05.50
Arga membuka matanya karena paparan sinar mentari pagi yang menyapa lembu Pantai Parangtritis, selatan Jogja itu.
Sudah 19 menit pemilik nama lengkap Andika Rajasanagara Gama Androdewanata itu bersemedi menghadap Samudera Indonesia. Pemuda bertubuh kekar itu memang suka bersemedi di gumuk pasir yang tertinggi Pantai Paris.
Pasir-pasir di sini terdengar saling berbisik-bisik. Begitu kata orang Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.
Arga mengarahkan pandangannya ke pinggir pantai. Di sana tampak ada 3 balita dan 2 orang tua.
"Mereka sangat akrab dan kelihatan bergembira. Mungkin mereka itu satu keluarga," batin Arga sembari berdiri dengan perlahan, lalu menuruni gumuk pasir menuju pinggir pantai berpasir hitam itu.
"Om baik, ayuk kita main bola!" ajak si balita berambut pirang ketika Arga telah berada di dekatnya.
Arga tersenyum kepada si balita itu dan mengelus rambutnya dengan lembut.
Ia lalu berkata, "Ayuk, siapa takut?! Haha ...!"
"Ayolah om baik. Mau ya main bola bersama kami bertiga!" rayu si balita berambut hitam.
Arga kembali tersenyum. Ia lantas membopong si balita itu dengan penuh kasih sayang.
Ia pun berkata, "Main bola? Ayo aja! Haha ...!"
"Aku nggak mau main bola. Aku maunya main pasir. Bikin istana pasir yuk, om baik!" rayu si balita berkepala plontos.
Si balita paling kecil itu langsung berjongkok lalu bermain pasir dengan asyiknya.
Arga tersenyum melihatnya dan menghampirinya. Ia ikutan bermain pasir. Ia lalu berkata, "Adek ganteng. Kedua kakakmu itu ngajakin main bola. Hhmm ... kenapa kamu nggak mau?! Bolehkah om tau alasannya?"
Kedua balita itu pun ikutan bermain pasir bersama adiknya dan Arga.
"Kalau main bola, nanti bolanya terbawa ombak samudera, om baik. Tuh ombaknya kan gedhe dan tinggi!" jawab si balita terkecil yang kemudian berdiri. Jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah ombak Samudera Indonesia. Lalu kedua tangannya digerakkan melingkar-lingkar, menunjukkan besarnya ombak.
"Oh ya ya haha ... betul juga adek ini pintar ya!" puji Arga sembari tertawa.
Sementara itu, pada jarak sekira 7 langkah, ayah dan ibu mereka tersenyum bahagia melihat tingkah ketiga anaknya itu.
"Pemuda itu kayak Krishna ya, Pah. Penyabar dan pintar menghibur anak-anak!" kata si ibu dari ketiga balita itu tersenyum sembari memandangi suaminya.
"Iya, Mah. Pemuda itu ganteng juga disukai anak-anak kayak Krishna. Haha ...!" sahut si ayah dari ketiga balita itu sembari tertawa.
06.50
Arga mengantarkan ketiga anak itu kepada ayah dan ibunya. Ia membalas ucapan terima kasih dari orangtua dari bayi-bayi itu. Kemudian ia melihat mereka pergi meninggalkannya. Ia kini sendirian.
Arga melihat ada 3 kepiting kecil berada di dekatnya. Ia pun berlari mengejar kepiting yang memiliki badan paling besar. Yingking itulah sebutannya. Dengan zig zag ia terus mengejar kepiting yang berlari ke sana ke mari. Sampai akhirnya kepiting itu masuk lubang.