Berselang waktu 2 minggu, lagi-lagi pengeboman terjadi, kali ini restoran elit yang dibangun oleh si wali kota Geraldlah yang harus berakhir rata dengan tanah, dan seperti sebelumnya, tidak ada yang terluka.
Dan kali ini, sang pelaku berada dalam kejaran kepolisian, pelaku tengah berusaha kabur dari segala polisi yang mengejarnya.
Polisi memilih untuk berpencar, berpikir untuk mengiring sang pelaku agar bisa memojokkannya.
Dan kini, tim A yang berada dibawah pimpinan sang kepala kepolisian langsung lah yang tengah berada tepat di belakang sang pelaku.
Mungkin salah memilih belokan, bukannya menemukan jalan kabur yang bagus, si pelaku malah menemukan jalan buntu, membuat dirinya harus berhadapan dengan 4 polisi.
"Menyerahlah! Kau tidak bisa kabur sekarang!"
Sang pelaku hanya diam, tak menunjukan ekspresi sedikitpun, wajahnya tertutup oleh topeng rubah, ia benar-benar terlihat tenang.
Tapi... ketika salah satu polisi itu mendekat, ia langsung menggenggam tangan sang polisi, dan membanting tubuhnya ke tanah, membuat 3 polisi lain kaget setengah mati, karena yang baru saja dibanting adalah anggota yang memiliki tubuh paling besar, dan ia berhasil dibanting oleh orang yang tubuhnya benar-benar terlihat mungil.
"Joe!" Seru satu-satunya polisi wanita di kelompok itu.
Dan semua terjadi begitu cepat, sang pelaku menjatuhkan keempat polisi itu, awalnya mereka tidak mengira hal itu, tapi karena perkelahian mereka, hoodie yang menutupi rambut pelaku itu terlihat, menampilkan rambut putih panjang yang terkuncir, hal itu cukup untuk membuat mereka tahu, kalau pelaku pengeboman ini, adalah seorang wanita.
Setelah berhasil membuat polisi-polisi itu tak sadarkan diri, si pelaku itupun berniat kabur.
Tapi, belum sempat si pelaku keluar dari gang yang menuntunnya pada jalan buntu itu, tiba-tiba seseorang berhasil meraih tangannya, kemudian membuat sang pelaku terjatuh dengan posisi terlentang.
"Kau...tidak akan bisa kabur semudah itu..." ujar sang kepala kepolisian yang masih menahan sakit akibat pukulan si penjahat.
Posisi mereka kini, si pelaku berada di bawah Elios yang tengah menahan kedua tangannya.
"Ternyata kepala kepolisian bisa seagresif ini ya~" sinis si pelaku yang tengah tersenyum miring dibalik topengnya rubah nya.
Dengan kesal, Elios menarik topeng yang menutupi wajah pelaku itu, menunjukan wajah yang benar-benar familiar diingatkannya, mata merah itu, dan bibir peach itu, tidak salah lagi dia adalah gadis yang selama ini ada di pikirannya, tapi kenapa rambutnya putih?
"Kau..."
"Jangan lengah pak polisi" bisik si pelaku.
Selesai mengatakan itu, si pelaku langsung membalik keadaan, kini ia yang berada diatas Elios.
"Maaf...tapi saya harus kabur, dan saya butuh topeng saya"
Dengan cepat si pelaku merebut kembali topengnya, melepaskan diri dari Elios, dan kembali melarikan diri.
Meninggalkan Elios yang masih bingung dengan segala kejadian yang baru saja ia hadapi.
"Apa gadis itu, adalah gadis yang sama dengan yang pernah aku temui?" Batin Elios.
Tak lama kemudian, anggota kepolisian yang lain tiba di lokasi mereka, dengan cepat memberikan bantuan pada mereka yang terluka, dan yang tak sadarkan diri, lalu kembali ke kantor kepolisian untuk membahas kejadian ini.
Selesai rapat, mereka bubar, dan melakukan kegiatan masing-masing, segala informasi tentang pelaku telah mereka catat dengan baik.
Kini, Elios tengah mendudukkan dirinya dibangku yang ada di keluar kantor polisi, sedikit kesal dengan dirinya yang bisa dikalahkan oleh seorang wanita yang memiliki tubuh yang lebih mungil dari dirinya, Elios yakin tinggi wanita itu bahkan tidak mencapai 160 cm, sedangkan dirinya 185 cm, dan ia dikalahkan?
"Pak? Ada apa? Sepertinya Anda terlihat sedikit stres?" Tanya salah satu dari anggota tim A tadi, si pemuda dengan wajah manis.
Awalnya Elios hanya diam, bahkan tidak melirik ke arah pemuda itu sama sekali, lalu kemudian ia menghela nafasnya kasar, dan mengusap wajahnya.
"Ryan, sepertinya aku sedang patah hati" ujar Elios.
.
.
.
Disisi lain, disisi kota yang jarang dikunjungi oleh orang-orang, sebuah rumah sederhana berdiri ditengah hutan lebat.
Si pelaku tadi memasuki rumah itu, di dalamnya sungguh gelap, tak ada sedikitpun cahaya, tapi begitu ia memasuki ruangan tempat ia biasa berbincang dengan rekannya, cahaya biru menghiasi ruangan itu, ruangan yang penuh dengan berbagai macam teknologi, berbagai macam alat, ruangan yang digunakan oleh rekan si pelaku untuk merakit senjata andalan mereka.
"Kau kembali, dimana topengmu?" Tanya si pria dengan rambut hitam legam, dan netra abu-abu.
"Polisi menarik paksa topengku, dan membuat talinya putus" jawab si pelaku, sang gadis dengan netra merah.
"Jadi mereka melihat wajahmu?" Tanya pria itu lagi.
"Iya, kurasa hanya tinggal menunggu hingga akhirnya mereka berhasil menangkapku, dan aku akan mati" jawab si gadis sambil melepaskan hoodienya.
"Kau santai sekali saat tahu kematianmu ada di depan mata" si pria hanya tertawa hambar.
"Lalu aku harus apa? Berteriak histeris sambil memohon agar umurku diperpanjang?" Tanya gadis itu.
"Jangan mati, misimu masih belum selesai" ujar si pria tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari mulut sang gadis.
"Ahh iya, kau belum membayarku, jika aku mati sebelum kau membayarku, kupastikan aku akan menghatuimu" kekeh sang gadis.
Keduanya terdiam, sang pria fokus dengan bom rakitannya, berhati-hati agar tak membuat kesalahan, dengan teliti memasang setiap bagian, agar bisa menghasilkan bom yang sempurna.
Sedangkan sang gadis hanya duduk diam memperhatikan rekannya, dalam hati bertanya, kapan misinya akan selesai.
3 jam berlalu, dan akhirnya bom tersebut telah selesai dirakit.
"Ganti rencana, target mu kali ini adalah kantor polisi" ujar si pria.
"Hmm? Bukannya kau bilang aku harus meledakkan gedung tempat tinggal Wali kota?" Tanya sang gadis yang sedikit bingung dengan perubahan rencana.
"Lakukan itu setelah kau selesai dengan kantor polisi, aku yakin mereka sedang mencari informasi tentangmu sekarang, kau ceroboh sekali, membiarkan polisi melihat wajahmu" jawab si pria dengan ekspresi datar.
"Yaaa, mau bagaimana lagi? Aku wanita disini tapi aku lah yang mengambil bagian berbahayanya, sedangkan kau, duduk manis disini" sinis sang gadis.
"Dan kau pikir merakit bom itu tidak berbahaya? Kau tahu aku bisa saja mati kapanpun dihadapan bom yang sedang aku rakit bukan?" Balas si pria yang tidak terima jika dia dianggap hanya duduk manis dirumah ini.
"Lalu apa? Memasang bom, memastikan tidak ada korban jiwa, bahkan luka sedikitpun, kabur dari tempat kejadian, dan lari dari polisi, kau mau bilang kalau itu tidak berbahaya?" Merekapun memulai argumen kecil, membandingkan siapa yang bekerja dalam situasi yang paling berbahaya.
Merasa perdebatan ini tidak akan ada akhirnya, si pria pun memutuskan untuk mengalah.
"Baiklah, kita berdua melakukan perkerjaan yang berbahaya, tidak ada yang aman disini, jadi berhenti berdebat" ujar si pria.
Sang gadis memilih untuk tetap diam.
"Istirahatlah, kau tahu apa tugasmu besok" suruh si pria sambil merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu.
Sang gadis hanya menurut, sepertinya misi yang akan ia hadapi besok akan sedikit lebih sulit.
-Besoknya
"Ambil ini, aku membuat alat ini agar kita bisa berkomunikasi, jadi kau bisa mendengar perintahku meski jarak kita lumayan jauh" ujar si pria sambil memberikan alat semacam airpods pada sang gadis.
"Oke, aku mengerti, ah kali ini aku pakai wig hitam ini saja agar mereka bingung dengan warna rambutku" balas sang gadis sambil memakai wig dengan rambut hitam legam seperti saat ia pertama kali bertemu dengan si kepala kepolisian.
"Aku sudah memperbaiki topengmu, jangan sampai rusak lagi" ujar si pria.
"Ya aku mengerti" balas sang gadis.
Selesai memakai wignya, dan menguncirnya agar tidak mengganggu pekerjaannya, ia memakai airpods buatan rekannya itu, mengenakan topengnya, lalu mengenakan hoodienya.
"Aku akan membantumu kali ini, aku akan mengecoh para polisi, membuat mereka mengosongkan kantor mereka,....kali ini, tolong Hati-hati...Kei" ujar sang pria.
Sang gadis yang dipanggil Kei itu awalnya terdiam, kemudian tersenyum tipis dibalik topengnya.
"Baik, tuan Damian Redmond" balas Kei, lalu pergi untuk memulai misinya.