Mushola Perpustakaan Kampus
15.51
Setelah selesai dzikir seusai sholat 'Ashar di Mushola Perpustakaan Kampus, aku berdiri dengan tujuan ke Lantai 3 Perpustakaan Kampus. Kebiasaanku memang membaca buku-buka tua di sana. Semilir anginnya begitu menyegarkan sehingga membuatku betah berlama-lama bahkan hingga malam hari.
Namun belum sampai pintu keluar Mushola kecil di bawah tangga Perpustakaan itu, tiba-tiba aku tergerak untuk melihat ke sisi timur Mushola. Seakan-akan ada magnet yang sangat kuat menarikku untuk melihat. Tak kuasa aku menolaknya.
"Maa syaa Allôh, perempuan itu cantik sekali, siapakah dia? Apa aku ini sedang mimpi?" Aku membatin seraya mulutku melafalkan kekaguman atas ciptaan Tuhan Yang Maha Indah sehingga menciptakan perempuan yang begitu indah di hadapanku.
Ya, benar-benar dia laksana bidadari surga sedang duduk di hadapanku.
Dengan ramah dia tersenyum kepadaku. Tapi dia agak heran karena aku memandanginya tanpa berkedip.
Lalu dia pun bertanya, "Maaf, kalau boleh tau siapa namamu?"
Tentu saja aku kaget dengan pertanyaannya sehingga kemudian aku mengedipkan mata. "Ini memang bukan mimpi," batinku.
Karena aku masih belum bisa menguasai diriku, dengan senyuman terindah yang baru pernah aku lihat, dia pun memperkenalkan diri, "Salam kenal, aku Dhea dari FKG."
"Alhamdulillâh, terima kasih, Dhea. Salam kenal juga, aku Ajisanga dari Sosek. Panggil aja Aji." Begitulah aku membalas perkenalan sore yang tidak terduga itu dengan Putri Jogja.
Selanjutnya kami bersalaman dan saling bertanya jawab soal asal daerah, hobi, dan lain-lain.
Sudah 30 menit berlalu, lalu dia bilang mau pulang ke rumahnya di Melati, Sleman, tetapi sebelumnya dia akan menjemput ayahnya di Kampus.
"Terima kasih udah menemaniku ngobrol. Aku memang sengaja sholat 'Ashar di sini. Aku sering ke Perpustakaan lho...bukan Aji aja yang suka baca buku, haha..." Dhea tertawa sehingga semakin menambah indahnya duniaku.
Sebelum Dhea berdiri, aku meminta nomor teleponnya. Dia pun menuliskan angka-angka di secarik kertas putih dari buku diary-nya. Lantas dia memberikan secarik kertas bergambar love love berwarna pink di sudut kanan atas kertas polos itu kepadaku. Sedangkan aku adalah anak kost, kostku tidak punya sambungan telepon. Sungguh baik, dia bisa memaklumi keadaanku.
"Terima kasih. Semoga kita sering ketemu ya, Dhea. Di sini atau di lingkungan kampus," kataku tanpa malu. Dengan tersenyum, Dhea mengangguk sebagai tanda mengiyakan permintaanku. Alangkah senangnya hatiku.
Dia melangkahkan kakinya ke pintu Mushola lalu duduk untuk memakai sandal sepatunya yang berwarna biru.
Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika memandangi wajah Dhea yang bibirnya selalu tersenyum dan basah oleh Dzikrullôh tanpa henti.
"Yā Allôh, Yā Robbī, Inikah cinta, apakah cinta ini?" Senandung batinku.
Aku menjawab salam ketika Dhea melangkah pergi meninggalkanku yang masih berdiri terpukau oleh keindahan penciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
11 detik kemudian aku baru tersadar atas lamunanku yang melambung hingga ke langit tujuh.
Segera aku menyusul Dhea yang sudah berjalan 9 langkah di depanku. Dia terus berjalan dengan keanggunan layaknya Putri Jawa. Dan, ketika aku sudah sejajar dengannya, dia hanya tersenyum, meski dia sudah menduga itu akan terjadi.
Namun aku melihat wajah Dhea jadi heran. Mungkin pikirnya aku berubah pikiran begitu cepat. Padahal tujuanku tadi ke Lantai 3 Perpustakaan, bukannya malahan mengantarnya ke tempat parkiran.
"Atau Aji mungkin lupa ke Lantai Tiga?" Dhea membatin tanpa berani mengatakan padaku. Dia terus berjalan dengan sesekali mengajakku mengobrol perihal kegiatan perkuliahan dan dinamika organisasi intra dan ekstra kampus.
Akhirnya, aku dan Dhea sampai juga di tempat parkiran kendaraan pegawai dan pengunjung Perpustakaan Kampus. Di sebelah utaranya ada Kantin Gajah yang merupakan favorit.
Karena jam-jam nanggung maka kantin ini sepi, hanya terlihat 3 mahasiswa yang sedang makan dan minum dengan lahapnya di meja dan kursi panjang di sisi barat. Sepertinya mereka sangat kelaparan sehingga cepat sekali makannya. Sedangkan 2 mahasiswi hanya minum jahe hangat sembari ngobrol sambil ketawa-ketiwi di ruang lesehan di sisi timur. Kayaknya asyik banget obrolan mereka. Seakan-akan dunia seluas ini hanya milik mereka berdua saja. Yang lainnya au ah entah kemana haha ...
Dhea kembali uluk salam untuk kedua kalinya, kepadaku yang setia di sampingnya. Aku merasakan berat banget berpisah darinya.
"Tiba-tiba koq aku kayak perangko nempel terus ya hehe..." aku membatin.
Sembari membungkukkan badan, Dhea pergi meninggalkanku. Dia menuju mobil VW-nya yang di parkir di sebelah selatan Kantin Gajah. Aku pun mengantarnya sampai dia masuk ke dalam mobil berwarna putih susu itu.
Pokoknya, aku berpikir harus memastikan dia aman dan baik-baik selama bersamaku.
Setelah itu dia melambaikan tangan kanannya kepadaku dan mobilnya pun berjalan ke arah timur menuju Jalan Kaliurang KM 0. Aku terus memandangi mobil itu sampai membelok ke arah utara menuju Kampus di kawasan Bulaksumur.
Setelah itu aku merasa haus, lalu aku memesan minuman es jeruk di Kantin Gajah. Aku duduk di sebelah 2 mahasiswi yang masih asyik ngobrol tentang Dagelan Khas Jogja yang biasa dilakonkan oleh Kelik Pelipur Lara, Den Baguse Ngarso, Marwoto, dan kawan-kawan.
Setahun sudah aku tinggal di nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, aku jadi sukanya lesehan dan kebetulan juga penasaran dengan lawakan a la Newyorkarto itu karena beberapa kali melihat di TVRI Jogja sekalipun belum pernah menonton langsung pementasan mereka di Gedung Societet atau di Purna Budaya atau di tempat lainnya.
Setelah selesai urusan makan dan minum di Kantin Gajah, aku segera menuju Lantai 3 Perpustakaan Kampus melalui pintu kayu jati penghubung Kantin Gajah dengan Lobi Perpustakaan.
Kemudian aku bergerak setengah berlari melalui undakan demi undakan yang terbuat dari beton dengan keramik berbentuk kubus berwarna abu-abu gelap.
Aku merasakan kebahagiaan yang berbeda dari pada sebelumnya. Anganku melayang jauh tinggi ke langit yang tiba-tiba berpelangi.
Wajah ayu Dhea bak bulan Purnama, mata indahnya seperti mata indah bola pingpong, senyumnya begitu menawan hatiku, berjalannya teramat anggun karena memang dia Putri Jawa, tubuhnya proporsional dengan tinggi 1,61meter dan berat 56 kilo gram, kuliahnya di Kedokteran Gigi, dan aktivis kampus juga. Begitu indah dan sempurna ciptaan Tuhan.
"Apakah bahagia ini karena aku barusan ketemu Dhea?" batinku bertanya.
Meski aku dan Dhea baru pertama kali bertemu, tetapi dia sangat humble sehingga aku merasakan serasa sudah sekian lama mengenalnya.
"Jatuh cinta berjuta rasanya..." senandungku kian melambungkan anganku ke awang-awang.
"Woi... kalau jalan yang bener dhong!" teriak perempuan tomboy berkerudung biru muda yang hampir aku tabrak di belokan undakan ketiga karena aku berjalan sambil berimajinasi tanpa batas.
Akhirnya, setelah melewati angan-angan sejauh ribuan kilometer, aku sampai juga di Lantai 3. Setelah itu, seperti biasanya aku duduk di pinggir jendela di sisi timur. Karena terlihat pemandangan pohon-pohon menghijau di trotoar jalan, lalu lalang kendaraan dan orang-orang serta Supermarket Mirota Kampus dan Masjid Al Hasanah di Jalan Kaliurang Kilometer 0.
Kemudian aku mengeluarkan buku best seller The Art of Loving karya Erich Fromm, penulis asal Jerman dari tas merah hitam favoritku. Buku yang edisi terjemahannya diberi judul Seni Mencintai itu aku beli sebulan yang lalu di Toko Buku Gramedia, Jl. Jenderal Sudirman, Jogja bersama dengan buku Slilit Sang Kiai karya Cak Nun.
Kemudian tiba-tiba tanganku tergerak untuk menulis puisi tentang Dhea.
Tlah kudaki ke langit yang paling tinggi, tapi tiada yang secantik Dhea.
Tlah kuselami samudera yang paling dalam, tapi tiada yang seindah Dhea.
Tlah kusinggahi planet alam semesta yang paling jauh, tapi tiada yang sebaik Dhea.
Dhea, kau yang terindah.
Allôhu Akbar Allôhu Akbar!
Kumandang adzan Maghrib menghentikan anganku. Aku pun beranjak menuju Masjid Al Hasanah di seberang jalan Perpustakaan Kampus. Selama sholat Maghrib, wajah ayu Dhea selalu ada dalam pikiranku.
"Kau selalu ada. Dan selalu ada." senandungku menirukan suara Once yang melantunkan lagu Dealova dengan syahdu.
Sedianya dari Kampus aku sudah niat banget melanjutkan membaca buku Indonesia Menggugat karya Bung Karno di Perpustakaan Kampus. Tapi gara-gara ketemu Dhea, aku tidak bersemangat lagi untuk membaca halaman 19 dan seterusnya.
Dari Masjid Al Hasanah, aku memilih pulang ke Kost dengan berjalan kaki. Aku melewati Kopma, lalu Gelanggang Mahasiswa yang setiap malam Selasa dan Jum'at aku berlatih pencak silat Merpati Putih, terus ke utara melewati Purna Budaya dan University Centre, lalu GSP, Fakultas Pertanian, Lembah yang agak sepi tidak seperti biasanya.
Akhirnya, sampailah di Kost Klebengan tepat pukul 19.45