Di dalam hutan Nusantara hiduplah dua ekor anak kelinci yang lucu-lucu. Si Mata Lebar dan Si Telinga Panjang.
Kedua kelinci itu selalu bermain bersama. Si Mata Lebar adalah seekor anak kelinci yang ceria. Ia berbadan gemuk karena ia senang sekali makan. Sedangkan Si Telinga Panjang adalah seekor anak kelinci yang rajin. Ia selalu senang membantu ibunya.
Kedua kelinci itu tinggal bersama ibunya. Sang Ibu sangat menyayangi kedua anaknya tersebut.
Suatu hari Sang Ibu ingin pergi mencari wortel. Ia pergi pagi-pagi sekali. Setelah menyelesaikan tugas rumahnya, Sang Ibu segera pergi. Namun sebelumnya ia berpesan kepada kedua anaknya.
“Anak-anakku, Ibu akan pergi mencari makan. Kalian berdua jaga rumah baik-baik, ya! Kalau bermain jangan jauh-jauh agar kalian tidak tersesat."
“Baiklah, Bu. Aku berjanji tidak akan jauh dari rumah," sahut Si Telinga Panjang.
“Ibu, nanti aku bawain wortel yang banyak, ya! Aku sudah lapar nih…” sambung Si Mata Lebar.
“Ya, nanti ya, sayang. Do'akan Ibu dapat wortel yang banyak. Dasar, Kamu mata lebar, pengennya makan terus. Ya sudah nanti keburu siang, baik-baik di rumah, ya...!”
“Ya, Bu…hati-hati di jalan, “jawab kedua anak kelinci itu bersamaan.
“Assalaamu ‘alaikum…” Sang Ibu pun bergegas pergi.
“Wa ’alaikum salaam…,” jawab kedua anak kelinci itu.
***
“Eh, mata lebar, enaknya kita main apa ya…sambil menunggu Ibu pulang?” tanya Si Telinga Panjang.
“Iya..ya..,enaknya main apa?" timpal Si Mata Lebar.
“Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan aja,” kata Si Telinga Panjang.
“Ah…nggak seru…! Aku nggak suka!” jawab Si Mata Lebar.
“Kalau menirukan suara, bagaimana?” sambung Si Telinga Panjang.
“Ah…itu sih juga membosankan. Yang lain dong!” jawab Si Mata Lebar.
"Aha …aku punya usul. Gimana kalau kita main bola, terus main panjatan. Pasti seru!” kata Si Mata Lebar.
“Wah…oke juga tuh...! kita pakai bola yang kemarin dibelikan Kakek, ya?!” jawab Si Telinga Panjang.
“Hore…! Asyik...asyik…! Aku yang ambil bolanya, ya?!” kata Si Mata Lebar dengan semangat segera lari mengambil bola. Bola itu hadiah dari Kakek.
***
“Aku yang nendang duluan, ya…?” kata Si Telinga Panjang.
“Oke…aku yang jadi penjaga gawangnya,” sahut Si Mata Lebar.
Kedua kelinci itu lalu asyik bermain sepak bola.
***
Krucuk..krucuk...!
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Si Mata Lebar.
“Aduh perutku sudah bunyi nih, Ibu mana, ya? Kok belum pulang juga. Aku sudah lapar," kata Si Mata Lebar.
“Sabar….sebentar lagi Ibu pasti pulang," kata Si Telinga Panjang.
Tak lama kemudian terlihatlah Sang Ibu dari kejauhan.
“Mata Lebar! Lihat itu Ibu sudah datang," teriak Si Telinga Panjang.
“Ayo kita bantu bawa barang bawaaan, Ibu!”
Kemudian berlarilah kedua kelinci kecil itu menghampiri Sang Ibu yang terlihat keberatan membawa barang belanjaan.
“Sini Bu, aku bantuin," kata Si Telinga Panjang. “Ibu pasti capek, kan?”
“Terima kasih anakku. Kamu memang anak Ibu yang baik,“ ujar Sang Ibu.
Sesampainya di rumah.
“Karena Kalian telah membantu Ibu. Ini Ibu kasih wortel buat Kalian berdua,” ucap Sang Ibu.
Kemudian Sang Ibu memberikan sebuah wortel berukuran besar kepada Si Telinga Panjang.
“Hore…!!! Terima kasih, Bu. Wah…wah..wortel yang sangat segar. Pasti lezar rasanya," ucap Si Telinga Panjang.
“Asyik…asyik…aku sudah lapar, nih. Sini Telinga Panjang! Aku yang bawa saja," pinta Si Mata Lebar.
Direbutnya wortel yang ada ditangan Si Telinga Panjang. Kemudian Si Mata Lebar berlari di atas rerumputan. Sebenarnya wortel itu cukup untuk berdua, tapi Si Mata Lebar ingin memakan wortel tersebut sendirian. Si Telinga Panjang kemudian mengejar Si Mata Lebar yang telah merebut wortel itu.
“Sini wortelnya. Itu kan punya aku!" Si Telinga Panjang terus memburu Si Mata Lebar dan berusaha merebut wortel itu.
Akhirnya Si telinga Panjang berhasil merebut wortel itu. Lalu, terjadi kejar-kejaran antara kedua kelinci kecil itu.
Mereka saling memperebutkan wortel tersebut sampai akhirnya sampailah mereka di tepi sebuah sungai yang sangat deras arusnya. Si Mata Lebar melompat ke atas sebuah pohon yang tumbang diikuti oleh Si Telinga Panjang yang ingin merebut wortel dari tangan Si Mata Lebar.
Demikianlah wortel itu silih berganti berpindah tangan. Namun akhirnya wortel tersebut terlepas dan jatuh ke sungai.
Siuttt…byuurrr…
“Aduh, wortelku jatuh," kata Si Telinga Panjang.
"Tuh..kan, Kamu sih coba tadi aku yang bawa pasti wortel itu tidak akan jatuh. Yah…nggak jadi makan wortel deh…!” ucap Si Mata Lebar.
“Maafkan aku, Mata Lebar. Aku tidak sengaja. Kamu juga sih ingin makan wortel itu sendirian. Aku kan juga ingin makan!" kata Si Telinga Panjang.
“Ya sudah…kita pulang saja. Hari sudah mulai sore!"
Maka pulanglah kedua kelinci kecil itu ke rumah dengan tangan hampa.
Sesampainya di rumah, keduanya mengucapkan salam.
Setelah menjawab salam kedua buah hatinya, Sang Ibu bertanya, “Kalian itu dari mana saja, sih? Gimana wortelnya lezat tidak?”
“Lezat apaan, Bu. Kami tidak jadi makan. Wortelnya jatuh ke sungai," gerutu Si Telinga Panjang.
Sambil tersenyum Sang Ibu berkata kepada kedua anaknya, “Itulah akibatnya kalau Kalian saling berebut. Coba kalau tadi wortelnya dibagi dua. Ya sudah, ini Ibu kasih wortel lagi. Setelah makan, Kalian istirahat, ya…” kata Sang Ibu menyejukkan hati anaknya.
“Asyik...asyik…aku dapat wortel lagi,” ucap keduanya hampir bersamaan.
Dengan lahapnya kedua kelinci kecil itu makan wortel yang diberi oleh Sang Ibu. Setelah selesai makan, lalu Sang Ibu bercerita kepada kedua anaknya tersebut dengan belaian lembut. Tak lama kemudian tertidurlah kedua kelinci kecil itu.