Melihat keluarga yang begitu harmonis adalah hal yang aku dambakan kelak, seperti halnya ayah yang begitu menyanyangi ibu dan juga anak-anaknya. Aku berharap semoga jika aku berkeluarga nanti bisa seperti ini. Mendapatkan lelaki yang seperti ayah tentunya.
Kedua telapak tangan kekar menutupi kedua bola mataku, bibirku mengulas senyum bahagia. Sudah dipastikan dia adalah lelaki yang telah menemaniku selama 2 tahun ini. Ku angkat kedua tanganku untuk membuka telapak tangannya, dan benar saja kini Ray sedang tersenyum menatapku.
“Mikirin apa?” Tanya Ray dengan gemas mencubit kedua pipiku dari belakang.
“Sakit by..” Aku memelas pura-pura kesakitan.
“Kekencengan yah?” Tanyanya begitu khawatir.
Aku terkekeh pelan, begitulah Ray..
Lelaki yang selalu berada di depan setelah ayahku. Aku mengenang kembali pertama kali bertemu, dimana ponsel kami tertukar disaat bertabrakan di mall dulu. Rasanya tak pernah terduga aku akan menjalin kasih dengan lelaki ini.
“Kamu lagi lamunin siapa?” Tanyanya dengan penuh selidik.
Entah karena dia begitu sayang padaku ataukah memang sifatnya yang over protektif. Dia selalu cemburu bahkan selalu menuduhku yang tak jelas tapi anehnya aku selalu senang dengan dia yang seperti ini.
“Lagi mikirin masa depan.” Ucapku menggodanya. Dia telah melamarku 2 bulan lalu, tapi belum pernah membawa keluarganya kerumah.
Kok bisa? Ya bisa, karena kami belum melakukan acara lamaran secara resmi, Ray hanya melamarku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 25, rasanya aku bahagia sekali namun kebahagiaan itu sirna setelah hal tak terduga datang kembali.
“Mama tidak setuju kamu menikah dengannya.” Ucap Mama Nita, ibu dari Ray.
Tiba-tiba saja beliau membatalkan acara pertunangan tepat setelah ia menginjakan kaki di rumahku. Selama ini mama Nita terbilang baik padaku, layaknya ibu yang selalu sayang padaku. Namun entah kenapa ia berubah padahal sebelumnya tak terjadi apa-apa.
“Ma, jangan bersikap seperti ini. Bukan kah mama yang selalu menyuruh Ray segera menikahi Caca?!” Ujar Ray berusaha membujuk Mama Nita supaya mau berubah pikiran.
“Jika kamu menikah dengannya, maka kamu bukan anak mama. KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BISA BERSAMA MESKI MAMA SUDAH TIDAK ADA.” Mama Nita berucap dengan berderai air mata.
Kenapa bisa begini? Dan kenapa ayah sama ibu hanya diam saja? Aku bagaikan orang linglung yang hanya bisa menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak.
“Ray.” Aku berusaha membujuk Ray untuk tenang.
“Ca, mama egois. Dia yang selalu menyuruh kita untuk segera menikah tapi sekarang tanpa alasan jelas dia ingin membatalkan semuanya.” Ucap Ray menahan amarah, wajahnya merah padam. Jika dihadapannya bukan ibunya sudah pasti dia menghajarnya.
Semua tamu undangan keheranan, tapi tidak dengan keluarga Ray, mereka menatap sinis pada keluargaku. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa mereka tiba-tiba berubah?
“Ayah..” Rengekku meminta ayah menenangkan Ray dan juga ibunya. Namun ayah dan ibu hanya menunduk dalam.
“Ibu..” Rengekku pada ibu meminta penjelasan. Pasti sudah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui.
“Maafkan ayah Ca.”
“Ayo kita pulang Ray.” Mama Nita menarik tangan Ray, namun dengan kasar Ray menepisnya.
“Jaga sikapmu Ray.” Ucap Salah satu keluarga Ray.
“Jelaskan dulu padaku, ada apa ini?!” Teriak Ray setelah semua tamu undangan pergi dan menyisakan keluarga inti saja.
Mama Nita menangis menderu seolah ia tak bisa menahan rasa sakit hatinya, hati seorang ibu pasti akan sakit jika anaknya bersikap kasar padanya dan akupun sebagai wanita bisa merasakannya.
“Kalian bersaudara.”
Tubuhku terpaku, kedua mataku membulat penuh. Bagaimana bisa ayah berkata demikian? Bukankah anak ayah hanya aku dan Meri? Ayah berjalan menghampiri Ray, berdiri tepat di depannya.
Terlihat jelas memang, ada kemiripan dari keduanya. Aku kira kemiripan mereka hanya karena kebetulan semata.
“Maafkan ayah nak, ayah telah menelantarkanmu. Marahlah pada ayah jangan pada ibumu!.” Ucap ayah memeluk Ray.
Dalam sekejap pandanganku menggelap seperti hatiku yang kian tak bisa lagi merasakan apa-apa. Sekilas aku mendengar kepanikan dari semuanya termasuk suara Ray, sudah dipastikan ia akan panik setengah mati.
Senja di sore hari tiba, aku melihat langit jingga itu begitu indah menampakan warna khasnya. Aku berusaha bangun untuk mengambil minum, karena tenggorokanku terasa kering. Namun aku merasakan tangan kekar yang menggenggam sebelah tanganku.
Ray tertidur disisi ranjang, tanganku yang kosong membelai rambutnya yang ikal. Tanpa terasa kedua pipiku telah basah, isakanku membuat Ray terbangun. Terlihat kedua mata Ray begitu sembab. Apa dia menangis?
“Ray..” Ucapku lirih.
“Masih pusing?”
Aku menggeleng.
“Kamu haus?”
Aku mengangguk mengiyakan. Ray memberikan segalas air putih yang tergeletak di atas nakas, aku menerimanya dan segera menghabiskannya hingga tandas.
“Ada yang sakit?” Tanya Ray setelah menerima gelas kosong.
Aku mengangguk kuat.
“Hati ini Ray. Hati ini terlalu sakit harus menerima kenyataan jika kamu adalah kakakku.”
“Sssttth…” Ray mendekapku, seperti biasa dia menenangkanku dengan mengelus punggungku.
Aku tahu, bukan hanya hatiku yang sakit namun hatinya pun pasti sama. Sejak aku setengah sadar tadi aku dapat mendengar bagaimana ayah dan ibu bahkan mama Nita menjelaskan semuanya pada Ray. Semuanya terjadi karena ayah yang telah berkhianat dengan berpoligami. Ayah yang tak tahu jika mama Nita mengandung langsung menjatuhkan talak karena terlalu digelapkan oleh nafsu.
Aku tak bisa menyalahkan ayah, ibu ataupun mama Nita, semua ini sudah tertulis dalam skenario sang maha pencipta. Manusia hanya bisa berencana namun sang pencipta lah yang menentukan. Seperti kisahku dengan lelaki bernama Raynaldi yang harus kandas karena ada pertalian darah. Kami bersaudara, satu ayah namun beda ibu.
Setahun sudah aku meninggalkan kota yang telah membesarkanku, meninggalkan semua kenangan serta keluargaku disana. Aku termenung mendapati kartu undangan yang dikirimkan oleh ibu padaku. Ray akan menikah, aku dengar karena dijodohkan oleh mama Nita, setelah kejadian itu Ray menjadi gila kerja bahkan ia tak pernah pulang kerumah. Hal itu pasti membuat mama Nita merasa sakit, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku hanya bisa mendoakan untuk kebaikan kita semuanya. Aku harap sang pencipta memberikan yang terbaik untukku dan juga Ray.
🍃Terkang cinta itu membuat kita terlena akan indahnya, tanpa kita sadar bahwa hal buruk dari cinta senantiasa menunggunya.
KECEWA, ya kecewa akan penghianatan, kecewa akan di tinggalkan dan kecewa akan apa yang kita harapkan bersama dengan pasangan tak bisa terwujud.
🍃Apa yang harus kita jalani jika kita sudah berhadapan dengan kata kecewa? Jawabanya hanya satu yaitu ikhlas.. kita harus ikhlas dengan jalan takdir Tuhan tanpa harus menyalahkan-Nya, ikhlaskan apa yang sudah terjadi biar Tuhan yang memperbaiki semuanya.