Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba kakaknya berteriak " Ah ", dan kemudian tidak ada suara lagi.
Azlen berteriak; "kakak! kakak!"
Tidak mendengar adanya jawaban, Azlen pun bergegas hendak menyusul kakaknya. Namun langkahnya terhenti di depan teras rumah. Ia agak ragu untuk masuk. Melihat kondisi rumah yang nampak usang dengan cat-cat merah di dindingnya yang berkelupas di sana-sini. Ditambah ilalang panjang yang tumbuh liar di halaman serta tanaman merambat yang tumbuh hampir menutupi sebagian dinding samping rumah sudah cukup membuat kesan seram.
Azlen memberanikan diri melangkah ke dalam rumah. Keadaan di dalam rumah sangat berdebu. Beberapa perabot yang di tinggalkan nampak telah usang. Lantai ubin juga terlihat kotor dan beberapa benda berserakan di lantai. Cahaya yang minim hanya berasal dari sinar matahari siang yang masuk melalui sela jendela dan ventilasi.
" Kakak! " seru Azlen.
Tidak ada jawaban apa pun dari kakaknya kecuali keheningan.
" Kakakkkk! Kau di mana? " teriak Azlen sekali lagi.
Azlen mulai merasa takut. Mana kala aura dingin yang tak biasa tiba-tiba muncul di sekitarnya. Azlen menatap kesana-kemari dengan was-was. Tiba-tiba...
" Wuahhhh....... "
" Aaaaarrggggggg..... " Azlen kaget dan berteriak dengan kencang hingga jatuh ke lantai.
" Huahahahaha..... " kakak Azlen tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil menggoda Azlen.
" Kakak, ini tidak lucu! " sungut Azlen sambil berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya yang berdebu.
" Aku kan tadi menyuruhmu menunggu di luar. Kenapa kau masuk? " tanya kakak Azlen yang bernama Leah itu.
" Aku mendengar teriakan kakak. Aku pikir terjadi sesuatu jadi aku masuk mencari kakak. Tapi rupa-rupanya.... " jawab Azlen dengan agak menyesal kecemasannya tidak berguna.
" Lihat apa yang ku temukan! Tadaaa.... " seru Leah sambil menunjukkan boneka poselen berparas cantik yang nampak kumal. Boneka itu langsung di peluk Leah dan digosokkan ke wajahnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
" Kenapa tadi kakak berteriak? " tanya Azlen.
" Aku berteriak kaget karenaaa..... kenapa ada boneka yang begini cantik di rumah ini! " jawab Leah sambil terus mengelus boneka itu.
Meski pun terlihat agak kumal, boneka porselen itu memang sangat cantik seperti seorang anak perempuan. Matanya bulat berwarna biru dengan rambut coklat bergelombang yang nampak halus. Bibir mungilnya berwarna pink pucat setara dengan warna kulitnya yang pucat. Ia mengenakan gaun berwarna khaki yang terlihat kotor oleh debu. Beberapa bagian gaunnya nampak bernoda.
" Tapi untunglah kakak baik-baik saja! " kata Azlen.
" Ayo pulang! " Leah berjalan mendahului adiknya.
" Kakak, kau akan membawa boneka itu juga? " tanya Azlen.
" Tentu saja! " jawab Leah.
" Tapi itu bukan milik kakak. Bukankah sebaiknya- "
" Tidak apa-apa. Lagi pula tidak ada pemiliknya. Dari pada terbengkalai di rumah kosong ini begitu saja. Sayang bukan?! Sudah jangan cerewet. Ayo cepat jalan, nanti keburu sore. " desak Leah.
Azlen akhirnya mengalah. Ia mengikuti langkah kakaknya di belakang. Tanpa sengaja pandangan mata Azlen menangkap sebuah lukisan di dinding. Sekilas sepasang mata di lukisan itu seperti bergerak mengikuti kepergian Azlen dan kakaknya. Azlen bergidik dan berjalan cepat mendahului kakaknya. Leah yang melihat Azlen seperti di kejar hantu hanya tersenyum geli. Tanpa keduanya sadari, boneka porselen dalam pelukan Leah juga mengembangkan senyum ketika meninggalkan rumah merah itu.
........
Sesampai di rumah, Leah langsung membersihkan boneka porselen itu sampai benar-benar bersih dari debu dan kotoran. Ia membuang gaun boneka nya yang kotor dan sementara membungkus tubuh boneka nya dengan selimut.
" Aku akan mencarikan gaun yang lebih cantik untukmu besok! " kata Leah pada boneka itu.
Ia kemudian meletakkan boneka itu di kursi samping meja belajarnya. Dan ia keluar meninggalkan kamar. Boneka itu kembali mengembangkan senyum.
Leah berpapasan dengan Azlen di koridor ketika hendak ke dapur.
" Jangan bilang pada papa dan mama kalau kita ke rumah merah ya! " bisik Leah pada Azlen.
" Oke! " jawab Azlen.
Malam itu semua penghuni rumah sudah terlelap. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam mucul dari kamar Leah. Kemudian menuju ke kamar Azlen dan terakhir kamar orang tua mereka.
........
Sepulang kuliah, Leah datang membawa gaun baru untuk boneka porselen nya. Gaun merah baru yang lebih indah dengan hiasan renda. Leah merapikan rambut bonekanya kemudian memakaikan pita rambut berwarna merah juga memberinya sepasang sepatu merah.
" Lihat, kau benar-benar sangat cantik! " puji Leah pada bonekan ya.
" Mm, bagaimana kalau ku panggil nama mu Rosie? Rosie dalam bahasa Rumania artinya merah. Dan aku menemukan mu di rumah merah. Sangat cocok bukan?! " tanya Leah pada boneka porselen yang tentu hanya diam saja.
......
Beberapa hari berlalu. Leah selalu menyimpan boneka Rosie di kamarnya. Dan ketika tidur boneka Rosie selalu ia bawa di sampingnya. Bayangan hitam selalu muncul setiap malam. Tanpa ada yang menyadarinya. Setiap hari sepulang kuliah Leah selalu mengunci diri di kamarnya. Menghabiskan waktu berbicara sendiri dengan boneka Rosie. Lama-lama Azlen mulai merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Kakaknya sudah jarang keluar kamar kecuali waktu makan. Saat muncul pun kakaknya lebih sering memakai pakaian tertutup padahal di dalam rumah.
Beberapa kali mama nya bertanya tentang pakaian nya padahal cuaca sedang panas. Dan jawaban Leah selalu sama, kalau ia merasa dingin. Saat di cek suhu tubuhnya juga normal.
Di suatu kesempatan ketika orang tua mereka tidak ada di rumah, Azlen pergi ke kamar kakaknya. Pintu kamar Leah tertutup. Azlen mengetuk pintunya.
Leah muncul di balik pintu. Ia mengenakan sweater di tengah cuaca panas. Mata nya nampak cekung. Lingkaran hitam di bawah mata nampak jelas.
" Kakak, apa kau tidak pernah tidur? Lihat matamu sudah seperti panda. " tanya Azlen.
Leah tersenyum kecil.
" Aku tidur dengan sangat baik, tapi lingkaran hitam ini tidak hilang juga. " jawab Leah.
Kamar Leah nampak gelap padahal hari masih siang dan langit sangat cerah. Entah kenapa tirai jendela juga tidak di buka.
Azlen melangkah masuk ke dalam kamar Leah. Bahkan pendingin ruangan juga tidak di buka, tapi Leah memakai sweater dan celana panjang. Ia langsung membuka tirai jendela agar cahaya bisa masuk. Tapi Leah segera menghentikannya dan menutup tirai nya lagi.
" JANGAN! Rosie tidak suka cahaya terang. " seru Leah.
" Rosie?! " tanya Azlen merasa asing dengan nama itu.
" Itu Rosie sedang duduk di sana! " Leah menunjuk boneka porselen yang duduk di kursi.
" Kakak, kau memberi boneka itu nama? " Azlen merasa aneh.
" Kenapa? Itu hal yang wajar kan?! Lagi pula Rosie juga suka. Iya kan, Rosie?! " kata Leah lalu menatap boneka Rosie.
Azlen menatap boneka itu juga. Ia perhatikan lebih seksama. Bibir boneka itu sekarang berwarna lebih merah merekah dari pertama kali Leah membawanya. Pipinya juga lebih merona dan kulitnya tidak lagi pucat. Dengan seutas senyum kecil tergores di bibir mungilnya. Sekilas benar-benar seperti seorang anak perempuan kecil yang tengah duduk santai di kursi.
" Apa kakak mendandani boneka itu? " tanya Azlen curiga.
" Aku hanya memberi Rosie gaun baru. Dia sudah secantik itu tanpa perlu di dandani lagi. " jawab Leah.
Kecurigaan Azlen terjadi. Sepertinya ada yang tidak beres dengan boneka Rosie. Azlen menarik tirai jendela lagi. Dan Leah kembali menutupnya.
" Sudah ku katakan untuk tidak membukanya! " bentak Leah. Kali ini ia terlihat marah.
" Kakak, kau harus keluar melihat sinar matahari. Lihat dirimu sekarang! Di tengah cuaca panas begini, kau mengenakan sweater dan celana panjang. Jika pendingin ruangan menyala, aku bisa mengerti. Tapi tidak ada angin apapun di kamarmu! Ini bahkan terasa sesak bagi ku! Ada yang tidak benar di sini! Kau sakit, kak! " kata Azlen.
" Sudah ku bilang aku tidak apa-apa. Tidak ada apa-apa di sini! Kenapa kalian tidak mengerti? " tanya Leah setengah berteriak.
Azlen menarik tangan Leah. Niatnya menarik paksa ke luar kamar tapi ia terkejut merasakan tangan kakaknya yang begitu kecil. Azlen menaikkan lengan baju Leah. Nampak tangan kurus Leah yang hanya menyisakan kulit dan tulang. Azlen menatap Leah dengan serius.
" Kakak, ada yang tidak beres denganmu! Dan juga boneka itu... Kau harus membuangnya! " ucap Azlen.
Leah menarik tangannya.
" Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan membuang Rosie! Tidak akan pernah! Sekarang kau keluar dari kamarku! " teriak Leah marah.
" Kakak... "
" KELUAR!! "
......
Keesokan paginya, Azlen diam-diam mengawasi Leah. Begitu Leah pergi Azlen masuk ke kamarnya. Beruntung kamarnya tidak di kunci. Azlen melihat boneka Rosie di atas ranjang. Ia mengambil boneka itu. Aneh, boneka itu terasa agak berat.
" Apa boneka ini begini berat? Kelihatannya ringan saja saat melihat kakak membawanya pertama kali. " pikir Azlen.
Tak mau mengulur waktu Azlen segera mengambil boneka itu. Ia pergi ke sekolah seperti biasa. Sampai di tengah jalan ia masuk ke lorong tempat pembuangan sampah dekat sekolah. Ia membuka penutup tong sampah dan membuang boneka Rosie ke dalamnya.
.........
Azlen baru tiba di rumah. Saat ia memasuki ruang tamu ia terkejut. Boneka Rosie sedang duduk di sofa dengan senyum lebar menatapnya seolah sedang mengejeknya. Azlen mulai takut. Ia berlari masuk sambil memanggil kakaknya.
" Kakak... Kakakkk.... "
" Ada apa, Azlen? Kau baru pulang dan berteriak-teriak seperti orang gila! " kata Leah yang muncul dari kamarnya.
" Itu... Bo.. bo... boneka... " Azlen berkata sambil menunjuk ruang tamu.
" Maksudmu Rosie?! Dia ada di kamarku kenapa? " tanya Leah.
" Hah? Di kamarmu? Mana mungkin! Aku barusan melihatnya di ruang tamu. " tutur Azlen.
" Isshh kau ini! Lihat sendiri kalau tidak percaya! " Leah menarik Azlen ke dalam kamar dan memang benar boneka Rosie ada di kursi tempat biasa ia duduk.
" Aku tidak pernah membawanya ke luar dari kamar ini, tahu! " jelas Leah.
" Tapi... Tapi, aku benar melihatnya di... "
" Ah sudahlah! Jangan ganggu aku! Aku mau istirahat. " Leah mendorong Azlen ke luar dari kamarnya.
Azlen kembali ke ruang tamu. Boneka Rosie sudah tidak ada di sana lagi.
" Aneh. Jelas-jelas aku sudah membuangnya pagi tadi. Kenapa dia bisa muncul kembali di rumah ini. Tidak mungkin kakak yang membawanya kembali kan? Dan lagi bagaimana dia bisa berpindah dari ruang tamu ke kamar kakak dengan cepat? " pikir Azlen.
Malam itu Azlen bermimpi buruk hingga membuatnya terbangun. Dari bawah sela pintu kamar nampak bayangan seperti ada yang lewat. Azlen yang penasaran turun dari tempat tidurnya berjalan dengan pelan ke pintu lalu membungkukkan badannya. Mencoba mengintip dari sela bawah pintu itu. Tidak ada siapapun yang terlihat.
Tiba-tiba terdengar hentakan langkah kaki yang kuat mendekat ke arah kamar Azlen. Masih tidak terlihat ada apa-apa. Langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Azlen yang mulai ketakutan berlari ke atas tempat tidur dan meringkuk di bawah selimut sambil mengintip. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar dan menghilang. Tidak terdengar apapun lagi. Azlen merasa sedikit lega.
Ia membuka selimut yang menutupi kepalanya dan duduk di atas kasurnya. Kali ini Azlen merasa ada udara dingin yang meniup belakang lehernya. Jantung Azlen kembali berdegup kencang. Hawa dingin yang menyeruak dari belakang punggungnya terasa mengancam. Tidak tahu apa yang ada di belakangnya sekarang. Langkah kaki itu kembali terdengar menghentak-hentak. Apa yang sebenarnya terjadi? Azlen memberanikan diri menoleh ke belakangnya dan kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Ia kembali beranjak dari tempat tidur. Kali ini terdengar suara pecahan kaca yang cukup keras.
" Apa lagi itu? " pikir Azlen. Tapi ia tidak berani meninggalkan kamarnya.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang panjang bagi Azlen. Ia tidak bisa terlelap oleh suara-suara aneh yang terus muncul dan hilang dengan tiba-tiba itu.
....
Kondisi fisik Leah semakin hari semakin mengerikan. Tulang pipi serta rahangnya mulai terlihat jelas. Jari-jari tangannya bahkan seperti tulang kering yang terbungkus sehelai kulit tipis. Daging di tubuhnya seperti habis di gerogoti pelan-pelan. Ia sampai tak berani keluar dari kamar dan pergi kuliah.
Sementara teror pada malam hari yang Azlen alami masih terus berlanjut. Selama beberapa hari Azlen tak bisa tidur dengan tenang. Mimpi buruk, suara-suara langkah kaki, benda jatuh dan pecahan kaca terus muncul dan menghilang. Suara ribut yang begitu mengganggu tapi orang tua dan kakaknya tidak pernah membicarakannya.
Pagi itu di meja makan,
" Azlen, kenapa wajahmu lelah seperti itu? Kau tidak tidur dengan baik? " tanya mama Azlen.
" Mama, apa mama pernah mendengar suara-suara aneh di rumah ini saat tengah malam? " tanya Azlen.
" Suara aneh? Maksudmu? " Mama Azlen tak mengerti.
" Suara seperti langkah kaki dan benda jatuh. " kata Azlen.
" Mama tidak dengar ada suara apa pun. Azlen, kalau ada suara-suara keras begitu di dalam rumah kita, papa dan mama pasti sudah bangun untuk memeriksa. Apa ada pencuri yang masuk? " jelas mama Azlen.
" Tidak, mama. " ujar Azlen.
"Sudah ku duga. Apa hanya aku yang mendengarnya? " pikir Azlen.
" Ngomong-ngomong apa yang di lakukan kakakmu? Kenapa masih belum keluar untuk makan? " tanya mama Azlen sambil berjalan menuju ke kamar Leah.
Papa Azlen baru duduk di meja makan.
" Arrgghhhhh....... "
Teriakan mama Azlen membuat Azlen dan papanya terperanjat. Mereka segera berlari ke kamar Leah.
Kamar Leah begitu minim cahaya. Leah dengan tangan kurusnya mencengkeram leher mamanya.
" Leah, sadar! Ini mama... Uhuk... " mama nya tidak berdaya.
" Mama! " teriak Azlen.
" LEAH! Hentikan! " teriak papanya lebih keras.
Leah langsung menoleh ke arah Azlen dan papanya. Dalam keadaan kamar yang minim cahaya, mata Leah yang berubah menjadi merah darah serta wajahnya yang dingin dengan tulang pipi dan rahang yang menonjol terlihat menakutkan. Azlen bergidik ngeri melihatnya.
Leah melepaskan cengkramannya dari mamanya. Mamanya langsung jatuh ke lantai. Kemudian Leah berjalan mendekati Azlen. Ia hendak menangkap Azlen tapi papanya berhasil menghadangnya. Sehingga papanya yang menjadi sasaran selanjutnya.
" Kakak... Sadarlah! " seru Azlen tapi Leah menggeram dengan marah.
" Le...ah.. apa... " Papanya berusaha bicara.
Azlen tak tahu harus berbuat apa. Boneka Rosie tidak ada di kursi tempat biasa Leah meletakkan nya. Azlen benar-benar bingung dan panik. Di tengah kepanikannya, ia ingat kakaknya pernah marah saat ia ingin membuka tirai jendela. Azlen akhirnya mencoba untuk membuka tirai jendela membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar yang gelap itu. Begitu cahaya matahari masuk menerangi kamar, Leah langsung terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
" Leah... " Papanya menepuk-nepuk pipinya.
" Apa yang sebenarnya terjadi? " tanya mamanya dengan cemas campur takut.
" Papa, mama, kita bawa dia keluar dari kamar ini dulu. " Azlen menyarankan.
Papa Azlen mengangkat tubuh Leah meninggalkan kamar bersama mamanya. Saat Azlen berbalik hendak menutup kembali pintu kamar, ia melihat boneka Rosie di sudut tempat tidur. Boneka Rosie kini tersenyum lebar. Azlen bergidik dan segera meninggalkan kamar. Saat Azlen sudah pergi, kepala boneka Rosie bergerak dan tirai jendela menutup sendiri.
Leah di baringkan di kamar orang tua nya. Semua tirai jendela di buka. Mamanya menangis sambil mengusap kepala Leah. Melihat kondisi Leah yang berubah drastis membuat hatinya sedih.
" Kenapa kau jadi seperti ini, Leah? " tanya mamanya.
" Apa yang terjadi sebenarnya? " ujar papa Azlen sambil berpikir.
Leah yang dulunya cantik dan ceria sekarang tak lebih seperti mayat hidup dengan kulit pucat dan tulang-tulang yang menonjol dengan jelas di tubuhnya.
Azlen duduk di dekat orang tuanya.
" Papa, mama, aku pikir kejadian ini ada hubungannya dengan boneka... " Azlen memutuskan bercerita.
" Boneka apa? Jangan mengada-ada, Azlen! " tanya papanya.
" Tidak, pa. Waktu itu aku dan kakak pergi ke rumah merah. "
" Kau pergi ke sana?! " seru papanya.
" Bukankah papa sudah melarang kalian untuk tidak mendekati rumah itu! " lanjutnya.
" Maaf, pa. Aku sudah berusaha mengingatkan kakak tapi kakak nekat masuk ke sana. " jelas Azlen sambil menunduk.
Papanya memejamkan mata dan berpikir keras.
" Lalu apa yang terjadi? " tanyanya.
" Kakak membawa pulang sebuah boneka yang dia temukan di sana. Aku merasa sejak kakak membawa boneka itu, kakak mulai menjadi aneh dan terus kehilangan berat badan nya. " tutur Azlen.
Papa Azlen menghela nafas. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sesekali menatap wajah Leah yang terbaring.
" Di mana boneka itu sekarang? " tanya papanya.
" Di kamar kakak. " jawab Azlen.
Papanya langsung beranjak pergi.
" Jika papa berniat membuang boneka itu, percuma. Aku sudah mencoba nya dan ia kembali lagi ke rumah ini. " kata Azlen.
" Aku harus menemui seseorang. " jawab papanya.
Saat papa Azlen hendak meninggalkan kamar tiba-tiba pintu kamar tertutup sendiri dengan keras. Semua kaget.
Papa Azlen mencoba membuka pintu itu tapi sia-sia. Pintu itu tidak terbuka sama sekali. Seolah tidak mengijinkan mereka ke luar.
" Sial! " umpat papa Azlen.
Ia kemudian mengambil ponsel di saku nya dan menghubungi seseorang. Papa Azlen menceritakan apa yang terjadi di rumahnya dengan serius pada orang di seberang telepon. Lalu menutup teleponnya.
" Siapa yang kau hubungi? " tanya mama Azlen.
" Margareth. Dia seorang paranormal. Dia akan segera kemari. " jawab papa Azlen.
Ia mencoba membuka pintu kamarnya lagi. Tapi tetap terkunci.
Azlen menatap ke luar jendela. Kamar ini berada di lantai dua rumah. Di depan kamar adalah halaman rumah. Azlen mendapat ide bagaimana cara keluar dari kamar yang terkunci ini.
" Papa, aku punya ide. "
Setelah berunding akhirnya di putuskan papa Azlen lah yang akan turun ke bawah melalui jendela. Ia tidak mungkin membiarkan Azlen yang mengambil resiko bahaya.
Mama Azlen mengeluarkan semua kain yang bisa di ikat untuk di sambungkan, karena tak menemukan tali di kamar.
Kain yang sudah di sambungkan sampai panjang kemudian di ikat ke kaki meja. Dan sisanya di lempar ke bawah. Setelah memastikan ikatan cukup kuat, papa Azlen mulai turun melalui jendela. Azlen mengawasi ikatan kain kalau-kalau terlepas.
Sebuah mobil melaju memasuki halaman rumah. Wanita bernama Margareth keluar dari mobil tepat ketika papa Azlen sampai di bawah.
" Hufh, ini terdengar lucu bukan? Terkunci di kamar sendiri?! " ujar papa Azlen.
Margareth memandang ke sekeliling rumah.
" Sepertinya ini cukup serius. "
" Kau harus masuk memeriksanya sendiri. " kata papa Azlen.
Di lantai atas kamar Azlen memperhatikan papanya yang sedang berbicara dengan Margareth.
Papa Azlen mengajak Margareth masuk ke dalam rumah. Untung saja pintu rumah tidak ikut terkunci. Begitu memasuki rumah, Margareth sudah merasakan adanya aura yang tidak menyenangkan di sana. Pandangannya terus mengawasi sekeliling rumah.
" Putri ku ada di kamar atas. " kata papa Azlen.
Dia membawa Margareth ke lantai atas menuju kamar. Sampai di depan pintu kamar,
" Semoga saja bisa di buka! " ujar papa Azlen.
Dan ia memutar gagang pintu kamarnya. Masih macet dan tidak mau terbuka meski pun papa Azlen memutarnya dengan sekuat tenaga.
" Ah, sial! " umpatnya.
" Biar aku coba! " kata Margareth.
Papa Azlen mundur dan membiarkan Margareth mencoba, walau pun ia tidak yakin kekuatan wanita ini bisa sedangkan ia sendiri tidak mampu membukanya.
Margareth meletakkan tangannya di gagang pintu dan sekali ia berkata "buka" pintu kamar itu langsung bisa di buka. Papa Azlen cukup takjub melihatnya.
Margareth langsung masuk ke dalam kamar. Mama Azlen yang tadinya duduk di samping tempat tidur berdiri menghampiri Margareth.
" Nyonya.. "
Margareth mengangkat tangannya. Mama Azlen berhenti berkata. Dan mengikuti Margareth dari belakang. Margareth langsung menghampiri Leah yang belum sadarkan diri. Ia membuka kelopak mata Leah dan memeriksa denyut nadinya. Margareth terdiam dengan pikirannya.
" Bagaimana putri ku? " tanya papa Azlen.
" Mahkluk itu menghisap energi kehidupannya. Jika tidak memusnahkan nya segera, aku takut nyawa putri mu tidak tertolong. " jelas Margareth.
" Di mana Leah menyimpan boneka itu? " tanya papa Azlen pada Azlan.
" Di kamarnya. " jawab Azlen.
" Aku akan mencarinya. " kata papa Azlen.
" Aku ikut denganmu. " timpal Margareth.
Seperti yang di katakan Azlen, Papa Azlen dan Margareth menemukan boneka Rosie di sudut tempat tidur. Margareth mengambil boneka itu. Ia terdiam menatap boneka Rosie dengan dingin. Papa Azlen memanggilnya karena ia tiba-tiba terdiam.
" Margareth, apa kau baik-baik saja? " tanya papa Azlen.
Margareth beralih menatap papa Azlen dengan mata melotot. Papa Azlen terkejut di tatap seperti itu. Tanpa mengatakan apa-apa, Margareth bergegas kembali ke kamar Azlen berada.
Sampai di kamar, papa Azlen terkejut istrinya pingsan di lantai dan Azlen berada di sampingnya.
" Azlen, apa yang terjadi dengan mama mu? " tanya papa Azlen.
Azlen segera berdiri dan berkata dengan gugup.
" Mama.. mama.. tiba-tiba pingsan! Aku mencoba membangunkan nya! "
Papa Azlen segera menghampiri istrinya. Menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan nya. Sedangkan Margareth terus menatap tajam pada Azlen. Ia mencengkram boneka Rosie yang di pegangnya dengan kuat.
" Siapa kau? " tanya Margareth.
" Aku Azlen! " jawab Azlen.
" Bukan! Kau bukan Azlen! " kecam Margareth sambil mendekati Azlen. Sedang Azlen perlahan berjalan mundur.
" Aku Azlen! Namaku Azlen! " Azlen berkata dengan sungguh-sungguh.
Margareth yang terus maju menyudutkan Azlen hingga ia terjebak di sudut jendela.
Margareth langsung mencengkeram lehernya.
" Katakan siapa dirimu! " seru Margareth.
" Aku Azlen. " jawab Azlen yang tercekik.
Margareth semakin menguatkan cengkeraman sampai Azlen terbatuk.
" Margareth, apa yang kau lakukan! Lepaskan putra ku! " seru papa Azlen.
" Dia bukan putra mu! " jawab Margareth datar.
Lalu Margareth mulai membisikkan kata-kata yang tidak di mengerti oleh papa Azlen. Azlen mulai berteriak-teriak seperti kesakitan. Margareth terus berbisik. Dan dengan sekuat tenaga Azlen mendorong tubuh Margareth hingga wanita itu bergerak mundur.
" Dasar wanita sialan! " suara Azlen berubah menjadi suara wanita yang parau dan berat.
" Tunggu saja pembalasan ku! Hihihihihi..... "
Azlen langsung melarikan diri melalui jendela yang terbuka. Margareth berdiri untuk mengejarnya tapi sosok Azlen sudah tidak terlihat.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Putri ku dan sekarang Azlen. " ujar papa Azlen dengan putus asa.
Mama Azlen belum sadarkan diri. Kini ia terbaring di samping Leah. Setelah papa Azlen agak tenang, Margareth baru menjelaskannya.
" Selama ini mahkluk itu terperangkap di dalam tubuh boneka ini. Ia tidak memiliki kekuatan apa-apa sampai Leah menemukan nya dan membawanya pulang. Melalui boneka ini, pelan-pelan makhluk itu menghisap energi kehidupan Leah untuk mengumpulkan kekuatan. Sehingga ia bisa meninggalkan tubuh boneka ini. Sekarang ia merasuki tubuh Azlen dan melarikan diri. Kita masih belum tahu apa yang makhluk itu inginkan. Energi kehidupan Leah juga tinggal sedikit, jika di hisap habis Leah tidak akan tertolong. Dan hal yang bisa kita lakukan sementara ini hanyalah menjaga Leah dan istrimu agar makhluk itu tidak kembali menghisap energi kehidupan mereka. "
" Kenapa hal ini menimpa keluarga ku?! Aku sudah melarang kedua anak itu agar tidak mendekati rumah merah itu. Tapi diam-diam mereka justru masuk ke sana. " kata papa Azlen sambil memijat kepalanya.
" Rumah merah?! " tanya Margareth.
" Ya. Leah menemukan boneka itu di sana. " jawab papa Azlen.
" Maksudmu rumah merah yang ada di sana? " tunjuk Margareth memastikan.
" Benar. "
Margareth berpikir kembali.
" Malam ini sebaiknya kau istirahat. Besok aku akan datang lagi. Kita akan pergi ke rumah merah. " kata Margareth.
" Bagaimana kalau Azlen yang di rasuki mahkluk itu kembali lagi malam nanti? " tanya papa Azlen.
Margareth mengeluarkan tiga buah kalung dan dua utas benang perak yang ia berikan pada papa Azlen.
" Pakai kalung ini di leher Leah dan istri mu, kau juga harus memakai nya. Kalung ini sudah di rendam air suci dan di mantrai. Makhluk itu tidak akan berani menyentuh kalian. Dan ikat benangi ini di jendela dan pintu. Setidaknya itu akan melindungi kalian malam ini. " jelas Margareth.
" Terima kasih, Margareth. " ucap papa Azlen sambil menerima barang itu.
" Boneka ini akan ku bawa. " kata Margareth dan ia pun pergi meninggalkan rumah Azlen.
Papa Azlen segera melakukan apa yang di suruh Margareth. Di tempat tersembunyi Azlen memperhatikan kepergian Margareth. Benar yang di takutkan papa Azlen, Azlen mencoba masuk melalui jendela. Namun sebuah kekuatan menghalanginya. Azlen menggeram. Ia mencakar jendela sehingga menimbulkan suara derit yang menakutkan. Papa Azlen yang merasa takut mendengar suara dari jendela tidak berani melihatnya. Karena tak bisa masuk Azlen pun pergi.
......
Di rumah Margareth, wanita itu terus memperhatikan boneka Rosie. Ia memerika badan boneka porselen itu dan tidak menemukan apa-apa. Tapi ada yang aneh di lehernya. Ada sedikit retakan di bawah kepala. Terdapat celah juga antara Kepala dengan leher boneka. Margareth mencoba memutar kepala boneka itu, ke kanan tidak bergerak, lalu ke kiri dan kepala boneka perlahan bergerak. Margareth terus memutarnya hingga kepala boneka terlepas dari badannya.
Margareth melihat isi di dalam tubuh boneka. Rupanya boneka itu merupakan sebuah wadah. Ada sesuatu di dalam tubuh boneka. Margareth mencoba mengeluarkannya. Rupanya sebuah bungkusan kain putih dengan sebuah gelang perak kusam melilit bungkusan itu. Menimbang-nimbang apa isi di dalam bungkusan kain tersebut. Margareth memperhatikan plat pada gelang tersebut, tertulis nama " Karen White ".
Margareth langsung membuka laptopnya dan mencari nama "Karen White". Hasil pencarian cukup mengejutkan. Karen White, seorang gadis berusia 18 tahun di beritakan menghilang secara misterius dan tidak pernah di temukan hingga sekarang. Kejadian itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Margareth mencubit sedikit bungkusan itu, ia sepertinya bisa menebak apa isinya.
........
Keesokan paginya Margareth kembali ke rumah Azlen. Mama Azlen sudah sadar tapi ia masih terlihat lemah. Papa Azlen menceritakan tentang suara cakaran di jendela. Margareth menyuruh mama Azlen untuk tidak melepaskan kalung itu darinya dan Leah. Setelah melakukan semua persiapan, Margareth dan papa Azlen pergi ke rumah merah. Margareth membawa boneka itu bersamanya.
Tiba di rumah merah, Margareth langsung masuk ke dalam rumah dengan pandangan waspada. Sedang papa Azlen mengikuti di belakang. Hawa di dalam rumah terasa aneh. Ia sampai di ruang besar seperti ruang keluarga. Ia menatap ke sana-kemari, memperhatikan sekeliling. Papa Azlen pun berdiri dengan tatapan was-was.
Prok... Prok... Prok...
Suara tepuk tangan mengalihkan perhatian Margareth dan papa Azlen. Nampak Azlen yang muncul menuruni anak tangga sambil bertepuk tangan.
" Azlen! " seru papanya.
" Bukan. " ujar Margareth sambil menatap tajam pada Azlen.
" Hebat! Kalian mengejarku sampai di sini! " puji Azlen. Suaranya terdengar normal.
" Apa mau mu? Kau membuat putri ku menderita. Sekarang kau juga mengambil putra ku! " tanya papa Azlen dengan marah.
" Aku hanya ingin kau tahu bagaimana rasanya menderita, Pak Tua! " jawab Azlen sambil menyeringai.
" Apa ini milikmu? " Margareth mengacungkan boneka Rosie pada Azlen.
" Itu bukan milikku! " jawab Azlen.
" Bagaimana kalau ini! Karen White! " tanya Margareth sambil mengacungkan bungkusan yang sudah ia masukkan ke dalam kantung kain hitam.
Papa Azlen nampak terkejut. Wajah Azlen terlihat mulai berubah.
" Wanita sialan! " geramnya dengan suara wanita yang parau.
Dengan sekali lompatan ia sudah berada di depan Margareth. Azlen langsung mencekik leher Margareth dan mendorongnya hingga Margareth ikut mundur ke belakang. Boneka dan kantung hitam terlepas dari tangan Margareth.
" Aku tidak punya urusan denganmu! " geram suara parau itu.
" Lalu apa urusannya kau dengan Azlen! Keluar dari tubuhnya! " seru Margareth lalu ia mendorong dada Azlen dengan cermin pengusir roh jahat yang menempel di tangannya.
Tubuh Azlen langsung terdorong ke belakang dan jatuh sedangkan makhluk yang merasuki tubuh Azlen terpental keluar dari tubuh Azlen. Papa Azlen segera menghampiri tubuh Azlen yang pingsan.
Makhluk dengan sosok perempuan itu mencoba mengumpulkan kekuatan nya. Rambutnya yang panjang terurai menutupi sebagian wajahnya yang rusak. Matanya merah berlumur darah dan sekujur tubuhnya penuh luka lepuh. Mahkluk itu menatap Margareth kemudian ia menatap papa Azlen dengan penuh kebencian. Dan dengan cepat mahkluk itu melayang menuju tempat papa Azlen dengan mengeluarkan kuku-kuku runcingnya yang siap menikam. Margareth tak tinggal diam. Ia segera menghadang mahluk itu dengan cerminnya. Mahkluk itu kembali terpental. Margareth segera mengeluarkan benang peraknya dan mengikat mahkluk itu sambil membisikkan mantra. Mahkluk itu berteriak dengan suara yang mengerikan.
" Aaaaaaaaaa.... Lepaskan aku! Lepaskannnnnnn! Aaaaaaaaaa...... " pekik makhluk itu.
Mulut Margareth berhenti berbisik. Mahkluk itu nampak tak berdaya dengan benang perak yang mengikat tubuhnya.
" Katakan apa tujuanmu mencelakai keluarga Azlen. Jika tidak ingin aku enyahkan! " tanya Margareth.
" Kau berani melakukannya? " tantang mahkluk itu.
Margareth membisikkan mantra. Mahkluk itu kembali berteriak.
" Sekarang bagaimana? Apa kau pikir aku tidak akan melakukannya? " tanya Margareth.
Mahkluk itu nampak berdiri lunglai.
" Bagaimana kalau kau bertanya dulu pada Pak Tua itu? " suruhnya.
Margareth menatap papa Azlen.
" Kau kenal mahkluk ini? "
" Bagaimana mungkin aku mengenalinya? Lihatlah tampang buruknya! " bantah papa Azlen.
Azlen mulai tersadar.
" Di mana aku? Apa yang terjadi? " tanyanya bingung.
" Azlen, tidak apa. Papa di sini! " kata papa Azlen.
Azlen langsung terkejut melihat sosok makhluk yang terikat tak berdaya itu.
" Arg... Ma... mahkluk apa itu? "
" Hihihihihi.... Kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan padaku dulu? " mahkluk itu tertawa lalu kemudian menggeram.
" Benarkah namamu Karen White? " Margareth memastikan. Ia mengeluarkan isi kantung hitam itu dan menunjukkan nya pada mahkluk itu.
" Ya. Itu aku. Itu milikku. Pria tua itu yang memberikan nya padaku! " jawab mahkluk itu dengan pelan.
Margareth berjalan perlahan mendekati mahkluk itu. Ada kesedihan mendalam yang terukir di matanya yang merah.
Margareth mencoba melihat dari mata mahkluk itu apa yang sebenarnya terjadi padanya.
.....
20 tahun yang lalu.
Karen White adalah seorang gadis yang sangat cantik. Rumahnya berada di jalur kiri dari jalan utama. Suatu hari papa Azlen tidak sengaja bertemu dengan Karen. Papa Azlen langsung jatuh cinta melihat kecantikannya. Waktu itu papa Azlen sudah menikah dan Karen tidak mengetahui hal itu. Papa Azlen berusaha mendekati Karen. Kegigihan papa Azlen rupanya mampu meluluhkan hati Karen. Meski umur keduanya terpaut belasan tahun.
Hubungan papa Azlen dan Karen berlanjut semakin jauh. Walau hubungan mereka belum di ketahui orang tua Karen. Papa Azlen begitu memanjakan Karen. Membuat Karen tergila-gila sampai membuat Karen rela melakukan segala nya untuk pria itu. Di hari ulang tahunnya, papa Azlen memberikan sebuah gelang perak berukir nama "Karen White" padanya.
Suatu hari Karen memberi tahu papa Azlen kalau dirinya hamil. Karen begitu gembira tapi tidak bagi papa Azlen. Papa Azlen menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Tentu saja Karen menolak. Karen ingin papa Azlen menemui orang tuanya dan melamarnya segera. Jika tidak ia yang akan bicara langsung pada orang tuanya. Papa Azlen menolak dan berjanji akan pergi melamarnya. Namun hari itu tidak kunjung datang. Papa Azlen tidak juga datang melamar.
Karen pun pergi menemui nya. Saat itulah papa Azlen baru mengatakan yang sebenarnya kalau ia tidak bisa menikahinya karena ia sudah punya istri dan anak. Meski pun sangat marah dan kecewa. Ia tidak peduli, yang penting papa Azlen harus bertanggung jawab. Ia mengancam akan menyebarkan hal ini, memberitahu istrinya dan keluarganya seperti apa papa Azlen itu. Papa Azlen tak punya pilihan. Ia meminta waktu pada Karen untuk menyiapkan semuanya.
Dan suatu malam, papa Azlen mengajak Karen bertemu di depan rumah merah. Ia beralasan ingin berbicara sebentar karena besok akan menemui orang tua Karen untuk menikahi nya. Karen yang senang mendengarnya tak sedikit pun merasa curiga. Malam itu ia diam-diam keluar dari rumah. Karena letak rumahnya yang dekat dengan rumah merah jadi ia pikir untuk tidak perlu meminta ijin. Lagi ia hanya sebentar.
Akhirnya malam itu mereka bertemu. Papa Azlen masih berbicara manis padanya. Namun gerak-geriknya tidak biasa. Ia menatap ke sana-sini, keadaan memang sepi.
Papa Azlen meminta Karen menghadap belakang.
" Aku ingin memberikan sebuah hadiah untukmu! " katanya.
Karen menurut begitu saja. Ia lalu membalikkan badan. Begitu ia berbalik.... Bugh!
Sebuah balok kayu menghantam punggung Karen. Karen langsung jatuh pingsan.
Papa Azlen segera mengangkat tubuhnya dan membawanya ke rumah merah. Dengan penerangan seadanya, ia berusaha membawa tubuh Karen dan mencari tempat untuk menyembunyikan nya. Dan tanpa sengaja menemukan ruang bawah tanah di rumah merah. Karen pun di bawa ke sana. Ruangan lebih gelap di bawah. Untungnya ada sisa lilin yang bisa di gunakan. Papa Azlen pun menyulutkan api ke lilin.
Papa Azlen sudah mengikat tangan dan kakinya. Juga membekap mulutnya. Karen tersadar. Karen menangis ketakutan dan memohon agar papa Azlen melepaskannya. Dan berjanji tidak akan menceritakan masalah ini, tapi papa Azlen tidak mendengarnya. Bagaimana pun hal ini pasti akan terungkap di tambah kehamilan nya.
" Satu-satunya jalan hanyalah melenyapkan mu! " kata papa Azlen sambil mengacungkan lilin di depan wajah Karen.
Karen hanya bisa menangis ketakutan. Walau ia tidak bisa melarikan diri, ia menendang kaki papa Azlen untuk memberinya sedikit pelajaran. Tapi sial, lilin yang di pegang papa Azlen terjatuh dan langsung membakar tempat di mana Karen berada. Papa Azlen segera menjauh. Karen berusaha berteriak meminta tolong. Namun papa Azlen tidak menolongnya. Ia justru melarikan diri dan kembali ke atas meninggalkan Karen yang akhirnya meninggal terpanggang api.
Keesokan paginya, papa Azlen kembali ke rumah merah dan ke ruang bawah tanah. Asap mengepul keluar begitu pintu terbuka. Papa Azlen menutup hidungnya dari asap. Ia turun ke bawah melihat tubuh Karen yang sebagian sudah menjadi abu. Ia memungut gelang perak yang dia berikan pada Karen. Meski pun tidak ada yang akan datang ke sini, ia tetap harus menyingkirkan bukti untuk mencegah masalah di kemudian hari.
Papa Azlen kemudian mengumpulkan abu tubuh Karen memisahkannya dari tulang yang tersisa. Abu itu dia masukkan ke dalam bungkusan kain putih. Dan tulang-tulang yang tersisa ia kumpulkan dan di kubur langsung di bawah lantai bawah tanah itu. Saat hendak meninggalkan rumah merah, papa Azlen melihat boneka porselen yang di buang di lantai. Ia pun memungutnya lalu melepaskan kepala boneka dengan paksa hingga terjadi retakan dan melukai jari papa Azlen. Kemudian gelang perak milik Karen di lilitkan pada bungkusan kain putih berisi abu Karen dan memasukkan nya ke dalam badan boneka. Lalu setelah memasang kembali kepala boneka dengan badannya, ia meletakkan boneka itu di atas rak yang sangat berdebu. Papa Azlen pun pergi meninggalkan rumah merah seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
Hari itu juga berita tentang hilangnya Karen muncul dari laporan orang tuanya. Sejak hari itu pencarian terus di lakukan sampai polisi kehilangan petunjuk dan kasus di tutup. Orang tua Karen memutuskan pindah ke tempat lain. Dan hilangnya Karen menjadi misteri hingga saat ini.
.......
Margareth tersadar kembali.
" Aku ikut perihatin dengan apa yang terjadi padamu. Tapi balas dendam juga tidak di benarkan. Kau harus pergi meninggalkan dunia ini, ini bukan tempatmu lagi. Dan beristirahat dengan tenang. " kata Margareth.
" Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang, jika pembunuh itu hidup dengan bahagia!? " geram mahkluk itu. Tapi matanya begitu sedih.
" Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada orang tuaku. Parahnya mereka sama sekali tidak tahu keberadaan ku. Bagaimana aku bisa tenang? "
" Jadi apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa tenang? " tanya Margareth.
" Margareth, kenapa harus menghabiskan waktu bernegosiasi dengan hantu itu! Langsung musnahkan saja dia! " seru papa Azlen.
Mahkluk itu seketika menggeram marah pada papa Azlen.
" DIAM! " bentak Margareth.
" Kau yang menyebabkan kematiannya! Apa kau juga ingin putri mu di bawa Karen? Ingat putri mu masih terbaring tak berdaya di rumah! " serunya.
" Tidak masalah jika kau ingin aku membawa putrimu! Aku bisa menganggapnya impasss! " mahluk itu mengejek papa Azlen.
" Tidak. Jangan Leah! " Papa Azlen memohon.
" Karen, kau harus kembali ke alammu dan beristirahat dengan tenang. Aku tahu kau bukan roh jahat yang ingin mengganggu manusia. " kata Margareth.
" Baik, aku akan pergi tapi orang itu harus meminta maaf padaku. Dia harus menebus semua kesalahannya baru aku bisa tenang. Dia juga harus mengakui perbuatannya dan menyerahkan diri. " pinta mahkluk itu.
" Aku ingin di makamkan dengan layak. Juga ingin melihat orang tua ku untuk terakhir kali. " lanjutnya.
" Baik, akan ku penuhi permintaan mu! " kata Margareth.
" Bagaimana dengan putriku? " tanya papa Azlen.
" Saat kau membakarku hidup-hidup, apa kau memikirkan anakmu yang ada di perutku? Aku menghisap energi kehidupan putri mu juga untuk memberi makan anak yang masih ada di perutku! Tapi itu tidak akan pernah cukup. Aku tidak ingin terus gentayangan. Akan ku kembalikan putri mu, asal kau melakukan semua permintaan ku! " jawab mahkluk Karen.
Margareth lalu menatap papa Azlen.
" Kau dengar? Jika ingin menyelamatkan putrimu, kau harus menebus dosa-dosa mu sekarang. " tegasya.
" Papa? Benarkah apa yang ku dengar ini? " tanya Azlen tak percaya.
" Maaf! Maafkan papa, Azlan! Papa memang sudah membunuh wanita itu. Maafkan aku, Karen! Maafkan aku! Aku sebenarnya tidak bermaksud membakarmu. Aku mohon maafkan aku dan kembali kan putriku! " Papa Azlen memohon sambil terisak menyesali perbuatannya.
Mahkluk Karen hanya menggeram.
" Lupakan dendam mu! Aku akan melepaskan mu dan kembalilah ke alam mu! " kata Margareth.
Margareth melepaskan benang yang mengikat mahkluk Karen. Perlahan-lahan Karen menghilang di ikuti suara,
" Ingat, segera tebus dosamu! "
.........
Papa Azlen ke kantor polisi melaporkan dirinya sendiri atas kasus pembunuhan yang terjadi 20 tahun silam. Bersama polisi, ia pergi ke rumah merah menunjukkan tempat di mana jasad Karen terkubur. Sisa tulang Karen itu kemudian di pindahkan. Polisi menghubungi orang tua Karen dan mereka langsung menuju ke sana. Setelah di lakukan pemeriksaan terbukti tulang itu memang milik Karen. Orang tua Karen pun mengadakan pemakaman yang layak untuk putrinya. Boneka serta gelang milik Karen juga ikut dimasukkan ke dalam peti. Sepanjang proses pemakaman kedua orang tua Karen tak henti-hentinya menangis.
Papa Azlen di nyatakan bersalah dan di masukkan ke dalam penjara. Berita ini di siarkan di tv-tv. Mama Azlen dan Azlen yang menonton berita ini hanya bisa pasrah. Tidak menyangka kalau papa Azlen ternyata menyembunyikan kejahatan semacam ini begitu lama. Seiring waktu kondisi Leah mulai membaik. Tubuhnya kembali berisi dan ia menjadi gadis yang ceria lagi. Karen pun telah beristirahat dengan tenang. Sementara kemisteriusan rumah merah tetap menjadi misteri.
-Tamat-