Malam ini bulan purnama bersinar begitu terang, aku yang berjalan-jalan menyusuri lorong istana merasa sangat damai menikmati cahaya sang bulan.
Namun...
Kedamaian itu pecah ketika aku melewati lorong didepan pintu kamar kakak tiriku. Suara cakaran dan dengusan yang begitu kuat terdengar hingga membuat ku merinding, bukan hanya suara aneh yang terdengar dari kamar kakak ku itu namun ceceran darah segar yang berwarna merah menyala juga berserakan didepan pintu kamarnya.
"As... astaga~!". Tubuhku langsung bergetar hebat karena ketakutan, keringat dingin juga bercucuran bersamaan dengan lemasnya kakiku.
Saat itu aku berfikir mungkin ada pencuri didalam kamar kakak, atau ada pembunuh bayaran yang ingin merenggut nyawanya. Semua fikiran negatif itu terus menerus berputar dikepalaku, hingga pada saatnya aku memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar kakak.
Aku berdiri perlahan lahan dan mengokohkan posisi tegakku, mempersiapkan hati dan juga mental dengan apa saja yang akan aku lihat ketika membuka pintu ini. Setelah mempersiapkan semua hal itu aku mulai membuka pintu kamar kakak dengan sangat perlahan.
"Krekk~".
Aku sedikit mengintip kedalam kamar saat celah pintu sudah terbuka, ketika mengintip ini aku belum melihat ada sesuatu yang janggal, hatiku pun menjadi sedikit tenang dan kembali membuka pintu kamar kakak sedikit lebih lebar.
"Krekk~".
Saat ini pun aku belum bisa melihat sesuatu yang janggal karena kamar kakak begitu gelap bagaikan lorong tanpa ada secerca cahaya. Aku kembali membuka pintu kakak sedikit lebih lebar agar bisa melihat kedalam dengan lebih jelas.
"Krekk~".
Namun ketika suara membuka pintuku yang ketiga ini, langkah kaki mulai terdengar. Seakan akan ia mengetahui bahwa ada pengintip yang berusaha masuk kedalam kamar nya. Langkah kaki itu terdengar begitu berat dan juga menghasilkan derapan begitu kuat.
"Buk...buk...buk".
Aku yang sedang berdiri didepan pintu lantas langsung terpaku dan gemetaran, karena merasa bahwa jantungku ini tidak akan kuat melihat siapa yang berada didalam kamar, perlahan lahan aku mulai menutup pintu kamar kakak kembali.
"To... tolong selamatkan aku, si... siapa saja tolong". Begitu teriakan batinku.
Tapi...
"Grep!!!". Saat sedikit lagi pintu kamar kakak ku tertutup sebuah tangan langsung menahan pintu itu.
Jika aku mengira ngira, tangan yang menahan pintu ini sangatlah besar dan juga kuat, karena saat pintu kamar kakak ditahan aku tetap berusaha untuk menutupnya. Namun hasilnya nihil aku tak kuat menarik pintu tersebut.
Aku langsung merasa pasrah dan berdiri diam didepan pintu dengan mata tertutup, dengusan yang mengerikan terasa bergerak dileherku, aku memutarkan badanku kebelakang dan perlahan lahan membuka mata untuk melihat siapa sebenarnya yang ada dibelakang ku ini.
Dan ketika aku membuka mata.
"Arghhhhhh !!!!". Teriakan rasa takut langsung melompat dari mulutku.
Aku melihat sesosok yang sangat mengerikan dengan sisik tebal berwarna hijau ditubuhnya, mata merah menyala seperti akan menerkam siapa saja, dan kuku panjang yang seakan akan bisa merobek kulit ku saat itu juga.
Kepalaku semangkin pusing dan tubuhku semakin lemas ketika melihat adanya manusia yang sudah bersimbah darah beserta beberapa kijang yang jantung nya sudah menghilang.
Aku berusaha ingin meminta tolong tapi entah kenapa tidak bisa, suara ku tak mau keluar dan hanya gemetar beserta air mata yang bisa aku keluarkan.
Sosok mengerikan itu berusaha mendekati ku dan mengendus tubuhku, ia mulai meraba rambutku dan melihat wajahku. Aku hanya bisa mundur dan terus mundur ketika makhluk mengerikan itu mendekatiku.
"Jangan mendekat !!". Begitu ucapku dengan gemetaran.
Namun makhluk itu tetap saja terus berusaha mendekati ku.
"Aku bilang jangan mendekat !!!". Suara ku mulai sedikit memekik karena rasa takutku semangkin besar.
Tapi makhluk mengerikan itu tetap saja mendekati ku, sampai pada akhirnya aku mencapai jalan buntu, tembok istana yang luas sudah membelenggu ku. Aku sudah tak bisa mundur dan lari dari makhluk mengerikan ini.
"Buk !!". Tubuhku terjatuh beriringan dengan tangisan rasa takut yang pecah, aku terus menerus berdoa agar makhluk ini mau melepaskan ku dan membiarkan ku lari.
Namun makhluk itu malah berjongkok mengikuti kondisi ku saat ini, lalu ia kembali mengendus ku dan menjilat tangan ku yang ternyata terdapat darah mengalir akibat luka.
Aku sudah bergidik ngeri ketika ia menggenggam tangan ku ini dengan tangannya yang luar biasa besar berserta kuku tajamnya itu. Tapi berbeda dari yang aku duga makhluk mengerikan itu malah membelalak, lalu sebuah cahaya terang pun langsung menyelimuti tubuhnya.
Aku tidak tau saat itu apa yang terjadi, namun setelah cahaya itu lenyap makhluk mengerikan itu menghilang, dan berganti dengan sosok legendaris yang sering diceritakan oleh ibuku yang bernama.
"Red Dragon"
Sosok naga ini terlihat begitu sama persis dengan cerita mendiang ibuku yang telah tiada, sisik merah bagaikan lahar panas diselaraskan dengan mata merah yang menyala, sayap besar yang bisa menutup matahari, beserta tubuh kokoh yang tak akan pernah jatuh dengan seribu serangan, terlihat begitu sama persis dengan dongeng sebelum tidur yang pernah ibu ceritakan.
Aku terpaku dan kembali mebelalakkan mata, ketika melihat sosok legendaris yang selama ini hanya aku anggap sebagai dongeng kini tengah berdiri dihadapan ku.
Aku ketakutan setengah mati ketika melihat mahkluk legendaris ini, padahal dulu aku menganggap naga adalah sesuatu yang begitu hebat dan keren sesuai dengan legenda yang aku dengar dari ibu, namun sekarang kenyataannya sudah membuktikan bahwa naga adalah makhluk sangat besar dan juga mengerikan.
Namun ada hal yang lebih mengejutkan lagi dari pada keberadaan Red Dragon itu. Setelah beberapa saat ia berubah menjadi naga merah besar, Red Dragon yang awalnya berdiri malah membungkuk dihadapan ku secara tiba tiba, lalu menyebut ku dengan sebutan Ratu.
"Akhirnya aku menemukanmu Ratu". Ucap Red Dragon kepadaku.
Sontak aku kembali merasa bingung dan kaget tidak kepalang. "Tadinya makhluk aneh, sekarang Red Dragon, dan lalu dia menyebutku ratu, sebenarnya apa dosaku hingga kejadian ini muncul". Begitu batinku yang mulai kesal namun tak berani mengeluarkan nya.
Setelah kalimat Red Dragon yang mengatakan bahwa aku ratu aku sudah tak bisa mengingat apa apa lagi, dan keesokan harinya aku sudah terbangun diatas tempat tidur ku. Aku sempat mengira bahwa hal yang aku alami tadi malam hanyalah mimpi ketika bangun dari tidur.
Namun entah mengapa hal itu kembali dapat dibantahkan karena seorang pria berambut merah dengan mata zamrud secara mengejutkan duduk di kursi samping tempat tidur ku.
"Siapa kau ??". Aku berteriak histeris karena melihat pria asing tengah duduk dikamar ku yang merupakan seorang wanita gadis.
"Jangan takut yang mulia Ratu aku tidak akan macam macam kepadamu". Kalimat itu kembali terdengar dari telingaku. Tapi aku tetap berusaha untuk tidak menghiraukan nya dan menganggap pria berambut merah itu hanya faktamorgana karena aku sangat ingin bertemu pria tampan.
"Kau hanya hayalan".
"Kau tidak nyata".
"Dan aku bukan seorang Ratu".
Aku secara terus menerus mengulang kalimat itu agar bisa menjadi sugesti dan melupakan kejadian ganjal tadi malam, bersamaan dengan kalimat sugesti itu aku pun merebahkan diri dan menutup wajah dengan selimut.
Namun lagi lagi sugesti itu digagalkan oleh pria berambut merah tadi, dia secara tiba tiba langsung menarik selimut ku dan menyentuh tanganku. Aku yang menerima perlakuan ini langsung melayangkan sebuah bantal besar kearah wajahnya.
" Sudah gila ya !!!, Apa yang mau kau lakukan ??". Amarahku langsung pecah disaat itu, bahkan umpatan kasar hampir keluar dari mulutku karena sangking kesalnya.
Sedangkan sang pria berambut merah hanya diam mematung dengan bantal yang aku lempar ditangannya, ia bagaikan manusia yang tidak memiliki dosa bahkan setelah memasuki kamar seorang wanita yang masih gadis.
"Maaf atas perlakuan lancang saya yang mulia Ratu, saya hanya ingin memperlihatkan kepada anda bahwa saya bukanlah orang yang berbahaya". Aku melihat raut wajah pria itu sedikit memelas ketika mengucapkan kalimat itu, karena mendengar penjelasannya ini aku pun menjadi sedikit luluh.
Lagian tak ada gunanya aku marah marah, karena masih banyak hal yang harus aku pertanyakan.
"Siapa kau ini ?, Kenapa bisa dikamar ku secar tiba tiba ??".
"Namaku adalah Arden, aku ditugaskan para menteri untuk mencari penerus kerajaan yang ke 12, aku telah berkeliling dunia selama 100 tahun dan akhirnya aku menemukanmu yang mulia Ratu".
"Hah !". Aku tertawa ketika mendengar waktu pria ini mencariku, karena secara logika aku ini masih 24 tahun dan bagaimana dia bisa mencariku selama 100 tahun sungguh tidak masuk akal.
"Jangan menipu ku, aku baru hidup 24 tahun didunia".
"Saya tidak menipu Anda nona !!, saat ini kami sedang memerlukan keberadaan dan kekuatan suci dari diri anda".
"Aku tak percaya".
"Anda bisa melihat ini jika tidak mempercayai".
Pria itu mengeluarkan sebuah portal yang memperlihatkan sebuah dunia lain yang sudah sangat hancur lebur, tapi entah kenapa hatiku menjadi sesak ketika melihat dunia itu padahal dunia itu tidak ada hubungannya dengan ku.
"Saat ini kerajaan sedang melakukan perang besar, tidak ada yang bisa menghentikan perang ini selain anda yang mulia. Kami sudah sangat menderita, kehidupan dinegara juga sudah mencapai 20 persen jadi tolong lah bantu kami".
Pria itu sepertinya serius dengan ucapannya, karena saat mengatakan semua itu perasaan sedih terpancar begitu jelas diwajahnya, entak kenapa aku juga merasakan hal yang sama dengan pria itu, hatiku secara tiba tiba langsung tergerak untuk membantu negara yang dimaksud oleh sang pria berambut merah.
"Jika aku benar ratu kalian apa buktinya ??". Namun meski dengan perasaan iba ini aku tak mau langsung ikut dengannya, aku harus menanyakan kejelasan dengan bukti nyata dan fakta.
"Tanda lahir yang ada dipundak anda".
Aku sontak langsung terkejut, dari mana pria ini mengetahui bahwa ada tanda lahir ditubuhku, dan tempat tanda lahir itu berada begitu tepat dengan yang diucapkannya.
"Tempat lahir itu hanya bisa dimiliki oleh penerus selanjutnya, dan hal itu bukti anda adalah ratu kami, jika anda tidak percaya juga ada satu bukti lainnya, tadi malam saat bulan purnama saya menjilat darah anda dan didalam darah itu saya merasakan sebuah sihir suci yang begitu besar, karena hal ini lah saya bisa berubah kembali menjadi Red Dragon disaat sihir suci saya sudah mencapai batasnya". Pria itu kembali menambahkan penjelasannya.
"Huff!!". Aku jadi menghela nafas panjang dan berfikir berat akibat peristiwa ini.
"Baiklah aku mempercayai itu, tapi saat di dunia mu berikan aku kembali sebuah bukti yang lebih meyakinkan".
"Baik saya bersedia". Pria itu langsung menjawabnya dengan yakin tanpa ada keraguan, saat melihat keyakinan pria ini keraguan dihatiku pun menjadi menghilang sedikit.
"Kita akan pergi sekarang ya Nona".
"Hah sekarang ??". Aku kembali berteriak kaget dengan perkataan Erden yang tiba tiba. Namun seperti saat sebelumnya Erden tetap tenang dan tidak gegabah.
"Bukankah semangkin cepat lebih baik ?". Ucap Erden berusaha menjelaskan.
"Ya, baiklah... baiklah terserah kamu saja".
Erden pun kembali membuka sebuah portal, namun portal kali ini berbeda dari portal yang tadi, portal ini adalah portal yang dapat membawa mu kemana saja meski tempat itu berada di dimensi lain.
Aku sebenarnya ragu, namun hatiku terus tergerak untuk membantu negara itu, jadi dengan perasaan yang cukup yakin aku melangkahkan kakiku kedalam portal tersebut. Dan setelah keluar darinya aku benar benar melihat keadaan negara yang sudah hancur lebur, bahkan udara saja sudah sulit didapatkan didalamnya.
Aku kembali terenyuh ketika mendengar suara jeritan ketakutan dari anak anak yang berlarian menghindari bahaya, ditambah lagi dengan kondisi para lansia yang terluka parah menambah kesan menyedihkan dari dalam negara hancur lebur ini.
Air mataku tanpa sengaja tumpah dan membasahi pipi, aku sungguh tak kuat melihat keadaan ini, tapi untung nya Erden menjelaskan bahwa ada banyak cara untuk mengalahkan penyerang yang mengajukan perang kepada negara mereka.
Penyerang itu adalah seekor naga hitam. Erden bilang naga hitam itu adalah musuh bebuyutan bagi naga merah dari zaman dahulu kala, mereka selalu saja ingin mendapatkan reruntuhan yang dapat mengalirkan kekuatan suci dengan tujuan untuk mendapatkan kekuasaan Dunia.
Dengan informasi yang aku terima dan kenyataan yang ada didepan pelupuk mata, batinku pun langsung berbicara.
"Apakah aku bisa mengembalikan keadaan negara ini ??, Apa aku mampu menjadi pemimpin perperangan ini ??, Aku sungguh tak tega melihat anak anak dinegara ini hidup menderita dan diselimuti dalam bayang bayang ketakutan". Begitulah isi batinku yang merasa sangat Iba dan kasihan dengan kondisi negara ini.
Tapi aku bertekad, dengan perasaan seperti itu aku akan melangkah yakin menuju tempat yang katanya Erden bisa membangunkan kekuatan suci, aku sungguh berharap kekuatan suci itu bisa mengakhiri perang besar ini.
"Ayo Nona". Erden memanggil ku sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
"Baik". Aku juga langsung meraih tangan Erden itu dengan tekad yang bulat, lalu tanpa disadari Erden yang memegang tangan ku tiba tiba berubah menjadi naga merah besar yang sebelumnya pernah aku lihat tadi malam. Aku tentu saja kaget namun aku sudah tidak takut karena aku sudah membuktikan tekad hatiku.
"Ternyata kamu ya naga merah besar itu ??".
"Iya benar sekali nona".
"Huff, syukurlah".
"Kenapa anda bersyukur ??".
"Tidak, aku fikir naga itu ingin memakanku tapi ternyata tidak aku jadi merasa lega".
Erden pun langsung tertawa setelah mendengar kalimat konyol ku itu. "Haha ada ada saja anda nona".
"Sudahlah itu jangan dibahas lagi, sekarang kita mau kemana ?".
"Ketempat reruntuhan tua yang bisa mengalir kan kekuatan suci anda nona".
"Hmm". Aku hanya bisa bergumam sambil melihat jeritan memilukan dari penghuni negara ini.
Sesampainya direruntuhan tua...
Erden kembali berubah menjadi wujud manusia nya, kemudian kami berdua pun langsung menuju kesebuah ruangan dimana terdapat titisan mentari yang disebut sebut sebagai benda magis terkuat didunia para naga.
Tapi siapa sangka didalam reruntuhan itu sudah ada para dewan besar kerajaan naga yang menunggu kehadiran Erden.
"Tuan Erden !!". Mereka langsung menghampiri Erden dengan wajah berseri seri.
"Salam para dewan agung".
"Bagaimana apa anda sudah menemukannya ??".
"Sudah itu adalah penerus kerajaan yang ke 12".
Erden menunjuk kearah ku yang berada tepat disampingnya. Para dewan agung pun langsung menghampiri ku dan tertawa gembira, mereka berkali kali mengucapkan terimakasih kepada Erden dan tidak lepas lepasnya menggenggam tangan ku.
Ya...aku faham betapa senangnya mereka ini jadi aku hanya tersenyum dan membiarkan mereka mau melakukan apa saja.
Situasi bahagia tadi hanya berlangsung setengah jam, lalu setelah nya mereka menjelaskan bagaimana asal usul aku lahir dan siapa ibuku, disanalah aku mengetahui bahwa kakak dan papa tiriku merupakan salah satu dari naga hitam yang ingin memanfaatkan kekuatan suci yang mengalir ditubuhku. Terus yang paling mengerikannya lagi adalah pengakuan Erden yang mengatakan bahwa manusia didalam kamar kakak dengan kondisi bersimbah darah adalah kakak ku sendiri yang ingin melakukan perlawanan hingga hampir membunuh Erden.
Tidak terasa perbincangan itu memakan waktu hingga malam, lalu keesokan paginya aku dan dewan agung beserta Erden langsung membahas strategi perang yang dapat menguntungkan negara naga merah. Ini adalah hal pertama bagiku tapi untung saja para dewan agung mengatakan bahwa aku cepat belajar jadi tak ada kendala dalam membuat strategi perang ini.
Waktu yang dibutuhkan untuk membuat setrategi perang adalah selama 4 hari, lalu setelah strategi perang itu jadi para tentara dan pasukan beserta kesatria naga merah pun langsung menggunakan strategi yang kami buat itu.
Waktu terus menerus berjalan hingga tak terasa aku sudah satu bulan berada disini, namun strategi yang kami buat tetap tidak bisa mengalahkan naga hitam atau membuat mereka mundur sesaat saja, namun syukurnya strategi ini tetap bisa menekan angka kematian dan juga jumlah korban terluka bagi penduduk negara naga merah.
Selama sebulan itu pula kami berusaha memberikan modifikasi dan juga perubahan terhadap strategi agar kemenangan cepat tergapai oleh negara naga merah. Namun disela sela kami merancang strategi baru, ketua dari naga hitam pun datang kedalam Medan perang, ia membawa sebuah batu hitam yang disebut dengan titisan kematian.
Menurut legenda yang diceritakan oleh para dewan agung, titisan kematian adalah satu satunya benda magis yang dapat mengalahkan titisan mentari, dan titisan mentari pula yang dapat menetralkan kekuatan gelap yang ada didalam titisan kematian. Namun titisan mentari hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki kekuatan suci besar didalam dirinya, dan apabila orang tersebut terlalu banyak menggunakan kekuatan suci yang ada didalam dirinya maka, jiwa kehidupan juga akan ikut tersedot kedalam titisan mentari.
Hal inilah yang membuat para dewan agung dan juga Erden tidak mengizinkan ku menggunakan titisan mentari, mereka takut kalau aku tidak bisa mengendalikan kekuatan suci dan nyawaku menjadi taruhannya.
Aku menuruti kata mereka itu hanya dalam beberapa Minggu saja, lalu terlepas dari itu aku sudah tidak memperdulikan ucapan mereka lagi. Karena ketika tidak menggunakan titisan kematian saja keadaan negara naga merah sudah hancur lebur, sekarang para musuh menambah kekuatan dengan titisan kematian, kalian pasti sudah dapat membayangkan betapa buruknya situasi negara naga merah.
Aku yang sudah tak punya pilihan lain pun langsung berjalan menuju reruntuhan yang berada tak jauh dari istana utama didunia naga merah, Erden dan yang lain tentu saja tidak mengetahui hal ini karena jika mereka tau aku pasti tidak akan diperbolehkan untuk mendekat kearah reruntuhan tua itu.
Setelah berada tepat didepan reruntuhan tua, aku kembali merasakan gempa bumi dahsyat yang dapat meretakkan tanah dan juga batu. Tapi guncangan besar tidak menghilangkan keinginan ku, aku tetap masuk kedalam reruntuhan tua itu dengan keyakinan yang penuh, lalu setelah nya aku pun langsung bisa melihat sebuah batu kristal berwarna biru dengan cahaya yang menyelimutinya.
Batu itu tidak lain adalah titisan mentari, aku langsung tau karena kekuatan suci ku dan kekuatan suci yang ada didalam batu tersebut langsung saling berhubungan.
Tanpa membuang waktu lagi aku langsung mengambil batu tersebut dan mengaktifkannya, aku benar benar merasakan energiku terhisap sangat besar kedalam titisan mentari ini. Meski begitu aku tidak memperdulikannya, aku bersedia mati jika negara yang dicintai oleh ibu bisa diselamatkan.
Akan tetapi lagi lagi Erden mengganggu rencana ku itu, secara mengejutkan dia tiba tiba berteriak masuk kedalam reruntuhan tua untuk menghentikan ku.
"Yang mulia !!!, Hentikan itu". Begitulah teriak Erden kepada ku.
Tapi aku tidak memperdulikannya, aku tetap fokus dengan titisan mentari hingga ia berhasil aktif dan mengeluarkan cahaya sihir yang sungguh luar biasa kuat.
Aku mengarahkan titisan mentari tersebut kearah barat dimana para pasukan naga hitam menyerang negara naga merah. Seperti dugaan ku Cahaya kuat dari titisan mentari ini berhasil menarik perhatian mereka, hingga mereka menyerang kearah reruntuhan tua dimana aku berada.
Aku terus menerus mempertahankan kekuatan suci ku agar tidak melampaui batas, sedangkan pemimpin mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengalahkan ku beserta titisan mentari.
Perlawanan ini terjadi begitu lama dan hasilnya pun sama saja, sedangkan aku merasa energi dan juga kekuatan suci ku sudah semangkin menipis.
"Tidak ada pilihan lain". Ucap batinku.
Aku melepas semua sihir suci yang tersisa didalam tubuh ku, bersamaan dengan pelepasan sihir suci itu aku juga mengikut sertakan energi jiwa campuranku kedalam titisan mentari itu.
Aku yakin bahwa hal ini akan langsung menghilangkan semua generasi naga hitam, karena itu aku tidak takut melakukan nya.
Sedangkan Erden dan para dewan agung yang sudah mulai menyadari rencana ku, tidak henti hentinya berteriak dan berusaha menghentikan ku.
"Maaf semuanya ini sudah keputusanku".
Hanya dengan satu kalimat itu saja kekuatan suci ku sudah semuanya berada didalam titisan mentari, lalu dengan hitungan detik cahaya besar yang berasal dari titisan mentari pun meledak dan meluluh lantakkan semua kejahatan yang ada didalam negara naga merah.
...
Namun bersamaan dengan ledakan tersebut ratu para naga merah pun menghilang, dan hanya meninggalkan sisik merah berkekuatan suci setelah cahaya ledakan tersebut hilang dan meredup.
Demi menyelamatkan negara nya ratu naga merah rela mengorbankan diri beserta jiwanya, para rakyat pun senang karena para pengganggu tidak akan pernah datang lagi kenegara mereka, namun disatu sisi juga para rakyat menjadi sedih atas kepergian sang ratu yang telah mengorbankan diri demi kemerdekaan mereka.
Kematian sang ratu ini pun tidak disia siakan oleh para penghuni negara naga merah. Dengan ingatan yang selalu ada dibenak mereka tentang bagaimana caranya sang ratu tiada, membuat mereka semangkin semangat dalam membangun negara yang sebelumnya pernah hancur akibat perperangan.
Selain sebagai pembangkit semangat para rakyat, kematian ratu ini pun menjadi legenda yang selalu dikenang dan diceritakan secara turun temurun oleh seluruh penghuni negara naga merah, reruntuhan tua yang menjadi saksi bisu kematian ratu pun menjadi tempat paling bersejarah bagi rakyat negara naga merah.
Karena pengorbanan sang ratu ini lah negara naga merah bisa damai dan tentram seperti saat ini.
Thank you very much my Queen
~Tamat~