Aku baru saja pindah rumah.
Ayahku baru saja dipromosikan untuk naik jabatan di pekerjaannya. Naik jabatan ini diiringi oleh surat pindah tugas ke kantor pusat. Karena itulah kami sekeluarga memutuskan untuk pindah rumah ke kota dimana kantor pusat perusahaan ayah berada, yaitu kota S.
Untungnya nenekku punya rumah yang cukup besar di kota S. Semenjak kakekku meninggal dunia, nenek tinggal sendiri di rumah itu. Karena itulah ketika mendengar bahwa ayah dan ibu sedang mencari rumah atau apartemen baru di kota S, nenek dengan senang hati mengundang kami untuk tinggal saja bersama beliau di rumahnya itu.
"Rumah ini terlalu besar untuk kutinggali sendiri. Alangkah senangnya bila cucu-cucu manisku bisa tinggal bersama nenek!" begitu kata nenek saat orang tuaku mencoba untuk menolak tawaran beliau.
Begitulah, aku dan keluargaku akhirnya pindah untuk tinggal bersama nenek. Rumah nenek letaknya ada di pinggir kota S, agak jauh dari kantor pusat tempat ayah bekerja sekarang tetapi tidak sejauh bila ayah memutuskan untuk pulang pergi dari tempat tinggal kami sebelumnya.
Di pinggiran kota S yang lumayan jauh dari pusat kota, suasananya lebih seperti desa ketimbang perkotaan meski masih satu wilayah. Rumah-rumah di sini besar-besar dengan halaman yang luas. Tetangga nenek banyak yang memelihara ternak atau berkebun di halaman rumah mereka. Meski begitu, kebanyakan bangunan disini adalah bangunan tua dan penghuninya juga kebanyakan orang-orang paruh baya atau lansia. Begitu pun dengan rumah nenek, yang katanya sudah berdiri jauh sebelum negara ini merdeka.
Makanya, meski sudah beberapa kali direnovasi, rumah ini masih terlihat seperti rumah tua. Gaya arsitekturnya mirip seperti rumah bangsawan Eropa di film berlatarbelakang historis. Keren sih, tapi sejujurnya aku tidak terlalu senang pindah kemari.
Kenapa?
Karena itu berarti aku harus pindah sekolah!
Berbeda dengan kedua adikku yang baru akan masuk sekolah (satu mau masuk sekolah dasar, satunya lagi masuk TK), tahun ini aku sudah naik ke kelas dua SMA. Pindah rumah berarti aku juga harus pindah sekolah, apalagi karena ibu dan ayah tidak mengizinkanku untuk ngekos sendiri di dekat sekolah untuk melanjutkan pendidikanku sampai lulus SMA.
... Aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan teman-teman sekelas di SMA yang lama. Padahal banyak di antara mereka yang sudah kukenal sejak masa sekolah dasar.
Yang lebih parah lagi adalah suasananya! Mungkin kalau kami pindah dua atau tiga tahun yang lalu, aku akan lebih senang dan tertarik untuk menjelajahi rumah ini dan lingkungan sekitarnya. Tapi sekarang? Yang bisa kupikirkan hanyalah area ini jauh dari sekolah dan sarana hiburan... Dipenuhi oleh orang-orang lanjut usia... Membosankan!
Mungkin genre hidupku berubah disini?
Bukan lagi slice of life, atau romantis atau persahabatan anak sekolahan, tapi jadi misteri, supranatural atau bahkan horor. Tempat-tempat tua seperti ini biasanya banyak cerita mistisnya, kan?
Omong-omong, aku ingat ayah pernah bercerita kalau kakek (ayahnya ayahku) sangat melarang ayah dan paman bibi (kakak dan adiknya ayah) untuk main atau bahkan sekedar menginjakkan kaki di loteng rumah ini sejak mereka masih kecil. Larangan dari mendiang kakek ini juga disampaikan lagi ke kami tiga bersaudara saat pindah kemari. Hmm, mencurigakan. Ada rahasia apa ya di loteng rumah ini?
Mungkin aku bisa mengungkap rahasia loteng yang tidak boleh dikunjungi itu? Kayaknya bakal seru, tapi aku agak takut juga sih...
Mungkin sebaiknya aku mengungkap rahasia di ruang bawah tanah saja dulu? Kami tidak dilarang ke sana, tapi ruang bawah tanah sudah lama tidak dibersihkan dan penuh oleh barang-barang antik yang berdebu. Rasanya lebih aman dari loteng, tapi juga lebih membosankan.
Pilih ke mana ya?
A. KE LOTENG
B. KE RUANG BAWAH TANAH