Masih lanjutan dari cerita "Cinta Pertama Masa SMA"...
Di dalam menunggu ketidakpastian bagaimana perasaan Dany terhadapku. Aku coba membuka diri untuk menjalin hubungan dengan yang lain.
Seorang laki-laki dewasa bernama AR...
Profesinya sebagai seorang guru, dia mengajar di pesantren tempat aku sekolah. Waktu itu aku baru duduk di akhir kelas 1 SMA.
Dia tidak datang ke pesantren tiap hati, karena dia hanya mengajar Qira'at satu pekan sekali. Keindahan suaranya saat melantunkan ayat-ayat Quran memang sangat memukau, karena dia adalah seorang Qori.
Hingga suatu ketika aku sempat berceloteh di depan temannya "Masya Allah...suaranya pak AR itu...saya sangat suka".
Setiap satu pekan sekali dia datang ke pesantren untuk mengajar Qira'at. Dia selalu menginap di rumah pak Kyai.
Dan meskipun aku sudah tidak mondok lagi, tapi kalau sudah selesai sekolah kadang aku suka bantu isteri pak Kyai masak di rumahnya. Saat itulah merupakan momen kami sering bertemu.
Memang tidak pernah ada obrolan yang serius, paling sekedar menyapa dan tersenyum. Aku juga tidak melihat sinyal dia menyukai aku.
Suatu hari...aku kedatangan pacar temanku yang bernama AH, keperluan dia biasanya untuk minta bantuan aku kalau ingin bertemu temanku. Hari itu AH datang bersama AR. Aku sama sekali tidak punya curiga apa-apa.
Minggu berikutnya AR datang sendiri, bahkan dia sudah menunggu kedatanganku di jalan. Aku heran dan bertanya "koq...gak bareng AH?". Dia hanya menjawab singkat "tidak..." sambil tersenyum.
Minggu berikutnya AR datang lagi sendiri, dia datang selalu membawa oleh-oleh. Di kedatangannya kali ini dia memberiku sepucuk surat, dan di dalamnya ada uang sebesar 150.000.
Isi surat itu intinya dia mengungkapkan persaannya.
Selain mengungkapkan lewat surat, dia juga terang-terangan mengatakan ingin menikahiku. Dia minta aku bersedia menikah dengannya tahun depan, tepatnya di kenaikanku ke kelas 3. Aku tidak memberinya jawaban. Menikah diumur seperti itu tak pernah terbersit dipikiranku. Aku masih ingin hidup bebas.
Awalnya aku tidak menceritakan hubunganku dengan AR kepada ibuku. Namun karena aku perlu bantuan ibuku untuk menolak maksud AR, akhirnya aku menceritakannya.
Suatu hari...waktu itu sudah sore, AR datang bersama AH. Dan dia terang-terangan menyampaikan maksudnya pada ibuku. Dan ibuku otomatis langsung menolaknya, dengan alasan umurku masih terlalu muda, dan ibuku khawatir kalau nanti pernikahanku sampai gagal seperti ibuku yang gagal dalam berumah tangga.
AR pun terpaksa menerima keputusan ibuku dengan wajah lesu dan akhirnya pulang.
Hari pun berlalu...
Sebenarnya AR masih ingin melanjutkan hubungan, namun aku segera mengajaknya putus. Dan itu aku ungkapkan lewat surat.
Dan sejak saat itu aku sudah tidak pernah bertemu AR lagi.
Tahun pun berlalu...
Singkat cerita, setelah aku lulus SMA aku diminta pak Kyai membantu mengajar di MI(setingkat SD) dan juga membantu mengurus anak santri. Aku pun tinggal kembali di pesantren.
Pernah suatu ketika aku mendengar dari isteri Pak Kyai, kalau AR berkunjung ke rumah Pak Kyai bersama isteri dan anaknya yang masih bayi. Isteri Pak Kyai juga cerita kalau isteri AR cukup dewasa dan supel.
Ini adalah tahun kedua aku mengajar di MI. Tahun sebelumnya aku memegang kelas 5(wali kelas). Namun di tahun kedua aku mengajar aku diberi amanah untuk jadi wali kelas 6, menggantikan AM.
AM itu salah satu mantar pacarku, dia hadir setelah aku putus dengan AR. Perjalanan cinta dengan AM ini nanti akan saya kupas di cerita yang berjudul "Pacarku Yang Posesif".
Lanjut cerita tentang tugasku jadi wali kelas 6...
Di tahun ini kelas 6 kehadiran siswi baru yang bernama Mila, yang notabene keponakannya AR.
Mila dititipkan AR di pesantren. Karena Mila ini anak muridku, jadi otomatis aku punya tanggungjawab mengawasinya, hingga kami pun menjadi dekat.
Dari sering mengantar dia mengambil uang kiriman orangtuanya di kantor pos, sampai pernah aku ajak menginap di rumahku. Bahkan jelang kelulusan Mila, aku juga tidak sungkan minta dibelikan kerudung sebagai kenang-kenangan.
Di dalam kebersamaan kami ini, Mila banyak cerita tentang kehidupan paman dan keluarganya. Mila tidak pernah tahu tentang hubunganku dengan pamannya dulu. Namun suatu ketika Mila bercerita tentang isteri pamannya. Menurut cerita Mila, dulu pamannya itu sempat pacaran dengan orang yg sekarang menjadi isterinya. Namun, ketika pamannya merantau ke Jakarta tiba-tiba pamannya memutuskan hubungan dengan pacarnya karena mau menikah dengan orang Jakarta. Karena tidak terima akhirnya pacarnya itu sampai nangis-nangis. Namun akhirnya pamannya gak jadi nikah dan ngajak mantan pacarnya tersebut balikan, hingga akhirnya mereka pun menikah.
Mendengar cerita Mila tersebut, aku sangat tercengang. Namun aku tidak bicara apapun.
Dalam hati aku berkata "cewek Jakarta yang akan dinikahi pamanmu itu aku, aku yang menjadi penyebab pamanmu putus dengan pacarnya..."
Jika saja aku punya kesempatan bertemu dengan AR, mungkin aku akan berkata:
"Bersyukurlah engkau tidak jadi menikah dengan aku, karena jika waktu itu kita jadi menikah, mungkin engkau tidak akan bahagia, engkau akan kesulitan membimbing dan mengarahkan aku, saat itu aku belum siap menjadi wanita dewasa..."