Entah apa yang membuatku berani melangkah sejauh ini. Padahal sebelumnya aku tidak ingin mengenal yang namanya pacaran.
Namun perasaanku selalu hampa, dan fase pencarian jati diri membuat aku coba-coba mengambil langkah ini.
AM, itulah nama laki-laki yang menginginkan aku jadi pacarnya.
AM yang semula membantu temannya menyampaikan surat cinta untukku, tapi justru dia sendiri yang menembakku. Mungkin temannya merasa dikhianati, namun mereka tetap menjaga persahabatan mereka.
Anggap saja kami jadian, walaupun kami masih tetap menjaga jarak agar tidak saling bersentuhan.
Namun entah kenapa hatiku yang awalnya mungkin menyukai dia, namun semakin berlalunya waktu mulai tidak nyaman dengan hubungan ini.
AM yang selalu cemburu saat ada laki-laki lain yang mendekatiku, namun tidak pernah mau mengaku cemburu. Dia hanya mendiamkan aku selama berhari-hari. Aku tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Suatu ketika aku menginginkan putus, dan kami pun putus. Kami jalani hidup masing-masing dengan pacar masing-masing. Namun di saat itulah dia meminta aku kembali. Ada insiden besar yang membuatku harus menerimanya kembali.
Kami pun kembali menjalin hubungan, namun semuanya tetap menjadi kacau, dan hubungan pun menjadi tidak jelas.
Hingga suatu ketika datang laki-laki lain yang mencintaiku. Di saat itu pula AM memintaku untuk memilih. Dan anehnya aku tetap memilih AM.
Untuk kali ini, entah kenapa AM memintaku lebih jauh. Dia menginginkan menciumku, namun entah kenapa hatiku menolak dan tidak menginginkannya. Sejak saat itu hubungan pun menjadi tidak jelas. Namun ku coba untuk setia.
Hingga suatu ketika, dia kembali cemburu. Dan seperti biasa dia tidak mau bicara. Aku masih memberinya kesempatan agar dia bicara. Namun tetap dia tidak mau bicara. Hingga akhirnya aku pun benar-benar meninggalkannya.