"Mereka tidak boleh tahu."
"Tapi, bagaimana dengan kita?"
"Kita seharusnya tidak pernah terjadi, Lucas."
"Tidak. Kamu harus ikut bersamaku, Gina."
"Mereka akan membunuh kita dan mengambilnya! Aku harus tetap bersamanya, Lucas. Aku mohon mengertilah."
Pria yang memakai jubah perang itu pun terdiam. Cintanya pada Gina, seorang permaisuri raja yang ia layani tidak seharusnya ada.
Walaupun sang raja tidak memperlakukan Gina dengan baik, Lucas tetap tidak seharusnya jatuh cinta pada permaisurinya. Wanita paling terlarang baginya.
"Kamu harus pergi, Lucas. Demi Ivy. Suatu saat kamulah yang harus menyelamatkannya."
"Aku ingin berada dekat dengan kalian," Lucas tetap tidak ingin pergi dari kerajaan itu.
"Kamu tahu apa yang akan terjadi bila Ivy dekat denganmu."
"Tapi aku mencintaimu, Gina. Bagaimana bisa aku membiarkanmu terus hidup tersiksa di bawah kuasanya?" Lucas membelai sisi wajah Gina yang telah basah oleh air mata.
"Aku akan tetap bertahan, demi Ivy. Aku akan melindunginya."
Lucas menarik Gina ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seakan ini adalah saat terakhir Lucas bisa memeluknya.
"Aku mencintaimu, Gina."
Itu adalah terakhir kalinya Gina melihat Lucas. Setelah itu, Lucas membawa pergi bangsanya dari tanah kerajaan yang telah ia dan nenek moyangnya lindungi selama berabad-abad.
Athor
Seorang raja yang menikahi putri keturunan Tesarat yang membuat kerajaan itu hancur berantakan.
Athor tidak mengizinkan bangsa naga tinggal di antara mereka. Baginya, bangsa naga adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup bangsanya.
Bangsa naga telah mengambil sumpah untuk melindungi kerajaan Tesarat selama pemimpin mereka menginginkannya karena Raja mereka dulu telah menyelamatkan nyawa salah satu naga yang terluka di dalam hutan terlarang. Hutan tempat tinggal para naga.
Sejak Athor menolak mereka, maka akhirnya demi menjaga kedamaian bangsa naga meninggalkan kerajaan itu dan kembali ke dalam hutan.
Dua puluh tahun berlalu.
Penderitaan rakyat di kerajaan Tesarat belum berakhir.
Sejak kepergian bangsa naga, kerajaan itu kini dikuasai oleh musuhnya, kerajaan Begian yang memiliki raja yang bahkan jauh lebih kejam dari Athor.
Gina pun di jadikan tawanan dan di paksa untuk menjadi salah satu selir di kerajaannya sendiri.
"Ivy, ingat. Jangan keluar dari tembok kerajaan ini. Dan jangan pernah masuk ke dalam hutan terlarang itu."
Mata Ivy melihat ke arah kejauhan di mana pohon-pohon tinggi itu berkumpul, membentuk sebuah hutan misterius yang selalu ingin Ivy masuki.
Semakin ia dilarang, semakin besar keingintahuannya.
"Raja Rufius tiba!" Suara menggelegar dari balik pintu kamar Ivy membuat Gina dan Ivy berbalik.
Pintu kamar Ivy pun terbuka.
Tampaklah seorang pria yang berumur tetapi tetap terlihat gagah melangkah memasuki kamar tidur Ivy.
Ivy dan Gina membungkuk untuk memberi hormat.
"Rupanya selir tercintaku sedang berada di sini." Rufius memghampiri Gina dan langsung dengan kasar mencium bibir Gina tanpa peduli kalau Ivy dan para pengawalnya masih berada di sana.
"Malam ini, datanglah ke kamarku." Rufius berbisik di telinga Gina. "Kita akan bersenang-senang."
Rufius menjauhkan dirinya dari Gina dan berpaling melihat Ivy.
Rufius selalu terpesona dengan kecantikan yang Ivy miliki. Jelas kecantikan itu menurun dari ibunya, tetapi dengan usianya saat ini, Ivy terlihat begitu menggoda dan Rufius sangat ingin memilikinya.
"Bersiaplah! Di usiamu ke dua puluh, minggu depan, kamu akan menjadi permaisuriku." Rufius mengangkat dagu Ivy dengan jarinya. "Satu-satunya wanita yang pantas untuk duduk di kursi kerajaan bersamaku."
"Tidak! Aku mohon jangan!" Gina langsung mendorong Ivy menjauh dari Rufius. Kini ia lah yang berdiri di hadapan raja yang telah membuat hidupnya bagai di neraka dua puluh tahun ini.
"Kamu tahu apa yang kau lakukan ini bisa membuatmu berakhir di tiang gantung?" Ada percikan amarah terpancar di mata Rufius.
"Tetapi karena kamu akan menjadi mertuaku maka kali ini aku ampuni kesalahanmu. Sebagai gantinya, aku akan mendengar teriakanmu malam ini."
Rufius dengan kasar meraih kedua sisi wajah Gina. "Persiapkan anakmu untuk menjadi permaisuriku. Jangan pernah berpikir untuk lari, karena kalian akan merasakan apa yang di namakan memohon untuk kematianmu sendiri."
Setelah itu Rufius pergi dan Gina langsung tersungkur lemah di lantai.
"Kamu harus pergi, Ivy. Kamu harus lari. Kamu tidak boleh berakhir di tangannya.
"Ibu ... " Memeluk Gina sambil menangis. "Bagaimana mungkin aku pergi dari tempat ini? Aku tidak mungkin meninggalkan ibu."
"Ibu sudah tua, Ivy. Tujuan Ibu masih bernapas hanya ingin melihat kamu bahagia. Dan kamu tidak akan mendapatkannya di tempat ini."
"Tidak, Ivy tidak akan meninggalkan Ibu."
"Dengarkan Ibu!" Gina mencengkeram kedua bahu Ivy. "Kamu harus pergi! Kamu akan hidup tersiksa seumur hidup kalau kamu tetap berada di tempat ini."
"Tapi Ivy tidak tahu harus kemana. Hanya Ibu yang Ivy miliki."
Gina menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Kamu masih memiliki seseorang. Ayahmu ..."
"Ayah? Tetapi bukankah ayah telah mati terbunuh oleh Rufius?"
"Ibu pernah melakukan kesalahan besar yang hanya ayah dan Ibu ketahui. Kami menyimpan rahasia ini demi keselamatanmu."
"Ma-- maksud, Ibu?"
"Ibu pernah mengkhianati ayahmu .... Ibu jatuh cinta pada panglima perang kerajaan kita, dan lahirlah kamu ..."
"Ibu?" Memandang ibunya dengan tatapan tidak percaya.
"Ibu tahu kesalahan Ibu tidak termaafkan, tetapi ... kamu harus mencari ayahmu, Ivy. Dia tinggal di hutan itu."
"Hutan itu? Hutan terlarang maksud Ibu?"
Gina mengangguk.
"Mulai besok, kamu pasti sudah tidak mungkin keluar dari gerbang istana ini, karena itulah kamu harus pergi malam ini juga."
"Tapi, Bu ..."
Gina melepaskan kalung yang selama ini tidak pernah ia lepaskan dari lehernya. "Ini adalah milik ayahmu yang ia berikan pada Ibu." Gina mengalungkan kalung itu di leher Ivy. "Kalung ini akan melindungimu dari bahaya hutan terlarang itu."
"Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari istana ini?"
"Ikut Ibu."
Gina menggandeng tangan Ivy menuju ke kamar tidurnya. "Kaca ini adalah peninggalan ayahmu."
Ivy berdiri di sebuah kaca besar yang tampak seperti kaca biasa.
"Hanya yang memakai kalung itu yang bisa masuk ke dalamnya dan keluar tepat di depan hutan terlarang itu."
"Kenapa Ibu tidak pernah menggunakannya?"
"Karena hanya bisa satu orang yang melaluinya, dan setelah seseorang melaluinya, kaca ini akan kehilangan sihirnya dan kembali menjadi sebuah kaca biasa. Ibu tidak mungkin memakainya dan meninggalkanmu di sini."
"Tapi, Bu..."
Gina memeluk Ivy. "Pergilah! Ibu akan baik-baik saja di sini."
"Bu ..."
Belum sempat Ivy berkata, Gina sudah mendorong Ivy masuk ke dalam kaca dan menghilang di hadapannya.
Gina tahu mungkin setelah ini ia akan kehilangan nyawanya.
Dalam kegelapan malam, Ivy kini berdiri di depan sebuah hutan yang selama ini tidak pernah ia masuki. Ia menoleh ke belakang dan pintu itu telah menghilang. Istana tempat selama ini ia tinggal terlihat begitu jauh saat ini.
Ivy menggenggam liontin yang tergantung di lehernya.
Dengan ragu Ivy melangkah memasuki hutan terlarang yang begitu gelap dan membuatnya ketakutan.
Suara-suara binatang malam yang bersahutan dan ranting-ranting patah yang terinjak begitu jelas menyapa pendengarannya.
Tiba-tiba saja Ivy merasa ada sosok besar yang bergerak begitu cepat melintas mengelilinginya. Ivy tidak dapat melihat dengan jelas. Ia menoleh ke segala arah untuk mencari sosok itu.
"Ibu ... aku takut ...." Ivy semakin erat menggenggam liontin pemberian ibunya.
Sosok itu kembali menampakkan dirinya dengan gerakan yang sangat cepat. Kali ini Ivy menangkap sorot mata kemerahan mengarah kepadanya dari sebuah bayangan besar seperti monster melintas di hadapannya.
"Tolong jangan bunuh saya ..." Ivy mencoba berbicara dengan suara yang tertahan.
Tiba-tiba saja tubuh Ivy terlilit oleh sesuatu dan melayang lalu berakhir terduduk di atas sesuatu. Ivy langsung memegang dan memeluk sesuatu yang sedang ia duduki ketika Ivy menyadari kalau dirinya kini mulai terbang di bawa oleh makhluk besar berwarna kecoklatan itu dengan sisik yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Ivy tidak sempat berpikir apa yang membawanya, Ivy hanya merasa ketakutan karena ini adalah pertama kalinya kakinya tidak berpijak.
Dari kejauhan Ivy bisa melihat daerah yang begitu terang dan indah di tengah hutan gelap yang berada di bawahnya, jauh dari tempatnya pertama kali berada.
Perlahan ia merasa makhluk itu melambat dan menukik turun sampai akhirnya makhluk itu berpijak dan merebahkan dirinya, seakan memberitahu kalau Ivy bisa turun dari pundaknya saat ini.
Setelah Ivy akhirnya turun dan menetralkan napasnya, Ivy tersungkur dan bergerak mundur ketika menyadari makhluk yang ada di hadapannya adalah seekor naga. Makhluk yang selama ini diceritakan begitu kejam dan harus dibunuh.
Belum sempat Ivy berbicara, naga itu sudah berubah menjadi sosok seorang pria dengan mata hijau jernih seperti miliknya.
"Dari mana kamu dapatkan liontin ini?" Pria itu dengan cepat menghampirinya dan mengenggam liontin yang ia pakai.
"Da-- dari ibuku," jawab Ivy dengan rasa takut.
"Ibumu?" Pria itu menatap mata Ivy. "Gina? Apakah dia ibumu?" tanya pria itu kembali.
"Ba-- bagaimana Tuan tahu?"
"Kerena akulah yang memberikan liontin ini padanya. Liontin yang bisa ia gunakan untuk menemuiku, tetapi tidak pernah ia gunakan."
Terlihat tatapan sedih dan terluka dari sorot matanya. Bahkan Ivy pun bisa ikut merasakan kepedihannya.
"Aku selalu menunggunya di depan hutan ini selama dua puluh tahun, sampai hari ini. Aku berharap ia akan datang dan memintaku untuk membawa dirinya dan putri kami pergi, tapi ..."
"Ayah? Aku Ivy, Ayah. Ibu memintaku untuk mencarimu."
"Ivy? Benarkah kamu Ivy?" Lucas segera memeluk Ivy erat. Lucas tidak pernah berani berharap setelah bertahun-tahun ini kalau dia akan pernah bisa melihat putrinya.
"Ayah, kita harus kembali ke istana. Mereka akan membunuh ibu kalau tahu aku menghilang." Ivy melepaskan pelukannya. "Ayah harus mengusir mereka keluar dari istana karena mereka hanya membawa penderitaan."
"Ayah terikat sumpah untuk tidak bisa kembali kecuali pemilik tanah itu yang meminta Ayah."
"Apakah ayah lupa? Ibuku adalah keturunan dari pemilik tanah kerajaan Tesarat, dan aku putrinya. Itu artinya, aku berhak meminta kalian untuk kembali."
"Kamu benar!"
Lucas segera menyiapkan pasukannya untuk menyerang dan menyelamatkan kerajaan itu. Dengan mudah Lucas dapat menguasai istana yang telah jauh berbeda dari sebelum ia tinggalkan dulu.
Perjuangan Lucas belum berakhir. Rufius ternyata cukup pintar dengan menjadikan Gina sebagai tamenganya untuk menyelamatkan diri.
"Lucas. Akhirnya kita bertemu. Aku selalu ingin tahu bagaimana rupamu sebenarnya."
"Lepaskan dia, Rufius!" teriak Lucas yang menahan amarahnya melihat keadaan Gina yang terkulai lemah di pelukan Rufius dengan beberapa luka yang tampak di tubuhnya.
"Aku akan lepaskan dia, setelah aku membunuhmu. Kamu tidak akan bisa merebut kekuasaanku, Lucas. Dan aku yakin, kamu tidak akan mengorbankan wanita yang kamu cintai dan anak kalian."
Kata-kata Rufius langsung menarik perhatian Lucas.
"Bagimana aku tahu? Pasti itu yang ada di kepalamu." Rufius tertawa. "Aku bisa berada di posisiku saat ini salah satunya karena aku memiliki banyak telinga. Rahasia kalian sudah aku ketahui bahkan sebelum aku membunuh Athor.
Rufius melemparkan sebuah pedang berwarna keemasan ke depan kaki Lucas. "Pilihanmu adalah pedang itu tertancap di dadamu atau kamu akan hidup sebagai pembunuh ibu dari anakmu."
Lucas menatap pedang yang selama ini tersimpan di bawah istana ini. Pedang yang mampu membunuh naga hanya dengan sekali tebas. Pedang yang di simpan sejak bangsa Tesarat dan bangsa naga bersatu.
"Gina tidak memiliki banyak waktu, Lucas. Racun itu sudah mulai bekerja dan dalam hitungan menit, nyawanya akan menjadi tanggung jawabmu."
Rufius meletakkan Gina yang sudah terlihat begitu lemah di lantai. Rufius kembali duduk di singasananga menunggu sebuah pertunjukkan yang telah lama ia impikan. Membunuh Lucas, pemimpin bangsa naga yang melegenda.
"Waktu terus berjalan, Lucas." Rufius mengingatkan kembali.
Lucas perlahan mengambil pedang itu.
"Tidak, Ayah!" Ivy menahan pedang yang sudah siap Lucas tancapkan di dadanya. "Aku mohon, jangan."
"Ayah tidak bisa membiarkan ibumu pergi, Ivy. Kalian telah berhasil hidup tanpa Ayah, kalian hanya perlu melanjutkannya."
"Kami tidak baik-baik saja hidup tanpa Ayah. Selama ini ibu sangat menderita. Minggu depan dia ingin menikahiku, itulah mengapa ibu memaksaku untuk pergi. Apakah Ayah tega pergi dan meninggalkan kami seperti ini?"
Lucas didera kegelisahan. Baginya, mati demi orang yang di cintainya bukanlah hal yang menakutkan, tetapi meninggalkan orang yang dicintainya dalam penderitaanlah yang merupakan sebuah ketakutan yang besar.
Tiba-tiba saja seorang bangsa naga datang dan langsung menusuk Rufius tepat di dadanya.
"Tidak!" teriak Lucas berlari ke arah Rufius.
"Katakan padaku, di mana penawarnya. Katakan padaku!!" Lucas mengguncangkan tubuh Rufius dan Rufius hanya tertawa.
"Pada akhirnya, dia akan menemaniku ke alam baka, dan aku pastikan dia akan menderita di sana." Dan kemudian Rufius tidak bergerak lagi.
"Apa yang kamu lakukan!!!" Lucan berteriak begitu kencang pada panglima yang telah membunuh Rufius.
"Ma-- maaf. Saya kira dia ..."
Lucas langsung berlari menghampiri tubuh Gina yang sudah terkulai tidak bergerak.
"Gina ... Ini aku, Lucas. Aku mohon bangunlah. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi." Lucas menepuk perlahan pipi Gina yang masih terasa hangat. "Gina aku mohon ..."
"Lucas! Mungkin ini penawarnya!"
Panglima yang tadi membunuh Rufius menemukan ada yang aneh tergantung di balik jubah yang dikenakannya.
Lucas menerima botol kecil itu. Ia melihat ke arah Ivy. Mereka sama-sama tidak tahu apakah benar di dalam botol kecil itu adalah penawarnya, tetapi Ivy akhirnya meyakinkan Lucas untuk memberikannya pada ibunya karena pada akhirnya mereka tidak memiliki pilihan apa-apa di waktu yang kritis ini.
Dua hari berlalu sejak Rufius tersingkir sebagai raja dan kerajaan itu mulai membenahi semua kehancuran yang terjadi demi awal yang lebih baik.
Para rakyat yang mengetahui kalau Gina adalah putri kerajaan mereka terdahulu pun meminta Ivy untuk memimpin mereka dan membawa tanah mereka berjaya seperti waktu berada di tangan kakeknya dan raja-raja sebelumnya.
"Ayah, apakah ibu belum bangun?"
Ivy masuk ke dalam kamar ibunya dan mendapati ayahnya masih setia menggenggam tangan ibunya yang belum juga membuka matanya sejak kejadian itu.
Lucas menggelengkan kepalanya. Menatap lembut ke arah Gina.
"Apa ibumu marah, ya pada Ayah sehingga dia tidak mau membuka matanya?"
"Mana mungkin! Pasti ibu sedang berusaha untuk sadar karena dia pasti sangat rindu pada Ayah."
Tiba-tiba saja Lucas merasa ada yang berbeda. Genggaman tangannya seakan mendapatkan respons.
"Gina?" panggil Lucas sambil mendekat ke arah wajah Gina. "Apakah kamu bisa mendengarkan aku?"
Perlahan mata Gina terbuka. Samar-samar ia bisa melihat sosok yang sudah begitu lama ia rindukan.
"Lu-- Lucas?" ucapnya perlahan, tetapi itu adalah kata terindah yang pernah Lucas dengar sepanjang hidupnya.
Lucas langsung memeluk Gina dengan erat. Lebih erat dari terakhir kali mereka akan berpisah.
"Lucas, kamu bisa membunuhku kalau memelukku seperti ini."
"Ma-- maaf." Lucas mengendurkan pelukannya dan membantu Gina untuk duduk.
"Apa yang terjadi?" tanya Gina yang hanya ingat saat terakhir Rufius memaksanya untuk meminum sesuatu dan ia merasakan sakit yang luar biasa pada seluruh tubuhnya.
Lucas dan Ivy pun bergantian menceritakan apa yang terjadi.
"Jadi begitulah ceritanya, Bu."
"Aku sangat beruntung akhirnya bisa bertemu dengan kalian lagi."
"Dan aku sangat beruntung karena ternyata ayahku sangat tampan dan membuatku bisa melakukan ini!"
Tiba-tiba saja Ivy bisa mengeluarkan sayap berwarna coklat kemerahan dari balik punggungnya.
"Aku rasa aku mendapatkannya dari Ayah! Lihat, keren, kan?" Dengan bangga Ivy menunjukkan kedua sayap nya kepada Lucas dan Gina dan mereka pun tertawa bersama.
Pada akhirnya semua penderitaan yang mereka alami terbayar sudah dengan kebahagiaan yang datang menyapa mereka.
Ivy berhasil membawa kerajaannya kembali bangkit dan membawa bangsa naga menjadi pelindung mereka kembali, sedangkan Lucas dan Gina kini menghabiskan waktu mereka bersama, menikmati kebahagiaan yang telah tertunda selama bertahun-tahun.
- The End -
Mampir juga di chat story ku yang berjudul UNCLE REI ya kak. terima kasih 🙏🙏🙏
🌟🌟🌟🌟🌟
Jangan lupa komen, like, dan vote ya kalau suka dengan karyaku.
Terima kasih sudah setia membaca ceritaku.🙏🙏
🌟🌟🌟🌟🌟