Dengan napas tersengal-sengal Keyra berlari menjauh dari seorang cowok yang tiba-tiba saja mengejar Keyra tanpa alasan yang jelas. Keyra bersembunyi di dalam rumah tua. Sesaat kemudian ia clingak-clinguk melihat cowok itu.
"Ehh, Herman deh! Kenapa ya tuh cowok ngejar gue? Padahal gue pun tidak tau dia siapa?
Keyra meracau dan ia terduduk di kursi yang agak berdebu. Ia mengedarkan pandangannya menatap ke sekelilingnya, "Ini rumah siapa? Kenapa enggak ada penghuninya?"
Keyra merasakan bulu kuduknya meremang seketika ia berbalik ke belakang dan melihat ke sudut ruangan.
"Kok gue merinding kek gini? Apa di sini ada makhluk yang tak kasat mata? Tuh 'kan bulu kuduk gue berdiri!"
Begitu melihat tangan Keyra bulu-bulu di tangannya berdiri Keyra lalu memberanikan diri mengintip ke dalam kamar. Namun, ia tidak melihat sesuatu apa pun.
"Apa gue keluar dari rumah ini? Tapi.., gimana kalo cowok itu ada dan masih nyari gue?" Ada keraguan di hati Keyra untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sebenarnya tuh cowok ngapain coba ngejar gue? Secara gue juga kagak kenal sama dia! Terus, kok malah ngejar-ngejar gitu! Benar-benar membagongkan!" Keyra mengoceh dan ia mengintip dari jendela.
"Mendingan gue makan bakwan."
Keyra mulai membuka tasnya. Akan tetapi ia tidak menjumpai kresek itu.
Sedetik kemudian, "Yaa, aampun! Bakwan gue...? ketinggalaann! Gara-gara cowok yang enggak jelas itu! Jadinya lupa deh. Mau kembali? Entar gue ketemu lagi! Eh yang ada... dia ngejar gue lagi! Capek 'kan!"
Menyadari kresek yang berisi bakwan tidak ada dalam tasnya. Keyra terduduk lesu. Sementara ia sudah hampir satu jam berada di rumah itu. Kembali Keyra mengintip suasana di luar. Ia melihat ke depan jalan, "Sepertinya aman dah. Gue pergi aja dari sini. Sekalian singgah ke warung tadi. Soalnya gue pengen makan bakwan nih."
Keyra akhirnya keluar dari dalam rumah itu. Ia clingak-clinguk dan melihat ke belakang. Takut jika cowok itu masih ada di sekitar tempat yang ia lalui.
"Semoga dia benar-benar udah pergi!" Keyra bergumam.
"Nah, lo! Gue akhirnya dapat!" Cowok itu tanpa terduga muncul depan Keyra. Ia tersenyum manis.
"Ngapain lo ngejar gue?'' Netra Keyra melotot.
"Ello sendiri...? Ngapain lari!" Cowok itu balas bertanya. Terlihat ia menautkan alis dan melihat Keyra.
"Abisnya...! Lo itu... tiba-tiba ngejar! Siapa coba yang enggak terkejut! Kek Jailangkung aja! Gara-gara lo juga... gue sampai lupa bakwan gue tau!" oceh Keyra panjang lebar.
"Udah ngocehnya, Kak!" Suara cowok itu sedikit ditekan dan menatap Keyra lekat.
"Manis juga! Tapi sayang, ia bawel! Kek petasan mleduk-mleduk," lirih si cowok.
"Woi! Ngapain pelototin gue kek gitu?"
Mendengar ocehannya si cowok tersenyum dan masih menatap Keyra.
"Kalo enggak ada yang mau diomongin lagi?Gue mau pergi!" Keyra ngedumel depan cowok itu.
"Sekali lagi gue tanya lo! Ngapain tadi lo lari?" Cowok itu kembali menatap Keyra.
Ello sih ngejar tanpa alasan! Gimana gue enggak lari!" Keyra lagi-lagi ngedumel.
"Gue ada alasannya kok!" jawab cowok itu.
"Emangnya, apaan! gerutu Keyra.
Lalu cowo itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dam memperlihatkan kepada Keyra, "Ini! Kresek ini, punya lo...? 'Kan!"
"Siniin!" gertak Keyra dan ingin merebut dari tangan cowok itu.
"Bukannya ucapin terima kasih atau apa kek? Ini malah marah-marah enggak jelas!" timpal cowok itu.
"Maksudnya?" Keyra kebingungan.
"Kak, tadi itu... kresek ini terjatuh loh! Gue tadi juga ada di warung. Gue liat kakak, masukin kresek ke dalam tas ye 'kan? Tapi, tau enggak? Kreseknya terjatuh tanpa kakak sadari. Gue tadi ngejar mau ngasih ini! Eh malah, Kakak kabur!"
"Semakin gue kejar, kakak tambah kencang larinya! Sempat kehilangan jejak kak. Emang kakak itu mantan pelari? Gue aja ngos-ngosan ngejar loh! Makanya gue nungguin kakak di sini," papar cowok itu melihatnya.
"Astaghfirullaah! Ja--jadi...? Lo itu... ngejar gue pengen ngasih kresek ini toh! Kalau gue tau, gue enggak bakalan lari. Capek gue! Kirain lo itu mau ngapain! Ternyata, gue salah duga."
"Oh iya! Gue minta maaf ya, jadi kresek itu 'kan punya gue. Boleh 'kan gue minta kembali?" Keyra mengulurkan tangan.
"Boleh sih kak. Tapi--"
"Tapi apa lagi?" Keyra memotong ucapan cowok itu.
"Sebagai ganti, kakak harus ngasih nopenya, dong. Siapa tau aja... Kakak ternyata jodoh gue." Si cowok tersenyum manis.
Keyra terdiam sesaat membuat cowok di depannya terlihat bingung.
"Kak? Baik-baik aja 'kan!'' Si cowok melambaikan tangannya.
"Untuk, apa?" Keyra menatap sekilas dan mengalihkan pandangannya.
"Ya, tukar cerita gitu!" Cowok itu menjawab.
"Lain hari aja, ya? Boleh gue meminta kresek itu," bujuk Keyra ke arah cowok itu.
"Ok! Setidaknya gue bisa tau, nama lo," harap cowok itu.
"Panggil aja, Keyra," jawabnya pada cowok itu.
"Nama gue, Arya," balasnya tersenyum.
Arya lalu memberikan kresek ke arah Keyra. Tak lama kemudian Keyra pamit.
"Sekali lagi, maafin gue tadi. Gue juga makasih banyak sama lo... karena lo udah capek-capek mau nganterin kresek ini. Walau awalnya gue ketakutan," sambung Keyra lagi.
"Iya! Nggak papa, kok." Cowok itu kembali memberikan senyum termanis pada Keyra.
Keyra pun berlalu dari hadapan Arya.
"Keyra, gue berharap bisa ketemu lo lagi," lirih Arya dan meninggalkan tempat itu.
Tanpa sadar ada sebuah senyuman yang terukir di bibir Keyra.
Tamat