Dr. Mario tengah memandangi topi bertuliskan nama Irene. Meski sudah belasan tahun berlalu, masih teringat olehnya anak perempuan berseragam putih merah yang diganggu oleh segerombolan anak laki-laki karena berbadan terlalu kurus. Mereka merebut paksa topi anak perempuan itu dan membuangnya ke semak-semak. Ketika itu Mario ingin sekali membela anak perempuan itu tapi dia takut ikut dijahili. Akhirnya Mario memutuskan menyimpan topi itu dan berniat memgembalikannya lain waktu. Tapi ternyata Mario tidak pernah lagi bertemu Irene.
Sampai akhirnya seminggu lalu pemilik topi itu muncul di hadapannya untuk berkonsultasi tentang tubuhnya yang sulit gemuk. Dia sengaja meminta Irene untuk menemuinya lagi dengan membawa hasil cek lab agar mereka bisa bertemu lagi.
Tok tok tok
Seorang perawat masuk ke ruang praktek Dr. Mario membawa seorang pasien wanita berwajah manis bertubuh tinggi kurus.
"Permisi Dok, ini pasien berikutnya,"
"Silahkan duduk," Mario dengan antusias mempersilahkan pasiennya duduk.
"Siang Dok, saya Irene yang minggu lalu kesini dan dokter sarankan untuk cek lab,"
"Ya, saya ingat. Jadi gimana?"
"Ini hasilnya Dok," Irene menyerahkan selembar kertas kepada Dr. Mario.
"Wah, gawat. Kadar gula sama kolesterol kamu tinggi banget lho ini," Mario menjelaskan isi kertas yang dibaca dengan gaya khasnya yang santai dan friendly, tidak seperti dokter pada umumnya.
Irene terdiam. Menjadi youtuber dengan konten wisata kuliner sudah menjadi side job nya selama setahun ini disamping main job nya sebagai tim IT di perusahaan jasa travelling. Selain untuk menambah berat badannya, dia juga bisa menambah pundi-pundi uangnya. Tapi alih-alih menambah berat badan, hal itu justru menumpuk bermacam penyakit di tubuhnya. Sekarang dia mulai berpikir, apakah harus berhenti atau terus.
"Jadi gimana dok?"
"Saya buatin resep ya,"
"Maaf dok kalo bisa jangan pake obat, saya ngga suka minum obat," ucap Irene.
"Lalu??" tanya Mario penasaran.
"Apapun, asal bukan obat," pinta Irene
"Ok!" ucap Mario sambil tersenyum senang.
====
Dua bulan kemudian
Irene mengayuh sepeda diikuti Mario di belakangnya. Sudah dua bulan ini Irene mengikuti saran Mario untuk rutin berolahraga dengan Mario sendiri yang menjadi mentornya. Olahraga secara teratur dan makan makanan bergizi seimbang meningkatkan massa otot yang bisa membuat tubuh Irene terlihat lebih berisi dan tentunya sehat.
Dan memang benar kenyataannya, dalam 2 bulan berat badan Irene sudah bertambah 5kg tanpa penambahan lemak. Tubuhnya terlihat ideal dan atletis, wajahnya pun terlihat jauh lebih segar.
Seiring dengan rutinitas yang mereka jalani berdua, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Bukan lagi antara dokter dan pasien, tapi teman dekat. Terlebih saat Irene karena usia mereka hanya selisih 1 tahun.
Irene dan Mario beristirahat sejenak setelah hampir 1 jam bersepeda.
"Capek ya?" tanya Mario.
"Iya lah, pake nanya,"
"Gitu doank capek,"
"Ya iyalah capek, lo ngajakin sepedahan track nya jauh banget. Kalo gue sampe pingsan, lo harus tanggung jawab," ucap Irene kesal.
"Katanya mau sehat," celetuk Mario
"Iya sehat, tapi ngga gini juga," Mario tersenyum melihat Irene bersungut.
"Mau olahraga apa minum obat?" ancam Mario membuat Irene tidak berkutik.
"Lagian, lo kenapa sih ngotot banget pengen gemuk?" Tanya Mario penasaran.
Dengan berat hati akhirnya Irene menceritakan kisah putus hubungannya dengan Fairrel.
"Astaga... Cuma gara-gara itu?" tanya Mario.
"Cuma gara-gara itu lo bilang?? Dia mutusin gue di depan orang banyak sambil bawa pacar baru yang sexy dan lebih cantik dari gue. Gue malu Yo, gue pengen nunjukin sama dia kalo gue juga bisa seksi," Irene terlihat kesal mengingat kejadian yang memalukan itu.
Mario hanya terdiam mendengar penjelasan Irene. Dia merasa seperti dejavu. Kejadian belasan tahun lalu seperti terulang kembali di hadapannya.
Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba sebuah mobil berhenti, seorang laki-laki keluar menghampiri Irene.
"Irene, ini kamu?" Fairrel dengan terkagum-kagum mendekati Irene.
Dengan stelan olahraga berbahan jersey ketat yang menempel di tubuhnya, lekuk tubuh atlestis Irene memang semakin terlihat dan menarik perhatian. Tidak terkecuali Fairrel yang selama ini selalu menjajakan pandangan ke setiap wanita berwajah cantik dan bertubuh sexy.
"Iya, kenapa?!" jawab Irene ketus.
Entah kenapa sejak dekat dengan Mario, Irene bisa sedikit demi sedikit melupakan Fairrel yang sudah melukai hatinya. Tidak ada lagi rasa kesal atau ingin balas dendam, dia justru hampir melupakan Fairrel kalau saja Mario tidak menanyakan perihal tujuannya untuk menaikkan berat badan.
"Aku minta maaf soal waktu itu, aku ngga serius kok. Kita balikan ya, aku masih sayang sama kamu," Fairrel meraih tangan Irene, menggenggamnya sebagai permintaan maaf.
PLAK!!
Sebuah tamparan dari tangan Irene mendarat di pipi mulus Fairrel.
"Makan tuh sexy!" Irene dengan kesal meninggalkan Fairrel dengan sepedanya.
Mario segera mengejar Irene sampai akhirnya Irene berhenti di depan penjual lontong sayur dan memesan dua porsi untuknya. Seperti biasa, nafsu makannya akan menggila ketika dia sedang kesal.
"Makasih, tau aja gue laper," Mario menyambar sepiring lontong sayur yang terhidang di hadapan Irene.
"Siapa bilang itu buat lo?!" Irene mendelik.
"Eits, inget pesen dokter ya Irene.." goda Mario dengan wajah jahilnya.
"Iya dok.." jawab Irene pasrah.
Melihat wajah Irene yang masam, Mario mengeluarkan topi dari waistbag kecilnya.
"Nih punya lo," Mario menyerahkan topi itu kepada Irene.
"Loh ini kan topi kado ultah ke-11 gue dari bokap, kok ada di lo?" Wajah Irene seketika sumringah, karena mendapatkan benda berharga itu lagi.
"Gue temuin di semak-semak, mau gue balikin tapi baru ketemu lo sekarang,"
"Thanks ya Yo,"
"Terus, lo ngga jadi balikan sama Fairrel?" tanya Mario penasaran
"Siapa yang mau balikan?"
"Kan katanya lo mau bales dendam,"
"Bales dendam bukan berarti balikan,"
"Bagus deh. Lagian dari pada pacaran sama orang kayak gitu mending pacaran sama gue," celetuk Mario membuat Irene tersedak.
"Lo ngomong apa barusan?"
"Pacaran sama gue. Mau ngga?" Mario memperjelas tawarannya.
"Ini lo nembak gue? Ngga romantis amat sih nembak di tempat ginian,"
"Emang gue ngga romantis. Jadi gimana? Mau ngga?" Mario menghentikan makannya, menunggu jawaban dari Irene.
"Enggak," jawab Irene singkat
"Hah? Seriusan?" Mario heran Irene bisa secuek itu dengan tawarannya.
"Iya. Kata bokap, gue ngga boleh pacaran lagi. Umur gue sekarang ini pantesnya nikah," jelas Irene
"Jadi gitu? Ok!" Mario meraih pergelangan tangan Irene dan mengajaknya beranjak.
"Mau kemana?" tanya Irene panik.
"Ke KUA lah, masa mau nikah di sini. Ayo cepet!" Mario menggiring Irene ke sepedanya lantas menaiki sepedanya sendiri.
Irene tertawa terpingkal-pingkal dengan sikap Mario.
"Pake sepeda?" tanya Irene setelah tawanya mereda.
"Iya, biar sehat," jawab Mario singkat.
Sebelum mulai mengayuh sepedanya, Mario menatap Irene serius.
"I love you, Cungkring," ucap Mario serius tanpa melepas pandangan dari mata Irene.
"Love you too Dok," balas Irene dengan senyum manis di wajahnya.