Cerita ini sebenarnya sambungan dari cerita sebelumnya yang judulnya "Cinta Pertamaku".
Jika cinta pertamaku waktu SMP tertambat pada anak laki-laki yang bernama Hasan. Di masa SMA pun aku punya cinta yang cukup lama terpatri.
Ketika SMA, aku sudah tidak tinggal lagi di pesantren. Aku sekolah pulang-pergi dari rumah.
Di perjalanan sekolah ini, aku biasa pergi bareng kakak kelasku, beda dua tingkat, kak Dina namanya. Waktu itu aku baru kelas 1 sedangkan Dina sudah kelas 3.
Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, kak Dina selalu banyak cerita tentang pacar-pacarnya. Intinya kak Dina itu sudah punya pengalaman banyak berkaitan dengan pacaran. Bahkan dia juga sering bercerita tentang pacarnya yang sangat royal.
Hingga suatu ketika Kak Dina bertanya padaku.
Kak Dina: "Yan...kamu sudah pernah punya pacar belum?"
Aku: " kalau yang pernah suka sama saya sih mungkin ada, tapi gak sampai pacaran"
Dan aku sendiri dalam hati komitmen tidak ingin coba-coba pacaran.
Kita tunda dulu pembahasan tentang Kak Dini, kita kembali pada cerita cintaku.
Orang pertama yang mebuat hati ini berdebar adalah seorang siswa SMA negeri yang kebetulan rumahnya sering aku lewati, dan perjalanan kami juga satu arah. Hanya di pangkalan angkot sudah mulai beda arah, dia harus lanjut naik angkot, sedangkan arah sekolahku masih terus lurus jalan kaki.
Hari itu...masih dalam rangka kegiatan MOS di sekolah. Aku sedang berjalan kaki menyusuri jalan menuju ke sekolah. Tiba-tiba seseorang melintas berjalan mendahuluiku, seraya berkata.
" permisi mbak...saya duluan". Suaranya yang lembut dan agak serak-serak sedikit mengagetkanku. Sekilas aku melihat wajah orang itu, dan deg..jantungku sedikit berdegup. Dia tersenyum dan terlihat tampan. Badannya agak sedikit besar, kulitnya agak kecoklatan, dan tampak terlihat ramah. Pokoknya berbanding terbalik dengan Hasan cinta pertamaku yang berkulit putih, badannya kecil, dan sikapnya dingin.
Sejak pertemuan pertama itu, entah kenapa rasanya aku ingin bertemu lagi. Dan setiap bertemu dia, hati ini selalu merasa berbunga-bunga. Awalnya aku tidak tahu siapa dia, tapi belakangan aku tahu ternyata namanya Dany dan dia juga masih ada hubungan kerabat dengan ibuku. Ibunya dia ternyata saudara sepupu ibuku. Aku pun memanggilnya kakak.
Cinta itu terus bersemi, namun tak pernah aku ungkapkan. Dan aku sendiri juga tidak tahu tentang perasaannya padaku. Yang jelas setiap bertemu dia aku selalu bahagia. Kelembutan sikapnya dan tutur katanya yang lembut, selalu membuat aku terhanyut. Di mataku dia begitu dewasa.
Mungkin bagi dia kebaikan sikapnya itu hanya sebagai rasa simpati dan hanya menganggapku adik. Namun aku begitu menyanjungnya. Bahkan setelah aku tahu dia sudah punya pacar, perasaanku padanya tetap tidak berubah.
Di dalam ketidak pastian tersebut, aku coba membuka hati untuk pemuda-pemuda lain yang coba memintaku jadi pacarnya. Dan aku pun sudah jalani, namun tetap perasaanku sangat sulit teralihkan.
Hingga menjelang kelulusanku...baru aku benar-benar menemukan cinta yang baru.
Singkat cerita...
Hampir 3 tahun setelah aku lulus SMA, aku pun menikah dengan orang yang belum aku kenal sebelumnya, bahkan pertemuan kami pun hanya kami lalui dalam satu bulan.
Dan berselang 2 tahun setelah aku menikah, Dany pun menikah dengan pacarnya. Dan informasi tentang prilaku dia dan kehidupan rumah tangganya pun selalu aku dengar.
Aku bersyukur...Allah berikan aku jodoh orang yang menjadi suamiku saat ini, dan bukan dia.
Dia yang dulu aku anggap dewasa dan mandiri, namun ternyata setelah menikah dia selalu menggantungkan hidupnya pada harta orangtuanya.