*Brak.
Ayah menutup bagasi mobil kami dengan kuat.
"Semuanya ayo cepat masuk," seru Ayah dari dalam mobil.
*Bruuum.
Langit biru di sertai awan-awan yang menawan, menghiasi perjalanan kami pada pagi hari ini.
Pada libur panjang kali ini aku bersama seluruh keluarga ku akan pergi ke rumah nenek dan kakek yang terletak di sebuah desa kecil, meski kecil, soal keindahan alamnya yang senantiasa di jaga tidak dapat di ragukan lagi. Aku tidak sabar untuk segera sampai di sana, terakhir kali aku pergi ke sana dua tahun yang lalu. Ayah dan Ibu selalu sibuk dengan urusan pribadi mereka. Karena itu liburan tahun-tahun kemarin kami habiskan dengan berlibur di rumah saja.
*Ckiit.
Ban mobil kami berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu klasik dengan pepohonan cemara yang berjejer meramaikan halaman nya. Tampak dari depan teras rumah, nenek dan kakek berdiri menunggu kedatangan kami.
"Navera, cepat keluar bantuin angkat kardus ini," panggil Ibu dari bagasi.
"Iya, aku datang," sahut ku sembari melangkah keluar dari mobil van tosca.
Selepas membantu Ibu mengangkat kardus berisi oleh-oleh dari kota, aku langsung bersaliman dengan nenek dan kakek. Hari sudah semakin sore, lampu penerangan di teras mulai di nyalakan.
Saat ini nenek dan kakek tengah berbincang-bincang bersama Ayah dan Ibu di ruang tengah. Sementara Kak Jean dan adik ku Danias duduk bersila di teras rumah dengan ponsel miring.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di luar menikmati langit senja yang baru saja menyapa. Aroma pembakaran sampah dedaunan, bersama hembusan angin yang menyejukkan, benar-benar suasana sore yang selalu saja ku rindukan ketika langit merah berpadu orange menyapa ku di tengah hiruk pikuk nya suasana kota.
Aku berjalan ke halaman belakang rumah, di setiap sudut pandang ku menatap, hanya terdapat banyak pepohonan di sana. Aku terus saja berjalan masuk menyusuri pepohonan itu, entah apa yang sedang ku pikirkan saat ini. Dari dalam sini masih dapat ku lihat langit senja, ku kira aku tidak dapat melihatnya karena tertutupi oleh dedaunan pohon.
Perlahan-lahan tanpa ku sadari, aku telah terhanyut kedalam keheningan sesaat.
Ketika aku membuka pejaman mata ku dengan perlahan, yang tampak bukan lagi suasana senja ataupun pepohonan yang sama seperti di halaman belakang. Namun suasana malam yang kelam di tengah hutan, dengan sinar bulan sebagai satu-satu nya pencahayaan. Dengan pikiran kalut berulang kali aku menoleh ke arah kiri dan ke kanan. Pikiran negatif akan hal-hal yang tidak di inginkan mulai terbayang-bayang di benak ku.
Tak ingin berlama-lama berkutat dalam pikiran negatif, aku memutuskan untuk berjalan ke arah kanan sesuai apa yang intuisi ku katakan.
*Srak.
Ketika aku mendengar suara semak-semak saling beradu, aku langsung menoleh memperhatikan keadaan sekitar dengan debaran jantung yang memburu.
Dari balik pohon besar di depan ku, dapat ku lihat bayangan seorang laki-laki tinggi memakai jubah hitam.
Dia berjalan mendekat ke arah ku dengan langkah pendek-pendek. kaki ku dengan spontan ikut berjalan mundur perlahan-lahan.
Aku sudah mentok tepat di bawah pohon beringin besar. Namun laki-laki itu terus saja berjalan semakin mendekat ke arah ku, dapat ku lihat bayangan nya selama aku menunduk ketakutan.
*Grep.
Dia menjangkau lengan kiri ku, lalu memaksa ku berjalan bersamanya. Tentu saja aku tidak tinggal diam dengan terus berusaha melepaskan lengan ku, namun rasanya itu sia-sia saja, tenaga nya terlalu kuat.
Ada celah. (Batinku).
Dengan sigap aku langsung menepis lengan kanan nya.
Tentu saja itu berhasil. Laki-laki itu langsung melihat ke arah ku yang berada tepat di sebelah kanan nya dengan raut terkejut. Kini dapat ku lihat dengan jelas wajahnya karena sinar rembulan tepat menyinari nya dari arah belakang.
Karena wajahnya yang rupawan aku sampai lupa untuk berkedip, aku langsung memalingkan wajah ku ke sebelah kiri.
"...di depan sana, ada jalan ke luar, " ujarnya.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut bersama nya pulang. Di dalam kereta kuda suasana nya jauh lebih canggung di bandingkan saat kami berjalan bersama menyusuri hutan tadi. Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya sesuatu kepada nya yang kini duduk berhadapan dengan ku.
"Jadi, apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini di tengah hutan?" tanya ku, dengan melihat nya sesaat lalu kembali menunduk melihat sepatu ku.
"Menenangkan pikiran..., bagaimana dengan mu?"
"Itu, saya...saya tersesat."
"..."
Dia hanya terdiam, padahal aku mengatakan yang sebenarnya.
"Nama saya, Navera Aresta." Aku mengatakan itu seraya menyodorkan tangan ku ke hadapan nya.
"...Efran Yourk."
Di luar dugaan, ku kira dia akan mengacuhkan ku untuk berjabat tangan.
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya kami sampai juga di rumahnya. Di bandingkan rumah yang mewah, bukankah ini lebih ke sebuah mansion yang megah bergaya Eropa.
"Selamat datang Tuan Duke," ucap para pelayan yang berjejer dari dalam pintu sembari meluruskan punggung untuk memberi hormat.
Apa!!!Tuan Duke?! (Jerit Batinku).
Dia menyuruh seorang kakek tua yang dia sebut sebagai Kepala pelayan untuk mengantarkan ku ke kamar dan memberikan ku baju ganti juga makan malam.
Menyebutnya sebagai kamar tamu bukankah itu tidak sepadan, maksud ku lihat lah, ruangan ini terlihat begitu mewah sebagai kamar tamu. Kalau aku ceritakan kepada Danias dia pasti tidak akan percaya.
Air mata ku tiba-tiba saja turun meresap ke dalam bantal ketika aku teringat keluarga ku.
Aku merindukan kalian. (Batinku).
Tak terasa kini pagi telah tiba, aku sarapan di atas meja makan bersama laki-laki itu, dengan ditemani beberapa maid, yang berdiri beberapa langkah di belakang ku. Rasanya aku tidak bisa menelan sandwich ku, dan menegup jus apel ku dengan benar.
Sehabis sarapan aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di dalam perpustakaan yang terdapat di sudut rumahnya.
"Haahh..." hela ku panjang.
Aku bosan, aku juga rindu dengan keluarga ku, aku ingin kembali. (Batinku).
*Pluk.
Tiba-tiba saja sebuah tangan lebar memegang atas kepala ku. Aku pun langsung menoleh ke belakang.
"Mau jalan-jalan di luar sebentar," ucap Tuan Efran yang terus menatap lurus ke luar jendela.
Aku tidak tahu ada apa dengan diriku mengapa semudah itu menyetujui ajakan nya. Seharusnya aku sudah tahu kalau keadaanya hanya akan menjadi canggung.
"Wah, bunga mawar nya sangat indah," seru ku sangat antusias.
"Di taman istana ada lebih banyak bunga mawar, mau melihatnya bersama?" tanya Tuan Efran yang sejak tadi berusaha untuk tidak menatap ku.
"...um, apakah saya boleh ke sana?"
"Nanti malam jadilah partner dansa ku di pesta ulang tahun Raja," ucap nya.
Itu beberapa kata-kata terakhir sebelum dia pergi meninggalkan ku di taman.
Sebentar lagi petang akan segera tiba, sejak tadi aku hanya berdiam diri di dalam kamar dengan perasaan campur aduk. Saat matahari baru saja terbenam dengan sepenuhnya, para pelayan berdatangan ke kamar ku.
Seperti nya ini akan sangat melelahkan. (Pikirku).
"Sudah selesai Nona Navera," tutur seorang pelayan berambut pendek, dengan begitu antusias.
Di dalam kereta kuda aku dan Tuan Efran duduk berdampingan, itu membuat ku merasa semakin tidak karuan.
"Umm...Tuan Efran..." panggil ku, seraya melihat ke luar jendela.
"Ada apa?" balas nya.
"Sebenarnya saya, saya tidak bisa berdansa," kata ku ragu-ragu.
"Ikuti saja gerakan ku," ucapnya dengan enteng.
"Bagaimana bisa...." sahut ku, lalu menoleh ke samping kanan menatap mata biru nya yang indah.
"Tentu saja bisa, itu sebabnya saya memilihmu," pungkas nya seraya menatap ku juga.
"...bagaimana jika saya menginjak kaki mu?..." tanya ku ragu-ragu.
"Itu wajar," jawabnya singkat.
Kini kami telah sampai di gerbang istana. Dari jendela kereta, dapat ku lihat berbagai macam kereta kuda yang terparkir di sepanjang jalan. Entah sejak kapan tangan ku mulai gemetaran.
Tuan Efran memegangi tangan ku, kami pun berjalan masuk bersama melewati pintu yang terhubung dengan aula utama.
"Duke Efran Yourk memasuki ruangan," Seru seorang pengawal yang berjaga di pintu.
Para bangsawan yang hadir di sana terus memperhatikan kami dengan lekat. Itu membuat ku merasa sangat tidak nyaman.
Kami harus menghadap Baginda Raja dan Permaisuri terlebih dahulu untuk memberi hormat.
"Pewaris tunggal keluarga Yourk, terima kasih telah menyempatkan diri untuk hadir," Baginda Raja mengatakan itu sembari melirik ke arah ku sekali.
"Sebuah kehormatan untuk saya," sahut nya.
"Sepertinya hari ini kau membawa seseorang yang spesial yah, hohoho," ujar baginda Raja dengan tertawa kecil.
Tuan Efran tidak begitu merespon perkataan Baginda Raja lalu menarikku pergi ke tempat lain. Selang beberapa saat, iringan alat musik seperti violin, biola, dan piano mulai terdengar, para bangswan mulai bersiap untuk berdansa.
"Tangan mu." Pinta nya sambil menyodorkan tangan nya kehadapan ku.
Baiklah, ini mulai mendebarkan. (Batinku).
Aku berusaha senatural mungkin mengikuti gerakannya.
"Untuk seseorang yang tidak bisa berdansa, kau cukup baik," ucap nya seraya menyeringai kecil.
Sebenarnya aku suka menonton film bangswan, jadi aku tahu paling tidak sedikit gerakannya.
Aku sangat bahagia, namun di satu sisi hati kecilku merasa tidak terima.
"Tuan Efran," panggil ku.
"Sebut nama ku," ujarnya, yang terus saja menatap mata ku.
"Ef...E...Efran," kata ku terbata-bata.
"Ya, Nona ku," sahutnya.
"Apa Tuan tidak ingin tahu dari mana asal saya?" tanyaku serius.
"Itu tidak penting lagi sekarang," balas nya.
"...saya ingin mendengar alasan Tuan, kenapa Tuan menyetujui permintaan saya untuk tinggal sementara di kediaman Tuan?" tanyaku lagi.
"..."
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir nya.
"Jawab aku," tandas ku.
Aku langsung melepaskan tangan ku dari genggamannya lalu berjalan ke sebelah kiri yang menuju ke arah taman. Tuan Efran menysul ku, lagi-lagi dia berhasil menggapai lengan ku.
"Kau berhutang satu jawaban kepada ku." Kata ku ketika membalikan badan.
"...berjanjilah kepada ku satu hal..." ujarnya, sambil menundukkan kepala.
"Berjanji untuk apa?" tanya ku.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi meninggal kan ku, saat aku mengatakan yang sejujurnya," ucapnya sembari memegang erat lengan kiri ku.
"...saya, saya tidak bisa berjanji untuk hal itu, maaf," kata ku lalu memalingkan wajah.
"Alasan..."
"Karena suatu saat nanti bisa saja saya tiba-tiba menghilang, sama halnya seperti saya tiba-tiba datang ke dunia ini," potong ku, tanpa berani menatap mata nya.
"...sudah ku duga, ternyata kau sama saja seperti mereka...."
"Apa maksudmu dengan mereka?"
"...kedua orang tua ku, mereka meninggalkan ku dalam kecelakaan kereta kuda," lirihnya.
Aku langsung memeluk Tuan Efran dengan erat, rasanya aku seperti bisa merasakan kesedihannya. Tuan Efran membalas pelukan ku lalu mengatakan, "Aku jatuh cinta kepada mu, itu sebabnya aku ingin kau terus berada di sisi ku," ungkapnya, yang membuat ku sangat terkejut. Tapi sejujurnya aku sangat bahagia. "Aku juga," bisik ku.
"Hahaha, syukurlah, aku sangat bahagia mendengarnya," ucapnya seraya tertawa kecil.
~~~Waktunya pulang~~~
Terdengar suara bisikan halus seseorang dari segala arah yang menghantui telinga ku.
"Apa kau akan tetap pulang?" tanya Tuan Efran tiba-tiba.
Aku langsung melepas pelukan nya, "Apa Tuan mendengarnya juga?"
"Tiba-tiba saja aku bisa mendengar suara itu," balasnya.
"...ya, aku harus menemui orang-orang yang sangat berharga bagi ku, sekali lagi maaf," jawab ku.
"Tidak perlu minta maaf, aku sudah cukup bahagia dengan waktu singkat yang kita lewati bersama," ucapnya seraya tersenyum.
Aku bisa merasakan perlahan diriku mulai menghilang seperti kepingan kaca yang rapuh.
"Baiklah, Selamat tinggal, Tuan Efran," kata ku dengan air mata yang berlinang.
Ketika aku membuka mata, aku sudah terbaring di belakang halaman rumah nenek.
Ah, pakaian ku?
Syukurlah kembali seperti semula, celana training hitam dengan kaos cream polos.
Aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk segera menemui yang lainnya.
*Drap. Drap. Drap.
"Kak Jean main ulang, barusan kakak curang!"
"Curang dari mana nya, maka nya main itu yang bener."
"Eh, Navera dari mana saja kamu, cepet masuk jangan hanya berdiri di depan pintu planga plongo kayak gitu, bentar lagi petang loh," ucap Ibu yang sedang duduk bersila di karpet.
"Ah!iya Bu."
Syukurlah semuanya masih sama saja.
Seminggu pun berlalu setelah hari itu, hari ini kami akan kembali ke kota.
*Brak.
Ayah menutup bagasi mobil kami dengan kuat
*Piip. Piip.
Suara klakson Ayah yang terdengar nyaring di telinga.
"Dah nenek, dah kakek." Seru ku dari dalam mobil sembari melambaikan tangan.
Pertemuan ku dengan Tuan Efran rasanya masih saja seperti mimpi. Aku masih mengingat dengan jelas kata kata terakhirnya...
"Kita pasti akan bertemu kembali, Navera."
Aku juga berharap seperti itu, semoga saja.
-Tamat.
~~~oOo0oOo~~~
Ketika kita mampu melepaskan dan mengikhlas kan orang yang kita cintai, itulah yang di namakan ketulusan hati dan cinta yang sebenarnya.
Cinta tidak mengenal tempat dan waktu, juga tidak bisa di ukur lewat seberapa lama kebersamaan.