Angin laut mengibarkan helain rambut wanita asing yang berjalan di pesisir pantai. Pandangannya memandang takjub keindahan bumi papua yang begitu eksotis. Ombak bergulung saling berlomba mencapai pantai, gemerisik pepohonan mengalun membentuk harmoni alam yang kaya.
Di satu tumpukan batuan karang, wanita cantik itu berhenti begitu bola matanya berhasil menangkap sesuatu yang tampak mencurigakan. Botol kaca dengan penutup kayu yang sangat rapat.
Ia melangkah menghampiri temuannya itu. Merundukkan kepala sambil memeriksa sesuatu didalamnya. Gulungan kertas kusam membuatnya semakin merasa tertarik. Tanpa pikir panjang, wanita asing itu bergegas mengambil botol kaca tersebut dan berjalan setengah berlari menuju villa sewaannya.
"Minggir" ucapnya pada lelaki asing yang berpapasan di pintu depan vila.
"Apa itu?" rasa penasaran kini menjangkit benak lelaki yang mengikutinya masuk ke dalam villa. "Rebecca, apa itu?" ulangnya dengan nada tidak sabaran.
Wanita asing bernama Rebecca itu terus berjalan menuju ruang tengah. Duduk di atas sofa empuk sambil menatap lelaki yang mengikutinya sejak tadi. "Simon, bisa kau ambilkan pisau? Penutup ini begitu kuat, aku kesulitan membukanya" pinta Rebecca ketika ia mencoba membuka penutup botol dengan tangannya.
Tanpa banyak bicara, Simon berjalan menuju dapur. "Disini tidak ada pisau, Becca" ucapnya dengan suara melengking.
Rebecca tetap fokus pada botol misteriusnya. Namun telinganya menangkap ucapan Simon. "Coba lihat di laci atas. Aku rasa ada disana" ujarnya dengan lantang.
Mata biru wanita asing itu terus menelisik gulungan kertas di dalam botol. Dari warnanya yang kuning kusam, ia memperkirakan bahwa gulungan kertas ini telah mengalami masa yang panjang terombang-ambing di lautan lepas. Entah darimana asalnya, hingga botol misterius itu terdampar di pantai bumi papua.
"Ini" Simon datang membawa sebilah pisau kecil dengan ujungnya yang runcing. "Kau menemukan itu dimana?" tanyanya pada Rebecca yang langsung mengambil pisau dari tangannya.
Rebecca menatap sekilas wajah Simon. Dia tersenyum dengan perasaan bangga yang menggelikan. "Aku menemukannya di sela batu karang" tuturnya.
Kedua wisatawan asal Britania Raya itu kembali terpaku pada penutup botol yang ternyata begitu kuat hingga Rebecca harus mengeluarkan energi yang besar untuk membukanya. Hingga akhirnya..
Plung!
Penutup itu terpental ke arah depan. Menggelinding hingga mencapai bufet tv. Rebecca dengan gerakan tak sabar, segera mengambil gulungan kertas di dalam botol tersebut. Ada tiga lembar kertas dengan masing-masing nomor di bagian ujung sebelah kanan dan sebuah gelang manik berwarna coklat yang biasa mereka lihat di kios-kios cendramata. Manik-manik itu seperti terbuat dari biji dan setiap manik memiliki inisial tersendiri.
Simon merebut lembaran kertas dari tangan Rebecca. Sementara Rebecca terpaku pada susunan huruf yang tanpa sengaja terlihat ketika setiap biji tersebut dirapatkan.
"BI-MA-SAKTI" Rebecca mengeja seperti anak kecil.
"Oh Shit! Ini bahasa Indonesia, Becca. Bahasa pribumi" Simon mengembalikan kertas itu pada Rebecca.
"Darimana itu?" tunjuknya pada gelang yang Rebecca genggam.
"Ini ada bersama kertas-kertas itu" jawabnya singkat. Simon mengangguk dengan acuh.
"Sudahlah, aku akan pergi surfing. Kau buang saja itu semua" ucap Simon sambil bersiap untuk pergi. "Itu hanya sampah yang hanyut terbawa arus" sambungnya lagi.
Rebecca mengabaikan ucapan sahabat dekatnya. Bola mata birunya terus menatap pada barisan kalimat yang tersusun rapi di dalam kertas. Kata-kata semisal cinta, pergi, atau rindu berhasil ia terjemahkan dalam hati. Selebihnya Rebecca merasa perlu seorang penerjemah untuk membantunya membaca tulisan itu.
"Aku akan buang setelah aku tahu dengan pasti apa isinya" ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari dua benda menarik di hadapannya.
Simon berdecak sambil menggelengkan kepala. "Aku merasa kau seperti Jack Sparrow yang menemukan botol peta harta karun" sindirnya menciptakan seringaian di wajah Rebecca.
"Aku merasakan hal yang sama" timpalnya. Rebecca menatap Simon yang masih berdiri tak jauh darinya. "Simon, panggilkan aku Liben. Aku akan memintanya untuk menterjemahkan tulisan ini" pintanya pada Simon.
Liben adalah pemandu wisata khusus untuk Rebecca dan Simon. Hampir satu minggu mereka berlibur di papua, menikmati keindahan alam yang tersuguh hampir disemua jejak jengkal langkah mereka.
"Baiklah, aku akan panggilkan dia untukmu. Setelah itu aku akan pergi surfing" putus Simon akhirnya.
🍁🍁🍁
Terik matahari saat itu sudah berada di puncaknya. Liben, warga pribumi yang begitu luwes bersosialisasi datang dengan lembaran kertas di tangannya. Lelaki bertubuh besar dengan kulit gelap itu berjalan menghampiri wisatawannya di ruang tv.
"Kau sudah selesai, Liben?" tanya Rebecca ketika menyadari kehadiran Liben disana.
"Ini hanya hal sepele, Miss. Aku bahkan bisa menterjemahkan lebih banyak dari ini" ujarnya dengan dada terbusung.
Rebecca tersenyum hangat. "Kau memang paling bisa diandalkan" pujinya tulus.
"Terima kasih, Miss" ucapnya. "Baiklah, aku rasa aku harus pergi dan membiarkan Miss membaca surat cinta ini" ujar Liben mengundang tanya dalam benak Rebecca.
"Surat cinta?"
"Ya. Aku rasa ini seperti surat cinta berujung tragis" tutur Liben semakin membuat Rebecca tidak sabar ingin segera membacanya.
Lembaran kertas itu akhirnya berpindah tangan. Rebecca membiarkan Liben meninggalkannya dengan perasaan antusias yang semakin menyala. Rebecca tergesa menaiki anak tangga, ia masuk ke dalam kamarnya dan mencari posisi nyaman di sofa dekat jendela. Lembaran kertas ia taruh di meja, sementara ia mengambil kacamatanya di nakas.
Kertas pertama ia ambil, kemudian dibacanya sambil menyandarkan diri di punggu sofa.
"Dia adalah Laura. Cintaku yang bersamanya awan mendung berubah menjadi cerah" Rebecca mengawali bacaannya.
Dia adalah wanita yang teramat biasa bagi sebagian besar orang. Tingginya hanya selisih dua puluh senti di bawahku. Ia mengenakan bluse berkerah pada pertemuan pertama kami yang tanpa sengaja. Rambutnya dicempol sembarang, membuat anak-anak rambutnya terjuntai menambah kemanisan dalam tampilan visualnya yang memabukkanku.
Bertahun-tahun sebelum wanita itu hadir. Aku hanyalah lelaki yang lahir dari ledakan kosmis besar dari kedua orang tuaku pada malam pertama mereka sah menjadi suami istri. Aku lahir di pelosok Jawa yang tanahnya belum tersentuh aspal panas. Aku lahir dengan membawa gen keras dari bapakku, dan gen menawan dari ibuku. Aku tumbuh diantara tumpukan padi yang menguning. Berteman dengan kerbau dan gerabah hasil pembakaran tanaman padi yang telah disisir butirannya.
Lahir dari sepasang petani miskin dengan penghasilan seadanya, membuatku nekat menjajal nasib di Ibukota. Aku hijrah meninggalkan keluargaku di kampung. Dengan harapan besar peluang nasib yang lebih baik.
Aku bekerja di sebuah pabrik berskala nasional. Menjadi satu dari ratusan buruh yang dipaksa tunduk pada aturan kapitalis busuk. Selama bekerja, aku tinggal di sebuah rumah sewaan murah pinggiran Jakarta atas rekomendasi seorang kawan.
Hari berganti, bulan berlalu tanpa terasa. Aku bekerja tanpa sedikitpun terlintas dalam benakku, bahwa akan tiba masanya aku terjebak dalam satu kondisi dimana cinta dan luka menjadi erat kaitannya dengan penderitaan yang aku alami.
Suatu hari seorang kawan mengiringku pada satu perhelatan akbar para buruh sedunia. Mayday. Para kapitalis di satu hari itu terpaksa harus membebastugaskan para budaknya untuk memperingati hari bersejarah tentang perlawanan yang tiada habisnya. Aku ikut dalam rombongan berseragam sambil membawa panji salah satu ormas yang aku dapatkan tanpa sengaja.
Laras. Wanita berkarakter tomboy yang ternyata menjadi ketua massa aksi tersebut, berorasi dengan suara lantang di depan gedung-gedung birokrasi yang mampet. Suatu ketika, seseorang mendorongku ke arah Laras. Dan tanpa bisa aku tolak, Laras memberikanku pengeras suara berwarna orange.
"Aku ingin dengar orasimu, bung!" serunya diantara teriakan dan kepalan tangan peserta aksi.
Oh Tuhan, bayangan Laura mengusikku ditengah keseriusanku merangkai cerita ini. Sabar sayang, jemariku masih begitu kuat untuk membuat cerita khusus tentangmu. Tentang cinta kita yang bertentangan dengan takdir Kuasa.
Di suatu hari yang biasa, setelah aku keluar dari dalam pabrik. Laras bersama seorang kawan bertubuh ceking mendatangiku. Mereka mengajakku untuk bergabung di ormas buruh. "Aku kagum mendengar orasimu, Bim"
Aku ingat dia mengatakan itu sesaat setelah penobatan. Aku sendiri merasa sangat biasa. Apa yang aku utarakan hanyalah nada-nada sumbang yang terlampau sering aku dengar di tv-tv. Aku hanya menduplikat dan menambahkannya saja. Tapi itulah anehnya hidup, terkadang hal yang menurut kita biasa, justru menjadi amat luar biasa dalam pandangan orang lain. Aku sendiri sering mengalaminya.
Akhirnya aku memiliki rutinitas baru selain pergi ke pabrik. Yaitu menyambangi rumah keduaku yang bersamanya aku seperti terlahir kembali menjadi sosok lelaki yang jauh lebih idealis. Laras menawariku untuk tinggal di markas, aku langsung setuju memikirkan upahku yang menyedihkan bisa aku sisipkan untuk tabunganku nanti.
Waktu berjalan tanpa terasa. Ditengah kesibukanku yang semakin menggunung, aku menemukan sebuah puisi menarik dari satu laman blog yang aku buka secara acak. Kalimat itu entah bagaimana, memberikan satu ketertarikan khusus pada diriku. Aku mencoba menerka bagaimana wujud dari sang penulis itu, namun aku gagal membayangkannya.
"Ilalang" aku merapal nama blog itu tanpa aku sadar. Terus terang, puisi-puisinya sedikit mempengaruhi diriku. Dan itu yang membuatku penasaran akan siapakah yang berada di balik deretan kata indah berirama itu.
Suatu ketika, setelah banyak komentar dan pesan yang aku bubuhkan di setiap tulisan ataupun inbox-nya, sang empu-nya blog membalas komentarku. Saat itu aku merasa seperti bumi telah berhenti berputar. Duniaku hanya berada pada satu rangkaian kalimat biasa yang terasa istimewa ketika aku baca.
"Untukmu disana.
Tak lelahkah jiwamu?
Mendamba seorang petapa untuk kembali pada kefanaan."
Aku tidak bisa berhenti mengeja setiap kata dalam kalimat itu. Oh ya Tuhan, dia semakin terlihat menarik. Aku harus menyambutnya dengan rasa haru yang jenaka. Untuk beberapa alasan, waktu membuat aku dengannya semakin dekat. Hari-hariku diisi oleh larik-larik puisi romantis dari blog ilalang. Telingaku pun tidak lagi hanya berisi dialog tentang kemiskinan dan ketidakadilan yang semakin menyeret manusia pada kematian. Laura membawa jiwaku yang kerontang bersama dengan kalimat-kalimatnya yang luhur. Barisan puisi melankolisnya, menciptakan warna lain dalam hatiku.
Aku percaya Tuhan menuntunku padanya. Dan hal itu segera saja terbukti oleh perjumpaan kami yang pertama dan tak terduga. Di salah satu rumah sakit Jakarta, aku berdiri kaku menatap wanita cantik yang terperangah dengan wajah merona. Bola matanya membulat sambil menggumamkan namaku. "Bimasakti?"
Percayalah, aku masih mengingat jelas bagaimana suara Laura menyihirku seperti simfoni Mozart yang mendayu merdu. Dadaku bergemuruh begitu Laura menyebut nama ilalang untuk menyadarkanku dari keterpakuan mistis.
Di waktu yang aku ingat itu sebagai awal dari musim semiku bersama Laura. Hubungan kami semakin merapat. Kami bertukar kabar tanpa ingat waktu dan tempat. Aku bahkan mengingat satu puisi kerinduannya padaku, setelah hubungan kami terjalin berkat sambungan seluler yang pada akhirnya aku dapatkan darinya.
Kau tentu tahu apa yang terjadi pada hatiku saat itu? Jika aku bisa menggambarkan, kerinduan Laura semacam cahaya mentari yang merenggut kesepian hatiku yang paling tersembunyi dan paling sensitif yang belum pernah aku biarkan terjamah oleh wanita manapun. Kilauan sinarnya, menerangi sisi gulita dalam jiwaku. Merengkuh tubuhku untuk masuk dan tenggelam dalam lubang romantisme yang menyesatkan.
Kami berbalas puisi di kolom komentar itu. Bertukar kabar dan rindu yang semakin hari semakin menggebu, hingga kami menyadari sesuatu yang lebih indah telah bersemi di hati kami berdua. Aku dan Laura, saling jatuh cinta tanpa pernah bertatap muka. Hati kami saling mengikat tanpa kata.
Rebeca tampak menghayati tulisan-tulisan itu. Benaknya mencoba merekonstruksi ulang apa yang diceritakan seorang lelaki aktivis bernama Bimasakti tentang jalan hidupnya hingga perjumpaan manisnya dengan Laura.
"Liben sudah menterjemahkan itu?" suara Simon tetiba masuk ditengah kekhusyuan Rebecca.
"Ya" sahut wanita itu singkat. "Jangan ganggu aku" sambungnya tanpa menoleh sedikit pun pada Simon yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu baru saja selesai dari surfingnya.
"Baiklah. Lanjutkan bacaanmu" ujar Simon sebelum ia berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya.
Rebecca meneruskan kembali bacaannya. Ia mengambil kertas bagian kedua yang semula ia taruh di meja. Alam imajinasinya terjerat dalam monolog seorang pribumi yang misterius.
Laura. Lima huruf yang selalu ku eja begitu aku mengetahui namanya. Wanitaku yang kini hanya sebatas kenangan. Yang dengan kelembutannya, mengajarkanku untuk selalu kuat berjalan di atas bentangan takdir Tuhan yang tidak pernah bisa kita terka.
Pusaran gairah kala itu, membuatku bertindak cepat dengan mendatanginya di Bandung, tempat dimana ia menimba ilmu.
"Ban-dung? Rasanya aku pernah mendengar kota itu" gumam Rebecca sesaat. Kemudian ia melanjutkan kembali bacaannya.
Laura selalu membuat jantungku berdetak cepat. Dia wanita yang lembut dan selalu terlihat riang. Senyumannya lebar dan menggemaskan. Ia berjalan disisiku. Sibuk bercerita sementara aku sibuk memikirkannya. Memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku mencintainya.
Aku tahu itu sedikit kekanakan. Rasa gugup itu masih dapat aku rasakan hingga kini. Namun keberanian itu akhirnya muncul juga. Aku mengutarakan isi hatiku, dan Lauraku ... dengan cara yang menggemaskan menyambut perasaanku. Aku memberikannya gelang biji sawit berukir namaku, sebagai tanda kepemilikanku yang sederharna. Aku begitu bersyukur ketika melihat Laura menyukainya.
"Astaga! Lelaki seperti apa kau Bimasakti?" Rebecca tiba-tiba merasa penasaran akan sosok lelaki yang terlihat begitu tulus mencintai wanitanya. Matanya kembali hanyut dalam barisan kalimat disana.
Aku tidak menyangkal bahwa isi semesta ini bergerak atas kemurahan hati Tuhan. Pertemuanku dengan Laura, telah Tuhan rencanakan jauh sebelum ia menciptakan Adam dan Hawa. Pada hari-hari yang kelam setelah ikrar cinta kami terucap, aku mendapati diri berada di dalam sebuah lembah tanpa dasar. Laura pergi dengan kata maaf dari lipatan bibirnya yang belum sempat aku sesap. Lelaki asing membawanya dari sisiku dengan cara yang teramat kejam.
Aku mengingat saat itu hujan deras menyamarkan airmata laraku. Tubuhku menggigil menahan sembilu yang tidak terobati oleh apapun kecuali Laura. Aku begitu terluka, menyaksikan kekalahanku yang terjadi begitu cepat. Luka itu segera berubah menjadi borok bernanah ketika rasa benci menyusup dalam rongga dada.
"Dia istriku!"
Aku mendengar ucapan bernada tinggi itu dengan sebelah hati yang patah. Saat itu aku tidak mengerti bagaimana pernikahannya bisa terjadi tiba-tiba, disaat aku merasa hubungan kami sedang baik-baik saja. Aku mulai kacau kala itu. Pikiranku begitu lelah karena bayangan Laura tak mau pergi begitu saja. Wanita itu mengendap dalam rongga-rongga kecil syarafku. Berubah menjadi bongkahan sedimen yang mustahil larut dalam air.
Tanpa terasa, Rebecca mengusap bola matanya yang berembun. Kesedihan Bimasakti menembus sisi feminimnya sendiri. Membuat tarikan lendir dalam batang hidungnya semakin terdengar. Kertas ketiga ia ambil dengan tak sabar. Kemudian Rebecca kembali menenggelamkam diri dalam lautan nestapa lelaki yang tidak ia ketahui.
Sekali waktu aku pergi jauh memenuhi beberapa undangan kawan seormasku di daerah lain. Hal itu aku lakukan bukan karena kewajibanku sebagai anggota ormas, melainkan demi mengenyahkan sosok cantik yang telah mematahkan hatiku dengan pengkhianatannya. Aku butuh pengalihan. Laura begitu serakah mengambil sebagian besar waktuku untuk terus berkutat padanya.
Aku sadar, aku masih bisa mendapatkan wanita manapun dengan tampangku yang cukup lumayan dapat diperhitungkan. Aku mencoba melakukannya. Beberapa wanita sengaja aku dekati untuk melawan rasa frustasi yang semakin menggila. Namun diantara wanita-wanita itu, Laura tetap bertahta di hatiku. Tidak ada wanita secantik dirinya. Wajah seperti pualam dengan tatapan sendu membuat rasa tertarikku pada wanita lain, mengalami fenomena mati suri. Aku tercekik oleh bayangan Laura yang sulit aku tepis. Aku merindukannya, ditengah semburan kebencian yang merajai hatiku.
Aku merasa Laura berada dimana-mana. Sewaktu-waktu ia hadir di salah satu pojokan mesin pabrik yang berkarat. Di lain waktu ia menjelema menjadi seekor kupu-kupu yang hinggap di tangkai bunga kamboja yang berada di halaman markas. Aku selalu melihatnya. Ilusi Laura semakin jelas ketika aku berada di tempat pengasingan dahulu.
Malam-malam yang dingin dengan luka lebam di sekujur tubuh, berkat pukulan membabi buta para kacung kapitalis, membuatku merana sambil membayangkan Laura. Wanitaku yang kini hanya ada dalam kenangan.
"Laura, aku merindukanmu"
Aku bergumam setiap saat. Gumaman-ku berserakan di langit kelabu. Mengusik jiwa renta tahanan politik yang membusuk dalam jeruji besi. Aku sadar bahwa aku harus berdamai dengan hatiku. Berdamai dalam arti yang sesungguhnya. Berdamai dengan menerima kepergiannya bersama lelaki asing yang pada akhirnya aku hargai ia sebagai seorang sahabat dikemudian hari. Aku cukup memahami bahwa Tuhan memang terkadang mempertemukan kita dengan seseorang, tanpa bermaksud memberi kita kesempatan untuk memilikinya. Garis takdir kami berlawanan arah. Nyatanya, Lauraku hanya lah persinggahan sementara sebelum aku memulai kembali perjalanan panjang hidupku yang penuh dengan batu terjal di dalamnya.
Aku ingat saat aku berada pada kondisi yang begitu terpuruk akibat aksi culik paksa yang berujung menghilangnya daya penglihatanku. Seseorang membawaku dari pengasingan yang penuh derita pada pengasingan yang penuh dengan ketenangan. Deburan ombak membersamai luka-lukaku yang perlahan membaik. Suara burung camar yang beterbangan mencari mangsa, memulihkan trauma psikis yang sempat aku derita.
"Kau belum selesai juga?" ucapan Simon mengacaukan suasana haru yang tengah dirasakan Rebecca.
Rebecca mendesah kesal. "Aku belum sampai pada klimaks. Pergilah! Jangan ganggu aku" sergahnya yang merasa terganggu.
"Oh My God! Kau sudah gila, kau menangis hanya karena membaca cerita tak jelas seperti itu" ledek Simon yang memilih meninggalkan Rebecca dengan novel tak bersampulnya.
"Bukan aku yang gila" ucap Rebecca nyaring. "Dia ... Bimasakti yang gila" kali ini suaranya memelan karena Simon telah berlalu. "Mana ada lelaki seperti dia di masa sekarang ... Jika pun ada, aku akan bertaruh nyawa untuk mendapatkannya" gumam Rebecca seorang diri. Ia melanjutkan kembali bacaannya. Dalam suasana yang lebih sendu dari sebelumnya.
Laura datang menemuiku di pengasingan. Dia menggenggam erat jemariku yang berkeringat, dengan aroma segar yang lembut memanjakan penciumanku. Aku terkejut tanpa tahu bagaimana ekspresinya saat itu. Entah bagaimana awalnya, cerita itu kembali menghanyutkan diri kami pada gelombang perasaan familiar dahulu, dimasa berbalas puisi menjadi hal yang begitu menyenangkan ditengah kerumitan hidup.
Rasanya menjadi lucu ketika kami akhirnya harus mengalah pada kekuasaan Tuhan. Menerima takdir yang tak bisa kita tawar.
"Aku sedang hamil" bisikan Laura membuat aku tergugup dalam hitungan detik. Tiba-tiba tanpa sadar, aku mencoba menggerakkan tanganku untuk sampai di permukaan perutnya yang serupa balon. Gerakan halus dari dalam perut Laura dapat aku rasakan. Telingaku menangkap wanita kesayanganku terkekeh geli ketika satu tendangan kuat, aku dapatkan dari sang jabang bayi sebagai sapaan perkenalan.
Dialah Lauraku. Wanita yang memerangkapku dalam ilusi tak berkesudahan. Aku masih bisa merasakan pelukan hangatnya diantara desiran angin laut. Suatu bentuk penghargaan atas sikap tangguhku yang merelakannya merengkuh bahagia bersama lelaki lain.
Aku melihat Tuhan dalam mata batinku yang terkoyak. Dia memandangku seperti para syuhada perang yang bersimbah luka demi memperoleh surga. Berjalan setengah melayang menemaniku mengelilingi taman firdaus yang suci, memberiku gambaran indah para bidadari berwajah serupa Laura. Cantik. Tidak ada tandingannya.
"Inilah kisahku. Kisah yang aku tulis dengan kerelaan seorang pecinta sejati. BIMASAKTI" Rebecca merapal kalimat akhir dari cerita mengharukan itu.
Jemarinya yang panjang merapikan kembali lembaran surat itu sambil sibuk menahan lendir hidung yang tak sabar ingin keluar. Matanya segera menoleh pada pintu kamar, ketika mendengar suara Simon sedang berbicara dengan seseorang di lantai bawah.
Rebecca langsung berlari. Dari pembicaraan Simon yang menggema menembus dinding kamarnya, ia tahu bahwa sahabat terbaiknya itu akan kembali surfing bersama teman seperkumpulannya.
"Simon!" seru Rebecca dari balkon atas.
"Apa? Kau sudah selesai dengan novel picisanmu itu?!" ucapan bernada sarkas membuat Rebecca menggerutu tak jelas.
"Lusa kita akan kembali pulang" ujar Rebecca lagi.
Simon mengernyitkan dahi. "Pulang? Britania Raya, maksudmu?!" ujar Simon ragu.
"Memang kita pulang kemana, bodoh!" Rebecca memutar bola matanya malas.
"Apa ada? Mendadak sekali" Simon menatap Rebecca yang menuruni tangga.
"Sudah lama kita berlibur" Rebecca bersiap-siap dengan ide gilanya. "Saatnya kembali ke balik layar" kali ini senyumnya merekah sempurna.
"Apa sebenarnya maksudmu?" tanya Simon semakin tak mengerti.
"Hubungi semua kru kita. Katakan bahwa sutradara sekaligus produser Rebecca Walker, mengundang mereka untuk kembali membuat film" wanita cantik itu berkacak pinggang di hadapan Simon yang terperangah.
"Film apa yang kau maksud?" Simon bertanya sedikit mendesis karena tak rela waktu liburnya berakhir.
"Kau tahu bukan bahwa aku tadi menemukan harta karun?!" Rebecca menatap dengan bola mata bersemangat. "Botol bersurat itu" tambahnya.
Simon menarik napasnya dengan berat. Sesuatu yang gila sepertinya akan terjadi sebentar lagi. "Kau tidak bermaksud menjadikan cerita romansa absurd itu menjadi film, bukan?" tatapan Simon mendelik, sementara Rebecca memainkan alis matanya dengan jenaka.
"Siapkan semuanya. Aku mau lusa kita sudah mulai membicarakan proyek ini" Rebecca membalikkan badannya dengan gerakan angkuh seorang wanita terkenal. Ia berjalan dengan tatapan sinis Simon yang mengikutinya.
"Film tentang apa yang akan kita buat, Rebecca Walker" suara Simon menghentikan langkah Rebecca di anak tangga dan membuat wanita itu menoleh padanya.
Rasa haru itu masih menyeruak di dalam hati Rebecca ketika membayangkan satu nama yang begitu melekat dalam ingatan. Dengan pandangan lurus menatap wajah Simon disana, bibirnya berucap. "LAURA. WANITAKU DALAM KENANGAN"
-The End-