Sore hari cuaca tidak terlalu buruk meski sejak siang langit menggantung awan keabu-abuannya. Matahari yang biasanya merambat ke barat dengan menyisakan bias jingganya, sore ini tidak nampak, dan langit memilih memberi warna lain untuk tetap dinikmati bagi siapa pun yang memandangnya.
Dilla, duduk di teras rumah berlantai tiga yang nampak begitu megah dengan secangkir teh hangat yang belum sempat dicicipinya. Pandangan tertuju pada halaman luas di hadapannya. Di sana beberapa bunga tumbuh subur. Beberapa kupu-kupu juga sesekali nampak hinggap di atasnya.
Lamunan Dilla seketika kembali ke beberapa puluh tahun silam. Ketika itu dirinya yang baru pulang dari kantor, mendapati Tony, suami yang sejak menikahinya tak pernah dicintainya sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah mewah itu.
Setiap hari pekerjaan Tony di rumah adalah memasak, mencuci, membersihkan rumah, mencuci mobil juga menyirami tanaman di halaman yang sangat luas itu. Semua dilakukan Tony atas kemauannya sendiri. Bahkan ia sangat senang melakukan semua pekerjaan rumah itu.
Hari itu Tony sengaja memasak gurami pedas asam manis kesukaan istrinya. Selesai memasak ia akan mencuci perabot yang kotor juga mencuci baju-baju Dilla yang kotor. Tidak pernah ada pakaian kotor Dilla yang menumpuk sejak Tony menikahinya satu tahun yang lalu.
Selesai memasak dan mencuci, Tony akan membersihkan seluruh sudut rumah tanpa terkecuali. Menyapu, mengepel bahkan membersihkan kamar mandi. Memang sejak menikah, Tony tidak ingin ada asisten rumah tangga di rumah itu. Alasannya dia sendiri bisa melakukannya.
Setelah selesai membersihkan seluruh bagian dalam rumah, Tony menuju ke halaman rumah yang luas itu untuk menyapu daun-daun kering yang berserakan, baru kemudian menyirami beberapa bunga kesukaan Dilla.
Sore itu, Tony kedatangan tamu. Raka, asisten pribadinya sengaja menemuinya.
"Bos, biar saya suruh anak buah saya untuk melakukan semua ini. Tidak perlu Bos Tony yang melakukannya sendiri. Bila perlu saya akan datangkan ahli taman untuk merawat seluruh bunga-bunga ini." Ucap Raka yang melihat Tony sedang menyirami bunga-bunga di halaman itu dan hanya mengenakan celana juga kaos yang tertutup celemek.
"Kenapa kamu yang ribet. Toh, saya sendiri bisa melakukannya. Sudah, urus saja urusan di kantor! Tidak perlu ikut campur urusan saya di rumah!" Ucap Tony tanpa menatap lawan bicaranya.
"Baik, Bos. Maafkan saya." Raka tertunduk ketika Tony sudah bicara begitu.
"Bagaimana dengan tugas yang saya berikan tempo hari?" Tanya Tony kemudian.
Raka segera membuka berkas yang sudah ia siapkan sebelum berangkat untuk menemui Tony.
"Ini, Bos. Total semua kekayaan Bos Tony, sekitar 630 trilliun." Ucap Raka sembari menyodorkan berkas itu pada Tony.
Tony tak menoleh sedikit pun.
"Bagus. Masih ada satu tugas lagi untukmu." Ucap Tony kemudian.
"Apa itu, Bos? Katakan saja. Saya siap untuk melakukannya." Sahut Raka cepat tak ingin membuat Tony menunggu jawabannya.
"Alihkan semua kekayaan saya itu atas nama istri saya?" Ucap Tony nampak bersungguh-sungguh.
Raka tersentak, ekpresi wajahnya terlihat begitu kaget.
"Tapi, Bos?" Ucap Tony ragu.
"Apa lagi? Kamu mau menolak perintah saya?" Tony kini sedikit menoleh ke arah Raka dengan tatapan tajam.
Raka menunduk, "Tidak, Bos. Baik akan segera saya laksanakan."
"Pastikan, besok sore saya sudah mendapatkan laporan pengalihannya!" Ucap Tony kemudian.
Tepat disaat itu sebuah mobil Porsche Panamera berwarna biru masuk ke halaman rumah mewah itu. Tak lama seorang wanita cantik dengan postur tubuh ideal keluar dari dalam mobil itu. Sinar matahari yang tepat mengenai kulit wanita itu membuat kulit putih wanita itu kian bersinar.
Melihat Dilla pulang, Tony segera meninggalkan Raka dan langsung menghampiri istrinya itu. Senyum merekah langsung mengembang untuk menyambut Dilla, meski setiap kali melihat senyum itu Dilla melengos dan membuang muka.
"Tony, apakah kau tidak malu dengan penampilanmu? Lihatlah! Raka, asisten pribadimu jauh lebih baik penampilannya dari pada kamu selaku Bosnya." Ucap Dilla begitu Tony tepat berada di depannya.
Tony hanya kembali melempar senyumnya, lalu beralih memandang Raka dan memberi kode dengan gerakan tangannya untuk menyuruh Raka pergi. Raka pun langsung tahu maksud Tony. Dan segera ia pergi dari rumah mewah itu sesaat setelah Tony memberinya aba-aba.
"Tony, kenapa tidak sekalian saja mumpung Raka di sini kau minta kirimkan asisten. Bukankah kau bisa saja mempekerjakan seratus bahkan seribu asisten. Kenapa kau mempersulit dirimu sendiri?" Ucap Dilla sembari melangkah masuk ke dalam dan Tony mengikuti langkahnya dari samping.
"Tidak masalah. Tapi Dilla, bukankah aku masih bisa melakukannya sendiri? Jadi aku bisa memastikan kebersihannya sendiri." Ucap Tony sembari terus mengikuti langkah kaki Dilla.
"Kenapa? Jangan selalu memberiku alasan itu saja. Aku tahu Tony, kau bisa melakukannya sendiri. Tapi jangan pernah berpikir dengan kau melakukan itu, aku akan bersimpati padamu. Tidak, Tony. Tidak akan pernah. Justru aku semakin muak denganmu. Camkan itu!" Dilla menghentikan langkahnya ketika mengucapkan itu dan memandang Tony dengan penuh kebencian. Tony lagi-lagi hanya melempar senyum tulus ke arah Dilla membuat Dilla semakin geram.
"Mandilah, Dilla! Kamu mungkin terlalu capek setelah seharian kerja. Aku akan menyiapkan air hangat. Mungkin dengan mandi air hangat akan membuatmu lebih relaks. Setelah itu kamu makan. Aku tadi sudah masak gurami pedas asam manis kesukaanmu." Segera setelah berkata seperti itu, Tony berlalu untuk menyiapkan air panas untuk Dilla.
Dilla pun dengan masih kesal melangkah ke dalam kamarnya.
Memang hampir setiap hari selama satu tahun pernikahan mereka. Dilla sering mengolok-olok Tony seperti itu, tapi Tony selalu membalasnya dengan kelembutan. Bukan tanpa alasan Dilla memperlakukan Tony seperti itu. Sikap Dilla yang seperti itu karena memang pernikahan mereka atas kehendak orang tua Dilla, bukan karena kemauan Dilla sendiri. Tapi, meski Dilla terpaksa menikah dengan Tony, tapi Dilla tak mungkin menceraikan Tony karena ayahnya. Ayah Dilla sangat menyayangi Tony sebagai menantunya.
Pernah ayahnya tanpa sengaja mendengar perselisihan mereka. Seketika jantungnya kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit, dan sejak saat itu Dilla harus berpura pura baik dengan Tony saat bertemu ayahnya, meski kenyataannya berlawanan.
Bahkan sejak satu tahun pernikahannya itu. Dilla dan Tony setiap malam tidur terpisah di kamar yang berbeda. Selama setahun menikah, Dilla tak pernah membiarkan Tony menyentuhnya, apalagi melakukan kewajiban sebagai suami istri.
"Nyonya Dilla, Apakah masih ada yang harus saya kerjakan?" Tiba tiba suara serak seorang lelaki menyadarkan lamunan Dilla sore ini.
"Oh, kau Raka." Dilla nampak terkejut. "Emmm, sepertinya tidak. Sementara itu saja dulu." Sambung Dilla kemudian.
"Baik, nyonya. Jika sudah tidak ada keperluan lagi, saya permisi dulu nyonya. Jika ada yang perlu saya lakukan, nyonya bisa hubungi saya. Saya pastikan akan selalu siap melaksanakan apapun perintah nyonya." Ucap Raka setengah membungkukkan badannya.
"Pergilah!" Ucap Dilla datar.
Raka pun segera melangkah keluar dari teras kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari halaman rumah mewah itu.
Dilla bangun dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya menuju ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, Dilla membuka sebuah peti, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Dilla memandang jaket seorang anak perempuan yang sudah nampak usang. Lalu senyum pun tersungging di bibirnya. Dilla kembali melipat jaket itu dan memasukkannya kembali ke dalam peti, dan kemudian beralih meraih secarik kertas yang tak pernah bosan ia baca selama berpuluh-puluh tahun ini.
______________________________________
Dilla Sayang, saat kamu baca ini. Mungkin aku sudah tidak berada disisimu lagi. Tapi percayalah, saat itu aku sedang mengamati bersama para malaikat.
Dilla Sayang, kamu berkali-kali menuntut alasan dariku. Inilah alasanku.
Kamu ingat di hari Minggu ketika kamu berusia lima tahun? Kamu dan ayah waktu itu sedang berlari pagi. Kamu ingat kamu pernah memberi sepotong roti pada anak laki-laki yang kelaparan dan juga memberikan jaket ini karena kamu tahu anak laki-laki itu kedinginan setelah semalaman di guyur hujan di jalanan?
Anak itu aku Dilla.
Aku yang saat itu tersesat dan tidak tahu dimana rumahku.
Dan kamu sudah menyelamatkanku waktu itu.
Jika saja waktu itu kamu tidak memberiku sepotong roti dan jaket ini, mungkin aku sudah mati dihari itu.
Dilla, Sayang, terima kasih. Meski aku tidak akan pernah tahu apa kamu akan benar-benar bisa mencintaiku, tapi aku bahagia, setidaknya aku bisa menghabiskan saat-saat terakhirku bersama orang yang selalu aku cintai seumur hidupku.
Jaga diri baik-baik ya sayang.
Maaf jika aku sudah tidak bisa membuatkan gurami pedas asam manis lagi atau menyiapkan air hangat jika kamu pulang kerja, bahkan merawat bunga-bunga kesayanganmu di halaman rumah kita.
Harapanku, semoga kita dipertemukan kembali sebagai sepasang kekasih di kehidupan selanjutnya.
Salam sayang, suamimu.
Tony"
______________________________________
Jika sudah begitu, Dilla tidak akan lagi mampu membendung air matanya yang tumpah. Dia hanya menghabiskan waktunya semalaman dengan memeluk kertas yang mulai usang itu.
Ya, Tony, suaminya, meninggal karena kanker otak stadium akhir. Dilla selama ini tidak pernah tahu jika Tony menderita penyakit itu. Bahkan Raka, asisten pribadi Tony, orang kepercayaan Tony pun tak tahu menahu soal penyakit Tony itu. Tony menyimpan rapat-rapat tentang penyakitnya itu bahkan sampai dirinya meninggal.
Sejak saat itu, penyesalan tak kunjung reda dari dalam diri Dilla. Apalagi ketika Raka datang dan menyerahkan peti itu kepadanya. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyesal dan menyesali semua.
Tapi bagaimana pun penyesalan, tetaplah penyesalan, yang tertinggal hanya sesal yang sudah terlambat untuk disesalinya.
Sudah empat puluh dua tahun berlalu sejak kepergian Tony di hari itu. Dan sejak saat itu juga, Dilla ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan kesendirian. Ia menutup hatinya rapat-rapat. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menjaga hatinya hanya untuk Tony sampai dirinya bisa menyusul Tony entah kapan pun itu.
______________________________________
________________TAMAT________________
______________________________________