Mari kita mulai cerita ini dengan pembukaan klasik.
Di sebuah kota impian, wali kota yang dicintai, dan rakyat yang hidup bahagia.
Kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan, hal itu sangat dijaga oleh sang wali kota, tak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya untuk membuat rakyatnya sengsara.
"Jika rakyat saya tidak bahagia, bagaimana saya bisa bahagia?"
Itulah kata-kata yang selalu ia ucapkan.
...Benar-benar kota impian...
Tapi...
Semua terjadi begitu cepat...
Keadaan berbalik, dari kota impian, menjadi sebuah mimpi buruk terbesar.
Sang wali kota telah berganti, bukan karena masa jabatan yang telah habis, tapi karena insiden mengerikan yang membuat siapapun merinding ketika mendengarnya.
Sang wali kota tercinta ditemukan tak bernyawa, beserta seluruh keluarga besarnya, tak ada yang tersisa, sang istri, anak, benar-benar tak ada satu pun yang tersisa, garis keturunan Redmond kini telah lenyap.
Antonio Redmond sang wali kota yang dicintai, kini telah digantikan oleh Gerald Bruice.
Dalam sekejap, kota impian itu berubah menjadi mimpi buruk dibawah pimpinannya.
Tak ada lagi kesejahteraan rakyat, tak ada lagi kedamaian, hanya ada huru hara, serta kekacauan yang meneror kota, dan tak ada lagi keadilan, semua lenyap...
Rakyat yang awalnya hidup berdampingan, kini terpecah menjadi 3 golongan.
Golongan orang-orang yang mendukung kejayaan sang Gerald Bruice, atau yang mereka sebut "golongan emas"
Golongan orang-orang yang menentang pemerintahan sang wali kota baru, orang-orang yang dicap sebagai pemberontak
"Golongan merah"
Dan terakhir, mereka yang bersikap netral, tak mendukung, dan tak pula menentang, hanya ada rakyat yang mengharapkan kembalinya kota impian
"Golongan putih"
Pertikaian selalu terjadi, meninggalkan kerusakan, dan juga luka.
Tapi, dimana sang wali kota?
Sang rakyat kini sengsara, kota ini dilanda banyak masalah, kekacauan dimana-dimana, lalu kemana perginya sang wali kota?
Jangan khawatir, ia ada disini, duduk di tahta empuknya, menikmati segelas anggur mahal, dan sepiring buah-buatan segar, menghiraukan tumpukan dokumen yang harusnya ia selesaikan, berlindung dalam istana berpagar kokoh, ia aman disini.
"Hari yang sungguh damai~" ujarnya.
Pak, rakyatmu menderita, tolong dengarkan jeritan rakyatmu, mereka membutuhkanmu, kenapa kau menutup mata, dan telingamu? Kenapa tak kau lihat, dan dengarkan permohonan mereka?
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka, menampilan seorang pria dengan seragam, dan atribut yang melengkapi penampilannya, menggenggam sebuah dokumen berisi laporan.
"Tuan Blaise! Dimana sopan santun mu?! Masuk keruanganku tanpa mengetuk pintu, dan tanpa seizinku, benar-benar bukan sikap yang pantas untuk seorang kepala kepolisian" sinis Gerald.
"Maaf atas ketidak sopanan saya Pak, tapi ini benar-benar darurat" ujar sang kepala kepolisian sambil membungkukkan tubuhnya, memohon maaf pada sang wali kota yang arogan.
"Apa hal yang sangat darurat itu hingga kau lupa menggunakan etika?" Tanya Gerald.
"Pabrik wine milikmu, telah hancur" jawab Elios Blaise, sang pria berusia 26 tahun yang menyandang gelar kepala kepolisian.
"APA?!?! Apa maksudmu pabrik itu hancur?!?!" Kaget Gerald tak percaya.
...ahhh, bukan itu yang harusnya kau khawatirkan, tuan wali kota~
"Pabrik wine mu hancur, seseorang telah memasang bom, dan meledakannya, membuat bangunan itu kini rata dengan tanah, tapi untungnya tak ada korban jiwa, bahkan seluruh orang yang ada dipabrik itu tidak ada yang terluka" jelas Elios.
"Bagaimana mungkin? Pabrik ku hancur berkeping-keping, tapi orang-orang bisa selamat?" Tanya Gerald tak percaya.
"Menurut laporan yang kami terima, sebelum ledakan, mereka mendengar seseorang yang mengumumkan sesuatu pada mereka, pemumuman itu berkata kalau mereka boleh istirahat, dan meninggalkan pabrik saat itu juga, dan tanpa ada rasa curiga mereka menurut, begitu mereka berada di parkiran, ledakan itupun terjadi" jelas Elios panjang lebar.
"Jarak parkiran, dan pabrik memang cukup jauh..." gumam Gerald.
"Benar Pak, karena jarak yang cukup jauh itu, mereka bisa selamat dari ledakan mengerikan itu, dan begitu kami tiba disana, yang kami temukan hanya runtuhan bangunan, dan sebuah tulisan" sambung Elios.
"Apa isi tulisan itu?" Tanya Gerald.
"Ditulis dengan cat merah, berisi 'ini yang pertama p.s N.K' begitulah Pak" jawab Elios.
"N.K pasti itu inisial pelakunya, dia ingin main-main denganku rupanya" kesal Gerald.
"Kami sedang menyeledikinya" ujar Elios.
Gerald menggepalkan kedua tangannya, menggertakan giginya, ia benar-benar murka saat ini.
"Tangkap pelakunya secepat mungkin, bawa dia padaku, aku yang akan memberinya pelajaran! Pergi, dan Lakukan tugasmu, sekarang!" Suruh Gerald.
Tanpa pikir panjang, Elios menuruti perkataan Gerald, meninggalkan ruangan itu, meninggalkan istana yang selama ini selalu melindungi sang wali kota.
"Huffttt...aparat pemerintahan, dan kepolisian tidak boleh mengikuti golongan manapun, karena tugasnya adalah melindungi kota, dan juga wali kota" gumam Elios sambil menatap kosong jalan yang ada didepannya.
"Andai aku bisa bergabung ke dalam golong merah...
.
.
.
Mari kita beralih kesisi lain kita ini, mari kita menikmati indahnya taman kota yang telah dibangun oleh sang wali kota, lebih tepatnya patung Gerald Bruice yang ada di pusat taman, taman ini murni ciptaan wali kota terdahulu, dan Gerald hanya menambahkan patung dirinya di taman ini.
"Urgghh...aku muak melihat wajah orang ini"
"Hancurkan saja, patung ini hanya merusak keindahan taman buatan pak Redmond saja"
"Itu benar, aku muak melihat patung ini"
Ahh, kita bertemu golongan merah, golongan yang kebanyakan diisi oleh rakyat kelas menengah.
"Hentikan apapun yang akan kalian lakukan!"
"Dari pada menghancurkan fasilitas kota, lebih baik kalian bekerja, perbanyak uang"
"Lakukan hal yang lebih berguna, dari pada sibuk mencaci Pemerintah"
Dan mereka adalah golongan emas, golongan yang diisi oleh orang-orang dengan kasta tinggi, mereka yang berada di kelas menengah ke atas.
"Ehhh...apa? Kami tidak mengganggu kalian bukan? Kalian ingin berkelahi? Baiklah, dengan senang hati kalau begitu...
Perkelahian akhirnya terjadi, hal yang benar-benar tak lagi asing di kota ini.
Tiba-tiba salah satu dari mereka melemparkan batu, tapi meleset, dan batu itu justru menuju kearah seorang nenek yang tak tahu apa-apa.
"NENEK AWAS!!!!"
Semua panik, tak sanggup melihat nenek yang sebentar lagi akan terluka akibat perkelahian mereka.
Tapi, seseorang datang, menghalangi batu yang akan mengenai nenek itu, orang itu menangkap batu itu, lalu menatap datar orang-orang yang tengah berkelahi, tatapan dingin yang begitu menusuk bagi siapa saja yang melihatnya.
"Hentikan perkelahian kalian, itu berbahaya" ujarnya dingin.
Mereka memilih untuk bubar, tak ingin lagi melanjutkan perkelahian mereka.
"Ahh~ kau baik sekali nona muda, terima kasih ya" ujar nenek itu sambil tersenyum.
"Sama-sama, lain kali tolong hati-hati" balas gadis itu.
"Kalau begitu, saya permisi, saya harus pulang, anak saya pasti mengkhawatirkan saya"
Sang gadis hanya tersenyum, berniat menawarkan diri untuk mengantar yang nenek sampai kerumah, tapi ditolak karena sang nenek yang tak ingin merepotkan.
Begitu sang nenek tak lagi dalam jangkauan pandang, gadis itu pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Sibuk memperhatikan sekitar, membuatnya tak sengaja menabrak seseorang.
"Ah, maaf saya tidak sengaja, saya tidak memperhatikan jalan" ujar gadis itu.
"Saya juga minta maaf, saya sedikit melamun tadi" balas sang pria yang tak sengaja gadis itu tabrak.
Netra mereka bertemu, menimbulkan perasaan aneh menggelitik perut pada si pria, netra jernih, indah berwarna merah itu, si pria hanyut dalam keindahan mata itu.
"Kalau begitu saya permisi" ujar sang gadis, lalu pergi.
Meninggalkan si pria yang masih terdiam, hanyut dalam pikirannya.
"Pak Elios!" Hingga akhirnya suara panggilan membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" Tanya si pria yang ternyata adalah si kepala kepolisian.
"Saya disuruh untuk menjemput Anda, yang lain membutuhkan Anda di kantor" jawab sang pemuda dengan wajah yang cukup manis untuk ukuran laki-laki.
"Baiklah"
Elios menaiki mobil jemputannya itu, membiarkan bawahannya mengemudi.
"Aku lupa menanyakan namanya" batin Elios yang kembali hanyut dalam pikirannya.
Gadis itu, benar-benar menarik perhatiannya, mata jernih berwarna merah, rambut hitam legam panjang yang dibiarkan terurai, tubuh mungil itu, kulit putih halus bak porselen, ekspresi yang datar namun terlihat manis, lalu bibir peach yang terlihat halus dan lembut itu...
"Sial! Kenapa aku malah memikirkan itu?!?!" Batin Elios yang merasa tidak sopan karena memikirkan seorang gadis seperti itu.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu Pak?" Tanya sang pemuda manis.
Elios hanya diam, sambil mengalihkan pandangannya ke jendela, menutupi wajahnya yang mungkin kini memerah karena malu dengan salah satu telapak tangannya.
"Tidak, aku baik-baik saja, hiraukan saja aku" jawab Elios.
Nampaknya, kepala kepolisian kita tengah dilanda asmara..