Tangisan banyak orang membuat tidurku terganggu, rasa penasaran dan kesal menjadi satu. Tubuhku bangkit dari ranjang untuk mengintip apa yang terjadi di luar pintu.
Mataku menyipit melihat banyak orang yang terlihat berduka, semuanya memakai pakaian hitam, ada apa sebenarnya?
Aku berjalan menghampiri mereka, tak ada yang peduli denganku, mereka terus saja menangis.
Tujuanku sekarang adalah menemui ibu, aku tak suka kebisingan, aku akan meminta penjelasan padanya, lihat saja mereka akan di usir karena mengganggu.
Sedari tadi menyusuri rumah, aku tak menemukan ibu, hanya ada adik anehku yang memandang sedari tadi. Tak ada pilihan, kuputuskan untuk menghampirinya.
Sebelumnya kami tak pernah berbicara, ia selalu menjerit dan menangis tiba-tiba hanya untuk mencari perhatian Ibu dan ayah. Aku sangat membencinya.
"Arin!" panggilku.
Ia menoleh, senyumnya mengembang. Ia langsung meraih tanganku dan membawaku menjauh dari kerumunan. Matanya terlihat sembab.
"Apa yang kau lakukan, Ha?!" tanyaku marah.
Sebelumnya ia tak pernah selancang ini, memegang tanganku saja ia tak berani.
"Diam!" tegasnya.
Mataku terbelalak kaget, bukan karena ucapannya, melainkan sosok kaku di hadapanku. Bagaimana mungkin?
"Ibu!"
Aku menatapnya meminta penjelasan, ia hanya tersenyum lirih. Apa yang sebenarnya terjadi?
Arin menangis membuat tubuhku melemas, aku jatuh di samping tubuh Ibu, tangisku pecah. "Ibu ... siapa yang melakukannya? Apa yang terjadi? Jelaskan padaku!"
Semua orang hanya diam dengan tangisan, mengapa ini bisa terjadi padaku? Tidak mungkin. Ini pasti hanyalah sebuah mimpi, aku yakin itu.
"Ibu bangunlah, aku janji akan jadi anak baik. Lihat, aku dan Arin sudah berbicara, ayo bangun!" Tanganku terus mengguncang tubuhnya, tapi sia-sia Ibu tak merespon sedikitpun.
Sekarang ibu pergi, dengan siapa aku hidup? Dimana ayah? Lelaki pemabuk itu selalu membuatku muak. Hari ini adalah ulang tahunku. Ini bukanlah kejutan, ini kesialan.
"Arin ...." panggilku. Wanita itu menoleh.
"Sejak lahir aku selalu menyusahkan, aku selalu membuat masalah agar orang tuaku memperhatikanku. Kesialan terus terjadi dikeluarga kita karena aku lahir, ayah mulai bangkrut dan jadi pemabuk ....
Saat itu ayah menyalahkanku, aku cuma seorang anak kecil yang hanya bisa menangis. Tapi, semenjak kau lahir semuanya berubah!"
Kepalaku mendongak menatap langit-langit ruangan, mataku memanas seketika mengingat kejadian dulu.
"Kak, aku ...."
"Setiap aku ulang tahun pasti selalu mengalami hal buruk, dan sekarang terjadi. Ibu begini pasti gara-gara aku, aku ini anak pembawa sial, hiks!" selaku.
"Kak, kau tidak salah!" Arin menggenggam erat tanganku.
Aku tersenyum, manik mata kami saling bertemu. Beberapa pasang mata menatap kami, tidak! Lebih tepatnya Arin.
"Jadi, kau bangkitlah! Aku yakin kita pasti bisa melaluinya bersama." Arin menatapku dengan semangat mengebu-ngebu. Aku sedikit terharu di buatnya.
Ini yang aku inginkan, seseorang yang selalu menyemangatiku, seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahku. Aku tak menyangka akan mendapatkannya dari Arin, sosok yang paling aku benci.
Apakah aku pantas mendapatkan perlakuan ini darinya? Dulu, aku mencoba berbagai cara untuk menindasnya, bahkan aku ingin membunuhnya. Ini tak layak dan sangat tidak bisa di maafkan.
"Arin istirahatlah, sepertinya kau terlalu kelelahan!" Paman Roy menghampiri Arin.
Arin menoleh kearahku. "Ayo!" ucapnya sedikit berbisik. Aku hanya diam lalu mengikuti menuju kamarnya.
"Kak, apapun yang terjadi ketika kamu bangun, kamu nggak boleh lemah ya? Masih ada aku di sini!" ucap Arin membuatku mengernyit heran, aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
Aku di persilahkan tidur oleh Arin, mata ini memang terasa mengantuk, akhirnya aku terpaksa tidur.
—–
Mataku perlahan terbuka, rasanya tubuhku sangat lemas. Kepalaku terasa sangat sakit seperti dihantam batu besar. Cahaya putih samar-samar aku lihat.
"Nona Iren sudah bangun?" Suara seseorang membuatku sedikit heran, pasalnya aku tak pernah mendengar suara Arin berubah menjadi seperti lelaki dewasa.
"A-rin?" panggilku berharap ia dapat menjelaskan perubahan suaranya.
Aneh, orang tadi tak menjawab pertanyaanku, sepertinya dia sudah pergi. Penciumanku terganggu oleh bau-bau obat, mengapa kamar Arin berbau seperti ini?
Pandanganku perlahan mulai jelas, mataku sedikit terbelalak, ini di rumah sakit. Bagaimana bisa?
Tanganku terasa berat ketika ingin di gerakan, sesuatu yang menempel di hidungku membuatku risih. Tunggu, apa itu alat bantu pernafasan? Apa ini mimpi?
"A-yah ...," ringisku.
Mataku menoleh keearah samping, seorang lelaki paruh baya terbaring mengenaskan dengan perban di mana-mana. Apa ini? Di mana Ibu?
Tunggu, seharusnya kami bertiga piknik kepuncak untuk merayakan ulang tahunku. Lalu, mengapa kami bisa ada di sini?
"A-pa jang-an ... ja-ngan ...."
Tangisku pecah ketika mengingat kejadian sebelumnya, dimana rem mobil ayah tiba-tiba blong membuat kami menerobos penghalang jalan. Hingga mobil kami tersungkur ke jurang. Tak ada Arin, karena aku enggan mengajaknya.
"Ini kenyataan!" lirihku.
#End