Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak "Ah", dan kemudian tak ada suara lagi. Azlen berteriak: "Kakak! Kakak!"
Tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menemaninya di depan rumah merah yang terbengkalai ini. Angin menerpa wajahnya dengan tajam. Azlen mendongak ke langit yang mulai memerah. Cahaya jingga yang diberikannya, menandakan bahwa senja akan berganti malam. Tubuhnya bergidik ngeri, membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah berfikir selama ribuan kali, ia akhirnya membutuskan untuk pergi meminta bantuan. Jarak rumahnya dari rumah merah ini hanya sekitar 5 menit. Harusnya, itu cukup untuk meminta pertolongan orang dewasa.
Baru satu langkah Azlen berjalan, bahunya tiba-tiba di cengkram dengan kuat. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Tak berani melihat apa yang ada di belakangnya. Anak itu memejamkan matanya, dengan keringat dingin yang tak mau berhenti mengalir.
Azlen merasakan tubuhnya di tarik ke belakang dengan kasar. Ia tak bisa memberontak, karena ras takut yang sudah menguasai tubuhnya. Sesaat kemudian, tubuhnya di banting dengan kasar. Dapat dirasakan tubuhnya yang berbenturan dengan lantai, cukup keras
"Kau mencari kakakmu, hm?" suara itu terdengar sanggat mencekam.
Azlen memberanikan dirinya untuk membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah, ruangan yang berdinding kayu, beberapa barang tak terawat yang tampak lapuk dan usang, serta beberapa pecahan kaca yang berserakan. Matanya kembali beralih pada pemandangan yang ada di depannya. Bukan di depan, mahluk itu berada di atasnya, bergelantungan dengan posisi terbalik dan kepala yang terus berputar 180°.
"AAAAA!!!" teriak Azlen. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, agar tidak melihat mahkuk mengerikan itu.
"Jangan takut sayang...," ucap mahluk itu dengan suara yang lembut, tetapi cukup menakutkan.
"Be—berikan kakakku! Jangan sakiti dia!' teriak Azlen dengan mata yang masih terpejam.
"Dia adalah temanku, kau tak bisa mengambilnya! Dan siapapun yang masuk ke sini, akan menjadi temanku, termasuk kau. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang masuk kemari," ucap mahluk itu dengan seringai lebar. Gigi-gigi tajamnya, dipamerkan dan menimbulkan bau busuk yang cukup menyengat.
"Tatap aku sayang..., Atau akan aku patahkan kedua kaki dan tangan kakakmu!" ancamnya dengan nada serius.
Tentu Azlen tak mau mengambil resiko berbahaya itu. Ia takut, jika kakaknya tak akan bisa berjalan seumur hidup. Pasti, ia akan menyalahkan dirinya sendiri.
Perlahan, Azlen memberanikan dirinya untuk membuka kedua matanya. Anak itu menyingkirkan kedua telapak tangannya yang sedaritadi menutupi wajahnya. Wajah itu menyeringai di depannya dengan gigi-gigi yang tajam. Tak ada mata, hidung, alis atau telinga, hanya wajah dan bibir hitam yang terus membuatnya ketakutan.
Tubuh mahluk itu ternyata hanya setengah. Tangannya yang terdapat lubang-lubang kecil, membuat Azlen ingin muntah saat itu juga. Bau busuk yang menyengat, memaksanya untuk menjepit hidungnya dengan satu tangan. Perutnya seperti di kocok, ia ingin memuntahkan seluruh isi di perutnya.
"A—apa yang harus aku lakukan agar kakaku dan aku bisa kembali? Orangtuaku pasti mencariku saat ini," ucap Azlen dengan suara yang sedikit bergetar.
"Hihihi..., Kamu bodoh sekali, sayang. Kau kira aku akan melepaskanmu? Kau adalah temanku sekarang! Kau ada dalam duniaku, dan kau tak bisa meminta pertolongan siapapun."
tawa nyaring yang di timbulkan mahluk itu menusuk indra pendengaran Azlen. Tubuhnya semakin gemetar mendapati perkataan itu. Tapi ia tahu, ia tak boleh memperlihatkan ketakutannya, atau mahluk itu akan merasa semakin menang. Sekarang, dia harus memutar otak agar ia dan kakaknya bisa kembali ke rumah.
Sudah lama ia berfikir keras. Selama menunggu Azlen berfikir, mahluk itu terus tertawa dan berbicara dengan bahasa yang tak dapat manusia biasa mengerti.Pilihannya hanya satu yang selamat, atau keduanya berakhir tak bernyawa. Dia seperti diantara dua jurang yang curam. Kemanapun ia pergi, pasti ada saja kematian.
Keputusannya sudah bulat. Ia mengaku kalah, demi kakaknya. Toh, hidupnya tak terlalu berarti, begitu pikirnya. Ayah yang mabuk-mabukan, juga ibu yang selalu menuntutnya agar menjadi sempurna, dan membandingkannya dengan saudaranya. Mungkin, setelah ia pergi, kakaknya tak akan lagi di bandingkan, ia tak akan berada dalam hidup yang sulit lagi.
Setetes bulir bening meluncur turun dari kedua matanya. "Aku akan menyerahkan hidupku untuk menjadi temanmu, selamanya. Lepaskan kakakku. Tapi, tolong jangan biarkan orang-orang yang menyayangiku mengiggatku, jangan biarkan mereka terluka," pintanya dengan isak tangis yang tak berhenti.
"Itu hal mudah bagiku."
"Dan..., Biarkan aku melihat kakaku pergi dari rumah ini dengan aman. Setelah itu, kau bisa membawaku," ucapnya lagi.
"Baiklah. Teman." Seringai itu muncul lagi. Kini, senyuman itu semakin lebar, hampir merobek pipi mahluk itu.
Entah kenapa, kini Azlen merasa tidak takut lagi pada mahluk itu. Apa mungkin karena ia sudah menerima kenyataan bahwa selamanya dia akan hidup bersama mahluk itu? Atau karena dia tidak bisa melihat dunianya lagi? Tak ada alasan yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Sebentar lagi, tak ada yang akan mengingatnya, ia juga tak bisa melihat dunia manusia, juga orang-orang yang ia sayang.
Rasa sesak dan sedih merasuki dirinya. Jika boleh, ia akan mengasihani dirinya sendiri, bodohnya ia yang tak mencegah kakaknya untuk masuk. Betapa tak berdayaya Azlen saat di hadapkan situasi ini, hingga ia harus memilih menyerah.
"Lakukan segera mungkin! Aku tak mau semakin terluka karena menangisi pilihanku sendiri...," ucap Azlen dengan nada yang semakin serak. Tagisnya mulai berhenti, tetapi rasa perih yang ada di hatinya mungkin tak akan permah hilang selamanya.
Mahluk itu hanya mengangguk singat. Kelopak mata Azlen berkedip sekali. Hanya dalam beberapa detik, ia kehilangan segalanya. Keluarganya, dunianya, masa indahnya, yang tersisa hanyalah kenangan yang di simpan ia seorang. Dia merasakan tubuhnya semakin ringan, seperti kapas.
Ia dapat melihat kakaknya berdiri di ambang pintu, sepertinya sanggat kebinggungan dengan keadaan yang ada. Cowok itu melihat ke kanan dan kiri, yang hanya terdalapat benda dan dinding yang lapuk.
"Kakak, bisa dengar aku?" Azlen berdiri di belakang kakaknya yang masih menggaruk tengkuknya.
"Kak...."
"Kakkk...."
"KAKAKKK!!! KAKAK GAK BISA DINGER AZLEN?!?!" teriaknya.
Cowok itu, yang berstatus kakak Azlen, menoleh ke belakang. Tentu saja, ia tak bisa melihat Azlen yang sudah menjadi milik mahluk lain. Ia berpaling lagi, beranjak menuju pintu, lalu menarik kenop pintu. Saat langkah ringan itu melangkah keluar, cahaya yang terang masuk dari celah pintu. Mirisnya, Azlen tak dapat menggapai cahaya indah itu. Sekarang, cahaya bagaikan mimpi. Pintu kembali di tutup. Kegelapan rumah merah kembali menemani Azlen.
"KAKAK!!!" Azlen jatuh terduduk. Air mata membasahi debu yang berada di kaus biru tua yang dikenakannya. Hatinya remuk, bagai berhenti berdetak.
"Ayo pergi...."