Di balkon kamarnya, putri Liska berdiri memandang para prajurit yang sudah mulai berlatih sambil menghirup udara segar. Ia adalah putri tunggal dari Raja Ahnam. Sifatnya yang ramah, baik hati, dan bijaksana membuat ia disukai dan dicintai para rakyat.
Setelah puas berdiri dibalkon, ia berbalik akan masuk ke kamarnya. Tiba-tiba terdengar suara auman naga disusul langit yang mulai memerah. Matahari tak lagi terlihat, udara segar sudah tergantikan posisinya oleh asap hitam yang mengepul disana-sini. Semburan api yang diciptakan oleh sang naga membuat pepohonan hancur terbakar, termasuk pohon bunga mawar putih kesayangan putri. Putri yang melihat pohon kesayangannya hancur terbakar menjadi geram dan marah pada naga tersebut.
Ia berjalan keluar kamar dengan wajah merah menahan marah. Sekuatnya ia tahan amarahnya supaya tidak meledak dihadapan raja, ratu, atau pun yang lain. Diluar sana, para prajurit dan panglima mencoba memanah naga tersebut. Tapi, belum membuahkan hasil. Kepakan sayapnya yang lebar menciptakan angin besar menambah lebar api menyebar dan membumbung tinggi.
"Sial! Naga itu lagi! Kali ini aku akan menghabisinya!" batin si putri sambil berjalan cepat menuju ruang senjata. Dimana berbagai macam jenis senjata mulai dari yang kecil sampai yang besar disimpan. Senjata-senjata tersebut juga yang dipakai para prajurit dan panglima saat akan melakukan perang.
"Lis! Liska! Tunggu bunda! Kau mau kemana?" teriak sang ratu, Ahza. Dia adalah ibunda putri Liska.
Putri Liska berhenti mendengar suara bunda nya. Ia menoleh ke belakang dimana sang bunda sedang berlari menyusulnya sambil mengangkat bagian bawah gaun yang ia kenakan, hingga memperlihatkan mata kaki putihnya. Ia lakukan hal itu supaya bisa dapat dengan mudah berlari.
"Naga itu sudah membuat resah seluruh pihak kerajaan dan rakyat bunda, Liska tidak bisa diam saja, Liska harus melakukan sesuatu. Liska juga semakin jengah dengan kehadirannya, ia juga merusak habis pohon bunga mawar putih kesayangan Liska dengan semburan api nya" jelas putri.
Ratu Ahza yang sudah berdiri didepan putri semata wayangnya menatapnya penuh khawatir sambil mengatur nafasnya yang memburu.
"Jangan.. jangan nak, itu bahaya, kamu belum bisa melawannya" kata sang bunda.
"Tidak bunda, jika menunggu Liska bisa melawannya. Bisa-bisa kerajaan ini hancur bersama manusia dan hewan-hewan nya. Liska yakin Liska bisa. Biarkan Liska mencoba bunda. Kasihan para prajurit dan panglima diluar sana. Para rakyat juga tersiksa karena naga tersebut".
"Tapi sayang-"
"Biarkan Liska mencoba bunda..." sela putri memelas.
Ratu Ahza yang melihat keteguhan dan keyakinan dari manik mata putrinya mencoba yakin. Tapi tetap saja, ia adalah wanita yang mengandung dan melahirkan putri, ia pasti tidak ingin anak nya kenapa-napa. Apalagi sampai melawan naga api.
"Huft... baiklah, bunda akan mengizinkan kamu untuk mencoba melawan naga tersebut. Tapi, kamu harus janji dengan bunda, bahwa kamu akan baik-baik saja".
"Yeayy...!! Terima kasih bunda, Liska janji" putri memeluk bunda nya senang. Ia lalu melepaskan pelukan hangat tersebut saat mengingat keadaan diluar.
"Liska harus bergegas bunda, bunda baik-baik didalam kerajaan. Jangan keluar. Jangan khawatirkan Liska, Liska akan menjaga diri dan pulang dalam keadaan baik-baik saja".
"Ya... semoga kamu dapat menepati janjimu" ucap sang bunda sedih.
"Oh bunda.. Liska sudah besar. Liska juga sudah diajari banyak hal dari panglima, Liska pasti akan baik-baik saja. Jangan sedih bunda, itu membuat Liska jadi ikut sedih".
"Yahh... jangan memaksakan apa yang belum kamu kuasai".
"Baik bunda, kalau begitu Liska pergi dulu".
Putri bergegas pergi menuju ruang senjata dan mengambil panah beracun yang paling ampuh untuk membunuh sasaran dalam hitungan detik. Selesai mengambil keperluannya, ia keluar dan menuju halaman. Saat diperjalanan, ia berpapasan dengan segerombolan tabib yang berjalan tergesa-gesa. Tabib-tabib tersebut yang melihat sang putri langsung berhenti dan menunduk hormat.
"Hormat kami putri".
"Cepatlah ke halaman, semua prajurit dan beberapa panglima sedang kesakitan. Obati mereka dengan benar" kata putri.
"Baik putri".
"Kalau begitu aku pergi dulu".
Liska kemudian berlalu meninggalkan para tabib yang kembali membungkuk. Para tabib segera bergegas menuju halaman.
Saat sampai dihalaman, putri Liska menemui salah satu prajurit yang mendapatkan banyak luka bakar ditubuhnnya.
"Pergi kemana naga itu?" tanya putri.
"Hormat saya putri, naga tersebut pergi menuju balai kota" sahut si prajurit setelah berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Apa kau bilang? Balai kota? Sial! Bukankah disana sedang diadakan acara?" prajurit tersebut mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Bertahanlah, tabib akan segera datang" putri segera berlari keluar halaman dan menuju balai kota dimana sekarang sedang diadakan acara lelang tahunan.
Putri berlari sambil menggendong busur lengkap dengan panahnya. Keringat yang membasahi tubuhnya tak ia hiraukan sama sekali.
Sesampainya didepan pintu masuk balai kota. Putri tercengang melihat keadaan balai kota yang porak-poranda. Orang-orang berlarian tak tahu arah. Semburan api dari mulut sang naga membakar hampir semua balai kota.
Jika diamati lebih jelas, naga tersebut bergerak bukan dengan kendalinya sendiri, melainkan dikendalikan oleh seseorang berbaju hitam yang duduk dipunggung sang naga. Orang tersebut memegang tongkat seperti lentera yang dikelilingi benda tajam, runcing seperti duri.
Naga tersebut terbang diatas balai kota yang sekarang sudah terbakar sepenuhnya oleh api semburan sang naga. Putri segera mengambil ancang-ancang untuk memanah jantung sang naga.
Setelah dirasa posisi sudah pas, ia segera melepaskan pegangannya membuat anak panah pertama melayang cepat menusuk tepat di jantung si naga.
"Kenapa tidak mati?" gumam putri heran saat melihat naga tersebut masih terbang dengan bugarnya diudara. Tiba-tiba, tubuh sang naga seperti terbelah menjadi dua. Pakaian khusus berlapis baja yang dipakai oleh sang naga jatuh mengenai api semburannya yang melahap balai kota.
"Sial! Ternyata kena bajunya" gumam putri kesal. Ia segera mengambil posisi lagi dan mengepaskan sasaran.
"Yang ini harus pas".
Anak panah kedua melesat cepat, kali ini tidak mengenai sang naga, melainkan penunggangnya. Orang tersebut mengaduh kesakitan sembari mengumpat, sesaat setelah ia terkena panah. Seekor naga yang berukuran lebih kecil mencengkram kedua pundak orang tersebut dan membawanya terbang entah kemana.
Naga tersebut pergi terbang setelah tuan nya dibawa pergi naga lain. Putri Liska segera mengejar naga tersebut supaya tidak kehilangan jejak, hingga ia berhenti saat menyadari bahwa dirinya sudah masuk dalam kawasan hutan belantara.
"Sial! Kalau aku mati disini karena hewan liar bagaimana?" gumam putri gelisah. Berkali-kali ia mengumpati dirinya sendiri karena kecerobohannya yang mengejar naga tanpa memperhatikan kemana ia pergi.
Saat sedang sibuk mengumpati dirinya sendiri sambil mencari-cari naga tadi. Ia mendengar suara auman disusul suara gemericik air yang begitu deras.
Putri segera mencari asal suara dan menemukan sang naga yang dicarinya sedang bertengger diatas batu besar disamping air terjun yang mengalir deras menghantam bebatuan berukuran sedang dibawahnya. Membasahi dedaunan disekitarnya.
"Ada juga air terjun di tengah-tengah hutan belantara seperti ini" putri tersenyum melihat pemandangan air terjun dihadapannya. Saat pandangan matanya tertuju pada sang naga, ia bersiap dengan busurnya yang sudah siap melesatkan panah ketiga.
"Jangan! Jangan bunuh aku!" ucap sang naga tiba-tiba. Putri tersentak kaget mendengar naga tersebut berbicara.
"Bagaimana? Bagaimana bisa kau berbicara? Apa kau siluman? Atau kau seseorang yang dikutuk oleh penyihir?" tanya putri bertubi-tubi.
"Tidak! Bukan! Aku bukan siluman atau seseorang yang dikutuk oleh penyihir, tapi aku memang naga istimewa. Aku berbeda dari naga yang lain karena memiliki batu permata yang menyatu dengan darahku".
"Batu permata? Apa itu?" tanya putri tak paham.
"Batu permata ini, adalah batu yang tercipta dari energi naga-naga terdahulu yang berbeda dengan naga lain. Berbeda yang dimaksud adalah berbeda karena bisa berbicara" jelas sang naga.
"Tapi, tetap saja, kau sudah menghancurkan kota dan kerajaan, kau juga hampir membunuh manusianya" ucap sang putri.
"Itu, itu bukan ulahku. Aku dikendalikan oleh orang yang tadi menunggangiku".
"Jangan bohong!" bentak sang putri.
"Aku tidak bohong! Aku serius!".
Tiba-tiba seekor naga berukuran satu setengah kali lebih besar daripada naga yang berbicara dengan putri Liska tadi datang dan langsung menyambar si naga berbicara. Ia menyekik leher naga tersebut dengan kedua telapak kaki nya.
Putri yang terkejut, reflek menarik busur hingga panah yang sudah bersiap melesat tadi, melesat dengan cepatnya dan menancap di leher naga berbicara.
"Ohh... tidak!! Salah sasaran!!" gumam sang putri panik.
Kepanikan sang putri membuatnya gelagapan dan memutuskan untuk menarik busur dan melesatkan lagi anak panah keempat yang langsung menancap di pinggang naga yang menyekik naga berbicara.
Sesuai kekuatan yang terkandung didalam anak panah. Beberapa detik setelah panah tersebut menancap di area tubuhnya, dua naga tersebut langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Naga yang menyekik naga berbicara terjatuh diatasnya.
"Aaaa...!! Apa yang aku lakukan??!!".
Putri mulai frustasi dan berlari meninggalkan lokasi. Ia berjalan entah kemana. Pikirannya kacau balau, berkecamuk tidak jelas. Ia sudah membunuh dua naga sekaligus dengan panah beracunnya. Bisa juga ia akan membunuh orang yang terkena panah keduanya tadi jika tidak diberikan obat penangan.
"Putri...!! Kau dimana putri..??!!".
Teriakkan para prajurit terdengar menggema di hutan belantara hingga terdengar di telinga putri Liska.
"Prajurit!! Prajurit!! Aku disini!!" balas sang putri berteriak sambil berlari mendekati suara prajurit kerajaannya.
"Putri! Apa kau baik-baik saja?" tanya salah satu prajurit yang tadi berteriak saat menemukan sang putri.
"Tidak! Aku tidak baik-baik saja prajurit, aku sudah membunuh naga tadi beserta satu naga lain yang berusaha mencekik naga berbicara" jelas sang putri dengan gemetaran.
"Naga berbicara? Apa maksudmu putri?" tanya prajurit lain tak paham.
"Iya, naga tadi, naga yang membuat kekacauan tadi, dia bisa berbicara, ia bilang, ia bilang.. bahwa ia adalah naga istimewa, katanya.. ia bisa berbicara karena batu permata didalam dirinya yang menyatu dengan darahnya" mata para prajurit membola tak percaya mendengar cerita putri.
"Batu permata katamu putri?" putri mengangguk.
"Jangan-jangan, ramalan itu terjadi" bisik salah satu prajurit kepada teman disampingnya.
"Bisa jadi" sahut temannya.
"Bisa kau bawa kami ke tempat kau membunuh naga berbicara putri?" tanya prajurit yang berada paling dekat dengan putri. Putri mengangguk dan berjalan memimpin para prajurit, membawa mereka menuju air terjun, tempat dimana ia membunuh dua naga sekaligus.
"Ini, ini tempatnya".
"Batu permata" seru salah satu prajurit yang memiliki badan tambun sambil menunjuk sebuah batu berbentuk ketupat berwarna merah terang yang melayang diudara.
"Batu itu, batu itu melayang tepat diatas naga berbicara mati" tunjuk sang putri.
Para prajurit mencoba mendekati dan mengambil batu tersebut. Tapi semuanya berakhir sama. Tak bisa dan terpental.
"Kenapa dengan kalian semua?" tanya putri panik.
"Tidak ada apa-apa putri, kami hanya mencoba mengambil batu permata tersebut untuk diamankan didalam istana, tapi sepertinya ramalan tersebut memang benar adanya. Batu permata tersebut hanya bisa diambil oleh putri seorang, pemilik rambut kuning" jelas si prajurit.
"Hah? Aku?" para prajurit mengangguk membuat putri penasaran ingin mencoba mengambil batu tersebut. Bisa atau tidak ia pegang. Dan ternyata bisa. Ia bisa memegangnya.
"Benar! Aku bisa memegangnya".
Mereka semua lalu bergegas pulang. Kondisi desa masih porak-poranda, hanya saja api-api yang tadi berkobar sudah padam. Para prajurit dan putri Liska masuk ke kerajaan dan membicarakan tentang batu permata tersebut.
"Batu permata itu, adalah batu yang diramalkan beberapa tahun silam. Batu yang mendiami tubuh seekor naga yang akan memporak-porandakan desa dan kerajaan dengan kendali seorang laki-laki yang memegang tongkat lentera dengan duri yang mengelilinginya. Kelak naga tersebut akan mati karena panah beracun yang dilesatkan oleh putri kerajaan yang memiliki rambut kuning. Batu tersebut nantinya akan mendiami tubuh putri kerajaan tersebut untuk selamanya. Dan putri tersebut akan menjadi ratu para naga, artinya.. dia akan memimpin dan mengendalikan para naga diseluruh jagat raya. Dan ternyata, ramalan itu benar adanya. Apa yang terjadi saat ini benar-benar mirip dengan ramalan tersebut, dan putri kerjaan yang berambut kuning itu mirip sekali denganmu, Liska.."
"Kau putri, putri kerajaan Ahnam, warna rambut mu juga kuning" jelas raja Ahnam panjang lebar.
Putri Liska membelalak tak percaya.
"Benarkah itu ayah?" tanya putri.
"Benar".
"Akhhh..!!"
Tiba-tiba batu permata tersebut melesat masuk ketubuh putri Liska melalui jantungnya hingga membuat sang putri mengerang menahan sakit.
"Sa.. kit" erang putri.
Beberapa menit berlalu, rasa sakit yang tadi dirasakan putri kini sudah menghilang. Ia kini mengenakan baju berwarna putih yang mirip seperti kimono, hanya saja bagian lengannya tidak selebar kimono. Rambutnya juga tergerai lurus dengan jepit rambut yang senada dengan bajunya menyelip diatas telinga kanannya.
"A-apa yang terjadi padaku?" gumam putri.
"Kamu, kamu sudah menjadi ratu para naga Lis" sahut sang ayah.
Dari dalam ruangan, terdengar auman naga. Saat semuanya keluar, mereka tercengang dengan kehadiran seekor naga berwarna putih bersih yang sangat gagah.
"Ini nagamu" pemilik suara turun dari langit.
"Dia adalah naga yang akan menjadi pendampingmu, kau sekarang adalah ratu para naga. Semua naga akan tunduk padamu, diantara semua naga, naga putih ini lah yang paling tinggi kekuatannya untuk mengimbangi kedudukanmu. Namanya Gatih" ucap wanita tersebut.
"Siapa kau?" tanya putri.
"Namaku Tirsie, peternak naga. Oh tidak! Jangan peternak naga, aku hanya mengajari beberapa naga sesuai kemauanku, dan si Gatih ini lah salah satunya. Ya.. sebenarnya dia bukan salah satunya si, tapi dia memang aku ajarkan beberapa ilmu untuk menjagamu" jelas Tirsie.
"Pakailah ini" Tirsie menyerahkan sebuah mahkota yang terbuat dari kristal. Mahkota tersebut berbentuk hampir mirip dengan mahkota raja. Hanya saja motifnya lebih ke perempuan dan juga tidak sebesar mahkota raja.
"Apa ini?" tanya putri.
"Itu tanda bahwa kau adalah ratu dari para naga, aku pergi dulu ya" Tirsie terangkat ke udara. Membelah awan yang sudah seperti semula lalu hilang bak ditelan dunia.
Putri mencoba memakai mahkota tersebut, seketika.. semua naga dari penjuru dunia datang dan bersimpuh dihalaman luas kerajaan. Ada banyak dari mereka yang bertengger dan terbang disana-sini karena tidak kebagian tempat dihalaman.
"Anakku ratu dari para naga" raja Ahnam segera memeluk putrinya. Bunda Ahza juga datang dan ikut memeluk putri Liska.
Kini putri sudah menjadi ratu dari para naga, semua naga menghormatinya. Para naga bahkan rela bertaruh nyawa untuk menyelamatkan sang putri. Putri Liska kini juga mengemban tugas yang tidak mudah. Menjadi ratu pagi para naga adalah hal yang sangat menakutkan. Orang-orang dengan kemampuan tinggi akan mencoba menggantikan kedudukannya. Tapi semua itu akan putri Liska lewati bersama Gatih dan naga-naga yang lain.
______________________TAMAT______________________
Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu membaca cerpen author ini.
Jangan lupa tekan love nya ya, komentar positif nya juga jangan lupa. Author tunggu...