Di sebuah tanah lapang di salah satu perkampungan pinggiran kota. Suara riuh para penduduk yang sedang bersuka cita ditengah keramaian di antara iringan organ tunggal memecah keheningan malam selepas Isya' malam ini.
Sebagian dari mereka berlenggak-lenggok menari mengikuti goyangan pinggul biduan dengan pakaian yang serba minim dan begitu menggiurkan bila lelaki memandangnya. Sebagian yang lain yang tidak tertarik untuk berjoget, hanya duduk sambil melihat tubuh molek sang biduan sambil sesekali menggerakkan bibir mereka mengikuti lagu yang dibawakan oleh biduan cantik itu.
Lampu warna-warni berkedip bergantian menambah suasana malam selepas Isya' itu begitu nampak meriah. Umbul umbul seolah ikut bergoyang senada dengan iringan musik dangdut yang menggema.
Sementara itu, bendera kebanggaan bangsa pun berkibar gagah ketika semilir angin menerpanya di atas tiang yang tinggi menjulang.
Sesekali pun terdengar pekik kemerdekaan yang di ucapkan lantang oleh si pembawa acara dengan begitu bersemangatnya. Para penduduk pun dengan juga bersemangat memekikkannya mengikuti arahan si pembawa acara.
Diantara gemerlapnya lampu dan suara kendang yang bertalu-talu. Karnadi, salah satu warga yang rumahnya berada di pinggiran kali tak jauh dari tanah lapangan. Sedang memilah beberapa barang bekas yang sejak pagi tadi berhasil di kumpulkannya.
Tubuh tua yang sudah dipenuhi kerutan di sana-sini tidak begitu jelas terlihat diantara gelap. Lampu 15watt, salah satu sumber penerangannya, tidak cukup luas menerangi seluruh sudut emperan rumahnya.
Sesekali terdengar batuknya yang menggigil. Tapi setelah Karnadi mengambil minum air putih yang diberinya sedikit garam, batuk itu tak lagi terdengar. Setelah batuknya berhenti, Karnadi akan kembali menghisap rokok lintingannya sendiri itu dan asap tebal akan jelas terlihat diantara sorot lampu teras rumahnya.
Mungkin saat ini usia Karnadi sudah mendekati sembilan puluh tahun. Tulang-tulang di tubuhnya jelas sekali terlihat tertutup kulitnya yang mulai mengeriput.
Di rumah yang hanya berdinding setengah bata dan sisanya dari anyaman bambu itu, Karnadi tinggal seorang diri. Istrinya, sudah lebih dulu menghadap Sang Kuasa. Karnadi hanya memiliki seorang anak lelaki. Tapi semenjak anaknya menikah, tiga puluh tahun lalu, anak dan menantunya itu tinggal di kota lain. Dan hanya jika lebaran saja mereka akan mengunjungi Karnadi.
"Mbah Karnadi, mboten nderek tirakatan?¹" Joko, seorang pemuda yang rumahnya tak jauh darinya, terdengar menyapanya dari arah jalan depan rumahnya.
"Ah, ora, Le. Garapane Simbah durung rampung.²" Sahut Karnadi sejenak menoleh ke arah Joko meski akhirnya kembali memilah barang-barang bekas di depannya.
"Lajengne mbenjing melih ngoten, Mbah. Setahun pisan, enten tontonan gratis.³" Ucap Joko sembari tertawa.
"Yowis gek kono. Awakmu iku sing iseh roso, melu jogetan kono. Simbah wis ora godak, Le.⁴" Karnadi nampak terkekeh memperlihatkan giginya yang hanya tinggal beberapa.
"Lha, nggih nderek lenggah-lenggah mawon, Mbah.⁵" Ucap Joko lagi.
"Wis ora, Le. Timbang gur gawe lunggah-lungguh ndelok bokong ngegol. Luwung tak gawe ngrampungne garapan to, Le. Nek ora rampung yo ora ndang iso setor. Nek sesok ora setor yo ora mangan.⁶" Celetuk Karnadi dengan suara yang khas.
Joko mengangguk, lalu berjongkok tak jauh dari tempat Karnadi duduk memilah barang bekas. Karnadi meliriknya.
"Lha kok malah melu lungguh. Ora Melu Rono, Le? Batur-baturmu opo ora wis podo nglumpuk neng lapangan?⁷" Ucap Karnadi begitu Joko berjongkok.
"Tirakatan niku perlune nopo to, Mbah?⁸" Tanya Joko kemudian.
Karnadi melirik bocah itu. Dalam pandangan Karnadi, nampaknya Joko bersungguh-sungguh dalam pertanyaannya itu.
Karnadi tersenyum. "Tirakatan iku seko Tembung tirakat sing artine nahan howo nepsu. Tegese neng kene, instropeksi diri kelawan opo sing wis awake dewe capai selama Iki, Le. Gampange, perenungan. Tirakatan iku tumindake tirakat. Koyo dene dangdutan, iku tumindake wong sing nganakno dangdut. Nah, neng kene, tirakatan iku tujuane merenungi jasa-jasane poro pahlawan bongso sing wis berjuang merdekakne bongso iki.⁹" Ucap Karnadi bersungguh-sungguh.
Joko yang mendengar itu, beberapa kali menganggukan kepalanya ringan.
"Lha nggih niku, Mbah. Roto-roto kawontenane malah sami supe tujuane. Malah gur mbujung senenge dewe.¹⁰" Sahut Joko sembari tertawa ringan.
Karnadi pun ikut tertawa meski sekedar mengimbangi tawa Joko.
"Sakniki Kulo tak teng mriki mawon, Mbah. Lenggah kaleh pahlawan sak tenane.¹¹" Lanjut Joko kemudian.
Karnadi kembali melirik Joko.
"Priyayi-priyayi niko seneng-seneng nggembar-nggemborke tembung merdeka. Sami bebungahan. Maneko warno daharan sumadyo. Nanging mboten nate kepikiran, teng mriki, pahlawan sak tenane sing sanjange sami ajeng direnungi perjuangane, kiambakan teng petengan, mikir mbenjing dahar nopo.¹²" Ucapan Joko itu seketika membuat Karnadi merenung.
Karnadi muda adalah seorang tentara pribumi dimasa penjajahan Belanda juga Jepang. Dia adalah bukti nyata dan saksi hidup tentang bagaimana kekejaman masa penjajahan.
Karnadi pun seumur hidup tidak akan pernah lupa ketika bapaknya, ditembak hidup hidup oleh tentara Belanda di depan matanya.
Karnadi menghela nafas, lalu mendekat ke Joko dan menepuk pundaknya.
"Wis, Le. Mugo-mugo sakteruse bongso Iki adoh seko pacoban. Rakyat rukun, ayem, tentrem. Rekosone para pahlawan Yo gur amrih pingin weruh anak putune urip bungah saben ndino."¹³ Ucap Karnadi kemudian.
"Wis, gek kono melu bature! Enek sing kelewatan, tirakatan kui yo iso dadi lantaran silaturahmi, ngraketake wargo siji lan sijine, gawe rukun anggone tetanggan, lan kui yo iso dadi wujud perjuangan ing jaman saiki, Le.¹⁴"
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Translate Bahasa;
¹) Eyang Karnadi, tidak ikut tirakatan?
²) Ah, tidak, Nak. Pekerjaan eyang belum selesai.
³) Lanjutkan besok lagi begitu, Eyang. Satu tahun sekali, ada pertunjukan gratis.
⁴) Yasudah cepat kesana. Dirimu itu yang masih kuat. ikut berjoget sana. Eyang sudah tidak mampu, Nak.
⁵) Lha, Ya ikut duduk-duduk saja, Eyang.
⁶) Tidak saja, Nak. Daripada hanya untuk duduk-duduk melihat p*nt*t bergoyang. Lebih baik saya gunakan menyelesaikan pekerjaan kan, Nak. Kalau tidak selesai ya tidak lekas bisa setor. Kalau besok tidak setor ya tidak makan.
⁷) Lha kok malah ikut duduk. Tidak ikut kesana, Nak? Teman-temanmu bukannya sudah pada berkumpul di lapangan?
⁸) Tirakatan itu tujuannya apa sih, Eyang?
⁹) Tirakatan itu dari kata tirakat yang artinya menahan hawa nafsu. Maksudnya disini, instropeksi diri dengan apa yang sudah kita capai selama ini, Nak. Mudahnya, perenungan. Tirakatan itu mengerjakan tirakat. Seperti hal nya dangdutan, iku kegiatan orang yang mengadakan dangdut. Nah, disini, tirakatan itu tujuannya merenungi jasa-jasanya para pahlawan bangsa yang sudah berjuang memerdekakan bangsa ini.
¹⁰) Lha ya itu, Eyang. Rata-rata keadaannya justru pada lupa tujuannya. Justru hanya mengutamakan kesenangannya sendiri.
¹¹) Sekarang saya akan disini saja, Eyang. Duduk bersama pahlawan sebenarnya.
¹²) Orang-orang itu senang-senang menggemakan kata merdeka. Sama-sama bahagia. Segala macam makanan tersedia. Tapi tidak pernah terpikirkan, disini, pahlawan sebenarnya yang katanya sedang akan di renungi perjuangannya, sendiri dalam kegelapan, berpikir besok makan apa.
¹³) Sudah, Nak. Semoga seterusnya bangsa ini jauh dari masalah. Rakyat rukun, damai, tenteram. Kesulitan para pahlawan ya hanya supaya dapat melihat anak cucunya hidup bahagia setiap hari.
¹⁴) Sudah, cepat kesana ikut temanmu! Ada yang terlewatkan, tirakatan itu ya bisa jadi jalan silaturahmi, mempererat warga satu dan satunya, membuat rukun dalam bertetangga, dan itu ya bisa jadi wujud perjuangan di jaman sekarang, Nak.
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Terima kasih untuk yang sudah mampir disini.
Baca juga cerpen saya yang lain.
MANIPULASI
STASIUN KERETA PUKUL SATU
1.4.U
HENING
Juga jangan lupa mampir di novel saya.
BROMOCORAH
WANARA
ROMANCE FORGOTTEN
Kasih kritik, saran, masukan dalam komentar. Juga jangan lupa like dan vote nya.
Terima kasih.
Salam Rahayu 🇲🇨