Kokokan ayam pun mulai memecahkan heningnya pagi.. Aku pun membuka mata dan bangkit dari tidurku, aku bergegas untuk mandi, setelah itu aku sholat shubuh, setelah selesai aku pun rapih-rapih untuk berangkat sekolah lalu sarapan kemudian aku berpamitan kepada kedua orangtuaku dan ternyata temanku yang bernama fikri sudah menungguku, fikri adalah sahabatku sejak kecil, aku dan dia selalu satu sekolah yang sama sejak sekolah dasar hingga sekarang masuk sekolah SMA, dan aku sering berbagi cerita ke dia terutama masalah percintaan, karena dia adalah pendengar yang baik, bahkan dia juga sering cerita ke aku tentang apapun, jadi kita selalu ada satu sama lain.
Kriingggg… bel masuk pun berbunyi aku dan fikri masuk kelas yang sama yaitu kelas 1 Ips.
“hay Roni” seseorang memanggilku dari belakang, dan ternyata adalah cewek yang paling populer di sekolah, dia bernama putri. “hay juga putt” sapaku balik, tetapi aku agak jutek ke dia, karena dia adalah cewek yang disukai sama sahabatku sendiri.
Setelah pelajaran selesai jam istirahatpun tiba, aku dan fikri akan menuju ke kantin, saat menuju pintu keluar kelas tiba-tiba putri mengejutkanku dan fikri
“astaga putri, kamu ini kenapa si, aku terkejut tau” ucap fikri “Hehehe sorry aku cuma bercanda kok, oh iya kalian mau ke mana?” tanya putri “kita mau ke kantin, kenapa?” kataku “oh, boleh gak aku ikut?” jawabnya “dengan senang hati” jawab fikri dengan nada spontan. Lalu kami bertiga pun makan bersama di kantin, saat makan fikri tidak ada henti-hentinya memandangi putri.
Dan setelah jam istirahat selesai kami pun masuk ke kelas kami masing-masing karena putri berbeda kelas, karena dia kelas 1 Ipa. kemudian kami melanjutkan pelajaran selanjutnya. lalu beberapa menit berlangsung bel pulang pun berbunyi. Kringg.. kring..
Setelah di perjalanan pulang fikri membicarakan kejadian tadi di kantin, “roni, tadi tuh kaya mimpi deh bisa makan bareng sama putri, aku gak nyangka bisa kaya gitu, aku pasti akan inget momen kaya gitu, karena jarang-jarang banget bisa makan bareng putri” ucap fikri dengan penuh kegembiraan. “ciee.. seneng banget si sahabat aku ini, aku doain semoga kalian makin deket, dan bisa ada hubungan” jawabku. Lalu kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan paginya aku dan fikri berangkat sekolah bersama lagi, saat pelajaran dimulai aku minta izin ke toilet sama guruku, setelah selesai ke toilet aku lewatin perpustakaan sekolah kebetulan di sana ada putri, lalu putri pun memanggilku “roni, sini deh aku mau ngomong!” katanya, “tapi aku masih ada pelajaran putt” jawabku. “gak papa kok ron, sebentar aja” tegasnya, kemudian aku pun menghampirinya, lalu putri mengucapkan “roni, aku sebenarnya suka sama kamu, sejak kita kenal saat kelas 1 SMP, kamu mau gak jadi pacar aku?” kata putri dengan spontan, aku pun terkejut dan berlari menuju ke kelas tanpa berkata apapun.
Kemudian fikri menyapa “roni, kamu kenapa ko lari-lari gitu?” tanyanya “aku gak kenapa-napa kok” jawabku dengan santai. “aku gak akan memberitau kejadian tadi kepadamu fik, aku takut kamu kecewa” aku berkata dalam hatiku.
Setelah jam pelajaran selesai, aku dan fikri pulang bersama seperti biasa, lalu putri pun memanggil namaku “roni, tunggu” ujar putri “kok tumben ya putri manggil nama kamu aja ron?” tanya fikri dengan curiga “ron gimana jawaban kamu, tadi kamu belum jawab pertanyaan aku” kata putri. sebelum aku jawab fikri bertanya “pertanyaan apa putt?” tanya fikri dengan nada curiga. putri menjelaskannya “jadi gini, tadi aku ngomong ke roni di perpustakaan sekolah, aku ngungkapin perasaan aku ke dia” ujar putri. kemudian fikri pun berlari dengan keadaan kecewa dan tanpa menengok lagi ke arah belakang, “itu fikri kenapa ron?” tanya putri “sebenarnya gini putt, fikri itu sebenarnya udah suka sama kamu sejak lama, nah maka dari itu aku sekarang menjawab pertanyaan kamu tadi, maaf aku gak bisa jadi pacar kamu, karena aku gak mau bikin sahabat aku lebih sakit hati lagi, tapi jika kamu benar-benar suka sama aku, aku boleh minta tolong gak?” jelasku “apa itu ron?” tanyanya “aku mau, jika nanti aku gak ada di sekitar kalian, aku mau kamu belajar mencintai fikri seperti kamu mencintai aku dan jangan sampai kamu Membuat Dia Kecewa” tegas ku “tapi jika aku gak bisa bagaimana?” tanyanya kembali “kamu harus bisa, setidaknya demi aku” jawabku, kemudian aku berlari menuju ke rumah.
Setelah sampai akupun pingsan depan pintu rumahku, orangtuaku pun langsung membawaku ke rumah sakit, selama ini aku menyembunyikan penyakit kankerku ke fikri agar fikri tidak khawatir kepadaku, aku pun perpesan kepada ibuku “bu tolong bilang ke fikri, aku sayang dia, aku gak mau liat dia sedih, karna fikri sudah aku anggap seperti saudara kandung ku sendiri, aku minta maaf karena aku gak ada niatan untuk menyukai putri, aku juga minta maaf ke dia karena sudah menyembunyikan penyakitku dari dia karena aku gak mau dia susah, aku berharap fikri bisa bersama putri” kataku “iya nak nanti ibu sampaikan, kamu harus sembuh dulu agar nanti kamu yang langsung berbicara kepada fikri” kata ibu memberi semangat “aku sudah lelah bu” kataku, kemudian tuhan berkehendak lain, aku pun meninggalkan semuanya.
Kemudian di rumahku banyak bendera kuning lalu fikri datang dengan penuh tanda tanya “bu, ini ada apa? kok banyak bendera kuning?” fikri bertanya kepada ibuku “fikri, roni fik, roni” ibu sambil menangis “roni kenapa bu?” tanya fikri “roni telah meninggalkan kita semua, untuk selamanya” jawab ibu sambil terus menangis “fikri, roni telah berpesan sama ibu kalau dia itu sayang kamu, dia gak mau liat kamu sedih, dia minta maaf karena dia gak ada niatan untuk menyukai putri, dia juga minta maaf ke kamu karena sudah menyembunyikan penyakit kankernnya dari kamu karena dia gak mau kamu susah, dia berharap fikri bisa bersama putri” jelas ibu. “roni maafin aku juga, aku Cuma mau mikirin kepentingan aku aja, maafin aku ron” ujar fikri dengan penuh air mata di pipinya “ya udah sekarang kita iklasin aja kepergian roni, supaya dia bahagia di sana” jawab ibu.
Setelah keesokan harinya fikri masuk sekolah tanpa roni, lalu putri menghampiri fikri, “fikri yang sabar ya, aku tau kok roni itu sudah tidak ada, aku turut berduka cita, dan kamu gak usah berpikir kalau kamu sendiri, karena ada aku di sini yang akan menjaga kamu itu sesuai permintaan roni kepadaku, dan aku juga akan belajar mencintai kamu” kata putri. “apa kamu serius ngomong itu, apa kamu bilang akan belajar mencintaiku itu juga permintaan roni?” tanya fikri. “awalnya seperti itu, tapi dari hatiku yang tulus aku mau mencintai kamu tanpa permintaan siapapun” jawab putri..
Dan hari demi hari putri dan fikri menjalani kehidupan bersama tanpa roni, dan akhirnya merekapun jadian sesuai dengan keinginan terakhir roni.