.
Hah ... aku tak akan bisa melihat ekpresi wajahnya saat ini. Semoga dia bahagia dan menemukan vokalis baru untuk band kami. Ehm, maksudku band 'Merodi no Niwa'.
"Ai, ayo. Kita akan berangkat sekarang," ajak ibu sambil mengulurkan tangan.
"Baik."
Aku berjalan beriringan dengan langkah ibu. Mendekati pesawat yang akan membawaku menjauh dari kota ini.
Selamat tinggal, semuanya.
Namun, sebelum aku benar-benar masuk. Tiba-tiba aku mendengar suara kecil dari kejauhan. Suara itu semakin kencang setiap detik, seolah ingin memelukku.
Hah?!
Aku semakin terkejut saat melihat seseorang berlari sambil melambaikan satu tangan di udara.
"Ai! Ai!" teriaknya.
Suara itu ....
"Rin!"
"Hah ... hah ...." Napas Rin terengah-engah. Dia mengusap peluhnya di depanku. "Syukurlah ... hah ... kau belum pergi hah ...," sambungnya. Meski kelelahan, dia masih sempat-sempatnya berbicara.
Dasar Rin.
"Rin, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau bolos sekolah lagi?" Aku bertanya karena khawatir. Tak peduli bagaimana dia bisa ke sini, tapi kenapa dia di sini.
Rin tersenyum di tengah napas tak teraturnya. Ia merogoh saku celananya. Saat tangannya keluar, tanpa mengucap satu katapun, dia langsung meraih tanganku. Aku hanya diam karena aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan.
Setelah selesai, Rin menarik kembali tangannya.
Ini ...?!
"Gelang? Gelang apa ini, Rin?"
Rin masih memertahankan senyuman yang sama. "Ini adalah gelang yang kubuat semalam. Maaf, yah ..., aku terlalu penasaran, jadi aku buka surat itu saat sampai di rumah. Waktu membacanya, aku tertawa hahaaha. Kau salah menulis beberapa kata. Dan yah, aku juga tau alasan kenapa kau merahasiakan ini dariku. Karena kau tak ingin membuatku sedih, iya kan?" jelas Rin panjang.
"Ehmm, itu ...." Mataku berbinar saat melihatnya. Tapi, mataku berkaca-kaca saat melihat gelang buatannya.
Gelang ini sangat cantik. Apalagi Rin membuatnya khusus untukku.
"Aku sedih, Ai. Tapi aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Jangan lupakan aku, ya! Kita adalah duo band, Merodi no Niwa haha!" Rin tertawa lagi, mencoba untuk menghiburku yang saat ini sedang berusaha menahan tangis.
Namun, saat melihatnya begitu, aku justru semakin lemah. Bibirku bergetar, kepalaku menunduk. Setidaknya, rambut biruku ini bisa menutupi air mataku yang akan mengalir ini.
"Hei hei, jangan nangis begitu, dong. Ai yang kukenal itu bukan anak cengeng. Dia gadis kuat!" Rin mengelus-elus rambutku pelan. Seperti elusan ibu, aku merasakan ikatan kasih sayang darinya.
Satu tindakan itu, berhasil membuat air mataku mengalir. Dari balik rambut biruku, setetes air mata keluar dari mata kiriku. Jariku mengepal erat, aku tak bisa menahannya.
Slep.
Aku merangkul tubuh Rin yang memiliki tinggi badan sejajar denganku. Kutumpahkan seluruh rasa sedihku dalam pelukannya. "Rin. Jangan lupakan aku. Ya? Hiks," ucapku susah payah. Aku melawan rasa sedihku untuk mengatakan ini.
Setelah mengatakan itu, aku merasakan belaian lembut di bahuku. "Tenanglah, bagaimana bisa aku melupakanmu. Suara Shanaka Ai telah membekas dalam hatiku," bisiknya pelan.
Dia melepas rangkulanku. "Ya sudah. Pergilah, Ai ...!" titah Rin seraya mengedikkan dagunya ke arah ibu dan adikku, "daripada nanti terlambat," sambungnya.
Kuusap air mata yang masih tersisa. Saat memeluknya, perasaanku sedikit membaik. Kini tersisa senyuman yang sedih. Aku berbalik, menarik koper hitamku, dan perlahan memanjangkan jarak dengannya. Sesekali aku menoleh ke belakang, Rin hanya diam seraya melambai-lambaikan tangan di udara.
Saat itu, aku berpisah dengannya. Berpisah jauh dan mungkin tak bisa bertemu lagi.
=•=•=
5 bulan kemudian ....
Ibu telah menyelasaikan urusan pekerjannya di Korea Selatan, jadi kami boleh pulang. Setelah tiba kembali di Jepang, aku langsung berlari ke satu tempat. Satu tujuan.
Gudang tempat aku dan dia berlatih.
Sesampainya di sana, aku mendengar dentingan melodi piano. Aku tau itu dia. Aku tau itu pasti Rin.
Aku menyelaraskan napasku. Melodi yang bergema, suara piano itu. Aku tau itu dia.
Benar, masih sama seperti yang dulu.
Di waktu senja saat itu, matahari bersinar. Dari depan pintu, aku melihat seseorang tengah serius menciptakan melodi indah.
Saat melihatnya, aku tersenyum. Tangis bahagia tak bisa tertahankan.
Tatapan Rin akhirnya tertuju kepadaku. Akhirnya, dia menyadari bahwa aku ada di sini. Ia tersenyum, kemudian bola matanya berputar senada menunjuk mic serta gitar yang berada tak jauh darinya. Tampaknya, dia sedang memberiku isyarat.
Aku tersenyum lebar.
Akhirnya, kuambil gitar dan duduk di kursi. Membenarkan posisi mulut dan mic kemudian mulai bernyanyi.
Sudah lama aku merindukan suasana ini. Suara gitar yang bergetar, dentingan piano, dan suara beriringan. Aku sangat merindukan suasana seperti ini.
'Nee, jika memang besok dunia akan berakhir. Di saat hari terakhir, hanya tersisa kita berdua. Mari kita mainkan melodi klasik ini bersama.' Itulah pikirku.
- Tamat -