Part-2
Hari ini, aku dinyatakan membaik oleh para Dokter yang merawat ku.
Aku pun diperbolehkan pulang hari itu juga. Sesampainya di rumah.
"Kamu yakin, mau ikutin aku terus?" tanyaku pada cowok tampan yang adalah hantu itu.
"Aku--" ucapnya ragu.
"Pergi aja lah, aku risih diikutin demit kek kamu" usir ku sambil berbaring hendak tidur malam.
Hantu cowok itu tak membalas ucapan ku. Dia kemudian menghilang saat aku pura-pura merem.
Pas tengah malam, aku terbangun karena haus. Aku menuju dapur dan mengambil minum, tiba-tiba batang leherku seperti ditiup angin, dingin sekali rasanya.
Karena kupikir itu hantu tampan yang belum ku ketahui namanya tadi, aku pun berbalik cepat dan hendak memakinya.
Tapi alangkah sialnya aku, rupanya sosok hitam besar seperti kingkong dengan bulu merona yang panjang memenuhi tubuhnya, sedang menatapku tajam dengan mata merah menyala. Gigi taringnya yang besar bahkan mengeluarkan liur yang sangat menjijikan. Bau busuk menerpa hidungku.
Aku yang kaget lalu jatuh tersungkur, gelas ditangan ku pecah. Kakiku lemas tak ada daya. Aku sangat ketakutan. Perasaan aku berteriak. Tapi entah mengapa orang rumah tak ada yang mendengarnya.
Aku menarik diri dengan kedua tanganku terseok-seok, menjauhi sosok hitam besar dan mengerikan itu.
Tak ada yang mendengar ku, tak ada yang menolongku. Sosok mengerikan itu semakin mendekati ku. Aku memejamkan mata, dan entah mengapa bayangan hantu tampan yang ku usir tadi, justru terlihat di ujung sana.
"Sudah pergi, buka mata gih," suara yang cukup ku kenali terdengar lembut menerpa gendang telingaku.
Aku membuka mata, dan benar saja. Hantu tampan sudah berjongkok di hadapan ku.
Sangking leganya, aku langsung memeluknya erat.
"Jangan pergi, jangan pergi lagi," rengek ku, masih memeluknya.
"Iya, kalo itu yang kamu mau."
Bersambung....