Siang ini, Vania sedang berjalan mengelilingi kampusnya. Ia berniat untuk pulang namun ia urungkan karena di jam jam segini pasti jalanan macet panjang. Makanya ia memilih satu di kampus walau mata kuliahnya sudah berakhir dari setengah jam yang lalu.
Berjalan di sepanjang koridor kampus, ia mengagumi setiap sudut bangunan kampusnya. Ia berjalan tanpa melihat ke depan, matanya hanya fokus pada setiap inci bangunan kampusnya. Hingga ia tak menyadari ada seseorang yang berjalan di belakang nya.
duk
Vania tertabrak oleh orang yang ada dibelakangnya, membuat buku yang dibawa orang yang menabrak Vania jatuh berceceran. Vania langsung membantu orang tersebut membereskan bukunya tanpa bersuara sedikitpun.
Vania berdiri dengan membawa beberapa buku, berniat mengembalikan pada pemiliknya. Vania terpaku melihat orang yang menabraknya adalah kakak tingkatnya, Rendi. Vania menyerahkan buku di tangannya pada Rendi dengan wajah menunduk.
"Thanks and sorry, gue nggak liat jalan tadi soalnya gue lagi buru-buru." kata Rendi tersenyum manis. Vania hanya membalas dengan anggukan kepala. Rendi pamit karena ada janji dengan dosen pembimbingnya.
Vania menatap kepergian Rendi dengan tatapan tak percaya, orang selama ini membuat jantungnya berdegup kencang berbicara padanya, bahkan tersenyum padanya.
Vania buru-buru tersadar ketika tak sengaja melihat jam tangannya dan mengingat bahwa ia sudah terlambat untuk pulang. Ia bergegas menuju gerbang dengan berlari kecil, tangannya dengan sigap memesan taksi online. Ia benar-benar harus segera pulang sekarang.
Vania sampai di rumah lebih lambat dari biasanya, sudah pasti dia akan mendapat omelan dari ibunya. Vania membuka pintu dengan perlahan berharap sang ibu sedang berada di luar rumah. Tapi harapan hanyalah tinggal harapan, ia melihat ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan tangan bersidekap di dada.
"Kenapa pulang terlambat hah?!" tanya ibunya dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya.
"Ke perpus dulu ma." jawab Vania pelan.
"Kenapa nggak bilang? Kenapa lama banget? Kamu nggak tau mama khawatir hah?!"
"Iya ma." Hanya itu yang bisa diucapkan Vania, memangnya mau merespon apalagi.
"Sekarang bersih-bersih, terus makan siang!" perintah mamanya yang tak bisa ia bantah.
Malam harinya, keluarga Vania sedang bersenda gurau sambil menonton televisi di ruang keluarga tanpa adanya Vania. Ia beralasan ada banyak tugas kuliah. Alhasil ia bisa berada di kamarnya dengan tenang karena itu hanya alasan belaka.
"Vania, kemana ma?" tanya papa Vania pada istrinya.
"Dikamar, ada tugas buat besok katanya." kata mama Vania singkat.
"Tumben tugasnya belum selesai tugas buat besok." kata papa Vania keheranan.
"Nggak tau." kata mama Vania acuh kembali mengganti channel televisi.
"Papa mau liat Vania dulu ma." pamit papa Vania meninggalkan istri dan dua anak lainnya.
tok tok tok
Tak ada jawaban dari pemilik kamar, membuat pria paruh baya itu membuka pintu kamar anaknya. Tidak dikunci. Papa Vania melangkahkan kakinya memasuki kamar Vania. Dilihatnya Vania tengah tertidur sambil memeluk handphone-nya yang menyala.
Papa Vania menggelengkan kepalanya melihat anaknya tidur seperti anak kecil. Diambilnya handphone sang anak, terlihat foto seorang remaja laki-laki yang kisaran usianya lebih tua dari anaknya. Mata papa Vania melotot, ternyata anaknya ini sedang jatuh cinta.
"Apa kamu menyukai pemuda ini nak?" tanya papa Vania mengelus puncak kepala Vania yang tertidur.
***
"Lho mau kemana kamu?" tanya mama Vania melihat anaknya sudah rapi pagi pagi seperti ini.
"Mau ke kampus ma." jawab Vania singkat.
"Ngapain? Kan nggak ada mata kuliah hari ini." kata mamanya keheranan.
"Mau buat tugas ma. Udah ya aku berangkat!" pamit Vania.
Vania bergegas menuju kampusnya dengan beberapa buku digenggaman nya. Pertama-tama Vania melihat kakak tingkatnya yang sedang diwisuda. Kemudian, ia memasuki perpustakaan untuk membaca beberapa buku.
Ia kembali berbohong kepada ibunya, ia tidak ada tugas. Hanya saja, ia ingin mengambil foto seseorang yang dikaguminya. Vania menatap foto yang ia ambil secara diam-diam, senyum dari bibirnya tak dapat tertahan lagi.
***
Dua tahun telah berlalu, selama itu pula Vania hanya bisa menatap pujaan hatinya dari layar HPnya, itu pun dari foto yang ia ambil secara diam-diam. Hasil fotonya pun tak selalu bagus karena ia memotret tanpa ada yang tahu.
Sekarang Vania sedang bermalas-malasan, ia sudah wisuda seminggu yang lalu, tetapi ia tak diizinkan bekerja oleh ayahnya. Kata ayahnya, ia masih sanggup memenuhi kebutuhan Vania.
tok tok tok
Dengan malas, Vania membuka pintu depan untuk melihat tamu yang datang. Pintu terbuka, menampilkan seorang pria dengan berjas rapi tersenyum padanya. Vania terpaku melihat pria dengan kesan manly tersebut. Tidak salah lagi, pria itu adalah pujaan hati Vania yang sudah lama tak pernah dilihatnya.
"Ekhm!" dehemnya menyadarkan Vania.
"Eh, ayo masuk!" kata Vania mempersilahkan pria itu masuk.
Di ruang tamu, sudah duduk papa Vania dengan secangkir kopi di depannya.
"Pa, ada tamu." kata Vania ketika ayahnya belum menyadari kehadirannya dan seseorang di sampingnya.
"Eh, nak Rendi toh. Kirain siapa?" kata papa Vania akrab. "Ada apa nak Rendi sampai berkunjung ke kediaman saya?" tanya papa Vania ketika Rendi sudah duduk.
Mama Vania menyuguhkan minum ditemani Vania yang membawa beberapa camilan.
"Saya ke sini dengan tujuan untuk melamar putri anda, Vania." kata Rendi jelas. "Saya juga akan membawa orang tua saya untuk melamar Vania secepatnya." lanjutnya.
"Kalau saya sih terserah anak saya? Bagaimana Vania?" tanya papa Vania. Vania hanya mengangguk pelan, tanpa bersuara sedikit pun. Melihat respon anaknya, papa Vania tersenyum bahagia.
"Boleh saya mengajak Vania ke suatu tempat?" tanya Rendi.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di puncak bukit. Rendi memegang kedua tangan Vania sembari menatap kedua bola mata bersih itu.
"Aku udah lama suka sama kamu, bahkan dari pertemuan pertama kita, tapi aku nggak mau pacaran.Makanya, aku berusaha keras agar bisa mandiri dan menghidupi kamu. Vania, aku sayang sama kamu, aku mau kamu menjadi teman hidupku. Kita bersama selamanya sampai maut memisahkan. Vania, kamu mau kan menikah dengan ku?"
"Iya." jawab Vania agak tergagap dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Di puncak bukit ini, pasangan baru sedang menikmati sunset dengan tangan saling bertautan. Keduanya tersenyum bahagia menikmati suasana sore hari sebelum tergantikan gelapnya malam.