Piyo, Si Ayam yang Jago
Di sebuah negeri Van Java, hiduplah keluarga Piyo. Sehari-hari kehidupan mereka aman tentram, saling kasih mengasihi, saling sayang menyayangi.
Namun, serukun-rukunnya mereka, akhirnya pada suatu sore ada sedikit keributan kecil di rumah gubuk mereka.
"Harus aku yang bawa jagung kuning ini. Kamu bawa saja yang putih itu, Yo!“ kata Joglo kepada adiknya, Si Piyo, sambil menunjuk sekantong plastik berisi jagung putih.
"Aku enggak mau yang putih. Aku mau yang kuning, Kak!“ keduanya berebut, tidak ada yang mau mengalah.
Si Piyo, walaupun lebih muda tapi punya badan 25 gram lebih berat dari Kakaknya, si Joglo yang hanya berbobot 3 kg.
Dalam keluarga, memang mengakui semua bahwa si Piyo yang berbulu merah dan hitam lebih tampan dari pada si Joglo yang berbulu kuning dan kelabu.
“Oke, kalau Kamu nggak mau berikan yang kuning. Tapi ayo kita lomba lari. Siapa yang menang akan berhak atas jagung kuning itu!“ tantang si Joglo.
“Ayo, siapa takut…!“ si Piyo meladeni tantangan Kakaknya.
Lantas si Joglo celingukan seperti mencari sesuatu.
“Biar nggak ada yang mengambil, sebaiknya kita taruh dimana kedua bungkusan ini, Yo?“ tanya si Joglo mengagetkan si Piyo yang sedari tadi menyisiri bulu-bulu indahnya.
“E…ditanam di tanah sini saja, Kak, pasti enggak ada yang tahu,“ sahut si Piyo enteng.
Si Joglo pun menyetujui usulan si Piyo. Lantas kedua ayam jantan itu menggaruk-garukkan kakinya ke tanah untuk membuat lubang yang cukup dalam.
"Garuk lagi, garuk lagi…
Gali…terus gali….
Ayo gali yang dalam…"
Bergantian mereka berteriak.
Saking asyiknya, mereka tak peduli lagi dengan kedua bungkusan itu.
Saat itulah kedua adik perempuan mereka, si Mini dan si Uni melewati pekarangan dimana kedua kakaknya sedang menggali. Mereka baru pulang dari pasar disuruh Ibu membeli keperluan dapur, seperti minyak goreng, garam, mrica, pala, dan sayur kangkung.
"Ngapain tuh Kak Piyo dan Kak Joglo ngegali-gali tanah?“ tanya si Mini.
"Emang, kayak enggak ada kerjaan banget tuh, Kakak! Mau-maunya ngotorin tubuh gitu!“ sahut si Uni polos.
Mereka berjalan pelan tak ingin mengganggu kedua kakaknya. Namun, baru tiga langkah, kaki si Uni terantuk sebuah bungkusan. Tanpa basa basi, diambilnya kedua bungkusan itu. Dan keduanya pun berlari tak bersuara menuju rumah menemui Ibu yang sejak tadi menunggu.
Sedangkan si Joglo dan si Piyo makin asyik menggali dan menggali. Sudah benar-benar lupa akan kedua bungkusan yang mereka ributkan tadi.
"Cangkul…cangkul…
Cangkul yang dalam…
Menanam jagung di kebun kita…."
Kali ini suaranya agak pelan. Kali ini tinggal membawa tanah keluar dari lubang yang mereka gali. Lama-lama suara itu pun hilang.
"Ah….akhirnya selesai sudah lubang persembunyian jagung-jagung kita, Yo!“ kata si Joglo kepada si Piyo yang sedang geleng-geleng kepala.
“Wah…bener-bener kerja yang melelahkan! Tapi Alhamdulillaah selesai juga,“ sahut si Piyo sambil meregangkan sayap-sayapnya.
Hampir bersamaan, mereka berdua berteriak keras.
Kukuruyuuuuuuuk! Kuk….kuruyuuuuuuuk!
Kemudian si Joglo tengok kanan kiri mencari sesuatu.
"Piyo, cepat kamu ambil bungkusan-bungkusan itu," perintah si Joglo yang sedang melompat-lompat kecil berusaha melemaskan otot-ototnya.
"Baik, Kak Joglo!“ jawab si Piyo penurut apa pun perintah yang ditujukan kepadanya.
Sedikit berlari, si Piyo menuju tempat dimana kedua bungkusan tadi ditaruh sebelum “pekerjaan” menggali.
Raut muka si Piyo sedikit cemberut melihat kedua bungkusan sudah hilang tak terlihat.
Dengan langkah gontai, si Piyo berjalan menemui Kakaknya, si Joglo yang sedang “tiduran” di atas tumpukan tanah galian.
Hari semakin gelap. Semburat jingga menghiasi langit di ufuk barat.
"Waduh…celaka tiga belas nih, Kak. Jagung-jagung kita hilang ditelan bumi!“ begitu keras teriakan si Piyo.
Namun karena sangat kelelahan, suara adiknya tak terdengar oleh si Joglo. Jengkel dengan tingkah kakaknya itu, akhirnya si Piyo mengeluarkan jurus pamungkasnya:
Kuk….kuruyuuuuuuuuuuuuuk!
Gedebug….
Tubuh si Joglo terjatuh dari tumpukan “kasur” tanah tempat ia tertidur ke dalam lubang galian. Dengan merasakan sakit, si Joglo bertanya dengan gagap: “A…ada apa, Piyo!“
“Kakak sih tidur aja. Jadinya jagungku hilang deh…! sahut si Piyo.
“Lah…jagung kuningku mana? Mana Piyo? Mana…?!,“ tanya si Joglo terus.
"Mana ku tahu?!,“ jawab si Piyo yang kemudian berlari menuju rumah.
Dengan sisa-sisa tenaganya, si Joglo pun berlari mengejar adiknya.
Meski lampu dinyalakan, tapi rumah keluarga Piyo tetap tidak bisa terang benderang. Maklum, lampunya berkekuatan kecil, hanya 5 watt.