Lanjutan Cerpen 'Kehilangan Sahabat Dunia Maya'
POV Zenny Amanda
Aku sejenak termenung, saat kulihat sebuah chat privasi yang kubuka yang berasal dari Kak Vini, temanku yang ikut menjauh saat itu. Hampir dua bulan aku menjauh dari dunia literasi dan memutuskan akses komunikasiku dengan semua teman disana tanpa terkecuali. Tujuanku hanya ingin menenangkan diri. Menyelesaikan semua masalah di Real Life-ku, juga melupakan rasa sedih dan kecewaku karena dijauhi Ka Mitha, Ka Vini dan Ka Hera.
Perlahan aku bisa melupakan semuanya dan kehidupanku mulai kembali tenang, walau tak bisa kupungkiri, aku rindu pada teman-teman dunia mayaku. Setelah aku merasa siap, akupun kembali dan mulai menulis lagi disela kesibukanku saat bekerja.
Aku kembali menyapa teman-teman dan mulai bergabung dibeberapa Grup untuk mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang. Namun tanpa sengaja, aku memasuki beberapa Grup yang sama, dimana ada Ka Mitha sebagai anggotanya.
Dan seperti kejadian sebelumnya, Kak Mitha langsung left dari grup-grup tersebut dan tentu saja itu dilakukan mungkin untuk menghindariku. Rasa sakit itu kembali muncul ... mataku kembali berkaca dengan semua itu
'Ternyata aku belum bisa lupa ... ternyata aku masih saja merasa terluka dengan semua ini ... Kenapa sih?'
Aku merutuki kebodohanku. Tapi aku harus mencoba untuk tak perduli, 'bukankan tujuanku kembali hanya untuk menulis' aku coba menyemangati diri sendiri lagi untuk coba tak perduli pada hal-hal yang membuatku sedih kembali.
Sampai akhirnya seminggu kemudian, aku mendapati chat dari Kak Vini.
[Apa kabar, Zenny. Ini Vini] isi pesan itu sesaat membuatku termenung, antara percaya dan tidak. Ka Vini menghubungiku lagi, setelah beberapa lama dia menjauh, meningalkan aku, memutuskan komunikasi denganku, tiba-tiba dia saat ini datang menyapaku lagi.
Mataku seketika berkaca. Ada perasaan bahagia, tapi luka yang sudah sembuh itu rasanya kembali lagi terbuka. Kata-katanya yang menyakitkan waktu itu serasa terngiang-ngiang kembali. Air mataku tumpah seketika.
Setelah saling bertukar kabar. Ka Vini meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Akupun meminta maaf karena aku merasa semua itu terjadi karena kesalahan dan kecerobohanku. Seandainya sikapku tidak seenaknya mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Tapi semua juga tak bisa diulang dan diperbaiki lagi. Semua sudah terjadi.
"Jika kamu masih ingin berteman denganku, jangan lagi membahas apapun itu tentang Ka Mitha atau Hera, paham?" ucap Ka Vini memberi syarat.
"Dan jangan pernah lagi kamu titip pesan pada siapapun lagi untuk Ka Mitha, karena cara penyampaian orang itu berbeda-beda. Tujuan kamu baik belum tentu akan tersampaikan dengan baik." saran Ka Vini. Dan A
akupun mengiyakan dan menyetujuinya.
Kami berduapun kembali akrab seperti dulu, mencoba melupakan apa yang pernah terjadi. Walau sejujurnya ingin aku bertanya pada Ka Vini, bagaimana keadaan Ka Mitha, apakah baik-baik saja dia? 😓 Seringkali aku merasa sedih, mereka bertiga masih bisa berteman dekat, masih bisa saling bercanda, sementara aku ... merasa terbuang sendirian😞
Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa rindu pada Kak Mitha, ingin sekali aku menyapanya, meminta maaf padanya, aku tahu Kak Mitha orang yang tegas dan teguh pada pendiriannya, tapi walaupun begitu aku masih berharap suatu saat Kak Mitha mau memaafkanku dan mau menerimaku sebagai teman seperti dulu😔 Tapi rasanya semua itu sangat mustahil terjadi.
Tanpa sengaja aku berkenalan dengan Kak Fitri dari salah satu Grup yang aku ikuti. Dan setelah berapa lama kami dekat, ternyata dia teman dekat Ka Mitha juga. Setengah ragu, aku sedikit menceritakan permasalahanku dengan Ka Mitha, tanpa menjelekan Kak Mitha sedikitpun.
Akupun meminta bantuan dia untuk menyampaikan pesan maafku pada Kak Mitha, walaupun akupun tahu semuanya akan percuma. Dan memang seperti dugaanku, sama sekali tak ada respon. Dan Kak Mitha tetap tak tak perduli.
Sejak itu aku memutuskan, untuk menyerah dan tidak akan pernah lagi berharap apapun pada Ka Mitha. Biarlah selamanya dia membenciku, yang penting aku sudah dengan berbagai cara mencoba meminta maaf padanya. Sampai aku merasa malu dengan hal itu.
Sampai suatu ketika, Kak Vini menawariku untuk menyampaikan pesanku pada Ka Mitha. Aku sempat termenung mendengar tawaran itu, karena sebenarnya baru seminggu yang lalu aku juga telah menitipkan pesan pada Ka Fitri, dan semuanya tak ada gunanya juga.
"Ayo, mumpung aku berbaik hati, aku coba bantu kamu sekali ini. Sambil aku jujur kalau aku telah membuka komunikasi lagi denganmu. Tapi kamu juga jangan terlalu berharap banyak dan pada akhirnya kamu akan kecewa ...."
Ka Vini melanjutkan ucapannya lagi. "Aku tahu kamu masih penasaran sama Ka Mitha, kamu pasti masih berharap hati Ka Mitha melunak dan mau membuka komunikasi pertemanan lagi denganmu, iya kan? Aku tahu itu, tapi kamu juga jangan terlalu berharap agar kamu tak selalu merasa sakit hati."
"Aku tak berharap apapun lagi, Kak ... Aku sadar dengan semua kekuranganku yang tak pantas berteman dengannya, tapi kalaupun boleh, aku hanya ingin sekali saja bicara dengannya ...," aku menangis tak bisa lagi menulis apapun untuk melanjutkan chatku. Kenapa rasanya sakit sekali.
"Teman yang baik, cukuplah mendoakan walaupun kamu tak bisa menyapanya. Doakan dia untuk selalu bahagia dalam kehidupannya," lanjut Kak Vini lagi yang membuatku semakin deras menangis. Aku seperti orang bodoh, menangisi pertemanan dunia maya yang tak jelas ini. Kenapa sakitnya bisa seperti ini, seperti saat aku kehilangan sahabat terbaikku dulu.
"Aku tidak berharap Kakak menyampaikan pesanku, jika itu akan membuat pertemanan Kaka dan Ka Mitha nanti akan bermasalah. Biarlah ... rasanya tak ada gunanya juga, dan akan percuma," ucapku pesimis.
"Doakan saja, semoga semuanya sesuai harapanmu. Aku hanya ingin membuat hatimu sedikit lega," ucap ka Vini menutup pembicaaraan.
Masih seperti yang aku duga, tidak ada respon baik dari Ka Mitha. Akupun tidak kecewa, karena aku sudah menduga semuanya pasti percuma. Akupun akhirnya jujur pada ka Vini kalau seminggu sebelumnya akupun telah menitip pesan yang sama pada ka Fitri, karena aku tidak tahu kalau Ka Vini akan mau membantuku menyampaikan pesan.
Ka Vinipun kecewa, ia kesal dan marah padaku.
"Gue udah bilang kan, loe jangan lagi titip-titip pesan ke orang! yang ada ka Mitha makin ilfeel sama elo, tahu! lu ngodod kalau dibilangin ya!" umpat ka Vini kesal. Aku hanya bisa menangis, tak tau harus menjawab apa atas kekesalan ka Vini terhadapku.
"Apa aku salah kalau aku hanya ingin sekedar menyapa kak Mitha, apa hal itu buruk😭" jawabku dengan tangisan. Baper, lagi lagi hal ini terus membuat aku terbawa perasaanku sendiri.
"Terus saja loe titip pesan ke orang-orang yang loe anggap baik, gak usah perduliin lagi harga diri loe!" umpat ka Vini kesal.
Kak Vini pun mendiamkanku selama beberapa hari, sampai akhirnya aku mencoba meminta maaf kembali.
"Aku minta maaf atas semuanya ... tapi jangan selalu menganggap semua yang aku lakukan itu salah. Kalian tidak memahami perasaanku ... aku juga tidak mau terus seperti ini. Tapi nyatanya aku selalu terus begini," jawabku sedih.
"Bagaimana sakit dan sedihnya saat kita tidak disukai orang. Bagaimana sedihnya saat kehadiran kita tidak diinginkan ...."
"Aku ingin kamu berubah, Zen ... jangan sampai aku lagi darimu lagi ya, kalau kamu masih tetap seperti ini ...,"
"Kenapa harus datang lagi kalau hanya untuk pergi lagi," ucapku terbata. Ka Vini pun coba menasihati dan menenangkanku.
Aku kini mulai belajar dewasa. Mencoba tidak terlalu membawa perasaan di dunia maya. Banyak teman baru yang ku kenal dan saling berbagi pengalaman menulis. Banyak orang yang masih mau berteman denganku dengan sejuta kekuranganku. Walau hati ini tetap berharap semoga aku dan ka Mitha juga ka Vini bisa saling menyapa dan kembali berteman seperti dulu lagi.
Walau itu rasanya sangat mustahil terjadi, tapi aku percaya Allah maha membolak-balikan hati manusia. Karena ketentraman hidup akan didapatkan kalau tak ada rasa kebencian sedikitpun didalamnya terhadap siapapun.
#HanyaSekedarCeritaFiksi
27 Agustus 2021
Pojokan kamar
Diruang hati yang hampa