Dihari ulang tahun adikku yang yang ke 18, dia belum pulang sejak dia meminta izin untuk berburu dan hari pun sudah mulai gelap. Karena khawatir, aku berencana mencarinya ke dalam hutan.
"Drake!!" ucapku sedikit berteriak memanggil nama adikku
Tak ada jawaban, dan hanya terdengar suara jangkrik
"Drake~"
Masih tak ada jawaban, lalu
Ssrrrrkkkk...
Terdengar suara dibalik semak-semak di sampingku, aku perlahan maju untuk melihat apa yang ada dibalik semak-semak sana dan menyibaknya.
"Hah... dasar anak ini" ucap ku setelah mendapati Drake yang sedang tertidur sambil memeluk seekor kelinci
"Drake, bangun" ucapku seraya menggoyangkan badannya
"Hmm?"
"Bangun, kenapa kamu tidur dihutan?"
"Hmm" ucapnya yang masih tertidur
"Ayo pulang, Kakak sudah memasak makanan kesukaan mu"
"Waah" ucapnya dengan semangat lalu duduk dan membuat kelinci itu terbangun lalu berlari karena kaget mendengar teriakan Drake
"Oke, ayo pulang" lalu dia berdiri dan berjalan meninggalkanku
"Kearah sini, Drake"
Dia lalu berbalik arah dan kamipun berjalan menuju rumah sederhana kami yang ada di pinggir hutan.
"Hmm, wangi" ucapnya yang sudah masuk dan duduk dikursi meja makan.
"Makanlah, kamu pasti lapar seharian gapulang"
"Hehe" dia lalu memakan makanannya habis.
"Jadi, kamu dapet apa di buruanmu kali ini?" tanyaku
"Gadapet apa-apa" jawabnya santai
"Ehh? terus kamu ngapain seharian gapulang?" tanyaku heran
"Tidur, hahaha" dia tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Aku hanya menggeleng lalu mengambil sesuatu di peti dan memberikannya ke Adikku
"Drake, ini hadiah ulangtahun mu, heheh" aku tersenyum memberikan hadiah itu
"Waah, busur baru?" ucapnya riang
"Iya, soalnya Kakak lihat busurmu sudah lumayan usang"
"Makasih ya Kak, pasti mahal"
"Gaterlalu, asal kamu senang apapun akan Kakak belikan" aku tersenyum sambil menatapnya.
"Hmmmp" dia terlihat mual dan akan memuntahkan sesuatu
"Ehh? kamu kenapa?" aku menghampirinya dan mengelus punggungnya.
Dia lalu berlari keluar dan mendekatr ke arah sumur dan memuntahkannya disana.
Aku mendekatinya sambil mengelus punggungnya.
"Drake? kamu sakit?" tanyaku khawatir melihatnya muntah
Dia hanya menggeleng.
"Aah, kepalaku pusing" dia lalu memegang kepalanya dengan tangannya.
"Istirahat saja, akan Kakak carikan obat" aku lalu membopong adikku kedalam rumah dan menidurkannya di tempat tidurnya.
"Jangan kemana-mana ya, mengerti?" aku lalu mengambil jubahku dan berlari melewati hutan menuju ke desa sebelah.
"Permisi, Kakek" aku mengetuk pintu di sebuah rumah sambil sesekali mengintinya dari jendela.
"Maaf, mencari siapa?" ucap seorang laki-laki yang baru tiba.
"Apa Kakek Kuo ada?" tanyaku ke pemuda itu
"Kakek ada didalam, mari masuk" jawabnya sambil membukakan pintu.
Aku laku masuk mengikutinya
"Silahkan duduk dulu, akan saya panggilkan Kakek" ucapnya
"Iya, terima kasih" aku lalu duduk di kursi anyam disana.
Beberapa lama aku menunggu, pemuda itu datang sambil membopong Kakek lalu mendudukkan nya tepat di depanku.
"Oh, Nak Rane"
"Kakek sedang sakit ya? seharusnya saya saja yang menghampiri Kakek ke tempat tidur"
"Tidak apa, hanya sakit punggung saja, biasa sudah tua, hohoho" ucapnya sambil tertawa, dan aku hanya membalasnya dengan sunyuman.
"Ada apa kau sampai mendatangi Kakek kemari?"
"Mmm, itu Kek, saya mau membeli obat, Drake sakit, kepalanya pusing dan badannya lemas" ucapku menjelaskan
"Ahh, obat kepala" ucapnya pelan.
"Wira, ambilkan obat ramuan sakit kepala, Nak" ucapnya dan pemuda itupun masuk kesalah satu ruangan
"Dia cucu Kakek ya?"
"Benar, dia ditinggal mati orang tuanya 2 tahun lalu" ucapnya dengan muka yang berubah menjadi sedih
"Ahh begitu ya, maaf jika membuat Kakek sedih" ucapku merasa bersalah.
"Tidak apa" balasnya tersenyum
Lalu laki-lqki itu keluar membawa kendi berukuran sedang dan memberikannya kepada ku.
"Terima kasih, saya hanya punya segini" ucapku memberikan 3 keping koin berwarna perak ke Kakek
"Tak apa, ambil saja, kau tak perlu bayar" ucapnya sambil tersenyum.
"Jangan, pasti Kakek lama menbuat ramuan ini, terima saja" lalu memberikannya ke tangan Kakek.
"Kau memang anak yang sopan"
"Jika begitu, saya harus segera pulang, pamit ya Kek" ucapku sambil berdiri dan mencium tangan Kakek.
"Wira antarkan dia pulang" ucapnya ke cucunya
"Tak usah Kek, saya berani ko sendiri" ucapku menolak
"Hutan gelap, berbahaya" ucapnya perhatian
"Baiklah, terima kasih Kek" ucapku sambil membungkuk lalu keluar dengan pria itu.
Kami berjalan dan memasuki hutan
"Nama saya Wira Yodha, nama anda siapa?" ucapnya membuka obrolan.
"Rane" balasku
"Hanya Rane?"
"Iya, hehe, namaku pendek" balasku
"Ohh, begitu ya" ucapnya
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Kamu tinggal bersama siapa?" sambungnya.
"Adik laki-laki ku" jawabku
"Hanya berdua?" tanyanya
"Benar"
Suasana kembali canggung, lalu ditengah itu, kami merasakan ada gempa yang sedikit besar lalu cahaya yang datang dari langit dan suara yang memekikkan telinga.
"Suara itu" ucapnya panik
"Suara apa?" tanyaku bingung dengan nada yang panik
"Suara Naga" ucapnya.
Aku lalu terdiam membeku.
"Drake" aku berlari menuju rumahku meninggalkannya.
"Heii, tunggu jangan mendekatinya, berbahaya" ucapnya sambil mengejarku.
"Drake, kau baik-baik saja kan?" gumamku sambil berlari dan menggenggam kendi ramuan itu
Setelah dekat dengan rumah, aku masuk kedalam diikuti Wira dan melihat rumah sudah berantakan.
"Drake" aku lalu pergi ke tempat Drake berbaring tadi tapi dia tidak ada?
"Drake" aku berteriak panik sambil menangis
"Hei tenanglah, ayo kita cari adikmu bersama"
"Kemana?" ucapku masih sambil menangis.
"Dia pasti berlari setelah mendengar suara pekikan itu, pasti belum jauh dari sini" dia mencoba menenangkanku.
"Iya, aku harus mencari Drake" ucaoku gemetar lalu berdiri dan mengambil tas lalu mengantongi beberapa buah-buahan dan makanan lalu sebotol minuman.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang, anda bisa kembali kerumah Kakek" ucapku menundukkan badan.
"Tidak, aku akan membantumu mencari adikmu" ucapnya.
"Tidak apa, saya bisa sendiri, jangan membuat Kakek Kuo cemas"
"Tidak akan, aku akan pulang dan mengambil busurku, ayo ikut dulu" ucapnya
Aku mengangguk dan mengikutinya kembali kerumah Kakek Kuo dan mengambil busurnya.
"Kau kembali lagi, Nak Rane?" sapanya saat melihatku masuk kembali ke rumahnya.
"Iya Kek, Drake menghilang, aku harus mencarinya" jawabku
"Drake kabur?"
"Sepertinya dia ketakutan setelah mendengar suara pekikan tadi"
"Suara pekikan? ohh sudah tepat 100 tahun ya" ucapnya
"100 tahun?" tanyaku kebingungan
"Duduklah dahulu, akan Kakek ceritakan" aku lalu duduk dan mendengarnya bercerita.
"Jadi, dahulu ada legenda mengatakan, bahwa setiap 100 tahun sekali akan lahir Ksatria baru dari bangsa Naga, sepertinya inilah harinya" jelasnya
"Ksatria bangsa Naga?"
"Iya, suara pekikan yang kau dengar tadi itu pasti suara dari Kesatria naga itu" sambungnya
"Lalu apa hubungannya dengan Drake?" tanyaku kebingungan
Dia lalu tersenyum dan meminum teh di cangkirnya.
Wira keluar dari kamarnya dan duduk disampingku ikut mendengarkan
"Saat 15 tahun lalu kau membawa Drake yang masih berumur 3 tahun kesini untuk diobati, dia sebenarnya tidak sakit, dia hanya merasakan keanehan pada kulitnya, pada saat Kakek akan mengobatinya, di tulang punggunya ada lingkaran berwarna merah yang berjajar rapi dari atas ke bawah, dan kulit di tangannya seperti akan melebar, lalu Kakek memberikan obat penawar untuk sementara menghilangkan rasa sakit, tapi ternyata 15 tahun kemudian dia sudah lahir kembali ya" jelasnya panjang
"Apa maksud Kakek?" tanyaku bingung
"Rane, apa benar dia adik kandungmu?" tanyanya
"Bukan" aku menunduk dalam "Aku menemukan Drake yang masih bayi saat aku sedang mencari makanan di hutan" sambungku
"Apa ada yang aneh?" tanyanya
"Saat itu, di dahinya ada seperti sisik yang sangat lembut berbentuk seperti mahkota, lalu aku merawatnya dan membangun rumah di pinggir hutan, lama kelamaan seiring Drake bertumbuh, sisik itu perlahan hilang diganyikan dengan kulit manusia pada umunya" jelasku panjang
"Kurasa Wira tahu adikmu berada dimana" ucapnya sambil tersenyum.
Aku melihat Wira yang tampak sedang berfikir.
"Oh iya, aku sepertinya tahu, tapi tempatnya sangat jauh dari sini, apa kau akan tetap pergi?" tanyanya
"Iya, aku ingin bertemu Drake"
"Baiklah, Kakek aku akan pergi beberapa hari"
"Pergilah, dan pulang dengan selamat cucuku" ucapnya sambil melihat cucunya dan tersenyum
"Terima kasih Kek, doakan aku supaya berhasil ya" kami lalu keluar dan memulai perjalanan kami.
3 hari 4 malam kami berjalan menelusuri hutan dengan makanan seadanya dan bersembunyi setiap ada prajurit kerajaan yang sedang berkuda ke auatu tempat.
Ya, sejak kejadian itu, banyak prajurit dari kerajaan Riverland berpatroli ke banyak tempat dan melewati hutan.
Hampir seminggu kami berjalan dan belum sampai di tujuan utama kami, kami melanjutkan perjalanan dan hanya berhenti jika waktu makan dan tidur.
"Sebentar lagi sepertinya kita sampai" ucapnya
"Sebenarnya, tempat apa yang akan kita datangi?"
"Kerajaan naga" ucapnya
"Kerajaan Naga? apa kau tak takut?" tanyaku
"Tidak, aku sudah berlatih selama beberapa tahun untuk melawan naga" jawabnya
"Apa Drake baik-baik saja? tuhan, tolong lindungi adikku"
Beberapa lama kami berjalan, aku melihat ada bangunan yang megang seperti istana di atas tebing
"Kita sudah sampai" ucapnya
"Disini?"
"Iya, setelah naik tebing ini kita akan sampai di pusat kerjaannya" ucapnya lalu mengambil tali yang menggangtung di tebing itu.
"Kau naiklah duluan, aku akan menjagamu dari bawah" ucapnya
"Baiklah" aku meraih tali itu dan mulai memajat sedikit demi sedikit dengan kaki yang menapak di dinding tebing.
Setelah sampai diatas tebing, aku merasakan hawa yang terasa berbeda dari sebelumnya.
"Drake" panggilku berteriak
"Ssshhht" dia lalu membekap mulutku
Aku lalu mengangguk dan dia melepaskan bekapannya.
Kami berjalan perlahan-lahan agar tidak ketahuan para naga yag ada disini lalu masuk ke dalam istana itu dan aku merasa terpukau dengan bagian dalan istana yang megah itu
"Kita kedatangan tamu manusia" terdengar suara yang sangat besar dan menggema di ruangan itu
Kami lalu waspada dan melihat ke sekitar dan terlihat naga yang sangat besarsedang duduk diatas sana.
"Ada keperluan apa kalian kemari?" ucapnya
"Aku sedang mencari adikku, Drake" ucapku sedikit berteriak
"Drake? siapa Drake? apa ksatria baru itu?" ucapnya
"Kembalikan Drake" bentakku kepadanya
"Memang kau siapa meminta ksatria kami?"
"Aku orang yang merawatnya sejak dia bayi" ucapku
"Kau ternyata yang bernama Rane ya?"
Mendengar itu aku kaget dan semakin waspada
"Kenapa kau tahu namaku?"
"Kami mengawasi mu saat kau mengambil bayiku"
"Bayimu? lalu kenapa kau membuangnya?"
"Aku tidak membuangnya, tapi menyelamatkannya"
"Menyelamatkan?"
"Saat itu kerajaan ku diserang dengan kerajaan musuh, dan saat itu anakku baru lahir, jadi aku menyembunyikannya di hutan, ternyata ditemukan olehmu ya"
"Dimana Drake?"
"Jika kau mau menemuinya, lawanlah mereka dulu" ucapnya.
Lalu beberapa ekor naga yang badannya lebih kecil dari dia dan lebih besar dari kami, mengepung kami dari segala penjuru.
"Rane? apa kau punya senjata?"
"Senjata?" aku berfikir sejenak dan teringat bahwa aku memiliki kalung sihir
"Ada, aku mempunyai kalung sihir"
"Baik, bersiaplah, kita akan melawan naga-naga ini" dia lalu berlari sambil menembakkan anak panah ke badan naga itu dan aku menepi sambil mengeluarkan kalung yang sudah 18 tahun aku sembunyikan, aku mengucapkan mantra dan cahay biru keluar dari kalung itu, saat aku kembali memakainya, tubuhku serasa dialiri kekuatan sihir dan aku mulai mencoba menggunakan kekuatan itu ke salah satu naga yang sedang menyemburkan api ke arahku.
"Hyaaaah" aku mengulurkan tanganku dan secara tidak sadar, aku mengeluarkan bola raksasa dan meledak saat mengenai naga itu, seketika naga itu menjadi abu dan beterbangan.
"Apa tadi aku yang mengeluarkannya?" ucapku karena baru pertama kali menggunakan dan merasakannya.
"Ternyata kau putri keturunan James Arthur ya?"
"Jangan bicara" ucapku sambil mencoba melawan beberapa naga.
Beberapa jam kemudian, kami berhasil mengalahkan naga yang mengepung kami lalu terduduk kelelahan.
"Apa kalian lelah? jangan dulu, masih ada 1 naga yang harus kalian hadapi" setelah naga besar berbicara begitu, muncullah 1 naga berwarna biru gelap dengan cahaya di dahinya dihadapan kami.
Naga itu lalu mengerang dan menyemburkan apinya ke arah kami dan kamipun menghindar.
Lalu naga itu mulai menyerang kami dengan cara yang berbeda dari naga yang dikalahkan sebelumnya.
Wira yang menembakinya dengan anak panah yang mulai menipis, dan aku yang menyerangnya dengan kekuatan sihirku yang masih lemah dan mulai kelelahan.
Saat aku tidak sengaja melihat matanya, aku terdiam dan teringat tatapan mata Drake
"Drake, apakah ini kau?" gumamku
"Rane, kenapa kau malah diam" teriak Wira yang menyadarkanku dan kembali membantunya menyerang naga itu.
Lalu aku teringat dengan simbol mahkota saat Drake masih bayi dan itu sama persis seperti milik naga yang kami lawan ini tapi simbol ini sekarang bercahaya.
Karena konsentrasi ku yang menurun, naga itu berhasil mencakar lenganku hingga berdarah.
"Rane" teriak Wira panik
"Aku tak apa" lalu memfokuskan seluruh tenaga ku ke jantungku dan mencoba menyerang naga itu kembali.
Setelah aku kehabisan tenaga, aku mulai yakin bahwa naga yang sedang kami lawan ini Drake, karena gerakannya yang masih terbaca dan bisa diketahui, dan sorot mata saat dia melihatku.
Aku kehabisan tenaga dan terduduk dengan tangan yang gemetar, dan tampaknya naga itu juga mulai kelelahan dengan gerakannya yang melambat dan juga beberapa luka dari tusukan anak panah nya Wira.
Tak lama dari itu, ada api yang terbang ke arah naga itu dan menyerangnya secara bersamaan membuat naga itu kehabisan tenaga dan terjatuh.
"Ternyata anakku yang menggunakan energi sihir yang sangat kuat tadi ya" ucap seseorang yang muncul diantara para prajurit kerajaan itu
"A-Ayah" dia lalu perlahan mendekat dan aku yang perlahan mundur sampai menabrak naga itu lalu terjatuh, dia masih berjalan dengan tempo yang sama
"Jangan mendekat" aku menghalangi wajahku dengan kedua tanganku, lalu tiba-tiba, naga yang ada dibelakangku perlahan menyusut dan berubah menjadi manusia biasa dengan beberapa luka di badannya.
"Drake" aku mendekatinya dengan panik dan memberinya air minum
"Drake, syukurlah kau sudah berubah" ucapku sambil memeluk kepalanya
"Kak?" ucapnya lirih
"Iya ini aku" aku tersenyum melihatnya
"Wahh, anakku ternyata jatuh cinta dengan seekor Ksatria Naga yang baru lahir dan menyebabkan kekacauan di sana sini ya" ayah lalu membungkukkan badannya dihadapanku dan menyentuh Drake
"Jangan sentuh adikku" aku makin memeluknya berusaha menjauhkannya dari ayahku
"Kembalilah ke istana sayang, ayah berjanji tidak akan menjodohkanmu lagi" ucapnya sambil mengenggam tanganku
"Tidak, aku bahagia tinggal bersama Drake"
"Bawa juga dia, jika kau mencintainya kau boleh menikahinya" ucapnya
"Aku mencintainya karena dia adikku"
"Bukan dia, tapi cucunya Kuo" sambil menunjuk Wira
"Ayah tahu Kakek Kuo?" tanyaku
"Dia orang yang membantuku merawatmu saat kerjaan kita diserang bangsa iblis dulu" ucapnya
"Berarti ibu?"
"Iya, ibumu adalah bangsa iblis, makanya kau mempunyai kalung itu" sambil menunjuk kalung yang aku pakai dileherku.
"Sebuah pertemuan keluarga yang sangat Dramatis" ucap naga besar yang berada diatas itu lalu terbang turun dan dia berubah menjadi seorang manusia dengan mahkota di kepalanya mirip milik Drake saat bayi
"Qiulong" ucap ayahku"
"Lama tak jumpa, James Arthur" ucapnya
"Kalian saling kenal?"
"Dia sahabatku" sambil merangkul bahu ayahku
"Jangan macam-macam kau" sambil menyikut perut manusia naga itu
"Aughh" rintihnya kesakitan
"Kau" sambil menunjuk kearahku
"Kau kembalilah ke istanamu, dan kembalikan anakku Long" ucapnya
"Long? siapa?"
"Yang sedang kau peluk"
"Namanya Drake, dan dia adikku, aku takkan memberikan adikku pada siapapun" ucapku sambil masih memeluk Drake yang sedang pingsan.
"Heii, dia itu anakku" dengan nada yang kesal
"Kau biarkan saja, aku akan menjaga anakmu jika anakku mau kembali ke istana" ucap ayah
"Memangnya aku sudi menitipkan pada orang yang tidak menganggapku sahabatnya"
"Heh, memang kau pikir aku sudi merawat anakmu, ambil saja, aku dan putriku tidak membutuhkannya" ucap mereka berdebat
"Aku tidak akan pulang ke istana" ucapku memberhentikan perdebatan mereka
"Apa? tapi Airane" ucap Ayah
"Tapi, aku akan menggelar pesta pernikahanku dengan Wira di istana, setelah itu, kami akan hidup bertiga dirumah yang akan kami huni nanti" ucapku
"Memangnya cucu Kuo setuju untuk menikah denganmu" ledek ayah
"Kenapa tidak? siapa yang bisa menolak pesonaku?"
"Wira, mebikahlah denganku" teriakku lantang dan mendengar itu, Wira hanya membeku di tempatnya
"Dia tidak menjawab, berarti tidak mau, nikahi saja anakku" ucap manusia naga itu
"Kau serius?" ucap Wira dengan wajah yang memerah
"Iya"
"Baiklah, aku akan memberitahu Kakek setelah kami pulang" ucaonya menyetujui
"Dia setuju" aku lalu membopong Drake untuk keluar dari tempat itu dan dibantu ayahku.
"Kenapa ayah membantuku?"
"Mana tega ayah membiarkan mu membawa naga berat sendirian" ucapnya dan menaikkan Drake di kereta kuda milik kerajaan dan kamipun pulang.
Wira memberitahukan Kakeknya tentang kabar pernikahan kami dan acara digelar hari ini di istana ayahku.
Pernikahan berjalan lancar dan setelah berdiskusi dengan Kakek Kuo dan Drake, kami memilih untuk menetap di istana karena Drake dijanjikan akan diberi makanan enak setiap hari oleh ayahku.