Seperti yang pernah aku ceritakan di cerita sebelumnya. Di saat aku galau menunggu kata cinta dari seorang Dany, aku coba menjalani hubungan dengan beberapa cowok, dan salah satunya adalah kakak dari temanku sendiri, yaitu kakaknya Kak Dina, yang bernama HD.
Selama menjalin hubungan, kami hanya tiga kali bertemu.
Pertama kali bertemu, saat itu habis lebaran aku menjemput kak Dina di rumahnya untuk pergi bersama-sama silaturahmi ke rumah pak Kyai.
Kalau tidak salah waktu itu aku masih kelas 1 SMA. Saat itulah HD minta ketemu di suatu tempat.
Hari yang dijanjikan pun tiba, sepulang sekolah aku bertemu dengan HD di sebuah restoran cepat saji.
Setelah makan dia mengajakku ke sekolah tempat dia mengajar. Dari sekolahnya aku langsung pulang ke rumah.
Pertemuan berikutnya, dia mengajakku ke pantai Pelabuhan Ratu. Perjalanan ke Pelabuhan Ratu yang berbelok-belok membuat sepanjang jalanku terus-terusan mengeluarkan isi perutku(mabuk, muntah). Aku sudah tidak peduli dengan diriku, bahkan jilbabku saja sampai lepas tidak karuan.
Sejujurnya seumur hidupku aku sangat menghindari untuk bersentuhan kulit dengan laki-laki, namun kondisiku yang mabuk parah terpaksa aku mau menerima ukuran tangan HD.
Entah apa yang dipikirkan HD saat itu...
Setibanya di Pelabuhan Ratu, kami pun langsung makan bakso di area sekitar pantai.
Setelah selesai makan HD mengajakku ke rumah temannya yang sudah menikah. Entah kegilaan apa yang ada di pikiran dia, aku dikenalkan kepada temannya sebagai isterinya. Karena hari sudah sore, temannya menawarkan kami menginap di rumahnya. Sialnya kami harus tidur satu kamar.
Sekitar jam 5 sore, HD mengajakku ke pantai. Saat itu aku jongkok di atas batu karang. Tiba-tiba dari belakang dia memelukku dan memangku tubuhku. Aku sontak kaget dan merasa risih, aku merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukannya. Entah karena aku tidak mencintainya, sehingga aku tidak merasa senang dengan perlakuannya.
Sore itu...untuk pertama kalinya aku menyaksikan matahari tenggelam di tengah laut, dan azan magrib pun terdengar berkumandang. Kami pun segera kembali ke rumah temannya HD.
Malamnya...kami tidur dalam satu kamar. Tepatnya aku tidak bisa tidur. Bodohnya aku waktu itu yang masih lugu dan tak pernah mengerti tentang hasrat seorang laki-laki, mau saja tidur satu kamar dengannya.
Aku pikir dia akan tidur di tempat tidur yang di bawah.
Aku coba membaringkan tubuhku menghadap ke tembok, tiba-tiba dia memelukku dan berusaha mencium tengkukku. Aku tidak nyaman dengan yang dia lakukan, aku coba menepisnya dan terus mendorong tubuhnya. Ingin rasanya aku menjerit minta tolong, tapi aku gak enak dengan yang punya rumah. Sebisa mungkin aku coba menghindarinya.
Bahkan aku langsung ke kamar mandi mengambil wudhu dan shalat. Entah shalat apa...yang penting dia tidak menggangguku lagi.
Paginya, pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap, aku minta pulang. Dia berusaha mengulur waktu, namun aku bersikukuh meminta pulang.
Di terminal pelabuhan ratu, dia tidak langsung mengajakku pulang, malah mengajakku ke daerah Jampang. Tapi aku tetap bersikukuh ingin pulang.
Dompetku disabotasenya, tapi aku nekad naik bus yang ke Bogor meskipun dompetku ada di pegang dia. Akhirnya dia pun mengalah.
Di bis dia minta maaf atas yang dia lakukan tadi malam. Dia berdalih kalau yang dia lakukan hanya untuk mengetesku. Meskipun aku tidak sepenuhnya percaya, aku coba memaafkannya.
Sejak itu...entah kenapa aku seolah ingin menjauhinya. Hingga akhirnya aku pun melayangkan surat putus.
Tahun pun berlalu...
Singkat cerita kami pun sudah menemukan pasangan masing-masing. Dia menikah dengan adik kelasku, yang sebelumnya dikenal cewek glamor dan agak nakal. Namun setelah menikah dengan HD, ternyata dia mau jadi isteri penurut dan hidup dalam kesederhanaan.
Hatiku pun lega mendengarnya, karena dia sudah mendapatkan isteri yang tepat untuknya.
Seandainya aku yang menjadi isterinya, belum tentu aku bisa tulus mencintainya.