Para polisi sedang melakukan rapat, mereka berhasil menemukan identitas pelaku pengeboman kota ini.
Nakamura Kei... si N.K
Tapi, layar yang awalnya menunjukan wajah dari sang gadis, tiba-tiba berubah menjadi tulisan "Play me" dengan simbol segitiga persis dengan yang biasa kau tekan untuk memutar sebuah video.
Mereka mengikuti perintah itu, lalu video pun mulai diputar.
Pada awalnya hanya ada ruangan gelap, hingga akhirnya seseorang dengan topeng rubah muncul, topeng yang sama persis dengan yang digunakan oleh si Nakamura Kei.
"Kalian mendengar ku? Aku akan membantu kalian kali ini, di gedung tempat wali kota kalian tinggal, aku telah memasangkan bom disana, dan dalam waktu 20 menit, bom itu akan meledak, aku mengerti jika kalian tidak mempercayai ku, tapi... wali kota kalian akan mati kalau begitu, semoga beruntung"
Video berakhir, para polisi pun mulai mengeluarkan pendapat mereka, sedikit berdebat, karena ada yang percaya, dan ada juga yang tidak.
"Bagaimana ini Pak?" Tanya Ryan pada Elios.
Elios berpikir sejenak, waktu terus berjalan, ia harus cepat, nyawa wali kota dalam bahaya jika ia tidak segera bertindak, tapi bagaimana jika itu hanya jebakan? Tidak, mereka tidak bisa mengambil resiko untuk membiarkan wali kota kehilangan nyawa.
"Kita harus mempercayai itu, topeng yang digunakan orang yang ada di video itu, adalah topeng yang sama persis dengan milik Nakamura Kei, kita tidak bisa membiarkan wali kota dalam bahaya" ujar Elios.
Tidak ada lagi perdebatan, semuanya mendengarkan kata-kata sang kepala kepolisian.
"Kita semua akan kesana sekarang, Nakamura Kei juga pasti ada disana, kita harus menangkapnya, sekarang, ayo!" Perintah Elios.
Semua bubar, kembali menjadi tim A, B, C, D, E, dan F, mengendarai mobil dari masing-masing tim, segera menuju gedung wali kota.
Melihat para polisi yang sudah mengosongkan kantornya, dengan cepat Kei melakukan pekerjaannya, memasang bom ditempat yang sudah direncanakan, begitu bom terpasang dengan sempurna, Kei pun menyetel bom itu dengan waktu 5 menit sebelum bom itu meledak, waktu yang akan ia gunakan untuk kabur.
Tapi sepertinya, Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya kali ini.
Tepat di pintu tempat harusnya Kei kabur, salah satu anggota polisi berdiri disana, menatap Kei dengan wajah tak percaya.
"Ah, sial" gumam Kei.
"Jangan bergerak, kau tidak bisa kabur sekarang!" Polisi itu adalah Ryan, ia berniat untuk mengambil alat yang tertinggal, tapi siapa sangka justru yang ia dapatkan adalah buronan yang mereka kejar selama ini.
Kei perlahan berjalan kearah pintu, sungguh ia perlu kabur sekarang, 5 menit bukanlah waktu yang banyak.
"Kubilang jangan bergerak!" Seru Ryan yang kemudian mengunci pergerakan Kei.
"Dengar, kau harus segera keluar dari tempat ini jika kau masih ingin hidup" ujar Kei yang berusaha untuk tetap tenang.
"Lalu apa? Membiarkanmu kabur?" Kesal Ryan.
Kei berdecih, waktu terus berjalan, sial!! tinggal tersisa 1 menit lagi.
"Dasar keras kepala" umpat Kei.
Dengan cepat Kei membebaskan dirinya dari cengkraman Ryan, lalu menarik pemuda itu keluar kantor kepolisian, tepat dengan meledaknya kantor polisi.
"Tepat waktu" gumam Kei.
Tapi ia belum bisa lega sekarang, kini ia kembali terkepung oleh tim A.
"Itu jebakan, dia tidak akan meledakkan gedung wali kota, tapi meledakkan kantor kepolisian" ujar Rossa si polisi wanita pada telponnya, ia pasti menghubungi anggota polisi yang lain.
"Menyerahlah!" Suruh Joe.
"Kalian ingin kubuat pingsan lagi? Baiklah, dengan senang hati" balas Kei.
Saat perkelahian nya, tanpa sengaja Joe menarik wig yang Kei pakai, menampilkan rambut putihnya.
"Jadi begitu, kau menggunakan wig untuk penyamaran" gumam Elios.
Cukup dengan waktu 5 menit, tim A berhasil dilumpuhkan, dengan cepat, Kei kabur, sebelum polisi yang lain datang, dan menangkapnya.
"Bagaimana bisa kau ceroboh seperti itu?!?!?!" Tiba-tiba Kei mendengar suara Damian dari airpods yang ia gunakan.
"Aku tidak tahu jika akan jadi seperti ini!" Ujar Kei tak mau kalah.
"Sial! Jangan sampai tertangk-
Brughh
Seseorang berhasil membuat Kei tersungkur, membuatnya menjatuhkan airpodsnya.
"Berhentilah kabur!" Ujar Elios dingin.
Dengan sekali injak, airpods yang susah payah Damian buat untuknya hancur seketika.
"Dasar penjahat" sambung Elios.
Mendengar kata 'penjahat' itu membuat Kei tertawa sinis.
"Hahahaha, jadi aku penjahat nya? Hei Pak polisi, coba kau ingat-ingat, apa saja yang ku ledakan dengan bom? Apa aku membunuh seseorang?" Sinis Kei, yang kini sudah berdiri dihadapan Elios.
"Saat pabrik wine itu hancur, apa para karyawan yang selamat dipedulikan oleh wali kota yang kau lindungi itu? Saat restoran elit itu hancur, apa yang ia khawatirkan? Sekarang aku tanya padamu, siapa penjahat sebenarnya ?" Pertanyaan Kei sukses membuat Elios terdiam seribu bahasa.
"Kota yang awalnya aman, dan damai ini, seketika berubah menjadi mimpi buruk, kekacauan dimana-mana, apa dia peduli? Kau tahu siapa penjahat sebenarnya, kalian tahu, tapi kalian tidak bisa menangkapnya, kalian tidak bisa memenjarakannya, karena dia ada dibawah perlindungan kalian" sambung Kei dingin.
"Tolong pikirkan itu, Pak polisi" ujar Kei, yang kemudian menghilang dari hadapan Elios.
Meninggalkan Elios dengan seribu pertanyaan dalam kepalanya.
...siapa penjahat yang sebenarnya?...
"Kei?!" Panggil Damian begitu sosok sang gadis ada dalam pandangan.
"Woah, kenapa kau disini?" Tanya Kei bingung.
Bukannya menjawab pertanyaan Kei, Damian justru menjitak dahi Kei, membuat sang gadis meringis kesakitan.
"KAU MEMBUATKU KHAWATIR SETENGAH MATI BODOH!!!!" Kesal Damian.
"Iya iya maafkan aku karena sudah ceroboh seperti itu" balas Kei.
"Dasar kau ini" gerutu Damian.
"Disana! Itu dia!"
Suara polisi terdengar, membuat mereka harus segera melarikan diri darisana.
"Cepat! Lewat sini!" Damian menarik tangan Kei, membuat Kei sedikit kesulitan menyamakan langkah, ayolah, perbedaan tinggi, itu artinya perbedaan langkah kaki.
"Berhenti !"
"Sial! Kesini!" Damian panik, sungguh panik, membuatnya mengabaikan suara Kei yang dari tadi terus memanggilnya.
Hingga akhirnya, usaha melarikan diri mereka sia-sia, mereka berhasil dikepung.
"Menyerahlah sekarang juga, kalian sudah terkepung!" Seru Elios.
Mau tak mau, Kei, dan Damian pun mengangkat tangannya, berniat menyerah.
Tapi tiba-tiba suara sang wali kota terdengar, ia muncul entah dari mana, sambil membawa pistol.
"Kau!!! Jadi kau dalang dibalik semua ini?!?! Kenapa kau tidak mati saja seperti seluruh keluargamu?!?!" tanpa pikir panjang ia menarik pelatuk nya, meluncurkan timah panas itu tepat kearah Damian.
"Wali kota apa yang Anda lakukan?!" Seru Joe panik.
Bangggg
Semua orang terlihat begitu panik, Damian pun hanya pasrah saat tahu ia akan segera menyusul keluarganya.
Tapi....
Timah panas itu tidak pernah mengenai Damian.
Seseorang melindunginya, menggunakan tubuhnya sebagai perisai, dan merelakan dirinya untuk tertembak, dan orang itu adalah Kei.
"Kei...
Tubuh mungil itu terjatuh, peluru bersarang dibagian vitalnya, darah mengalir tanpa henti, menciptakan pemandangan mengerikan bagi orang disana.
Damian jatuh terduduk, direngkuh nya tubuh gadis yang selama ini menjadi rekannya, ia tak bisa mengatakan apapun lagi, suaranya tertahan, ia dilahap ketakutan terbesarnya, 'kehilangan'.
"Kalian!!!! Jangan diam saja! Cepat panggil ambulance!!!!" Sungguh, Damian benar-benar takut sekarang.
Mengerti situasi, Ryan pun segera menelpon ambulance.
"Pak apa yang Anda lakukan?! Anda tidak bisa melakukan hal seperti itu!" Seru Rossa.
"Aku wali kota, kalian berada dibawah kendali ku, kalian tidak bisa mengatakan mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh padaku!" Balas Gerald.
"Tapi Anda susah keterlaluan Pak!!!" Kesal Ryan.
"Diam! biarkan aku membunuh baj*ngan itu!" Ia belum puas, ia harus membunuh anak dari Antonio Redmond.
"Kau...setelah membunuh keluargaku, lalu sekarang kau ingin membunuhku? Apa lagi yang kau harapkan? Kau sudah mendapatkannya, kekuasaan, harta, apa lagi yang kau inginkan?" Ujar Damian dingin.
Semua yang ada disana terkejut, sebenarnya, siapa pria dibalik topeng itu?
"K*parat!!!"
Sebelum Gerald sempat menembakkan pelurunya ke arah Damian, seseorang tiba-tiba datang.
"Tangkap dia!"
Semua menoleh ke sumber suara, dan mendapatkan sosok Theo, sang pemuda yang berkerja dibawah perintah keluarga Redmond.
"Apa maksudmu? Aku wali kota! Mereka tidak bisa menahanku!!!" Kesal Gerald.
"Maaf atas keterlambatan saya, tapi selama ini saya menyelidiki segala hal tentang tuan Gerald Bruice atas perintah tuan Damian Redmond, dan sekarang saya punya surat penangkapan untuk Anda tuan Gerald, Anda adalah pelaku dari pembunuhan terhadap keluarga Redmond, Anda juga terlibat kasus penyuapan, korupsi, dan beberapa hal ilegal, jadi Anda pantas untuk dipenjara" jelas Theo.
Semua terdiam, tak percaya dengan segala fakta yang ada, jadi orang yang bersama Nakamura Kei adalah, Damian Redmond, anak dari wali kota terdahulu yang sangat mereka cintai.
"Tunggu apa lagi? Tangkap dia!" Sambung Theo.
Dengan begitu, Gerald Bruice pun di tahan.
Tapi hal itu tidak membuat Damian lega, rencana balas dendamnya sudah berhasil, ia berhasil memenjarakan pembunuh dari keluarganya, tapi...gadis yang kini ada dalam pangkuannya, masih belum membuka matanya.
"Kei... bangun!!! Kenapa kau tidur sekarang?!?! Misi kita sudah selesai, kau berhasil Kei, kau berhasil, jadi tolong bangun, sial ! Kenapa ambulance nya lama sekali?!?!" ratapan penuh dengan harapan itu terdengar, begitu menyakitkan hati.
Seolah ikut merasakan apa yang Damian rasakan, sang langit pun ingin menangis, membasahi mereka yang ada disana.
"Maafkan aku...hikss...maaf... harusnya aku tidak perlu melakukan segala rencana balas dendam ini...hikss...hidupku sudah menjadi lebih baik karena kehadiranmu...hiks... jadi tolong bangunlah, aku mohon...hikss..."
Sang hawa, tolong dengarlah permintaan sang Adam, tolong dengar tangisannya.
Para polisi hanya bisa melihat pemandangan menyedihkan dihadapan mereka, tak ada yang bisa membantu, bahkan Theo hanya bisa melihat tuannya yang kini begitu hancur karena kehilangan gadisnya.
Elios pun terlihat begitu terluka saat melihat gadis yang menarik perhatiannya kini terbaring tak sadarkan diri, mata jernih itu, tidak akan bisa ia lihat lagi.
"Kei...bangun kumohon...hikss...
"Kau...sangat berisik, luka ku...jadi terasa lebih sakit..." suara itu, suara yang begitu ingin Damian dengar.
Damian segera melepaskan topeng yang ia pakai, begitu juga dengan topeng yang Kei pakai, menunjukan wajah Kei yang tersenyum sambil menahan rasa sakit.
"Kenapa kau menangis bodoh, yang akan mati kan aku, bukan kau" ujar Kei.
Tak ada jawaban dari sang Adam, hanya ada tangisan, Ahh... Kei mengerti sekarang, kondisinya pasti benar-benar parah sekarang.
"Hei, dengarkan aku, kau tenang saja, walaupun aku bilang aku akan menghantuimu jika kau belum membayarku, aku hanya bercanda kok, aku tidak akan menghantuimu, lagi pula aku tidak bisa menggunakan uang jika aku sudah mati kan? Jadi jangan takut" suara lembut Kei mengalun, membuat semua ikut merasakan kesedihan yang Damian rasakan.
"Iya..." balas Damian.
"Dendammu sudah terbalaskan sekarang, rencanamu berjalan lancar, walau ada hal yang tidak terduga sih...tapi, kau tetap berhasil, jadi kau harus...hidup normal mulai sekarang, berhentilah mem...buat bom" ujar Kei, dari suaranya semua orang bisa tahu kalau gadis itu tengah menahan rasa sakitnya.
"...Iya..." balas Damian lagi, air mata tak bisa berhenti mengalir, ia tidak ingin kehilangan gadis ini.
"Hahhhh....apa aku sudah melakukan... yang terbaik? Apa perkerjaanku, sekarang sudah...selesai?" Tanya Kei.
"Iya...kau sudah melakukan yang terbaik, terima kasih, good job Kei, misi mu...sudah selesai..." jawab Damian sambil berusaha menunjukan senyumnya pada Kei.
Kei ikut tersenyum
"Baguslah...
Dan itu adalah suara terakhirnya, sebelum ia menutup matanya lagi, dengan cepat Damian mengangkat tubuh Kei, menggendongnya dibelakang punggungnya, piggy back ride orang bilang.
"Persetanan dengan ambulance! Aku akan membawanya kerumah sakit sekara-
Damian tidak melanjutkan kata-katanya, ia justru memberikan tatapan penuh rasa sakit pada para polisi, dan mereka tahu apa maksud tatapan Damian.
"Aku...tidak bisa merasakan detak jantungnya..." lirih Damian.
Sore itu, dibawah derasnya hujan, sosok hawa telah menghembuskan nafas terakhirnya, dalam rengkuhan sang Adam ia menutup matanya dalam damai.
.
.
.
-3 tahun kemudian-
"Lain kali aku akan berkunjung lagi Kei" ujar Damian sambil mengelus nisan sang hawa.
Puas berbincang dengan sang hawa, akhirnya Damian pun memutuskan untuk pulang.
Tapi siapa sangka, kalau ia kini berpapasan dengan sang kepala kepolisian.
"Aku tidak menyangka kalau si kepala kepolisian Elios Blaise, jatuh hati pada seorang kriminal" ledek Damian.
Elios hanya tersenyum sambil memperhatikan sebucket bunga yang ia bawa.
"Dia bukan kriminal... dia hanya gadis yang mengharapkan kedamaian" ujar Elios.
Damian menatap langit, cuaca hari ini sungguh cerah, wajah tersenyum sang hawa kembali hadir dalam pikirannya.
"Ya...kau benar"
...Fiuhhh selesai juga cerita ini.
Gak nyangka kalau bakalan sepanjang ini.
Makanya aku bikin jadi beberapa part deh..,.