[Disarankan membaca cerpen panglima terlebih dahulu]
Di Kerajaan sudah tidak asing dengan rumor Putra mahkota yang kesepian. Rumor itu bukan hanya sekedar bualan semata, atau sensasi yang sengaja diciptakan untuk menjatuhkan. Pada faktanya semuanya benar.
Jungkook Winterson, Putra mahkota dengan julukan baru Lonely Crown prince itu menatap ke bawah. Tepatnya pada sebuah jurang curam seperti tak berujung. Duduk dengan posisi berlutut, pria itu masih memandang kosong ke arah jurang tersebut.
Lantas melirik pada sebuah buket bunga yang ia genggam, Jungkook kemudian melemparkan bunga tersebut ke dalam jurang. Jurang yang telah merenggut cintanya. Sebagian rakyat menganggap Jungkook gila sebab masih saja mencintai orang yang sudah tiada.
"Hyuna Maville, aku merindukan mu." Gumam Jungkook. Sudah lebih dari lima tahun sejak kejadian lari nya panglima dan putri Duke itu. Keduanya memilih lari sebab saling mencintai hingga akhirnya nekat memilih mati. Beberapa orang bahkan mengenang kisah mereka, perjuangan menggapai cinta. Tak sedikit pula yang menyayangkan, padahal jelas-jelas posisi Nona Maville kala itu diincar banyak orang, menjadi tunangan putra mahkota adalah impian dari banyak putri bangsawan.
Tak mudah bagi Jungkook melupakan Hyuna Maville. Cinta pertamanya bahkan membuat Jungkook gila sampai terobsesi. Bahkan setelah kepergian gadis itu, Jungkook masih sering datang ke tepi jurang ini hanya untuk melemparkan sebuket bunga tanda Jungkook masih sangat mencintai putri keluarga Maville tersebut.
"Maaf putra mahkota, sudah hampir senja. Ratu sudah menunggu anda untuk makan malam." Ujar salah satu pengawal pribadi Jungkook. Jungkook mengangguk, lalu bangkit menuju kuda nya.
Memacu nya perlahan, Jungkook bersama pasukannya menyusuri hutan yang hampir temaram sebab cuaca hampir senja. Tak lama sampai Jungkook tiba-tiba menghentikan pasukannya.
"Maaf putra mahkota, mengapa anda berhenti?" Jungkook diam tak menjawab, ia seperti sedang fokus mendengarkan sesuatu.
"Apa kalian dengar suara itu?" Ucap Jungkook tiba-tiba. Semua pasukannya tentu bingung. "Maaf putra mahkota, suara apa yang anda maksud?" Tanya salah satu pasukan Jungkook. Jungkook tak menjawab, ia langsung memutarbalikkan arah kuda nya membuat pasukannya mau tak mau harus mengikuti.
Jungkook masih memacu kudanya perlahan, sembari fokus mendengarkan suara agar tau darimana arahnya. Tak berselang lama sebab beberapa saat kemudian Jungkook seperti sudah tau arah suara tersebut, ia memacu kuda nya lumayan kencang hingga ia tiba kembali pada jurang tempat Hyuna Maville Dan Taehyung Roosevelt bunuh diri.
Jungkook turun dari kudanya, kembali menuju tebing jurang. Mengamati ke bawah, Jungkook seperti mencari sesuatu.
"Nona Maville apa itu kau? Apa kau yang memanggil ku?" Tanya Jungkook dengan suara keras. Tapi tak terdengar apapun kecuali suaranya yang menggema.
"Nona Maville, jawab aku!" Ucap Jungkook lagi. Jungkook yakin sekali tadi Hyuna Maville memanggilnya. Maka dari itu Jungkook kembali lagi kesini. "Nona Maville, kau memanggil ku kan?" Tanya Jungkook, ia seperti orang gila. Kehilangan kendali.
Lalu setelahnya Jungkook terkejut ketika melihat seorang gadis dan pria seperti terjun dari jurang. Tangan mereka bertaut. "Hyuna Maville, panglima!!!!" Jungkook berteriak dari sisi tebing. Kejadiannya seperti nyata hingga Jungkook tak bisa mengais logika nya sendiri.
Perlahan ia bangkit, melepas mahkotanya lalu melompat dari tebing tinggi tersebut, masuk ke dalam jurang. Sontak pasukannya menjerit, turun dari kuda ketika melihat putra mahkota mereka terjun bebas ke dalam jurang.
Hingga tubuh Jungkook sampai pada ujung jurang, sempat berguling beberapa saat, menabrak apapun hingga wajah mulus itu penuh luka. Tergores ranting, terantuk batu, hingga tubuhnya berhenti. Perih, sakit, sesak. Seluruh tubuhnya seperti dipukul ratusan kali. Di sisa kesadarannya Jungkook melihat Hyuna Maville terpejam di sampingnya, wajahnya penuh luka. Dan di sisinya yang lain Jungkook melihat panglima Taehyung sama terpejam. Kepalanya penuh darah, sudut bibirnya juga berdarah. Dan Jungkook berada di tengah-tengah mereka. Tubuhnya benar-benar sakit, tapi mata nya tak kunjung terpejam. Seakan kematian sengaja membuatnya merasakan sakit yang teramat sebelum menjemput.
Dengan kesadaran yang perlahan menghilang Jungkook masih mendengar teriakan memanggil namanya. Tapi teriakan-teriakan tersebut berganti menjadi suara Hyuna dan Taehyung. Jungkook tak tahu ini ilusi, karma, atau hukuman untuknya. Tapi kemudian tersenyum.
"Semoga di kehidupan selanjutnya aku tidak menjadi penghalang cinta kalian." Lirihnya dengan susah payah. Senyuman tersungging pada wajahnya yang penuh lebam entah bahagia atau duka. Yang pasti setelahnya kesadaran Jungkook perlahan terenggut. Dan tinggal menghitung detik sampai semuanya gelap bagi Jungkook.