#Akuberpacarandenganidola
Musik jazz mengalun pelan di meja makan yang menampilkan seorang gadis yang sarapan sendirian. Tangannya mengambil sendok demi sendok makanan dengan teratur, menyuapinya ke mulutnya. Rumahnya yang hening pagi itu sudah hal biasa.
“Aduh udah keburu telat ini.” jarinya menggeser layar ponsel yang menunjukan pukul tujuh kurang seperempat. Tangannya menyambar tas yang ada disampingnya dan berlari menuju halte bis.
“Nis hari ini gantiin aku tugas ya.” Putri menelphone sahabatnya yang sudah ada di sekolah.
Hari ini adalah tugas Putri untuk mengkoordinasi absen piket anggota OSIS. Karena streaming idol yang ia suka tadi malam Putri bangun terlalu siang. Bis yang ia tumpangi sekarang masih berhenti didua halte lagi.
“Bisa kena hukum gue kalau ketahuan.” tali tasnya ia genggam erat menyalurkan rasa gelisah.
Matahari yang sudah meninggi dan macet yang panjang menambah rasa panik meningkat. Mau ditaruh mana wajahnya jika anggota OSIS telat lalu masuk BK.
“Duh untung.”
Putri berlari menuju gerbang sekolah yang belum tertutup. Kurang dua menit lagi dipastikan dirinya akan duduk di ruang BK. Seorang gadis mungil menunggunya di depan kelas.
“kenapa lo?” kata gadis yang ada didepannya.
“Mingir gue capek pagi-pagi udah lari, gue mau duduk dulu,” tutur Putri yang melewati Anis.
Ia menjatuhkan tubuhnya di bangku kursi, tangannya menggerayah bagian samping tasnya mengambil air minum. Kosong, karena terlalu terburu-buru ia lupa mengambil air minum dan mematikan musik yang ia setel tadi. Bundanya sudah pasti akan menerkamnya kini karena tidak hemat listrik.
“Nis,” panggil Putri pelan ke arah sahabatnya yang ada masih ada diluar kelas.
Terlihat sahabatnya sedang berbicara dengan seseorang yang tak asing. Apakah dirinya ketahuan tidak piket hari ini? Sampai-sampai Bapak ketua OSIS yang super sibuk ke kelasnya.
Wajah Putri memucat, double kill untuknya hari ini. Sarapan yang baru saja ia makan tadi terasa bergelut di perutnya. Hukuman apa yang akan ia dapat? Mana dia sendiri tidak terlalu dekat dengan Bapak ketos.
“I-tu tadi?” tanya Putri saat Anis berjalan kearah bangkunya.
“Ketos gila! tuh orang nyuruh gue buat beli snack pembina buat rapat nanti pakek acara mendadak lagi.”
Setelah bel masuk Anis meminta izin kepada wali kelas karena tidak bisa mengikuti jam kelas. Jadi sekarang Putri sendiri. Memperhatikan penjelasan guru yang ada di depannya. Tapi pikiran dan hatinya masih kepada sosok yang ada di depan kelasnya tadi.
Sudah satu tahun sejak kelas sepuluh ia tertarik kepada orang itu. Tapi sosoknya adalah orang yang sulit digapai. Wajah tampah, tinggi, ketua OSIS, juara paralel satu untuk matematika. Siapa juga yang tidak menyukainya makhluk sesempurna Bapak Ketos. Putri cemberut, tapi jika dipikir-pikir Anis bisa dekat/berbicara dengannya.
Jarak yang sangat jauh untuknya yang hanya seorang gadis pendiam dan culun. Putri sendiri ikut OSIS karena ajakan Anis yang menyuruhnya agar terlihat lebih aktif di sekolah. Putri menggeleng,
saat ini cowok bukanlah masalah yang genting. Yang terpenting sekarang adalah ia bisa hidup seperti orang normal pada umumnya.
“Oke anak-anak hari ini sudah selesai, silahkan istirahat,” kata Pak Hartanto yang berjalan ke luar kelas. Putri meluruhkan tubuhnya di bangku kelas tak berniat untuk kemana-mana lagi. Pagi ini sangat benar-benar untuknya. Ia menidurkan kepalanya di meja dengan berlasakan kedua lengannya.
Hingga pulang sekolah Anis baru menampakkan batang hidungnya, berniat menemaninya pulang. Katanya Minggu depan bakalan ada pensi, jadi rapat anggota inti tadi untuk membahas kegiatan Minggu depan.
“Nih, kita bagi berdua.” Anis memberikan kresek hitam kepanya.
“Apa?” Tanya Putri disela-sela kegiatanya membereskan buku.
“Sisa snack tadi, mana ini sisa banyak lagi.”
Terlihat sekantung penuh makanan yang ada dibungkusan itu, Putri mengrenyit tidah paham. Bukankah mereka seharusnya sudah meprediksi berapa kebutuhan yang diinginkan. Tapi sisanya ini sangat banyak lagi.
“Oreo dan taro?” tangan Putri mengambil acak cemilan kesukaannya itu dan memakannya. Anis menganggkat kedua bahunya, dirinya ikut menikmati camilan itu. Sore itu dua orang rakus memakan habis camilan seludupan.
Waktu yang akan datang itu tidak ada yang tahu, tugas manusia adalah untuk menjaga dan mempertahankan apa yang ada sekarang. Apapun yang akan terjadi nanti kita hanya harus berusaha keras. Hasilnya kita serahkan kepada yang diatas, hingga kita ada ditempat yang tepat.
“Lo dibolehin Bunda?” tatap Anis tak percaya.
Sudah puluhan kali Anis bertanya sejak tadi pagi mereka mempersiapkan acaran pensi nanti malam. Putri menatapnya malas dan terus berjalan menata kelengkapan panggung. Sinar senja menerpa keringat yang bercucuran di dahinya.
“lo ngaboleh kerja berat-berat kalo lo ikut.” Anis mengambil alih bangku kecil yang ingin dipindahkan Putri.
“Ada apa nih kok perhatian?” goda Putri yang dimanjakan Anis.
"Lo gantiin gue di meja administrasi aja, buruan."
Putri mengangguk menurut, daripada nanti Anis mengadu kepada Bundanya. Tangan Putri dengan sigap menulis nama-nama para siswa. Tanpa undangan mereka tidak akan bisa masuk kek sekolah untuk menghindari adanya keributan. Karena acara inti akan dimulai malam hari yang sangat rawan untuk orang asing.
Setelah selesai dengan meja administrasi Putri berjalan mencari-cari Anis. Di depan sana ribuan orang sudah berkumpul menikmati pertunjukan yang ditampilkan.
“Anis kemana sih?” Putris menggerutu, keringat dingin sudah penuh di dahinya, lelah.
“Cari Anis?” kata seseorang yang ada dibelakangnya.
Putri kaget melihat sosok yang ada dibelakangnya. Begitu sangat dekat hingga pupil matanya dapat dilihat. Ia membeku, mulutnya tak bisa bersuara.
“Bisa ikut gue sebentar?” tanya Bilal yang sudah berjalan melewatinya.
Selepas Bilal melewatinya ia bernapas lega. Suhu tubuhnya mendadak panas, untung tempat ini gelap. Bisa-bisa wajahnya yang merah ketahuan. Ia segera mengejar Bilal yang mendahuluinya.
Sunyi itu yang dirasakan Putri yang sedang duduk di kursi depan kelasnya yang ada di gedung atas. Lelaki yang ada disampingnya hanya diam menatap pentas seni yang ada di lapangan bawah tanpa mengeluarkan kata apapun.
“Gue ngapain disini heh?! kalo gue kenapa-napa gimana astaga Tuhanku?” batin Putri yang sesekali melirik lelaki yang ada di sampingnya.
Ehem, terdengar suara deheman setelah sewindu lamannya menahan keheningan. Putri melirik tidak berani menoleh. Mimpi apa dia semalam sampai bisa berduaan dengan idola sekolah. Bisa dibunuh ciwi-ciwi jika dirinya kepergok berduaan disini.
“Maaf, lo pasti bingung gue ajak kesini.” terdengar kekehan lembut dari bibir tebal itu.
Mendengar suara berat dengan kekehan lembut itu jantung Putri tak tertolong. Panas menjalar di lehernya.
“Apa kabar, Tuan Putri?” Bilal menatap manik mata yang ada disampingnya.
Tuan Putri, kata yang tak asing di pendengaran Putri. Ingatanya membawanya ke kejadian dimana seorang anak lelaki yang mengajaknya berdansa di sebuah pesta yang di adakan sepupunya sepuluh tahun lalu. Karena ia tidak mau berdansa, anak lelaki itu terus menarik rambutnya hingga jepitan yang ada di rambutnya lepas dengan beberapa helaian rambut. Mereka berdua berakhir menangis tidak jadi menari.
Putri menelisik wajah Bilal, mencoba mengingat anak lelaki yang dulu menarik rambutnya. Namun wajah anak kecil itu sudah tak diingatkan lagi.
“Gue mau kembaliin ini.”
Jepit rambut berwarna merah jambu itu sudah memberinya jawaban. Putri langsung meraih benda yang ada di telapak tangan lelaki itu. Matanya berbinar tak percaya, padahal ia sudah melupakan benda kecil ini.
“Cantik nggak?” tanya Putri spontan yang memakai jepit kecil itu.
Bilal tertegun melihat wajah cantik yang sudah beberapa kali ada di pikirannya. Dan kali ini ia bisa melihatnya secara langsung dengan jarak yang sangat dekat.
“Jelek ya.” buru-buru tangan Bilal menahan jari Putri yang hendak melepaskan jepit kecil itu.
“Cantik. Sangat cantik.”
Tepat sasaran. Keduanya kikuk merasa canggung. Mereka kembali menatap panggung pensi meredakan hawa canggung.
“Gue suka lo.” matanya masih menatap kerumunan yang ada di bawah.
Putri membeku. Darahnya kini berdesir tak karuan.
“Nah kan gue harus ngapain sekarang?!” batin Putri yang berusaha memilah-milah kata.
Setahun lebih ia sudah menyimpan rasa kepada sosok sempurna di sebelahnya. Dan sekarang orangnya balik suka, jika tidak diambil ia akan kehilangan tiket cogan. Kucing tidak akan meninggalkan ikan yang tergeletak begitu saja kan? Tapi dirinya saat ini tidak dalam posisinya yang baik.
“Gue nggak bisa,” kata Putri lirih
Bilal langsung menatapnya kaget. Gadis yang sudah ia tunggu sekian lama sekarang menolaknya? Sudah lama sekali ia mencari informasi tentang Putri. Dan ia tahu betul bahwa gadisnya itu tidak sedang dekat dengan siapapun.
“Gue bela-belain jadi ketua OSIS supaya bisa bicara sama lo! Terus dengan mudahnya lo ngomong kita nggak bisa?” suara Bilal tak sengaja meninggi, ia menatap gadis yang ada di depannya mulai berkaca-kaca karena terkejut. Dadanya perih, dirinya menyesal. Tanggannya ingin menjangkau pipi Putri tapi Putri segera menggeleng.
“Nggak bisa darimana Putri? G-gue harus gimana lagi?” Suara Bilal kembali lembut, dirinya tak kuasa berdiam diri melihat Putri yang menahan tangis karena bentakkannya. Gadis itu menutup bibirnya rapat-rapat menahan isakan yang keluar dari mulutnya agar tak terdengar.
“Putri.” Panggil Bilal lembut. Tak ada sautan dari gadis yang ada dihadapannya. Kepala gadis itu menunduk tak berani menatap kearahnya.
“N-ggak bisa B-il, g-gue.” Putri membekap mulutnya tak kuat melanjutkan kata apa yang akan keluar. Dadanya bagai dihantam jarum, ia tak kuat menahan sakit ini sendirian. Matanya mendongak menerawang langit malam yang terbentang penuh bintang agar buliran air matanya tidak jatuh, ia menghembuskan napas pelan meredakan isakan yang ia rasakan. Pelan-pelan ia menatap netra cokelat Bilal yang menatapnya lekat.
“Gue udah nggak kuat Bil.” lirih Putri dengan tersenyum penuh tegar, ia menggenggam jemari Bilal. Isakan kecil masih terdengat di indera pendengaran Bilal.
“Gue sakit.”
Deg.
“Kata dokter gue cuma bertahan tiga bulan.” senyuman Putri masih tertahan di bibir manisnya.
Jantung Bilal mencelos, bola matanya mencari-cari kebohong atas apa yang keluar dari mulut Putri. Namun yang didapat adalah mata tulus yang sayu menatapnya. Ia tak percaya ini.
“Gue bakal tetep sayang lo.” tangan Bilal menarik Putri jatuh ke pelukannya. Dekapan hangat dan elusan lembut itu membuat Putri tambah terisak.
“Gue udah lama nunggu ini.”
“Disini kita akan tetep bersama ya hm.” tangan besar itu senantiasa mengelus punggung Putri yang bergetar. Membisikan kata-kata lembut agar tangisan gadis yang ada didekapannya reda.
Malam itu, malam yang cerah bersinar dengan tebaran bintang di angkasa menyatukan sepasang manusia yang saling membutuhkan. Dengan bintang yang tersebar sebagai saksi janji mereka berdua yang mengatakan akan setia mendampingi hingga detik terakhir. Janji itu memunculkan sedikit harapan kebahagian dipermintaan terakhir.
Kata Afgan dan Raisa, selamanya kita akan bersama melewati segalanya yang dapat pisahkan kita berdua. Tapi, jika keduanya memang harus berpisah apakah setiap detik yang mereka lewati bersama sekarang sia-sia? Tinggal menunggu hari hingga salah satu dari mereka pergi.
Hari-hari sudah terlewati dengan Bilal yang selalu ada disisi Putri. Bilal mengatakan bahwa ia akan selalu disamping Putri. Putri akan tetap menjadi satu-satunya Tuan Putri untuknya.
Bilal akan menemani Putri check up, duduk bersama di taman rumah sakit, membawakan beberapa hadiah, membawa tuan putrinya jalan-jalan atau segala sesuatu yang Putri mau akan selalu ia berikan. Apapun itu.
Tuan Putrinya kini tidur dengan berbagai alat medis yang memenuhi tubuhnya. Ia menatap lekat mata yang terpejam itu. Menelusuri wajah cantik kekasihnya yang menurutnya tidak memudar. Rambut yang dulu teurai dan sering ia mainkan sekarang digantikan kain penutup yang menutupi kepala yang botak.
Dulu ketika mengetahui mereka satu sekolah Bilal senyum seharian tak karuan, Mamanya yang memberitahunya. Setiap ada kesempatan ia akan berjalan melewati kelas Putri, membelikan jajan Putri dan menyuruh Anis memberikannya dengan berbagai alasan, tahu Putri mendaftar OSIS Bilal mengusahakan dirinya bisa ada diposisi yang tepat agar selalu ada kesempatan untuk bica berbicara dengan Putri.
Saat tidurpun pikirannya akan terarah mengingat senyum manis Putri yang ia lihat dari jauh. Beberapa kegiatan kecil lain yang tak sengaja Putri lakukan akan membuatnya tertawa kecil. Saat Putri hampir telat dengan wajah pucat, Bilal sangat khawatir. Ia berlasan memberi pengumuman rapat kepada Anis untuk melihat Putri memastikan bahwa Tuan Putrinya baik-baik saja.
“Hei,” panggil Putri dengan suara lemah.
Tatapan yang sedari tadi Bilal berikan nampaknya membuat Tuan Putri kecilnya terbangun. Ia buru-buru mendekat ke arah Putri yang tersenyum lemah ke arahnya.
“Kenapa bangun hm?” Bilal mengusap lembut jemari-jemari kecil yang ada di tanggannya.
“Soalnya kamu liatin aku mulu ihh,” tutur Putri yang mendapat senyuman hangat dari Bilal.
“Besok bakalan sakit nggak ya?” gumam Putri lirih.
Selirihnya-lirihnya gumamman Putri itu akan tetap didengar oleh Bilal. Tak ingin menanggapi gumamman Putri tadi Bilal hanya tersenyum kecut. Hatinya kini sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk besok. Doa yang selalu ia rentangkan setiap hari untuk Tuan Putrinya tidak ada yang tahu besok.
“Putri,” kata Bilal lembut dengan senyuman hanya ke arah Putri seorang.
“Aku mau bilang. Aku akan selalu ada disampingmu, ya sayang. Apapun yang kamu mau pasti aku akan berikan. Sekarang, besok ataupun nanti.”
Buliran kristal itu lolos tanpa adanya isakkan, Putri membiarkan air matanya mengalir tanpa menahannya lagi. Ia terlalu lelah untuk menahan semuanya sekarang, besok akan berakhir untuknya. Wajah ini, wajah yang ada didepannya ia akan selalu mengingatnya. Dekapan hangat yang selalu lelaki itu berikan untuk mewarnai hari-harinya kini akan selalu ia ingat.
“Aku sayang kamu Bilal aku cinta kamu.” Bilal mendekap Tuan Putrinya erat, memberi kehangatan yang selalu ia berikan.
“Iya sayang aku juga,” jawabnya lembut.
___________________
sebenernya saya nggak bisa nulis cerita romantis, pengen geli mulu baca ungkapan sayang. Dan cerita ini sebenarnya saya bingung mau dibawa kemana endingnya jadi saya hentikan disini. Intinya mereka tetap bersama disaat-saat terakhir HAHAHAHA.
Terimakasih sudah mampir.