Aku mengintip dari celah ranting-ranting yang patah. Menahan nafas dengan tubuh bergetar. Menunggu waktu yang tepat menerobos lorong cahaya yang berkabut. Aku yakin matahari pasti sudah muncul di atas hutan terkutuk ini.
Ku hapus air mata yang terus meleleh dengan punggung tangan ku yang kotor. Isak tangis yang tidak mampu keluar hanya membuat kepala ku sakit berdenyut. Namun aku harus menahan segalanya.
Aku pasti sudah terbebas jika bukan hantu hutan dari sihir hitam yang memburu ku. Aku yakin mereka sengaja menjebak diriku untuk menjadikan ku tumbal. Sungguh, aku menyesal mengejar nyanyian iblis hingga tersesat di kegelapan hutan terkutuk ini.
“Suara itu lagi ... Tidak ... Tidak ... Mereka tidak boleh menangkap aku lagi!!”
Aku berlari menerjang ranting, batu dan daun yang berguguran. Menapak kasar sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap yang aku takutkan hanya ilusi semata.
Kaki telanjang yang sudah terluka mengucurkan darah aku abaikan. Wajah ku pucat pias bukan menahan sakit, namun suara lolongan jelmaan serigala dan derap langkah hingga hentakan baja baju zirah menggema dimana-mana. Belum lagi hempasan udara dari langit menimbulkan bunyi pepohonan yang saling bersinggungan semakin kuat. Sekelebat dapat kulihat bayangan besar seekor Naga melintas.
Aku pikir semua hanya mitos. Cerita untuk menakut-nakuti anak-anak kecil, namun mata merah yang menatap lapar membuat aku bergidik ngeri. Entah seperti apa rupa sebenarnya, aku hanya mampu menangkap pancaran bola mata merah itu sekilas. Beruntung aku bisa melarikan diri.
"Sebentar lagi Thea ... Kamu bisa ... Haah ... Hah ...."
Layaknya oksigen yang semakin menipis, nafas ku tersengal-sengal di setiap langkah yang aku ambil. Aku lelah membawa tubuhku yang semakin melemah. Sudah semalaman aku kelaparan. Tidak mungkin aku mampu menengguk darah segar sebagai makan malam ku, meski entah dorongan gila apa aku nyaris tergiur.
Krek!!
AAAWWWWWUUUUUUU...!!!!
“Sial!!”
Aku mengumpat merutuki kecerobohan ku. Langkah kaki yang aku paksa seringan mungkin itu menginjak ranting kering hingga patah. Bunyi patahan yang menggema tentu menarik atensi gerombolan jelmaan serigala.
Srek!!
Sret!!
Seutas tali tidak kasat mata melingkar di leher dan menyeret tubuh ku menjauh dari lorong cahaya. Membentur akar pohon dan tergores ranting runcing, tubuh ringkih ku hampir remuk seutuhnya.
"Aamm ... Aaghh!! Haaaagghhh!!! Aaammm ... Pppuuuuunnn!! Hoookk!! Hhooookk ... Aaarrggghhh!!!"
Seberkas cahaya hitam tiba-tiba menyelimuti ku. Menghempaskan diri ku ke udara. Mencekat nafas dan mengaburkan penglihatan ku. Sejenak aroma anyir yang aku yakini adalah bau darah menyeruak indra penciuman.
Mengerjap perlahan, aku bisa melihat kaki seekor Naga yang berubah menjadi sepasang kaki manusia melangkah mendekat. Setiap langkah yang terdengar seakan mencabik-cabik tubuh ku. Aku ingin tertidur jauh di kedalaman angan hingga tidak merasakan ketakutan, namun gilanya kali ini aku masih bisa bertahan dengan kesadaranku
Aku bersalah. Harusnya aku tidak menyusup pada wilayah mereka.
Tiba-tiba sayap megah nan mengerikan terkepak dari sosok bermata merah. Terpaan angin kencang menyibak kasar rambutku. Terduduk dengan tubuh bergetar hebat seluruh tulang ku melemas. Hanya satu yang aku pikirkan, akan dihabisi seperti apa aku nanti.
“Akhirnya kamu datang Anthea Demetria, istri ku ...”
Deg!
Aku mematung kaku, bagaimana dia bisa mengetahui nama ku. Dan apa tadi katanya, istri? Sungguh gila. Aku bahkan hanya seorang gadis yang tidak sengaja menjadi penyusup karena tergoda nyanyian iblis hutan.
“Putri dari penguasa dunia bawah, pemilik seluruh hati dan jiwa ku ... Kamu melupakan aku?”
Dia menyentuh pipi ku. Membelai lembut wajah kotor ku. Meniup tipis dahi yang tertutupi rambut menjuntai.
Seketika berbagai kilasan terputar hebat. Bahkan rasanya kepala ku akan pecah karena paksaan kuat dari ingatan yang terpendam. Layaknya terlepas dan dibawa berputar-putar, kepala ku seakan tercabut paksa.
“Istvan ....” Entah mengapa nama itu tiba-tiba terlintas di benak ku. Namun anehnya bukan sosok mengerikan di hadapan ku ini pemilik nama dalam ingatan ku.
“Kamu mengingat aku bukan?”
“Ka-kamu ... Siapa kamu?”
“Hah..!! Rupanya sampah itu berhasil menyihir memori mu.”
Ia menyugar rambutnya kasar. Kini dapat ku lihat bahwa matanya cukup menawan, walau memancarkan aura dingin dan bengis.
Tunggu ... Aku sepertinya pernah melihat pancaran teduh mata menawan itu, namun di mana?
“ZOILOS!!”
“Iya, Tuan ku.”
“Bunuh mereka semua! Bakar habis hingga semua keturunannya mati!”
“Baik, Tuan ku.”
Seketika sosok yang dipanggil Zoilos itu berubah menjadi seekor Naga. Mengepakkan sayap ke angkasa, meninggalkan aku yang semakin ketakutan bersama Tuan nya.
Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi sayup-sayup bisa aku dengar jeritan memilukan para wanita dan anak-anak. Teriakan kesakitan yang berasal dari suara berat para laki-laki. Belum lagi suara kemarahan Naga yang menggema.
Ingin aku berteriak. Bersimpuh di kakinya dan memohon ampun. Namun suara ku tercekat dilahap ketakutan. Tubuh ku gemetaran terpaku tidak berkutik.
“Kamu terluka? Berani-beraninya mereka melukai milik ku!! Maafkan aku, apa ini sakit?”
Tentu semua luka ku sangat menyakitkan. Tapi aku hanya bisa menggeleng, menyangkal spontan tanpa bantahan lainnya. Meski bodohnya jantung ku berdebar aneh mana kala kedua telapak tangan hangatnya menangkup pipi ku.
Sayangnya degup aneh itu hanya mampu bertahan sesaat. Jantung ku seakan dicopot kala kilatan merah meluluh lantakan bangunan dan sosok mistis yang sebelumnya sempat menyeret paksa tubuhku.
“Maafkan aku yang lupa memerintahkan mereka untuk memperlakukan mu dengan lembut.”
“Le-lepas ... Lepaskan aku!!”
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku tatap sepasang pupil mata yang berubah berwarna hazel. Tatapannya sendu penuh kerinduan. Usapan jemarinya lembut di wajah ku.
Aku tidak akan tertipu dengan kelembutannya pada ku. Bisa saja selanjutnya aku yang akan ia lenyapkan.
“Kamu Anthea Demetria, istri ku. Puluhan tahun aku mengawasi mu dalam diam dari kejauhan. Berganti wujud meski itu menyiksa dan nyaris membunuh ku. Aku merindukan tatapan mu. Aku merindukan tawa dan rengekan manja mu. Thea ... Desa penyihir kejam itu benar-benar mengurung mu. Memisahkan kita ....”
“Apa maksud mu?”
“Setelah membunuh anak kita, mereka menyandera kamu dan mengunci wujud Naga ku di kastil tua ini bersama seluruh pengikut setia ku.”
“Anak?”
“Iya, anak kita. Dia secantik dan semanis kamu.”
“Tidak. Tidak mungkin!”
Kepala ku kembali berdenyut hebat. Kuku jemari tangan ku tiba-tiba memanjang. Sangat tidak masuk akal.
Sejurus kemudian tubuh ku memanas seakan terhantam bongkahan batu api. Aku mengingat semuanya, namun hati ku seakan hancur. Gadis kecil bergaun biru bersimbah darah dalam dekapan Istvan.
Benar, Draco Istvan suami ku dan anak pertama kami, Ganetha Isadora.
“Aku akan membalas kejahatan mereka semua pada kita. Aku berjanji atas nama anak kita, akan aku habisi seluruh keturunan mereka!!”
“Ganetha ... Ganetha ... Anak kita, Istvan. Anak kita ... Hiks ... Hiks ....”
“Kamu mengingat gadis kecil kita? Terima kasih, Sayang ....”
Akhirnya isak tangis ku lolos dalam rengkuhan Istvan. Air mata saling membasahi pundak ku dan Istvan. Tubuh kami sama-sama terguncang hebat.
Kenangan tragis yang terkunci rapat seolah berterbangan menampar jiwa ku yang semakin rapuh. Tangis yang sudah tertahan puluhan tahun lamanya meluap dalam raungan bergemuruh. Aku meratapi kepergian gadis kecil kami yang sangat mengenaskan dan bahkan baru mampu aku ingat saat ini.
“Terima kasih sudah membebaskan mantra kejam yang membelenggu kita berdua. Terima kasih sudah kembali ke rumah kita dan meruntuhkan benteng mantra itu.”
“Mengapa mereka begitu kejam?”
“Kekuasaan kita mengancam kekuatan para penyihir yang tamak. Mereka menjebak penghuni dunia bawah dan lembah Kristal untuk saling menyerang. Saat kita lengah rupanya tujuan utama mereka menyerang kastil di hutan dan pegunungan.”
“Balaskan kematian Ganetha, Istvan!! Rupanya selama ini mereka diam-diam menertawakan kehancuran kita!! Aku bersumpah, aku akan membuat kematian mereka lebih mengenaskan dari yang Ganetha rasakan!!”
Seketika langit biru itu memerah dan berkabut hitam. Jeritan mengiba saling bersautan.
Tepat di atas kobaran api yang membara bersama Istvan yang berubah menjadi Naga, aku berdiri dengan pongah menatap nyalang sosok-sosok yang selama ini ku anggap sebagai teman.
Aku Anthea Demetria sang putri penguasa dunia bawah dan suami ku Draco Istvan sang Naga hitam penguasa lembah, hutan dan pegunungan, bersumpah akan melenyapkan seluruh keturunan kaum yang telah berani mengkhianati kami.
TAMAT.