Hujan turun perlahan di atas atap seng rumah kos-kosan yang bocor, menciptakan irama yang monoton. Di sudut kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, Arga menatap layar laptopnya yang sudah usang, matanya tak berkedip. Bukan karena tugas kuliah yang menumpuk, melainkan karena sebuah pesan singkat yang baru saja ia terima.
“Maaf, Arga. Aku rasa kita lebih baik berteman saja.”
Kalimat itu dari Sari. Hanya tiga baris, tapi terasa seperti pisau yang menancap dalam-dalam di dadanya. Udara di kamar itu tiba-tiba terasa pengap, meski jendela sudah terbuka lebar. Arga menarik napas panjang, mencoba menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ini adalah kali pertama ia merasakan getar-getar aneh di dada, kali pertama jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat senyuman seseorang, dan juga kali pertama ia merasakan luka yang begitu perih.
***
Semuanya berawal enam bulan yang lalu, di perpustakaan kampus yang selalu sepi itu. Arga, mahasiswa teknik informatika tahun kedua yang lebih akrab dengan kode program daripada percakapan, sedang mencari referensi untuk tugas algoritmanya. Matanya, yang biasanya hanya tertuju pada baris-baris kode, kali ini tertumbuk pada seorang perempuan yang sedang asyik membaca buku puisi di balik rak sastra.
Dia memakai kaus putih polos dan jeans biru yang sudah pudar. Rambutnya diikat ekor kuda sederhana, beberapa helai terlepas dan melingkari wajahnya yang teduh. Cahaya dari lampu neon jatuh tepat di pundaknya, membuatnya seperti punya cahaya sendiri. Arga terdiam. Ia lupa apa yang sedang dicarinya. Dunianya yang hitam-putih, penuh dengan logika biner 1 dan 0, tiba-tiba disusupi oleh warna.
“Kamu mencari buku ini?” suara itu memecah lamunannya. Perempuan itu menyodorkan sebuah buku tebal, “*Introduction to Algorithms*”. Ternyata, tanpa sadar, Arga telah berdiri terlalu lama di depan rak yang salah, tepat di hadapannya.
“I-iya. Terima kasih,” gumam Arga, mengambil buku itu dengan tangan yang agak gemetar. Kontak mata mereka bertemu sepersekian detik. Matanya seperti telaga yang jernih.
“Sari,” katanya sambil menyodorkan tangan. “Mahasiswa sastra.”
“Arga. Teknik informatika.”
Itulah awal dari segalanya. Pertemuan-pertemuan kebetulan di perpustakaan berubah menjadi janji bertemu. Dari sekadar meminjamkan buku, menjadi berbagi cerita. Arga belajar bahwa puisi bukan sekadar kata-kata yang dirangkai, tetapi ada perasaan yang tersimpan di setiap barisnya. Sari, di sisi lain, tertarik mendengar Arga bercerita tentang bagaimana logika bisa menciptakan sesuatu yang indah dalam bentuk program.
Cinta pertama itu datang seperti virus yang tak terdeteksi oleh firewall manapun. Ia menyusup perlahan, mengubah sistem operasi di hati Arga. Arga mulai melakukan hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia bangun lebih pagi untuk kebetulan bertemu di halte bus kampus. Ia menghafal judul-judul puisi hanya untuk punya bahan bicara. Ia bahkan mencoba menulis kode program sederhana yang, saat di-run, akan menampilkan sebuah puisi pendek untuk Sari di layar command prompt-nya yang dingin.
Perasaan itu membuncah saat malam itu, di bawah langit yang dihiasi bintang-bintang (atau mungkin hanya lampu kota yang redup), di atas jembatan penyebrangan kampus, Arga memberanikan diri mengatakannya.
“Sari, aku… aku suka sama kamu.”
Diam sejenak. Suara angin malam mendesing. Sari tersenyum, tapi senyumannya berbeda. Ada sesuatu yang mengkhawatirkan di baliknya.
“Arga, kamu teman yang sangat baik,” katanya, lembut. “Aku senang banget bisa kenal kamu. Tapi…”
“Tapi?” tanya Arga, jantungnya berhenti berdetak.
“Tapi perasaanku padamu tidak seperti itu. Aku melihatmu sebagai sahabat, Arga. Sahabat yang sangat spesial.”
Dunia Arga runtuh dalam keheningan. “Oh,” itu satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan. Logikanya macet. *If (perasaan_Sari == “cinta”) { output: “Bahagia”; } else { output: “Error: Heart not found”; }*
Mereka tetap berteman. Atleast, itulah yang mereka coba lakukan. Arga berpura-pura baik-baik saja, menerima peran baru sebagai “sahabat spesial”. Ia tetap membantu Sari saat ada masalah dengan tugas, tetap mendengarkan ceritanya tentang puisi baru yang dibaca, bahkan tetap tersenyum ketika Sari bercerita tentang seorang mahasiswa seni rupa yang mulai sering menemaninya ke galeri.
Namun, di balik layer ketangguhannya, Arga menjalani rutinitas baru: menganalisis setiap percakapan mereka, mencari-cari tanda yang mungkin ia lewatkan, memutar ulang memori untuk menemukan di mana ia salah. Apakah karena ia terlalu pendiam? Apakah karena ia tidak cukup romantis? Apakah karena dunianya yang penuh kode dinilai terlalu membosankan?
Luka cinta pertama itu unik. Ia tidak seperti luka fisik yang bisa diobati dengan betadin dan plester. Ia seperti bug dalam program yang tersembunyi, muncul tiba-tiba saat malam hari, membuat sistem emosi menjadi *lag* dan *crash*. Ia ada dalam lagu-lagu yang tiba-tiba terdengar sendu, dalam makanan favorit yang kehilangan rasanya, dalam ruang kosong di perpustakaan yang dulu mereka isi bersama.
Hujan di luar masih belum berhenti. Air mata akhirnya menetes, bercampur dengan rasa malu dan kecewa. Arga menutup laptopnya. Ia memandangi pesan itu sekali lagi. Mungkin inilah yang disebut *unrequited love*, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebuah algoritma yang tidak pernah mencapai kondisi *true*, perulangan *while* yang tak pernah berakhir.
Tapi di tengah kepedihan itu, sesuatu mulai terang sedikit. Untuk pertama kalinya, Arga merasakan hidupnya begitu… hidup. Ia merasakan kegembiraan yang melambung tinggi, kecemasan yang menggerogoti, dan kini, kepedihan yang menghujam. Semua itu nyata. Lebih nyata daripada angka-angka di layar komputernya.
Cinta pertama mungkin gagal. Ia tidak berbalas. Tapi ia telah berhasil melakukan satu hal: membuka sebuah *port* baru di dalam diri Arga. Sebuah pintu menuju dunia perasaan yang selama ini ia kunci. Dunia yang rumit, berantakan, tidak logis, tetapi sangat manusiawi.
Esok harinya, Arga membuka laptopnya lagi. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Kali ini, ia tidak menulis kode program. Ia membuka dokumen kosong, dan mulai mengetik:
“*Untuk Cinta Pertama yang Pergi,*
*Kau ajari aku bahasa yang tak ada di buku,*
*Bahaya rasa yang tak bisa di-undo…*”
Mungkin ini bukan akhir. Mungkin ini hanya *compile* pertama dari banyak *compile* dalam kehidupan. Cinta pertama itu pergi, meninggalkan luka. Tapi ia juga meninggalkan pelajaran, keberanian, dan sebuah puisi pertama yang lahir dari hati yang baru saja belajar bagaimana caranya berdetak untuk seseorang.