Pertama kali aku merasa menyukai seorang pria, saat itu aku baru sekolah kelas 1 SMP. Aku sungguh tidak benar-benar mengerti dengan perasaanku, rasanya aneh. Hanya dengan melihatnya, hati ini terasa berbunga-bunga. Namun, perasaan ini tak bisa aku ungkapkan.
Ketika SMP, aku tinggal di pesantren. Awal-awal kegiatan sekolah diisi dengan penataran P4(jadul banget ya...). Entah hari keberapa tepatnya aku tinggal di sana aku lupa, yang jelas belum genap satu minggu. Hari itu aku sedang duduk di bangku taman pesantren bersama kakak kelasku, sebut saja namanya Arsih. Tiba-tiba seorang anak laki-laki teman satu kelas kak Arsih datang menghampiri. Cukup lumayan tampan sih, kulitnya terlihat putih bersih. Dia pun berdiri di hadapan kami dan menyapa kak Arsih. Lalu entah apa maksudnya, tiba-tiba keluar sebuah kata dari mulutnya "memandang...".
Kak Arsih yang mendengar ucapan tersebut sontak berseru "cie...cie...hasan suka sama Dian(namaku)". Ternyata anak laki-laki itu bernama hasan.
Aku sontak mencubit tangan kak Arsih "apaan sih kak..."
Entah malu atau bagaimana, Hasan pun segera pergi berlalu.
Sejak kejadian itu, entah kenapa nama Hasan selalu dilekatkan dengan namaku dalam setiap guyonan kakak-kakak kelasku. Meskipun aku selalu bersikap acuh saat menanggapinya, tapi dalam hatiku yang paling dalam aku mengakui kalau aku menyukai dia.
Hari demi hari perasaan itu terus tumbuh dan bersemayam dalam hati. Namun tak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Aku tak pernah tahu perasaan Hasan yang sebenarnya. Namun setiap kali kami kebetulan bertemu(berpapasan), kami saling acuh dan tak pernah saling bicara. Situasi selalu terasa canggung.
Hingga suatu hari...
Rencananya besok ada peringatan Maulid Nabi di Sekolah. Malam itu semua sibuk mempersiapkan acara untuk besok. Tak terkecuali Hasan dan juga teman-temanku yang lain, mereka juga sibuk untuk mendekor panggung.
Beberapa hari setelah acara peringatan maulid nabi dilaksanakan...
Hari itu aku seperti biasa setiap ada waktu luang aku sempatkan ngobrol bersama teman karibku, Maya namanya. Obrolan kami pun menyinggung malam acara persiapan peringatan maulid. Maya bercerita, waktu itu dia sempat ngobrol dengan Hasan. Sebenarnya mereka ngobrol bertiga, yaitu Maya, Lily, dan Hasan. Dalam obrolan tersebut Maya coba menyinggung tentang aku. Dan yang membuat hatiku terluka waktu itu Hasan berkata "aku benci dia(aku), aku sukanya sama kamu(maya)".
Setelah mendengar cerita Maya, jujur hatiku terluka. Namun aku sendiri berusaha untuk tidak menunjukkannya. Dan sejak saat itu aku mulai membuka hati untuk menerima cinta cowok-cowok lain yang coba menembakku, tapi tidak sampai janjian ketemuan hanya sebatas mengungkapkan perasaan lewat surat dan kirim-kirim salam. Namun jujur, perasaanku pada Hasan tidak bisa hilang, meskipun su
Waktu pun terus berlalu....
Hasan pun sudah menyelesaikan studi jenjang SMP. Dia pun keluar dari pesantren, namun masih melanjutkan jenjang SMA di sana.
Setelah aku lulus SMP, aku juga tidak tinggal di pesantren. Sama seperti Hasan, aku juga hanya melanjutkan SMAnya di sana. Di dalam perjalanan pulang-pergi antara rumah dan sekolah itulah aku menemukan sosok yang menggantikan perasaanku pada Hasan. Walaupun tidak pernah jadian, bahkan hingga kini aku tidak pernah tahu tentang perasaannya padaku.
Waktu pun terus berlalu, masih dalam lingkungan sekolah yang sama. Sejak pertama kali Hasan mengatakan kata "memandang...", tak pernah ada sepatah kata pun yang pernah terucap di antara kami, bahkan sekedar menyapa pun tidak.
Hingga suatu hari...hari itu baru beberapa hari setelah lebaran. Waktu itu aku masih kelas 1 SMA. Tanpa disangka Hasan dan beberapa temannya main ke rumah. Tak ada obrolan di antara kami, aku sekedar bertanya "main?..." Dan dia pun hanya menjawab singkat "iya...". Lalu aku menyuguhkan minuman dan duduk agak jauh darinya. Tak ada pembicaraan apa pun. Dan dia juga malah asik ngobrol dengan teman-temannya.
Dalam hati hanya membatin "tumben dia main, mungkin lagi iseng-iseng saja jalan-jalan bareng teman-temannya".
Kurang lebih satu jam dia main di rumahku, setelah itu dia pamit untuk pulang.
Hari pun terus berlalu...
Hingga suatu hari, entah apa yang mendorongku untuk tiba-tiba mengajak temanku, Wati namanya, untuk main ke rumah Hasan. Setibanya di sana ternyata Hasan sedang tidak ada di rumah, aku hanya bertemu kakak laki-lakinya. Kami hanya duduk sebentar di teras.
Kedatanganku ke rumah Hasan tidak aku ceritakan pada Hasan, dan Hasan pun tidak pernah bertanya.
Hari pun terus berlalu...
Hari itu aku baru saja selesai menunaikan shalat zhuhur di mushola putri. Ada adik tingkatku yang menghampiri, Esih namanya. Esih waktu itu kelas 3 SMP, sedangkan aku kelas 1 SMA. Esih pun menyampaikan maksudnya, kalau dia dapat pesan dari Hasan yang katanya Hasan ingin berbicara denganku. Aku pun mengkerutkan keningku sambil membatin "ada apa ya? tumben..."
Sepulang sekolah aku langsung menuju ke tempat yang diminta Hasan, yaitu rumah temanku. Kebetulan rumah temanku itu biasa dipakai nongkrong anak-anak sekolah. Di sana ternyata Hasan sudah menunggu. Dia pun membuka percakapan.
"Yan(Dian), sekarang kan kita sudah sama-sama dewasa, gak nyaman rasanya kita diam-diaman terus". Tuturnya,aku hanya menyimak sambil manggut-manggut. Lalu dia pun melanjutkan perkataannya.
" gini Yan...kakakku sepertinya suka sama kamu, maukah kamu coba janjian ketemu sama dia?"
Aku pun sedikit menohok, aku pikir dia yang mau nembak aku, ternyata dia hanya ingin nyomblangin kakaknya.
" baiklah...aku mau ketemu dia" jawabku lirih. Aku tidak mau Hasan kecewa, walaupun aku tidak tahu nanti ke depannya akan bagaimana.
"kalau begitu, nanti saya bilangin sama kakak saya, dan kita atur lagi waktunya". Ungkapnya seraya mengakhiri pembicaraan.
Hari pun berlalu begitu saja...
Sejak obrolanku dengan Hasan hari itu, sudah tidak ada lagi pertemuan lagi. Bahkan rencananya ingin mempertemukan aku dengan kakaknya tidak pernah terjadi. Hingga dia pun lulus dan tidak pernah bertemu lagi.
Namun belakangan aku sempat dengar informasi kalau dia saat itu bekerja di parkiran sebuah swalayan.
Singkat cerita...
Setelah aku menikah dan punya anak dua, sekalian belanja ke swalayan aku sempatkan menemuinya.
Aku coba menyapanya
"hai...kamu kerja di sini?". Sapaku tanpa basa-basi dan agak sedikit canggung.
"iya...". Jawabnya singkat.
" Nanti mau ada reuni sekolah, apa kamu mau datang?" Lanjutku.
"Kalau diundang saya datang, kalau gak diundang ya gak datang". Jawabnya dengan ekspresi tetap datar dan dingin(memang bawaannya, sok cool gitu...).
"oh..." aku sedikit menohok dan segera berlalu pergi.
Mungkin itulah pertemuan kami yang terakhir, dan sejak itu kami sudah tidak pernah bertemu lagi.