Happy Reading 💜
----------------------------------------------------------------
Sebuah sekolah yang ada di kota terpencil tengah kedatangan murid baru dari Tokyo, gadis cantik dengan kulit pucat dan gaya rambut yang di buat keriting gantung, dia bernama Niki.
Baru melangkahkan kaki ke aula utama, Niki di suguhkan oleh tatapan aneh dari murid lainnya. Mungkin karena gaya seragam dan dandanan ala anak kotanya terlalu mencolok, namun dia tetap acuh dan terus melangkah menuju ruang guru.
Bahkan di dalam ruang guru pun hanya ada seorang guru perempuan yang menyambutnya dengan ramah, sisanya hanya menatap tidak suka. Niki yang berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya pun tak sungkan untuk melemparkan senyum, meski tidak sedikit dari mereka yang memalingkan wajahnya saat tatapannya bertemu dengan Niki.
" Tunggu sebentar, setelah bel berbunyi Kau bisa ikut bersama Ibu ke kelas.. " ujar Aiko, wali kelas Niki.
Niki mengangguk pelan, wali kelasnya seolah mengerti kalau Niki tidak nyaman dengan tatapan mengintimidasi dari para guru di ruangan itu. Hingga bel berbunyi, Aiko dengan segera membawa Niki pergi ke kelas.
Baru saja membuka pintu, sebuah buku mendarat tepat di wajah Bu Aiko, hal itu tentu saja membuat Niki yang berada di belakang Bu Aiko ikut terkejut. Namun, tanggapan Bu Aiko seolah tidak terjadi apapun. Jelas-jelas perbuatan itu bukanlah hal yang baik, dia punya hak untuk menegur anak muridnya itu. Niki yang geram pun hanya bisa menahan dan menganggap hal ini adalah ketidaksengajaan.
Perkenalan berlangsung, jika di kota murid lain selalu aktif dan bertanya ketika kedatangan murid baru, di tempat ini semua orang malah malas-malasan dan asyik dengan dunianya masing-masing. Seorang guru di depan sedang berbicara pun tak sedikit dari mereka yang tidak memperhatikan.
" Niki duduklah.. " ujar Bu Aiko.
Niki mengangguk dan duduk di kursi kosong yang ada di ujung barisan. Dia terkejut saat melihat ada banyak sampah di dalam kolong mejanya, berikut kursinya yang basah akibat minuman yang tumpah dari kolong meja. Niki tentu saja menatap jijik ke arah tempat duduknya, sampai tiba-tiba seorang laki-laki yang duduk di seberangnya tiba-tiba berdiri sampai menjatuhkan kursi. Membuat seisi kelas kaget, lalu pergi begitu saja. Niki acuh dan kembali menatap kursinya.
" Menjijikan! Ayah, aku ingin pulang saja rasanya! " gumam batin Niki.
Tak lama kemudian, laki-laki itu kembali membawa kursi dan meja baru. Dia mendorong kursi dan meja kotor itu ke belakang secara kasar, lalu menempatkan yang baru ke tempatnya. Dia tidak berbicara selama melakukan itu, dan baru bicara saat selesai menata kursi dan mejanya.
" Duduk lah! Tidak perlu balas budi! " ujarnya lalu kembali ke tempat duduk nya.
Niki tercengang melihat hal itu, dia menatap lama laki-laki itu sebelum akhirnya tersadar dan duduk di kursi yang dia berikan.
" Giyuu-san.. " gumam Niki setelah tidak sengaja membaca papan nama di seragam laki-laki itu.
Perjalanan berlangsung membosankan, karena suara anak-anak yang bergosip lebih keras dari guru yang menerangkan di depan, sampai waktu istirahat tiba. Melihat hal pagi tadi membuat Niki enggan pergi ke kantin sekolah, dia tidak siap dengan apa yang akan di makannya disana.
Dia lebih memilih membaca komik untuk menghabiskan waktu istirahatnya daripada pergi ke tempat yang tidak siap untuk di lihat. Giyuu pun masih duduk di kursinya, dengan buku berjudul ' Hitori Kakurenbo ' di tangannya. Niki melirik sekilas ke arahnya sebelum akhirnya pandangannya kembali ke dalam gambar komik.
" Lumayan, namun begitu dingin dan pelit kata-kata.. " gumam batin Niki menilai sosok Giyuu.
Tak lama setelah itu, segerombolan murid perempuan datang dan mendekati Giyuu, dua orang lainnya pergi mendekati Niki. Niki melirik gadis yang di dekat Giyuu berani merangkulnya dari belakang, melihat hal itu Niki hanya menggelengkan kepalanya.
" Di tempat seperti ini masih berani menggoda laki-laki, dia pacar atau jalang, aku tidak peduli! " gumam batinnya.
Giyuu yang risi pun menepis tangan gadis itu agar melepaskan rangkulannya, merasa Giyuu membosankan gadis itu ikut memperhatikan Niki bersama dua temannya.
" Hi! Niki-chan.. apa kamu juga kutu buku dari kota seperti Giyuu? Ku lihat kalian akan cocok jika di satukan! " celetuknya.
Niki menutup komiknya lalu tersenyum ke arah gadis itu.
" Siapa namamu? " tanya Niki.
" Mitsuki.. " jawabnya dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya.
" Oh, Mitsuki-chan.. Ku lihat kamu sepertinya tidak punya keahlian menggertak seseorang ya? Cara mu mengintimidasi terlalu mudah terbaca, hati-hati sama orang yang jadi target perundungan, termasuk aku! " ujar Niki sambil melemparkan senyum licik nya lalu beranjak dari kursinya.
Baru mengambil beberapa langkah saja, Mitsuki memanggil Niki dan berhasil menghentikan langkahnya.
" Niki-chan.. kau tinggal di rumah besar itu kan? Aku tahu sesuatu yang seharusnya kau ketahui selama tinggal disana! " ujar Mitsuki.
" Sesuatu yang harus ku ketahui? Apa ini berhubungan dengan sesuatu yang mistis? " gumam batin Niki bertanya-tanya.
Niki berbalik dan kembali melemparkan senyum, dia menatap lekat Mitsuki, satu hal yang bisa di simpulkan dari raut wajahnya. Dia sedang tidak berbohong.
" Katakanlah.. " ujar Niki.
Mitsuki mulai menceritakan sesuatu yang ia maksud, meski sebenarnya Niki tidak tertarik dengan cerita takhayul, namun kota terpencil yang kental akan banyak cerita mistis ini mampu menarik perhatian Niki. Hitung-hitung awal pendekatan antara Niki dan Mitsuki saat ini.
Sejak saat itu mereka mulai saling berbicara dan semakin akrab. Mitsuki juga menjadikan Niki sebagai teman favoritnya saat ini, tidak hanya itu, Niki juga membantu Mitsuki dekat dengan salah seorang siswa laki-laki di kelas sebelah. Banyak hal-hal baru yang Mitsuki dan dua teman lainnya pelajari mengenai bagaimana gaya siswa kota bersekolah. Mereka yang awalnya terlihat jadul pun perlahan mulai mengenal gaya baru berkat Niki.
Niki juga belajar bagaimana cara menghadapi berbagai tatapan mengintimidasi dari warga sekolah lainnya. Selain itu, Mitsuki dan kedua temannya yang mulanya nakal bisa lebih menghargai guru nya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan satu bulan Niki bersekolah. Dia yang awalnya tidak ingin lama-lama menjadi betah di sekolah itu, terlebih adanya Giyuu. Namun, sebenarnya yang membuat Niki terus ingin bersekolah bukan hanya teman-temannya, namun juga suasana rumahnya yang semakin lama semakin aneh.
Pagi ini Ayah Niki memberitahu Niki kalau ia akan pergi ke luar kota selama tiga hari, jadi Niki akan tinggal sendiri di rumah selama tiga hari ke depan. Hal itu meski tidak dapat di terima, namun juga tidak bisa di cegah. Mau tidak mau Niki mengiyakannya, namun saat tahu ada yang tidak beres dengan rumahnya Niki jadi banyak berfikir. Dia melamun selama pelajaran berlangsung sampai waktu istirahat tiba.
" Hey! Kamu murung sejak pagi tadi! Ada apa? Apa Giyuu mencampakkan mu? " tanya Mitsuki membuat Niki dan Giyuu saling bertukar pandang.
Niki dan Giyuu memang semakin akrab, namun keduanya tak ada hubungan lebih, meski Niki sejak awal sedikit mengagumi Giyuu.
" Kamu tahu? Aku akan tinggal sendirian di rumah itu tiga hari kedepan! " jawab Niki.
" Sendirian? " tanya Mitsuki merasa kurang jelas.
Niki mengangguk.
" Kalau begitu bagaimana kalau kami temani? " tanya Mitsuki.
" Kami? "
" Aku akan mengajak Kaya dan Sonoko! " Ujar Mitsuki lebih jelas.
Niki merasa itu adalah ide bagus, namun sebelum Mitsuki yakin, Niki lebih dulu memberitahukan sesuatu kepadanya.
" Namun, seperti yang kau katakan saat itu, sepertinya ada sesuatu di rumahku.. " ucap Niki nyaris berbisik.
Mitsuki membelalakkan matanya, setelah sebelumnya kalau apa yang di ceritakan nya hanyalah rumor karena Niki tak pernah bercerita tentang keadaan rumahnya, namun saat melihat Niki seharian ini murung dia yakin Niki pun sedang tidak becanda. Mitsuki yang tadinya bersemangat jadi kehilangan nyali, tetapi dia juga tidak ingin mengecewakan temannya ini.
" Apa tidak masalah jika aku mengajak Tetsuya juga? " Tanya Mitsuki sedikit ragu.
" Ide bagus, lebih baik ada anak laki-laki yang ikut bermalam, namun, jangan melakukan hal yang mengotori rumah itu ya! " ujar Niki menyetujui.
" Tentu saja! "
" Giyuu-san!! Kamu ikut menginap juga ya di rumah Niki! " sambung Mitsuki sambil menoleh ke arah Giyuu.
" Eh? " Niki terkejut saat Mitsuki mengajak Giyuu tanpa meminta pendapatnya lebih dulu.
" Malas! " Balas Giyuu cepat.
" Ya sudah! Aku akan mengajak Genta dan Akemi saja! " Ujar Mitsuki tidak mau kalah.
Sorenya, Niki menunggu teman-temannya di teras rumahnya. Dia benar-benar tidak berani berada di rumah sebesar itu seorang diri. Dia takut telinganya kembali menangkap suara aneh. Tak lama setelah itu, Mitsuki datang bersama Sonoko.
" Niki-chan!! " Panggilnya dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Niki bangkit lalu membalas lambaian tangan Mitsuki dan Sonoko. Kedua temannya ikut duduk di teras sambil menunggu sisanya. Selang beberapa menit saja Tetsuya datang bersama Yuki, teman sekelasnya.
" Dimana Kaya dan dua buaya itu? " Tanya Mitsuki.
" Akemi dan dua lainnya sudah di jalan kok! " Celetuk Sonoko menuai kecurigaan mendalam.
" Eh, benar-benar dekat, ya? " Goda Mitsuki.
" Jangan menggodaku! " Ujar Sonoko sambil menutupi rona merah di wajahnya.
" Kenapa malah berkumpul disini? " Gumam Genta yang baru sampai dengan tiga orang lainnya.
Semua orang menoleh ke belakang, senyum Niki terukir saat melihat seseorang berdiri di belakang.
" Hey! Kau! Sudah jual mahal berani datang juga ya! " Cibir Mitsuki.
" Ya sudah, aku pulang!! " balas Giyuu.
Namun, tangannya di tahan oleh Kaya yang berdiri di sampingnya. Hal itu membuat senyum Niki pupus, perubahan itu tertangkap oleh mata Mitsuki yang langsung pergi ke arah Giyuu, melepaskan tangan Kaya dari lengan Giyuu dan membawa Giyuu ke barisan depan.
" Begitu saja sudah merajuk! " Gumam Mitsuki sambil menuntun Giyuu menjauh dari Kaya.
" Masuklah, sudah mulai gelap! " Ujar Niki sebelum akhirnya memimpin jalan.
Teman-teman Niki menatap kagum melihat isi rumah Niki yang merupakan rumah terbesar di kota terpencil itu. Lebih tepatnya adalah mansion, namun kurangnya ayah Niki sama sekali tidak menetapkan pembantu tinggal, sekalinya ada yang mau tinggal baru dua hari sudah mengundurkan diri. Sampai semakin lama, Niki semakin paham apa penyebabnya.
Niki mengajak mereka berkeliling lebih dulu sebelum membereskan tempat yang akan di gunakan untuk begadang.
Malamnya, mereka semua berkumpul di ruang tengah, menonton film horor yang di putar di televisi besar yang ada di ruangan itu. Sesekali pandangan Niki dan Giyuu bertemu, meski Giyuu terkenal sebagai sosok yang dingin entah kenapa Niki malah jadi tertarik. Padahal jika di lihat, Yuki pun cukup tampan meski tak setampan Giyuu dan Tetsuya.
" Bosan nih! " Gumam Genta.
" Mau main game? " Usul Sonoko
" Game itu sedang populer lhoo! Mau mencoba? " Tanya Kaya.
Semua orang menatap ke arah Kaya, menunggu dia menyebutkan nama permainannya. Di samping itu, Niki memergoki Giyuu yang melihat ke arahnya.
" Hitori Kakurenbo.. " ucap Kaya membuat Giyuu mengalihkan pandangannya.
" Mau mati? " Tanya Giyuu sebagai bentuk tidak setuju.
" Ini hanya permainan, tidak ada salahnya mencoba? " Timpal Tetsuya.
Perdebatan terjadi diantara Giyuu dan Kaya dengan pendapat yang saling bertentangan, namun karena banyaknya teman yang berminat tentang permainan ini, Giyuu pun tak bisa lagi mengelak.
" Permainan ini hanya di mainkan hanya satu orang, siapa yang akan main?! " Tanya Giyuu.
" Tentu saja Niki! " Jawab Kaya seolah sengaja menjadikan Niki target dari permainan ini.
Giyuu merasa tidak setuju namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
" Karena Giyuu yang paling paham, biar Giyuu menjelaskan bagaimana cara bermainnya! " Ujar Kaya.
Giyuu sangat berharap Niki dapat menolak hal ini, namun sepertinya Niki juga tidak berdaya dan hanya bisa menerima permainan ini. Giyuu mulai menjelaskan apa saja yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan oleh Niki selama permainan berlangsung. Sebelum memulai, Giyuu membawa Niki ke tempat lain untuk berbicara serius, Kaya yang mencoba untuk membuntuti pun di tahan oleh Mitsuki yang mulai tidak suka dengan cara Kaya.
Di lorong ruang tamu, Giyuu menghadap ke arah Niki, tatapan mata yang dalam itu membuat Niki gugup.
" Dengarkan aku, apapun yang kau dengar, jangan coba-coba untuk keluar, jika dia benar-benar mencarimu, biarkan saja, kau hanya perlu bersembunyi sampai keadaan benar-benar aman! " Ujar Giyuu.
" Aku mengerti.. " balas Niki.
" Niki-chan, belum terlambat untuk menolak permainan ini, ini terlalu berbahaya! " Ujar Giyuu mencoba membuat Niki mengerti.
" Aku percaya padamu, namun bisakah kamu juga percaya kepadaku? " Tanya Niki
" Baiklah, ingat perkataanku tadi! " Ujar Giyuu sebelum akhirnya berbalik.
Niki terdiam, dia berpikir terlalu banyak saat ini.
" Ku pikir ada hal lain yang ingin kau sampaikan.. " gumam batinnya.
Baru beberapa langkah, Giyuu berhenti dan kembali berbalik. Dia melihat Niki masih terdiam di tempat yang sama, Niki yang merasa Giyuu menunggunya pun mencoba melangkah kan kaki dan menepis pemikirannya yang berlebihan. Namun, siapa sangka Giyuu akan mempercepat langkah dan mendorong tubuh Niki ke dinding lorong. Giyuu dengan cepat menarik tengkuk leher Niki dan mendaratkan ciuman di bibir Niki.
Niki terkejut dan membelalakkan matanya, masih belum percaya dengan apa yang terjadi padanya detik ini juga. Ciuman di lepaskan, namun jarak wajah mereka masih sangat dekat, hingga wangi maskulin dari tubuh Giyuu tercium jelas.
" Kau benar-benar tidak mengerti? Haruskah aku mengatakannya? " Tanya Giyuu penuh teka-teki.
" Huh? "
" Aku menyukaimu.. " suara beratnya benar-benar membuat tubuh Niki menegang.
Tangan kiri Giyuu mulai menarik pinggang ramping Niki, sekali lagi ciuman di daratkan. Giyuu memberikan gerakan lembut disana, hingga Niki perlahan membalasnya, sebagai jawaban atas pernyataan Giyuu.
Selang beberapa menit, Giyuu dan Niki kembali, mereka mempersiapkan alat dan bahan yang di butuhkan untuk permainan ini.
Niki akan melakukan permainan ini di kamar tamu, letak yang paling dekat dengan teras depan, karena selama permainan berlangsung, tidak ada yang boleh masuk sebelum permainan berakhir. Itu artinya Niki akan tetap sendirian di rumah ini menikmati permainannya sampai akhir.
Semua lampu sudah dimatikan, hanya ada layar televisi dengan mode statis yang menyala di kamar tamu. Niki mulai memotong kukunya, dia mengeluarkan kapas yang ada di dalam boneka lalu mengisinya kembali dengan beras dan potongan kukunya. Setelah itu, Niki menjahitnya kembali menggunakan benang merah.
" Namamu adalah Ai! " Ucap Niki lirih memberi nama pada bonekanya.
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi yang ada di kamar tamu itu, dia mengisi wastafel sampai penuh.
" Niki, jadi yang jaga pertama! Niki, jadi yang pertama jaga! Niki, jadi yang pertama jaga! " Ucap Niki lalu melemparkan boneka itu ke westafel.
Niki keluar dari kamar mandi dan mulai berhitung.
" Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.. " hitungan pelan, dalam debar jantung yang mulai tidak beraturan.
Setelah selesai berhitung, Niki kembali ke kamar mandi, dia menusuk boneka itu menggunakan sebuah jarum.
" Ketemu! Ketemu! Aku menang! " Ucap Niki.
Niki menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya pelan.
" Ai, sekarang yang jaga! Ai, sekarang yang jaga! Ai, sekarang yang jaga! " Ucapnya.
Niki berlari keluar dari kamar mandi dan segera bersembunyi di tempat yang aman. Niki memilih bersembunyi di dalam lemari dengan celah kecil-kecil, setidaknya tidak membuatnya kehabisan udara selama bermain.
Niki juga menggenggam gelas yang berisi air garam, dia mencoba mengatur nafasnya yang sudah mulai tidak teratur. Dengan mata terpejam Niki mencoba memasang telinganya baik-baik. Belum ada lima menit, keringatnya sudah bercucuran.
Niki benar-benar tidak berani mengintip saat dirinya mulai mendengar suara nafas berat. Semakin lama suara itu semakin dekat, Niki berdoa dalam hati agar permainan ini cepat berlalu. Suara nafas berat semakin menjadi, tubuh Niki sudah mulai gemetaran, kali ini tidak hanya suara nafas berat saja, ada suara langkah kaki yang terdengar sangat pelan. Seolah orang yang berjalan sedang mengendap-endap atau kesulitan berjalan.
Pikiran Niki mulai kacau, dia mencoba menahan rasa takutnya dan mengingat apa yang Giyuu katakan sebelumnya. Sebuah pantangan yang melarangnya keluar sebelum situasinya benar-benar aman.
Selang beberapa menit, suara langkah dan suara nafas berat itu menghilang, saat Niki memastikan semuanya aman, suara seperti meja di geser terdengar keras sampai mengejutkannya, beruntung tidak sampai menumpahkan air garam yang ada di tangan Niki.
" Niki-chan!! " Suara mirip sang ayah terdengar samar.
Niki hampir saja tergoda dan keluar dari persembunyiannya. Sesaat dia mengingat lagi yang di katakan Giyuu dan tetap berada dalam persembunyiannya.
Lagi-lagi tertahan, suara tv itu semakin membesar di sertai bau aneh yang mulai tercium. Sesaat suara seperti seorang mengendus tiba-tiba terdengar jelas di telinga Niki, Niki yang mulai tenang kembali ketakutan. Jantung nya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, hawa panas menyelimuti tubuh Niki. Sampai suara pintu terbuka terdengar, setelah itu suara Tv dan suara endusan itu menghilang.
Niki menunggu lagi sampai beberapa saat sampai benar-benar tidak ada keanehan apapun, bau aneh juga sudah tidak tercium. Saat itu juga, Niki mengumpulkan keberaniannya untuk keluar, dia memasukkan air garam ke mulutnya. Lalu perlahan keluar, menuju ke langkah terakhir, yakni mencari boneka itu.
Langkahnya pelan menuju kamar mandi, namun Niki tak menemukan bonekanya. Dia mencarinya di setiap sudut kamar dan berhasil menemukannya di kaki sofa kamar tamu itu. Tanpa pikir panjang Niki langsung menyemburkan air garam yang ada di mulutnya.
" Aku menang! Aku menang! Aku menang! " Ucap Niki yang hampir menangis ketakutan.
Setelah itu, Niki memotong benang merah itu dan membawanya keluar, untuk di bakar. Dengan tubuh yang basah karena keringat, Niki tak peduli dengan tatapan aneh teman-temannya. Dia langsung menyiram boneka itu lalu membakarnya.
Teman-temannya menghampiri Niki yang terlihat lemas, mereka sangat khawatir karena sempat mendengar seseorang berteriak dari dalam.
" Niki-chan... " Panggil Mitsuki lirih.
" Aku berhasil.. " ujar Niki sambil terus mengatur nafasnya.
Semua orang bernafas lega, termasuk Giyuu. Boneka terbakar habis, Niki bangkit dan mengajak mereka kembali masuk ke rumah. Saat itu, Giyuu mulai secara terang-terangan mendekati Niki.
Mitsuki tidur di samping kiri Niki, di sampingnya ada Tetsuya yang mengobrol dengan Yuki. Sedangkan Niki sendiri tidur diantara Mitsuki dan Giyuu.
" Niki-chan, bagaimana perasaanmu? " Tanya Mitsuki.
" Kalau boleh jujur, aku hampir mati ketakutan! " Jawab Niki yang malah membuat Mitsuki tertawa kecil.
" Kamu ini, ceritakan hal ini besok, sekarang tidur dulu! " Ujar Mitsuki.
" Dimana Kaya? " Tanya Niki.
" Sudah tidur duluan! " Sahut Sonoko yang tidur di antara Akemi dan Kaya.
" Eh, tumben! " Gumam Mitsuki.
" Aku lelah, aku juga mau tidur! " Ujar Niki lirih.
" Heem, tidurlah, selamat malam! " Balas Mitsuki.
" Tapi sekarang sudah hampir subuh! " Timpal Niki.
Lagi-lagi membuat tawa kecil diantara mereka berdua. Sampai semakin lama, Mitsuki semakin terlelap, begitu juga dengan Niki. Giyuu menatap wajah cantik Niki yang tertidur di sampingnya, sejujurnya ada hal yang sangat ingin ia katakan. Namun, sepertinya tidak penting lagi.
Hari-hari berlalu seperti biasanya, ini sudah memasuki hari ke lima setelah permainan itu. Dan sudah lima hari ini Kaya tidak masuk sekolah. Saat teman-temannya berencana menjenguk ke rumahnya, Kaya malah masuk dengan aura yang berbeda.
Mitsuki yang senang, dengan bersemangat menghampiri Kaya dan mencoba menanyakan keadaannya, namun Kaya malah menatap heran ke arah Mitsuki. Bahkan melontarkan pertanyaan yang mungkin saja adalah candaan, namun terdengar serius.
" Kaya-chan ! Bagaimana kabarmu? Mengapa baru masuk? " Tanya Mitsuki.
" Siapa kau? " Tanya Kaya dengan tatapan datar.
" Heh? " Mitsuki tercengang mendengar pertanyaan itu, terlebih tatapan mata Kaya sangat berbeda.
" Kaya.. Jangan becanda, itu tidaklah lucu! " Cibir Sonoko.
" Dan juga siapa kau? " Balas Kaya.
Mendengar adanya sedikit masalah, Niki pun ikut mendekat untuk menyapa Kaya, Giyuu yang sadar memasang tatapan tidak suka dan waspada.
" Hey, ada apa? " Tanya Niki.
" Niki-chan.. Aku menemukanmu! " Ujar Kaya tiba-tiba dengan senyum sumringah yang malah terlihat menyeramkan.
" Permainan sudah berakhir! Jangan macam-macam! " Ujar Giyuu tegas lalu menarik Niki keluar kelas.
Seketika tatapan Kaya menjadi sendu, raut wajah yang sebelumnya sumringah menjadi sedih secara tiba-tiba. Mitsuki yang merasa ada yang aneh dengan Kaya pun langsung pergi menyusul Giyuu dan Niki, Sonoko pun turut mengikuti dari belakang.
Kini delapan orang itu kembali berkumpul di sebuah lapangan basket indoor di sekolah mereka. Untuk membahas masalah yang sebenarnya terjadi. Namun, sebelum pembahasan berlangsung, Kaya datang dan menggagalkan rencananya. Giyuu yang merasa geram pun menarik Kaya ke ruangan kosong yang ada untuk berbicara empat mata dengannya.
" Kau benar-benar menyukainya, ya? Tapi, aku juga menyukainya, bisa 'kah kau memberikannya kepadaku? " Tanya Kaya.
" Berhenti berpura-pura! Permainan sudah berakhir! Jangan menganggap aku bodoh dan tidak tahu apapun! " Balas Giyuu dengan nada marah.
" Eh, sudah tahu ya? Tapi, apa kau tahu yang pemilik tubuh ini katakan? Dia sangat marah ketika kau membela Niki, dia juga marah saat melihat kau lebih memperhatikan Niki daripada dirinya! Dia juga sangat marah saat melihat kau mencium Niki, dia bilang hatinya sangat sakit saat kau menyatakan perasaanmu pada Niki! Dia mencoba menumbalkan Niki, namun dia sangat bodoh dan membawa dirinya sendiri ke dalam petaka! " Ujar Kaya.
" Karena kau sudah bilang, maka menjauhlah dari Niki! " Kecam Giyuu.
" Namun, aku menemukannya, kami masih harus bermain! " Ujar Kaya tidak terima.
" atau, aku akan membakar jiwamu agar tidak bisa merasakan hidup lagi! " Tekan Giyuu.
" Niki menusukku saat menemukanku, aku hanya perlu melakukan apa yang dia lakukan kepadaku.. mengapa kau begitu tak adil! " Tanya Kaya dengan mata yang berkaca-kaca.
" Mau meremehkan perkataanku? Kau mau mati dua kali, huh? " Tanya Giyuu, tangannya dengan cepat meraih leher Kaya dan mencekiknya.
" Baiklah.. " ucap Kaya mengalah, Giyuu melepaskan cengkeramannya.
" Aku tidak akan mengganggunya meski aku sangat menyukainya, aku memberikannya kepadamu, sebagai gantinya jangan biarkan orang lain tahu aku mengambil alih tubuhnya! " Ujar Kaya menuturkan kesepakatan.
" Sepakat! " Balas Giyuu.
" Benar! Ada baiknya juga kalau kau menghilang! " Gumam batin Giyuu sambil berjalan keluar ruangan.
Kesepakatan terjadi antara Giyuu dan Kaya. Giyuu membiarkan Kaya menjalani hidupnya dan Kaya melepaskan Niki untuk menjamin hidupnya. Giyuu yang sebelumnya berniat membeberkan kejadian sebenarnya pun mengurungkan niatnya dan memendamnya sendiri demi menjaga Niki dari petaka yang sebelumnya terus mengikutinya.
( Note: Jadi, permainan ini sebenarnya hanya di lakukan oleh satu orang di rumah yang kosong ( maksudnya nggak ada orang lain selain pemain ). Kaya ngusulin permainan ini buat menjebak Niki, karena merasa Niki udah merebut Giyuu dari dia. Tapi, saat permainan berlangsung Kaya masuk ke rumah berniat menakut-nakuti Niki yang sedang bersembunyi. Dia nggak sadar, siapapun yang masuk dianggap ikut serta permainannya. Kaya masuk saat roh sedang beraksi, yakni saat mendengus di dekat tempat persembunyian Niki dengan bau aneh yang menyeruak. Niki sempat mendengar suara pintu terbuka sebelum akhirnya suara dan bau anehnya mulai menghilang.
Di sisi lain, di waktu yang bersamaan, semua teman-temannya di luar mendengar suara teriakan perempuan yang ternyata adalah suara Kaya. Sedangkan di dalam, Niki tidak mendengar suara teriakan apapun. Raga Kaya bertukar dengan roh yang merasuki boneka 'Ai', sedangkan bonekanya sudah di bakar oleh Niki. Jadi, secara tidak langsung raga Kaya sudah di bunuh oleh Niki sampai tidak bisa kembali lagi, sedangkan Roh yang merasuki tubuh Kaya bisa hidup dengan tenang dengan adanya kesepakatan antara dirinya dengan Giyuu
Giyuu ini punya keahlian khusus dan bisa mengetahui aktivitas supranatural yang tidak di lihat langsung oleh Indra penglihatannya, alasan Kaya juga dari awal udah terbaca jelas oleh Giyuu, jadi marahnya Giyuu bukan karena roh yang merasuki tubuh Kaya, tapi karena si roh ini suka sama Niki, makanya pas akhir Giyuu bilang demikian )