Keysha terus berlari hingga ia sampai pada sebuah gang buntu. Napasnya tersengal-sengal, peluh juga mengalir dari pelipis hingga pipi tirus nan putih. Netranya menatap sekitar, mencari tempat untuk bersembunyi. Sumpah, ia tak ingin mati saat ini.
“Astaghfirullah...” Keysha terperanjat duduk di atas tempat tidur lalu menghela napas panjang.
“Syukurlah, ternyata hanya mimpi.”
Ia mengambil gelas yang berisi air di atas nakas lalu meminumnya hingga habis. “Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Perasaanku juga tiba-tiba merasa tidak enak.” Keysha memegang dadanya, terasa detak jantungnya berpacu cukup cepat.
Setelah ia rasa cukup tenang, Keysha membaringkan kembali tubuhnya, menarik selimut lalu pergi ke alam mimpi.
KRING...KRING..KRING....
Suara jam weker membuat wanita berpiayama pink itu membelalak. Tangannya meraba mengikuti suara yang begitu mengganggu ditelinganya.
Setelah didapat, Keysha menekan tombol off lalu memejamkan netranya kembali.
Tiba-tiba ia ingat akan satu acara penting pagi ini... WISUDA. Ia terperanjat duduk, bergegas turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi dan... BRAAK!! Keysha terpeleset diambang pintu. “Aw!” ia memekik lalu mengelus bokongnya sambil sedikit memberi pijatan disana. Perlahan ia berdiri dan melangkah dengan sedikit membungkuk.
“Sial sekali, gara-gara mimpi semalam membuat pagi ini seperti sedang dikejar-kejar oleh makhluk gaib.” Keysha mendengus kesal seraya menutup pintu kamar mandinya.
Beberapa menit kemudian, Keysha keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi dada hingga pangkal paha. Hari ini adalah hari terakhirnya menstruasi jadi Keysha bisa menyelesaikan mandinya lebih cepat. Keysha segera memakai kebayanya dan memoles make up-nya sedikit lebih on namun masih terlihat natural dengan surai blonde yang ia biarkan tergerai indah.
Perfect. Keysha keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Seperti biasa kedua orangtuanya tidak pernah ikut sarapan bersamanya. Mereka sibuk dengan karir masing-masing dan Keysha... kesepian?
Setelah menyelesaikan sarapannya, ia langsung menyambar kunci mobil serta kartu undangan. Keysha masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju gedung tempat acara wisudanya tersebut.
***
Kini Keysha telah tiba di parkiran mobil gedung tersebut. Di depan lobby terlihat Aidiel dengan setelan jas kantor berwarna coklat dengan kemeja hitam serta dasi yang senada dengan jasnya. Keysha tersenyum dari dalam mobil. Ia turun dari mobil lalu berjalan dengan anggunnya menghampiri Aidiel.
“Morning hunny,” sapa Aidiel sambil mencium pipi kanan dan kiri Keysha serta keningnya.
“Morning. Maaf ya membuat kamu menunggu lama,” ucap Keysha dengan rona sendunya.
“Not problem hunny, aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu.” Aidiel tersenyum membuat Keysha bernapas lega seraya memeluk Aidiel.
“Terima kasih telah datang di acara wisudaku. Kalau tidak ada kamu, entah siapa yang akan menjadi waliku saat ini,” lirih Keysha membuat Aidiel terkekeh geli.
Pria itu menatap lekat manik kecoklatan milik Keysha seraya menarik lembut dagunya. “You’re very welcome. Kebetulan aku juga punya waktu dan waktu bersamamu adalah yang paling berharga.”
Keysha yang merasa tersipu, menarik kuat hidung mancung Aidiel. “Aku sayang kamu, I love you more.”
“Aw! Hunny lepaskan sakit loh ini.” Aidiel memekik dan Keysha melepaskannya.
“I love you too,” ucap Aidiel membuat wajah Keysha memerah.
***
Acara wisuda pun telah usai, Aidiel mengajak Keysha ke suatu tempat. Sebelumnya netra Keysha di tutupi oleh sehelai kain berwarna merah.
“Kita mau kemana sih hunny?” tanya Keysha yang sudah sangat penasaran. Aidiel mendesis.
“Sabar dong hunny, nanti juga kamu akan tahu kemana kita akan pergi.”
Ucapan pria itu membuat Keysha terdiam dan berusaha mempercayainya. Beberapa jam kemudian, keduanya telah sampai di salah satu vila mewah di sekitar pantai berpasir putih dan air laut berwarna hijau tosca itu.
Aidiel turun dari mobil, mengitarinya lalu membukakan pintu untuk Keysha.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Keysha saat tangan Aidiel meraih lembut tangannya.
“Ayok turun.” Aidiel menarik perlahan tangan Keysha dan sang empunya mengangguk patuh.
Kebaya yang Keysha gunakan sungguh pas ditubuhnya sehingga terlihat lekukan di tubuhnya. Aidiel membawa Keysha ke satu ruangan, dimana ruangan tersebut adalah sebuah kamar yang sangat mewah.
Aidiel menghembuskan napasnya tepat di telinga Keysha. “Apa kamu sudah siap?” bisiknya membuat Keysha mematung lalu menganggukkan kepalanya seolah terhipnotis oleh suara bariton itu.
Perlahan Aidiel membuka ikatan kain yang menutupi netra Keysha, ia tersenyum menyeringai. Setelah kain itu terlepas, Keysha tercekat kagum lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu.
“Kita dimana hunny?” tanya Keysha yang kini berhadapan dengan Aidiel.
“Di tempat yang bisa membuatmu jauh merasa lebih baik,” jawab Aidiel dengan pandangannya yang begitu lekat. Tanpa menunggu lama netra Keysha seolah terkunci pada manik hitam milik Aidiel.
Keysha seperti tersihir dengan ketampanan kekasihnya yang telah ia cintai hampir 4 tahun ini. Dan mereka pun melakukan yang tak seharusnya mereka lakukan diluar ikatan pernikahan.
***
Beberapa bulan setelah kejadian hari yang sangat indah dan berarti bagi Keysha, pagi ini tiba-tiba Keysha merasakan mual yang sangat mengganggu aktivitasnya. Sudah hampir lima kali Keysha bolak-balik pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Ia mencoba menghubungi Aidiel, namun nihil ponsel Aidiel tidak bisa dihubungi. Keysha terduduk dengan tubuh yang sudah melemas. Iapun segera mandi untuk menghampiri Aidiel di kantornya.
Beberapa bulan belakangan ini, Aidiel memang cukup sulit di hubungi. Ditambah suasana hati Keysha yang sangat sensitif. Tak jarang Aidiel sering mematikan ponselnya.
***
Setiba di kantor Aidiel, Keysha seolah mendapat kekuatan kembali. Ia langsung menuju ruang kerja pria yang sangat dicintainya itu.
BRAK!
Keysha membuka pintu dengan cukup keras, tampak dua orang pria menatap dirinya bersamaan. Keysha tertegun karena tidak melihat kehadiran Aidiel disana. Ia melangkahkan kakinya perlahan menghampiri kedua pria tersebut.
“Apa kalian tahu dimana keberadaan Aidiel?” tanya Keysha yang menatap mereka lurus-lurus.
“Aidiel? Bukankah kantor ini telah ia jual beberapa bulan yang lalu?” tanya salah seorang pria tersebut.
“Telah di jual?” tanya Keysha tidak percaya. Dan pria yang bertanya tadi pun menganggukkan kepalanya.
“Oh iya saya menemukan sebuah surat di dalam laci,” pria itu mengambil sebuah amplop dari dalam lacinya. “Surat ini sepertinya ditulis langsung oleh Aidiel dan tujuan penerimanya tertulis Keysha Mafaza, apa itu kau?” sambungnya dan Keysha mengangguk lemah. Pria itu memberikan surat tersebut kepada Keysha kemudian Keysha pamit keluar dari ruangan tersebut.
Setiba di dalam mobilnya, Keysha membuka amplop itu dengan perlahan. Air matanya telah jatuh sejak ia menutup pintu mobilnya, tubuhnya terasa sangat lemas dan kekuatannya seolah menghilang.
“Dear Keysha Mafaza, saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak bisa lagi melihatmu. Maaf aku harus pergi dari hidupmu. Aku tahu kamu sekarang pasti sedang mengandung anakku. Tolong dijaga baik-baik ya. Maaf aku tidak bisa memberikan senyuman lagi dihari-harimu. Sejak lama aku memikirkan hal ini, seharusnya hari itu tidak pernah terjadi. Jujur aku sangat mencintaimu, hunny. Aku sayang sekali padamu. Tapi Tuhan berkehendak lain, sebuah virus perlahan membunuhku dan mematahkan semangatku. Aku tak bisa lari dari itu. Mungkin Tuhan lebih menyayangiku. Selamat tinggal dan terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Bagiku kau dan calon anak kita begitu sangat berarti. Dariku, Aidiel Faris.”
Tangis Keysha pecah seketika. Ia memukul dengan keras setir mobilnya. “Kepergianmu membuat hati ini tak lagi bertuan.”
------ Selesai -------
#Just info, cerpen ini adalah salah satu cerpenku yang aku ikut lombakan di sebuah event. Well, semoga terinspirasi 😊