Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak "Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak: "Kakak! Kakak!"
Karena tak ada sahutan dari dalam, Azlen mulai khawatir. Azlen memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah merah. Perlahan ia melangkah mendekati pintu, jantungnya berdegup kencang, keringat dingin membasahi jemarinya yang bergetar padahal ia tidak kedinginan. Azlen mengangkat kedua tanganya lalu memutar gagang pintu kemudian mendorongnya perlahan.
Krekk ..., hawa dingin mulai terasa saat Azlen melangkahkan kakinya masuk. Azlen mengedarkan pandanganya ke seisi rumah, 'Aneh' batinnya.
Azlen heran, suasana dalam rumah begitu indah, perabotannya mewah, semua tertata rapi, sangat kontras bila melihat keadaan di luar rumah merah yang lusuh dan kotor. Sejenak Azlen terhipnotis dengan keindahan rumah, tiba-tiba ia tersadar ketika seseorang menepuk bahunya. Azlen menoleh ke belakang ternyata kakaknya Kikan.
"Kak ... Kakak! kenapa meninggalkan aku sendiri di luar, aku takut Kak!" rengek Azlen memeluk kakaknya erat. Kikan diam tak bergeming, tubuhnya dingin dan kaku.
Azlen merasa ada yang aneh dengan kakaknya, ia melepas pelukannya, tiba-tiba bulu kuduknya merinding, bau anyir menyeruak. Kikan seperti kerasukan, ia menjambak rambutnya sendiri hingga terlepas dari kulit kepala, dengan tangannya Kikan mencungkil kedua bola matanya dan memakannya seperti makan bakso, darah mengalir dari mulutnya setiap kali ia mengunyah.
Azlen ketakutan, wajahnya sudah pucat pasi melihat adegan mengerikan itu, dengan cepat ia berlari ke lantai atas. Saat Azlen masih mengatur napasnya yang terengah-engah, terdengar suara yang ia kenal memanggil namanya "Azlen ...." dilihatnya kakaknya Kikan sedang duduk santai di meja makan.
Azlen masih tak percaya apakah yang dilihatnya sekarang benar kakaknya?
"Hei, kenapa diam. Kemarilah kita makan dulu!" perintahnya.
Azlen berjalan mendekati meja makan, kemudian duduk di sebelah kakaknya. Kikan tersenyum tipis, lalu meletakkan piring di depan adiknya.
"Kak, tadi aku melihat orang yang mirip sekali denganmu. Aku pikir ... itu Kakak, tapi dia sangat mengerikan," ucap Azlen.
"Sudahlah, bukankah sekarang aku di sini, bersamamu. Apakah kau percaya bahwa aku ini Kakakmu?"
Azlen mengangguk pelan, 'sebenarnya aku ragu tapi orang yang bersamaku ini tidak mungkin hantu' pikirnya.
"Kak, kita pulang saja yuk! Aku takut di sini ada hantu, Kak."
"Kau percaya hantu? Dengarkan aku! Kita tidak boleh takut pada hantu, karena hantu yang sebenarnya itu adalah ketakutanmu sendiri," jawab Kikan memeluk dan menenangkan adiknya, "Azlen, kau sangat dingin. Sebaiknya kita makan dulu, Ayah dan Ibu sebentar lagi pasti datang kemari. Aku tidak mau kau sampai sakit, nanti aku yang dimarahi," lanjutnya.
Kikan mulai membuka satu persatu hidangan di meja; ada sepiring belatung, sop kepala manusia, juga ada balado jari-jari tangan dan kaki. Kikan menuangkan air berwarna merah pekat ke dalam gelas lalu di berikan pada Azlen. Azlen bergidik ngeri, perutnya mual melihat belatung-belatung itu menggeliat di piring. Kikan memasukkan sesendok penuh belatung ke dalam mulutnya, mengunyah, dan melahap habis belatung yang tampak seperti sepiring kacang goreng.
Pemandangan yang menjijikkan, Kikan melihat Azlen dengan matanya yang merah, seakan-akan belum puas akan makanannya dan ingin memburu mangsanya yang baru. Azlen berdiri dari kursinya, ia melangkah mundur saat Kikan mulai mengambil pisau di meja. Azlen sudah mati langkah saat punggungnya menyentuh dinding, ia berpikir bahwa ini adalah hari terakhirnya.
Kikan seperti haus darah, mendekati Azlen. Dia mengendus tubuh kecil Azlen, dengan pisaunya ia mulai menyayat pipi, hidung, bibir, dan mata Azlen. Azlen berteriak "Aaahhh ...." kemudian pandangannya gelap dan tubuhnya ambruk di lantai.
****
Di sebuah kamar yang lain, seorang gadis duduk di kursi goyang sambil bersenandung lirih, lagunya penuh emosi tapi menyayat hati. Dia adalah Kikan.
Tak jauh dari kursinya, Azlen berbaring di ranjang. Azlen yang baru sadar, membuka matanya perlahan lalu melihat sekeliling kamar, 'Apakah aku masih hidup?' batinnya.
Kikan menghentikan nyanyinya saat mengetahui mainan barunya sudah terbangun. Dengan senyum jahat, dia ingin melanjutkan kesenangannya. Kikan beranjak dari kursi, berjalan menyeret mendekati Azlen yang ketakutan.
"To-tolong jangan bunuh aku ...." Azlen mengatupkan kedua tangannya diiringi isak tangis memohon.
Bukannya iba, Kikan justru semakin senang melihat reaksi mangsanya itu. Kikan tertawa melengking memekakkan telinga.
"Ayah ... Ibu, tolong aku! Aku tidak mau mati." lirihnya. Kikan sudah ada dihadapannya, Azlen sudah pasrah jika kali ini dia benar-benar mati, hanya saja ia ingin bertemu kedua orang tuanya terakhir kali.
Doanya terkabul, Azlen mendengar suara ayah dan ibunya memanggil namanya "Azlen", dengan kekuatan tersisa, Azlen berteriak: "Ayah ... Ibu, aku di sini." secuil harapan Azlen untuk selamat tapi setidaknya orangtuanya tahu keberadaannya sekarang.
Kikan tak senang dengan kehadiran orang tua Azlen, dengan kuku panjangnya yang tajam, ia mencabik-cabik tubuh Azlen dan mengeluarkan jantungnya. Orang tuanya masuk ke kamar, tapi sudah terlambat. Mereka menyaksikan adegan mengerikan itu.
"Sudah bermainnya Kikan! Kau jangan selalu mengerjai adikmu. Kasihan dia," ucap ibunya.
"Ah, Ibu mengganggu saja. Bangunlah Azlen! Aku senang hari ini." Kikan menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.
Azlen mengerjap matanya, dilihatnya ayah dan ibunya di sini dan ia masih hidup.
"Ayah, Ibu, aku takut." Azlen menghambur memeluk ibunya, tatapannya mengarah ke wanita yang mirip kakaknya, "Di-di-dia bukan Kakak, dia hantu." Azlen menunjuk Kikan.
Kikan memutar bola matanya lalu tertawa lepas, tapi mengapa ayah dan ibunya ikut tertawa?
"Nak, Kakakmu memang hantu, begitu juga Ayah dan Ibu," jelas ibunya, dipeluk anaknya yang tampak kebingungan.
"Azlen, kita semua sudah mati lima tahun yang lalu. Belajarlah menerima keadaan, bahwa kita semua sudah menjadi hantu. Setidaknya, kita bisa bersama walau kita bukan lagi manusia," terang sang ayah karena Azlen selalu menganggap dirinya masih hidup. Mereka kemudian saling berpelukan.
Lima tahun yang lalu ada pembegalan di jalan besar. Perampok mengambil paksa mobil mewah keluarga Darmawan. Perampok juga membantai satu keluarga dan mayatnya mereka sembunyikan ke dalam rumah merah. Sampai sekarang tidak ada yang mencari keberadaan keluarga tersebut, jadilah keluarga Darmawan menjadi penghuni rumah merah.