Pernah mendengar cerita beauty and the beast? Cerita seorang gadis yang terjebak dengan binatang buas mengerikan yang ternyata merupakan pangeran tampan. Mungkin kisah ku hampir sama. Tetapi kali ini bukan binatang buas sungguhan melainkan tuan muda tampan yang sifatnya melebihi binatang buas.
Aku Aerin, gadis miskin yang kebetulan bekerja pada keluarga kaya. Aku tak seperti asisten rumah tangga lainnya. Aku ditempatkan khusus untuk mengurus tuan muda mereka. Kim Seokjin.
Seokjin merupakan anak bungsu dari keluarga Kim. Saat pertama kali bertemu aku sempat terperangah, wajahnya benar-benar tampan. Terlalu fiksi untuk menjadi nyata. Seperti ilustrasi pangeran-pangeran dalam cerita dongeng. Ya, setidaknya sampai aku tau siapa Seokjin sebenarnya.
Sifat Seokjin tak sebaik wajahnya, ia benar-benar sombong, egois, dan mengerikan. Terkadang menjadi sangat merepotkan kalau ingin sesuatu. Aku sempat mendengar rumor aku adalah orang ke enam puluh satu yang menjadi pelayan pribadi Seokjin. Lalu kemana orang-orang terdahulu? Tentu saja mereka mengundurkan diri, tidak kuat dengan perangai Seokjin. Pria itu banyak mau, banyak aturan. Kalau saja tidak butuh uang, aku sudah pasti melempar wajahnya dengan air mendidih agar melepuh. Terkadang memang tak seharusnya melihat sesuatu dari tampilan luarnya.
"Aerin, kau lama sekali sih?" Aku menghela napas berkali-kali. Dengan setumpuk baju di tangan ku, aku mendekat ke arah Seokjin. Lihat, ia hanya diam sedangkan aku sedang kesusahan membawa beberapa stel bajunya. Ia tak berniat membantu sekalipun. Ini memang sudah rutinitas Seokjin, sehabis mandi ia hanya akan duduk di ranjang menungguku membawakan beberapa stel pakaian untuk ia pilih salah satu. Padahal jelas-jelas kedua kakinya masih berfungsi dengan baik.
Seokjin terlihat memilih pakaian yang aku bawakan. Lama sekali padahal tinggal pilih satu lalu selesai. "Aku tidak suka semuanya, kembalikan saja." Aku kembali menghela napas, sekarang agak kasar. Inilah yang tidak aku suka, Seokjin terlalu pemilih. Jadilah aku harus kembali membawa setumpuk baju demi memenuhi keinginan Seokjin.
"Kau marah?" Tanya nya, aku gelagapan. Buru-buru merubah raut wajahku menjadi tersenyum, walaupun terpaksa. "Tidak tuan." Ucapku. "Bagus, orang miskin seperti mu memang tak pantas untuk protes." Aku mengepalkan tangan, ingin segera memukul Seokjin tapi tidak bisa. Bisa-bisa sebelum sempat memukul aku sudah dipenjara.
Aku lantas kembali ke dalam walk in closet milik Seokjin. Tetapi berhenti tepat di ambang pintu sebab Seokjin memanggil ku. Aku pun berbalik, jujur saja tangan ku hampir kebas sebab pakaian yang aku bawa benar-benar setumpuk bukan hanya beberapa pasang saja.
"Kenapa tuan?" Tanya ku, penuh penekanan tak peduli Seokjin sadar atau tidak. "Aku tiba-tiba ingin memakai yang itu, bawa kemari lagi." Ucap Seokjin dengan santainya.
Sudah, sudah cukup, sudah cukup dua tahun ini aku bersabar menghadapi Seokjin. Sekarang tidak lagi, dengan kaki menghentak lantai aku berjalan cepat ke arah Seokjin. Ku lemparkan tumpukan pakaian itu tepat di wajah nya.
"HEY! APA YANG KAU LAKUKAN?" Ucapnya berteriak, aku tak gentar sekalipun Seokjin ingin membunuhku disini. Aku menatapnya nyalang, tak kalah galak. Lantas meninggikan suaraku."URUS SAJA DIRIMU SENDIRI TUAN, SAYA SUDAH TIDAK TAHAN." ucap ku dengan napas menggebu-gebu. "MULAI SAAT INI SAYA BERHENTI." Tambah ku, persetan dengan sopan santun, bahkan sikap ku saat ini sangat wajar untuk orang seperti Seokjin.
Aku mulai berbalik, ingin pergi tapi ku rasakan Seokjin menarik tangan ku. Dengan emosi menggebu-gebu aku berbalik.
"Kenapa tuan? Tenang saja saya tidak akan meminta gaji saya bulan ini. Lebih baik saya berkerja menjadi pelayan restoran daripada bekerja dengan orang sombong seperti mu." Ucapku. Hening sebab ia terlihat menatapku untuk beberapa detik.
"Jangan pergi." Aku membeku, stagnan pada posisiku ketika dua kata keluar begitu saja dari mulut yang selalu memerintah ini itu. "Jangan pergi, Aerin." Ucapnya lagi, dengan tatapan sendu, lembut. Tidak seperti biasanya. Sejenak aku terpaku pada netra coklat itu. Mengalirkan kehangatan ketika aku mengingat tak pernah dipandang setulus ini oleh seorang pria.
Aku mulai mengais kesadaran ku kembali dengan menggeleng pelan. Mencoba teguh dengan keyakinan ku, tidak boleh mudah luluh hanya dengan tatapan. "Maaf tuan, aku harus pergi." Ucapku, aku kembali berbalik tetapi sesaat kemudian tubuhku tertarik ke belakang, membuatku tepat jatuh pada pelukan hangat tuan muda ini.
"Aku mohon jangan pergi." Ucapnya, dari sini aku dapat mendengar detak jantung Seokjin lebih cepat. Aku mendongak, dari bawah pun Seokjin masih terlihat tampan. "Tuan, aku----"
"Ku mohon jangan." Ucapnya memotong ucapan ku. "Aerin, kau benar. Aku terlalu pemilih. Itu sebabnya aku tak pernah bisa beradaptasi dengan orang baru. Aku selalu memecat mereka pada akhirnya." Aku tertegun mendengar Seokjin mulai menjelaskan tanpa diminta.
"Tapi kau, aku tidak tahu ini apa tapi sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan hadir mu. Kau berhasil membuatku bergantung kepada mu. Kau harus bertanggung jawab, jangan pergi ku mohon." Berkali-kali aku stagnan pada pelukan Seokjin, kemarahan ku seakan mereda seiring dengan kalimat pilu yang mengucur dari mulut yang biasanya menyebalkan. Beberapa saat aku merasa diriku telah terhipnotis.
"Tetap bersama ku, aku mohon." Ucapnya, entah kenapa benar-benar terdengar pilu hingga aku berkali-kali kalah. Aku memilih menikmati kehangatan yang mengalir melalui pelukan ini. Hati kecil ku ingin membalas tapi otak berkali-kali bilang tidak.
Tapi pada akhirnya aku mendongak kembali bertepatan dengan Seokjin yang menatapku. Pandangan kami bertemu, dapat aku lihat mata Seokjin sudah berkaca-kaca, tersirat tulus mendalam dalam tatapannya. Dan kali ini aku benar-benar kalah.
"Baiklah, aku akan tetap bersama mu." Ucapku.