"Anak-anak... sekarang pelajaran menggambar!" suara gaduh murid-murid membuatku tersenyum . Anak-anak selalu suka menggambar . setiap goresan gambar mereka mengandung kepolosan dan kejujuran yang dapat menghibur hati ini.
"nah, tema kita kali ini adalah "Aku sayang Ibuku" Ucapku.
"Horeee!!!" semua bersorak, kecuali satu anak . Dia selalu seperti ini. Tak pernah satu huruf pun keluar dari mulutnya . sudah seminggu aku menjadi guru TK dan masih belum mampu berkomunikasi dengannya . Ahmad namanya.
Belum lima menit berlalu Ahmad menghampiriku sambil menyodorkan kertas gambarnya.
"Ahmad sudah selesai?" tanyaku ramah. ia hanya menjawab dengan anggukan .Aku tersenyum .Lalu kulihat kertas gambarnya,ternyata kosong .Tak ada gambar apapun , Apakah ia tak bisa menggambar ?
"Lho,kok kosong? mana gambarnya?" tanyaku heran . Dia menunjuk kertas kosong itu. Apa maksudnya ?
aku benar-benar tak mengerti. "Ahmad gak punya pensil?" kutebak alasannya menyerahkan gambar kosong. Ia menggeleng .
"Bu Guru!!" seorang murid perempuan paling cerewet dikelas berteriak, "Aku tahu kenapa Ahmad gak menggambar!" katanya dengan gaya sok tahu.
Aku mengernyitkan kening tanda penasaran .
"Ahmad kan gak punya Ibu!" lanjutnya .
Deg! Hatiku berdegup kencang. benarkah?? Aku menatap Ahmad,dia semakin tertunduk , lalu pergi keluar.
"Tunggu,Ahmad." aku mengejarnya. Dia duduk di taman depan sekolah. "Maafkan Ibu.." kataku setelah duduk di sampingnya . "Ibu tidak tahu keadaanmu."
Ahmad masih diam. Aku menjawab serba salah .Ilmu psikologi anak yang ku pelajari di bangku kuliah lenyap tak berbekas. Aku tidak mampu membuat anak murid nyaman di kelas. Aku bingung, apa yang harus ku perbuat?
" Ahmad ,gak marah kan sama Ibu?" tanyaku. Ia menggeleng, aku sedikit merasa lega.
"Masuk lagi ya, kamu boleh menggambar apapun yang kamu mau." kataku. Tapi lagi-lagi Ahmad hanya menggelengkan kepala .
"Ahmad tidak suka menggambar?" tanyaku. dan jawabannya masih sama :gelengan kepala. Aku tidak tahu harus berkata apalagi . kami saling diam .
"Ahmad suka cokelat?" Aku membuka percakapan lagi . Ia mengangguk keras . Ternyata ia seperti anak-anak kecil kebanyakan. "Ahmad tahu gak cerita tentang pangeran Cokelat ?" tanyaku . Ia menggeleng , Lalu menatapku penuh tanda tanya seolah berkata 'bagaimana ceritanya?'
"Zaman dahulu kala ada seorang pangeran di negeri cokelat," Aku memulai cerita tanpa ia minta. "pangeran Cokelat hidup bahagia bersama keluarganya . Apapun permintaanya pasti dikabulkan oleh kedua orang tuanya." Belum selesai aku bercerita,Ahmad menarik tanganku . Dia membawaku kembali ke kelas. Aku heran apa mau anak ini? kemudian dia duduk di hadapanku dan menatap penuh harap. Ternyata ia ingin aku bercerita di kelas agar semua teman temanya ikut mendengar ceritaku. Aku mengusap kepalanya ,Ia anak yang baik.
"Baiklah anak-anak . Simpan dulu buku gambar kalian. hari ini ibu akan bercerita tentang pangeran Cokelat!" kataku. Semua murid langsung meninggalkan semua pekerjaan mereka dan mengelilingiku.
"Asyiik !! ayo cerita Bu! pinta mereka.
Aku bercerita penuh semangat, "Suatu hari Pangeran Cokelat bosan di rumah dan ingin pergi berburu. Ayah dan Ibunya melarang karena banyak hewan buas di hutan dan pangeran Cokelat belum begitu mahir dalam memanah dan berkuda . Tapi pangeran Cokelat tetap memaksa untuk pergi. Akhirnya dengan berat hati orang tuanya mengizinkan ia untuk berburu dengan membawa pengawal yang banyak . sesampainya di hutan ,Pangeran melihat kijang cantik bersembunyi di balik semak belukar. Ia pun segera mengarahkan panahnya pada kijang itu. Ia yakin bisa membawa hasil buruan dan membuat ayahnya bangga." sampai di sini aku diam , melihat wajah penasaran mereka membuatku senang.
"Telus gimana Bu?" Edo, bocah yg giginya bolong-bolong itu bertanya penasaran.."Iya lanjutin Bu !"setiap murid saling menyahut .
"Ssssttt.." aku menempelkan telunjuk di bibirku,seketika mereka diam. "Nah ,pada saat akan memanah ,kuda yang di tungganginya tiba-tiba mengamuk . Pangeran Cokelat menyimpan panahnya dan berusaha mengendalikan kuda tersebut. Para pengawal pun berusaha menenangkan kuda pangeran . Namun ,setiap kali mereka mendekat segera di tendang oleh kuda itu . Maka tak ada yang berani mendekat .kuda yang tak terkendali itu membuat pangeran kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh lah pangeran. para pengawal segera membawa pangeran pulang . Dan ternyata tulang kaki pangeran patah, dia tidak bisa berjalan lagi." Aku menarik nafas.
"Setiap hari pangeran menangis . Ia selalu berkata , 'kembalikan kakiku!' kembalikan kakiku!! Aku ingin berjalan ! ' kedua orang tuanya ikut sedih ,namun semua dokter tulang yang di panggil tak sanggup mengembalikan kaki pangeran seperti semua . pangeran terus menjerit setiap hari . ia ingin berlari ke taman kota seperti dulu, berkuda bersama temannya dan bermain sepak bola. Tapi sekarang kakinya tidak bisa di pakai . ia terus menangis hingga badannya kurus .Ayah dan ibunya yang khawatir akhirnya menggelar sayembara . Siapa yang mampu menyembuhkan pangeran akan di berikan hadiah apapun . seluruh penduduk kota mencoba menyembuhkan pangeran, tapi tak ada yang berhasil.
pada suatu hari seorang anak laki-laki yang buta dan tak punya tangan menghadap raja dan menyanggupi untuk mengobati pangeran,Raja pun keheranan.
"Apakah kau yakin mampu mengobati anakku? Bukan kah kau buta dan tak punya tangan ? Bagaimana kau mengobati anakku?" tanya sang raja.
"Percayakan saja semua padaku."jawab anak itu mantap. Akhirnya raja pun mempersilahkan anak itu untuk ke kamar anaknya.
"Tinggalkan kami. Biarkan kami berdua." ucap anak buta itu .Raja pun menurut demi kesembuhan anaknya.
Anak itu mendekati pangeran ,tapi pangeran tak berhenti menangis ."kenapa kau menangis ?" tanya anak itu .
"Lihatlah !aku tidak bisa berjalan !!"teriak pangeran.
"Aku tidak bisa melihat," jawaban anak itu membuat pangeran berhenti menangis ,ia melihat anak di hadapannya ,tidak punya tangan dan buta...
"Aku buta dan tidak punya tangan .Tapi aku tak pernah menangis . aku masih punya mulut yang bersuara ,telinga yang mendengar, dan hati yang tenang ." kata-kata anak itu membuat pangeran malu.
"kalau kau tidak bisa berjalan dengan kaki ,bukankah kau bisa memakai tongkat? tahukah kau? setiap hari aku makan menggunakan kaki. awalnya memang sulit ,sebab aku juga tak mampu melihat makananku .tapi aku tak menyerah.hingga sekarang aku bisa melakukan semua hal sendiri.tanpa bantuan orang lain.kau hanya tak bisa berjalan tapi sudah membuat seisi kota kesusahan ? sungguh keterlaluan." kata anak itu .
pangeran Cokelat akhirnya sadar , ia membiasakan untuk berjalan dengan tongkat ,hingga akhirnya bisa. Raja dan istrinya senang ,mereka pun memberikan hadiah berupa rumah berisi ribuan cokelat ."
"Wahh!! Rian mau rumah cokelat!!"kata muridku.
Aku tersenyum, "Makanya ,kita harus selalu bersyuuu.."
"Kurr.. " jawab mereka serempak . kulihat Ahmad ,ia tersenyum sambil mengacungkan dua jempol padaku. aku senang ,meskipun ia masih belum bersuara tapi setidaknya aku mengerti bahasanya..
Dia masih duduk di depanku , "Ahmad gak pulang?" tanyaku . Dia menggeleng. "kenapa gak pulang?" aku kembali bertanya. Ia hanya diam . Aku merapikan buku tanpa bertanya lagi. "kalau begitu, Ayo pulang sama Bu guru!" Aku menggenggam tangannya ,tapi ia menahanku. Ia lalu duduk di depanku.
"Ada apa ?" aku memegang pundaknya. Matanya memelas .meminta sesuatu . "Emmm... Ahmad gak mau pulang ?" ia mengangguk. Aku bingung harus bagaimana . akhirnya aku duduk di hadapannya .
"Ahmad mau dengar cerita ibu lagi?" tawarku. Dan ia langsung mengangguk berulang kali . wajahnya seketika cerah . aku pun bercerita hingga adzan Dzuhur berkumandang . selepas itu kami pulang sendiri-sendiri karena Ahmad tidak mau di antar.
kini aku punya kebiasaan baru setiap seusai sekolah . yaitu bercerita untuk Ahmad tentang pangeran Cokelat dan petualangannya . ia selalu mendengarkan ku dengan antusias , walau tak pernah satu huruf pun keluar dari mulutnya . kami berbicara dengan bahasa kami melalui cerita khayalan yang kubuat sendiri .walaupun di tak bicara ,tapi aku tahu apa yang ingin katakan . seolah hati kamu sudah saling paham .
Hari ini Ahmad tidak masuk . ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. aku merasa tidak enak hati. Apakah Ahmad baik-baik saja ? semoga tak ada hal yang mengkhawatirkan .
Hari kedua Ahmad tidak masuk. Tak ada keterangan Sama sekali .Hatiku menjadi semakin gundah , Biasanya aku bercerita pada nya agar hatiku tenang , tapi kini tak ada yang memintaku bercerita. Apa yang terjadi dengan Ahmad? ingin aku menjenguknya , tapi hari ini aku ditugaskan menjadi perwakilan sekolah dalam rapat persatuan guru TK kota ini. semoga Ahmad segera masuk.
Ahmad masih absen .aku harus menjenguknya ! aku menolak tugas yang di berikan kepala TK . Hari ini ada hal yang lebih penting dari itu! aku pun pergi mencari rumah Ahmad berbekal alamat dari data data siswa. Ternyata rumah Ahmad cukup jauh. Namun selama ini aku tak pernah melihat Ahmad di jemput ,dia selalu berjalan sendiri Anak kecil yang berani ,pikirku.
Akhirnya aku sampai di gang yang tertera pada alamat tadi .Tapi tak ada nomor rumah di alamat ini. Aku bingung, di mana rumah Ahmad? kuberanikan bertanya pada ibu penjaga toko .
"Maaf Bu , apakah ibu tahu rumah emmm .. Pak syu'aib?" aku menyebut nama ayah Ahmad .
"pak Syu'aib ada dua ,neng .pak Syu'aib yang mana ya ?" tanya penjaga toko . Aku bingung ,nama yang tertulis hanya Syu'aib saja, bagaimana ini??
"itu lho ,yang nama anaknya Ahmad. .." kuharap penjaga toko ini kenal dengan Ahmad .
"Ooohhhh,, Ahmad yang kemarin meninggal ya Neng ?" kata-kata penjaga toko itu membuat jantungku berdegup lebih kencang . Meninggal ?? Ahmad ?? Apa aku tidak salah dengar ??
"Meninggal? Ahmad itu anak kecil ,Bu .baru lima tahun usianya !" aku tak percaya, ini pasti Ahmad yang berbeda.
"iya Neng, umur kan urusan Allah . Ibu sendiri juga kaget mendengar kabar itu ." kata Ibu itu.
"Lalu di mana rumahnya?"
aku tak sabar mengetahui keadaan sebenarnya .
"Mari ibu antar ,Neng . Rumahnya agak jauh dari sini ," Ibu itu menawarkan . Aku mengikuti Ibu penjaga toko dengan dada bergemuruh , Ahmad ,pangeran cokelatku.. apakah benar dia sudah tiada? tanya besar menggelayuti pikiranku. hatiku benar-benar tidak tenang .
"itu rumah nya,Neng" ibu penjaga toko menunjuk rumah gubuk yang lebih layak di sebut sangkar burung .Rumah kecil itu kecil, terbuat dari anyaman bambu dan masih berlantaikan tanah.
""Terima kasih Bu."ucapku
"sama sama Neng, kasian pak Syu'aib ,baru saja di tinggal istri ,sekarang di tinggal anak .padahal dia masih muda ,baik lagi. Memang orang baik banyak cobaan nya." sang ibu berceloteh , " ibu pergi dulu Neng , " aku mengangguk .ia pun pergi meninggalkanku .
ku ketuk pintu yang sudah lapuk itu, "Assalamualaikum.."
Seorang pemuda keluar , waalaikumussalam .cari siapa ya?"
"apakah ini rumah .. Ahmad Musthofa?" tanyaku. Pemuda itu diam sesaat . wajahnya menjadi murung,namun Ia segera menyembunyikan kesedihan itu .
"Ya ,ini rumahnya." Jawabnya.
"Aku gurunya , sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah. Boleh aku bertamu dengannya?" tanyaku ,berharap kabar yang kudapat dari penjaga toko salah.
"Dia ada di belakang ,Mari." Pemuda itu mengantarkan ku ke belakang rumah . Aku senang ,ternyata Ahmad ada di rumah! Kabar itu pasti salah .Ku ikuti pemuda itu sampai di belakang rumah .
"itu dia.." Pemuda itu menunjukkan gundukan tanah yang masih basah.
"A.. Ahmad ?" aku bertanya memastikan .
"kemarin Ahmad meninggal ,ia terkena penyakit paru-paru basah stadium akhir." jelas pemuda itu.
Ahmad , anak sekecil itu? aku menangis . ya Allah , kenapa tidak dari kemarin aku menjenguknya? kenapa aku tak tahu keadaanya ?
"Dia tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Dia selalu diam dan berkata bahwa dia sehat." ujar sang pemuda . Berarti selama ini ia diam agar tak ada orang yang mengkhawatirkan dirinya . Aku banyak belajar darimu ,Pangeran Cokelat ku ...
"Apakah kau gurunya yang bernama Atika?" tanyanya .
Aku mengangguk perlahan . Heran kenapa dia bisa tahu namaku ?
" Ahmad meninggalkan ini di dalam lemari . surat untukmu ." aku segera mengambilnya . lalu membukanya dengan tidak sabar.
Dari : Pangeran Cokelat
Untuk : Ratu Atika
Bu guru, Ibuku meninggal saat aku masuk sekolah , Tapi Allah selalu baik padaku ,Ia mengganti nya dengan Bu guru . Aku sayang Bu guru , apakah Bu guru mau jadi Ibuku ? Harus di balas ya Bu Guru.
Aku tak tahu harus berkata apa . Kau memang layaknya seorang anak bagiku. Kau mengajariku banyak hal . Aku menangis membacanya .
"Maaf membuat menangis." ujar pemuda itu.
"Tidak ,ini bukan salahmu . Boleh aku bertemu ayah Ahmad ?" tanyaku. Aku ingin bertanya banyak tentang Ahmad .
"hehe." pemuda itu malah tertawa kecil. "Dari tadi kau bersama nya ,Bu Guru .." ucapnya .
"Lho? Jadi kau .. Ayahnya Ahmad ." tanyaku tak percaya .
"Ya . Aku Syu'aib ,Ayahnya Ahmad ." katanya meyakinkan . Aku menunduk malu, sedangkan ia senyum sendiri.
Hari ini aku tahu rencana Allah mengirim Ahmad untukku. Bukan hanya pelajaran hidup yg kudapat ,namun juga pasangan hidup . Seorang Pemuda Sholeh dan tampan bernama : Syu'aib .
jambi , 1 Juni 2021 oleh jumardi.