Sang naga yang sedang membawa putri tersebut ahkirnya berhenti disebuah kastil tua yang bernuansa Eropa, dan terlihat menyeramkan. sang naga tersebut menurunkan sang putri itu di depan gerbang kastil tersebut, lalu meninggalkan putri tersebut begitu saja.
Nama Putri tersebut adalah Obelia. Obelia adalah putri tunggal dari sebuah kekaisaran yang letaknya lumayan jauh dari kastil tersebut. Obelia kini berumur 10 tahun.
Obelia memasuki kastil tua tersebut secara perlahan. Ketika ia ingin membuka gerbangnya, gerbangnya sudah terbuka dengan sendirinya. Obelia yang melihatnya langsung mundur beberapa langkah dari gerbang itu.
Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup, ahkirnya Obelia berjalan memasuki kastil tersebut. Tak diduga bahwa isi kastil tersebut sangatlah megah, dindingnya dilapisi emas, dan hampir semua yang ada di dalam kastil tersebut terbuat dari emas.
Obelia hanya terkagum-kagum melihatnya. Ia kira isi kastilnya adalah kelelawar dan juga berlumut, namun itu berbeda jauh dari bayangannya. Saat Obelia sedang melihat-lihat isi kastil tersebut tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekatinya.
Tak... Tak... Tak...
Obelia yang mendengar suara itu pun lantas membalikan badannya menghadap ke sumber suara. Seorang pria gagah, berbaju ala pangeran sedang berjalan menuju arah Obelia.
Lama kelamaan wajah pria tersebut mulai terlihat jelas.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya pria itu.
"A... Anu Om, Lia tadi dibawa kesini sama naga, Lia t.. takut" Obelia berkata demikian sambil gemetaran.
Tak di sangka, karena ketakutan Lia yang sangat mendalam, Obelia pun langsung memeluk pria tersebut untuk meminta perlindungan.
Pria tersebut pun hanya tersenyum tipis melihat Obelia yang sedang memeluknya. Sungguh tidak terduga, bahwa pria tersebut membelai lembut rambut Obelia.
Obelia mendongak ke atas dan melihat wajah pria tersebut dan menanyakan namanya.
"N.. nama om s.. siapa?" Obelia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada pria tersebut.
"Claude" Ucap pria itu dengan nada dingin.
"Em.. Claude ternyata" Ucap Obelia pelan namun masih bisa didengar.
Claude pun menggenggam tangan Obelia, dan membawanya menuju kamar yang bernuansa pink. Claude menggendong Obelia, dan meletakkannya perlahan di tempat tidurnya. Ia mengusap kepala Obelia lembut, seakan-akan bahwa Claude berperan menjadi ayahnya.
Obelia yang diusap kepalanya pun merasa nyaman sehingga ia pun tertidur pulas. Claude yang melihatnya tertidur lantas mengecup lembut keningnya dan keluar dari kamar itu meninggalkan Obelia menuju ruang santai miliknya.
Malam harinya. Hujan petir menyelimuti daerah kastil tersebut. Pencahayaan dalam kastil hanya menggunakan lilin saja, sehingga beberapa tempat dalam kastil terlihat sangat gelap.
Karena hujan dan suara petir yang mengelilingi kastil tersebut, ahkirnya Obelia pun terbangun dari tidurnya. Di dalam kamar Obelia hanya ada 1 buah lilin saja, yang membuat bagian ujung kamar tersebut tampak menyeramkan.
Obelia berusaha turun dari kasur dan membawa lilin tersebut untuk keluar dan mencari Claude. Suasana luar kamar Obelia tampak gelap. Obelia menguatkan tekadnya dan berjalan menyusuri lorong yang gelap hanya dengan membawa sebuah lilin yang sudah hampir habis.
Setelah beberapa kali mengitari kastil tersebut, Obelia ahkirnya dapat menemukan Claude yang sedang membaca buku di dalam ruang santainya. Obelia langsung meniup lilin yang ia bawa dan berlari menuju Claude untuk memeluknya.
"J..Jangan tinggalin Lia sendiri" Obelia memeluk tubuh Claude erat-erat.
Claude terkejut ketika Obelia tiba-tiba memeluknya. Entah ada alasan apa yang membuat Claude memeluk balik badan mungil Obelia dan menenangkannya. Claude menggendong Obelia dan mendudukkannya di pangkuannya.
Obelia pun menyender di dada lebar Claude, dan menganggapnya sebagai bantal untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Obelia tertidur, Claude tetap mengelus elus rambut coklat muda Obelia sembari membaca sebuah buku yang berada di tangan yang satunya.
Pagi hari pun tiba.....
Obelia membuka matanya perlahan. Ia mendapati bahwa semalaman ia tertidur di dada Claude. Obelia mendongakkan kepalanya, ia melihat wajah tampan Claude yang sedang tertidur memeluk dirinya. Obelia menoel-noel pipi Claude.
Claude pun terbangun akibat perbuatan Obelia tersebut.
"Lia laper..." Obelia yang belum tau bahwa Claude sudah terbangun pun hanya bisa menahan rasa laparnya.
Tiba-tiba....
"Laper ya?" Claude berbicara, dan itu membuat Obelia terkejut.
"Om ngaggetin ish, untung jantungnya Lia engga copot" Mengusap dadanya sendiri.
Claude hanya terkekeh melihat kelakuan Obelia yang sangat menggemaskan. Tanpa berlama-lama Claude langsung menggendong Obelia dan membawanya kedapur. Ia mendudukkan Obelia di meja dapur. Claude langsung mengambil sayur-sayuran dan beberapa daging, dan mulai memasak. Obelia hanya bisa diam menunggu Claude selesai memasak.
Harum makanan yang dibuat oleh Claude menyebar ke seluruh kastil. Sedari tadi Obelia terus menatap wajah Claude.
Obelia terus menatap wajah Claude, sampai tak sadar bahwa makanannya sudah siap. Claude menepuk pelan pundak Obelia. Ahkirnya Obelia pun tersadar, dan muka nya memerah ketika ia sadar bahwa ia sedari tadi memperhatikan wajah Claude.
Tidak terasa waktu sudah berjalan sangat cepat......
Kini usia Obelia sudah menginjak umur 18 tahun, yang artinya ia dan Claude sudah tinggal bersama selama 8 tahun. Dan selama itu, Obelia sudah mengetahui bahwa Claude adalah seorang naga yang menculiknya waktu itu untuk dibawa kesini. Sudah beberapa kali Obelia memohon kepada Claude untuk mengantarkannya pulang ke asalnya. Namun Claude yang sudah mencintai Obelia tak ingin Obelia meninggalkannya. Dan Claude menjanjikan bahwa ketika umurnya sudah 18 tahun, Claude akan mengantarnya pulang.
Obelia berlari mencari Claude untuk menagih janjinya. Namun ternyata Claude tidak ada di kastil saat itu. Obelia langsung berlari kembali menuju ruang pelayan. Ia meminta salah satu pelayan yang sangat baik kepadanya untuk mengantarkan Obelia pulang. Awalnya pelayan tersebut menolak keinginan Obelia. Namun karena sifat Obelia yang semua keinginannya harus dipenuhi, akhirnya pelayan tersebut mengiyakan keinginan Obelia untuk mengantarnya pulang.
Karena Claude sedang tidak ada di kastil, Pelayan tersebut dan Obelia pun diam-diam kabur dari sana.
Setelah 2 hari perjalanan. Ahkirnya Obelia sampai di pusat ibukota kekaisaran. Obelia sangat bahagia karena ia berhasil kembali lagi ke tempat asalnya. Tak ingin menunggu waktu lama, Obelia langsung menuju ke kerajaan tempat dulu ia dilahirkan. Obelia di antar oleh para ksatria penjaga istana untuk menemui sang kaisar ayah dari Obelia.
"A..ayah"
Mendengar ucapan itu, membuat Michael sang kaisar sekaligus ayah dari Obelia itu memutar balikkan tubuhnya dan menghadap ke sumber suara. Seketika pipi Obelia basah akibat air matanya. Obelia langsung berlari menuju Michael dan memeluknya. Perasaan yang selama ini Michael rindukan kini sudah kembali. Kedua ayah dan anak itupun saling menyalurkan kerinduannya satu sama lain.
Kepulangan Obelia ke kerajaan tersebut diberitakan besar-besaran. Seluruh rakyat menyambut kepulangan Obelia. Beberapa hari setelah Obelia pulang. Ia langsung mengadakan upacara kedewasaan.
Waktu berjalan kurang lebih 1 tahun...
Claude selama setahun itu sangat merasa kehilangan sesosok orang yang selama ini menjadi sumber kebahagiannya. Saat Claude sedang menenangkan dirinya di dalam ruang santai, tiba tiba ada sepasang tangan yang tidak terasa asing baginya sedang menutup matanya. Claude memegang tangan tersebut dan menariknya. Wajah yang ia rindukan kini berada didepan matanya sendiri. Claude terdiam sesaat.
Claude tersadar ketika wanita itu mengecup bibir Claude sekilas.
"L..Lia"
"Hehe.. Lia balikk, maapin Lia yahh"
Ya benar tebakan kalian. Orang itu adalah Obelia.
Claude langsung memeluk erat tubuh mungil Obelia. Obelia terkejut bahwa ternyata selama ini Claude sangat merindukan sosok Obelia dalam hidupnya.
Beberapa hari kemudian Claude datang ke kediaman keluarga Obelia untuk melamarnya. Dan tak lama setelah itu, mereka pun menikah.
Kehidupan mereka bahagia sampai ahkir hayatnya.....
~Ingat Cinta itu tidak memandang umur~
by Dhea Jaredhea