#🧛JatuhCintaDenganVampir#
Aku adalah seorang gadis cantik yang masih sangat polos dan masih berkuliah di sebuah Universitas ternama di kota M.
Suatu ketika, disaat liburan semester aku diajak oleh temanku berlibur ke desanya.
Awalnya aku sangat senang, karena bukan kami berdua saja yang berangkat ke desa, melainkan kami berempat.
Aku,Dian,Dony dan Vicko. Vicko dan Dony adalah sahabatku sejak kecil, mereka benar benar menyayangi aku seperti saudaranya sendiri.
Kami pun berangkat ke Desa J menggunakan bis.
Ketika menumpang diatas bis, aku melihat seorang wanita hamil yang sedang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk, akhirnya kuputuskan untuk memberikan tempat dudukku padanya, wanita itu menolak tetapi aku memaksa karena aku tidak tega melihatnya terhempas ke sana kemari.
"Mari Bu duduk ditempat aku aja, aku masih kuat untuk berdiri, ibu harus duduk agar perut ibu nyaman dan aman."Kataku mengajaknya duduk.
"Makasih ya Dek?"Jawab wanita itu sambil beranjak ke tempat duduk tempatku tadi.
"Sama sama Bu,"jawabku lagi.
"Sesama manusia harus saling membantu Bu!" Sambungku lagi.
Aku berdiri sambil tersenyum melihat teman temanku yang sudah pada mimpi indah, itulah aku tak pernah tidur ketika naik bis, ada saja dipikiranku mengenai perjalanan kami.
Tiba tiba bisnya berhenti karena ada lagi penumpang yang mau menumpang, anehnya penumpang itu berdiri tepat di tengah hutan setelah jauh dari kota.
Apa yang dilakukan pemuda ini di hutan sebesar ini?
Pertanyaan itu selalu berkecamuk dalam hatiku.
Aku baru sadar tatkala mataku bersitatap langsung dengan wajah pria tampan itu, aku katakan tampan karena memang wajah pria itu sangat tampan.
Lama kelamaan pria itu semakin mendekati aku, aku yang memakai headset di telingaku sengaja tak mau menyadari keadaan karena aku tak pernah berniat untuk berkenalan dengan pria itu.
**
"Hai!!" Sapa pria berwajah dingin itu padaku, tetapi aku sengaja tak mendengarnya karena sementara mendengar musik dari ponselku."
Tak lama kemudian aku pun tersenyum padanya dan mengucapkan kata "Hai, juga!!"Akhirnya aku pun membalas sapaannya.
"Aku Aron!"Ucap Pria tadi memperkenalkan diri.
"Aku Kirana, biasa di panggil Kiran atau Arini."Ucapku sambil tersenyum.
"Kenapa Kirana tidak duduk saja di kursi kosong itu?" Tanya pria itu lagi.
"Maaf aku mendengar musik, sehingga lupa kalau kursi itu sudah kosong."Jawabku sambil terus memandangi pemandangan yang terhampar indah di setiap jalan yang dilalui bis yang kami tumpangi.
"Ayo duduk!! Biar kamu tidak kecapaian berdiri terus,"ucap pria itu yang tak lain adalah Aron.
Maaf aku sering lupa kalau pria tampan dengan tatapan dingin itu bernama Aron, ya karena dia bukan temanku sehingga aku tak menghafal namanya, dia orang baru yang ingin berteman denganku.
**
#🧛JatuhCintadenganvampir#
Sepanjang perjalanan aku tidak menyadari kalau Aron selalu saja memandangi aku, aku tak ingin menghiraukan tatapan netra biru itu karena aku memang seperti itu, selalu cuek dan tak mau terlalu mengenal orang lain secara khusus, biarkan waktu yang membuktikannya.
Aku merasa aneh, kenapa perjalanan kami semakin jauh dan belum sampai saja di desa J dimana tempat tinggal Dian sahabatku itu.
Ketika aku tanpa sadar menatap ke arah Aron, mata pria itu seakan akan selalu menatapku dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Buru buru aku menatap ke luar jendela bis yang membawa kami ke arah desa J yang menurut Dian Desanya itu sangat jauh sekitar 5 jam perjalanan.
Aku hanya bisa pasrah pada keadaan ini, aku tak tahu kenapa aku harus berdebar ketika mataku bertemu langsung dengan Aron si pria misterius yang baru saja kukenal.
Jantungku berdetak kencang tak beraturan, tetapi aku masih berani untuk menatapnya lagi, aku penasaran dengan tatapan pria tampan itu.
Aduh Aron kenapa kamu membuat aku terjebak dalam perasaan yang tak pasti seperti ini.
Tiba tiba aku merasa jantung aku semakin berdetak tatkala kulihat Aron sudah berada di sampingku.
"Kapan kamu duduk di samping aku Aron?"Tanyaku heran karena memang dari tadi Aron berdiri di depanku melewati empat kursi.
"Aku sudah mencoba menyapamu, tapi kamu gak sadar bahkan terus saja menatapku dengan tatapan mata indahmu itu Kirana." Ucapnya meyakinkan aku.
"Tapi..."Ucapanku tidak kuteruskan.
Tiba tiba Kernet bis itu berteriak kalau bis kami akan memasuki terminal kota J.
Teman temanku sudah bangun dan mulai berkemas kemas dan bersiap siap untuk turun.
Ketika tersadar Aron sudah menghilang entah kemana.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru bis itu tapi tak kutemukan wajah pria tampan itu.
Ya sudah mungkin dia sudah turun duluan.
"Kiran, kok melamun?Ayo turun!"Kata Dian sambil menarik tanganku.
Aku pun hanya menurut saja.
"Ayolah kita sudah dijemput Ayahku!"Ucap Dian lagi sambil melambaikan tangannya pada pria setengah baya yang sudah menunggu di seberang jalan.
Kami berempat pun menyeberang ke tempat dimana ayahnya Dian menunggu kami dengan sebuah mobil Toyota Alphard.
"Wah ternyata orang tua Dian sangat kaya, terbukti ayahnya menjemput kami dengan sebuah mobil Toyota Alphard." Gumamku dalam hati.
Setelah tas tas kami masuk ke dalam bagasi kami pun masuk ke dalam mobil.
"Halo Pak!! Makasih sudah menjemput kami!"Kataku membuka percakapan.
"Oh iya maaf perkenalkan saya Kirana,itu Vicko dan itu Dony!"Ucapku memperkenalkan diri.
"Selamat datang di Desa J dan saya sangat senang jika adik adik mau berlibur kerumah kami,ayo masuk mobil!"ajak pria setengah baya itu lagi.
"Makasih Pak!!"jawabku berbarengan dengan jawaban Dony dan Vicko.
Setelah kami masuk ke dalam mobil, mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang.
"Masih jauhkah rumahmu Dian?"Tanyaku lagi.
"Tidak jauh, mungkin sekitar dua kilometer dari terminal tadi." Jawab Dian.
"Nikmati saja perjalanan kita!"Ucap Vicko yang dari tadi hanya diam tanpa kata.
"Siap Tuan!!"Jawab Dony sambil memberi hormat pada Vicko.
Kami pun bercengkrama sampai tiba dirumah Dian.
Ternyata rumah Dian,sangat besar di desa J.
Halamannya sangat luas, dan di garasi terparkir beberapa mobil mewah yang harganya sangat fantastis.
"Ayo turun!!Ajak Dian sambil tersenyum.
Aku pun turun dan mengambil tasku di bagasi mobil.
Setelah kami semua turun dari mobil, kami pun diantar ke kamar yang yang sudah disiapkan oleh tuan rumah.
Kamarnya sangat luas dan rapi, di dalam kamar itu terdapat empat buah tempat tidur.
Aku pikir ini rumah Dian, jadi mungkin Dian tidur di kamarnya tetapi apa yang kupikirkan itu salah, justeru Dian mau bergabung dengan kami di kamar itu.
"Dian!! Kenapa kamu tidak tidur saja di kamar kamu?tanyaku penasaran.
"Masa aku tidur sendirian terus sahabat aku tidur sendirian disini?"ucap Dian sambil merangkul pundakku.
"Dian makasih ya kamu memang sahabat aku yang paling baik!"ucapku sambil memeluk Dian.
Sebenarnya aku merasa aneh aja, kok bisa bisanya rumah sebesar itu terletak di sebuha desa yang sangat jauh dari kota, ya mungkin hanya perasaan aku saja yang seperti ini karena aku orang baru di desa J.
"Yuk mandi!"Ajak Dian sambil menarik handuk Savra yang selalu menjadi handuk andalan kami.
"Ayo mandi sebelum matahari terbenam."ucapku pada Dian.
Setelah itu kami berdua pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, ya namanya juga anak perempuan kalau mandi bersama itu wajar.
Selesai mandi kami pun masuk ke dapur untuk memasak atau melihat apa yang akan kami masak untuk makan malam kami.
Tetapi ketika kami masuk ke dalam kamar, bibi yang memasak tidak mengijinkan kami untuk masak tapi hanya boleh melihat saja.
Karena Bibi bilang kami baru saja datang dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan di dapur sebesar itu.
Kami pun hanya membantu seperlunya saja, hingga masakan selesai di hidangkan diatas meja.
"Non, ayo panggil Tuan dan Nyonya serta teman teman Non untuk makan malam bersama."ucap Bibi yang bernama bibi Inem itu.
Setelah Memanggil semua penghuni rumah kami pun mulai makan malam bersama tanpa bersuara sedikitpun hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring.
**
Malam semakin larut aku tak bisa memejamkan mataku, karena bayangan pria itu selalu menghantuiku, aku tak tahu kenapa dengan perasaan aku ini, ketika ku tengok ke sebelahku Dian sudah sangat terlelap karena kecapaian di jalan tadi.
Setelah beberapa saat ku ambil Rosario yang selalu aku bawa kemana mana untuk selalu mengingatkan aku pada Tuhanku.
Aku pun berdoa sejenak dan mulai menutup mataku, karena aku merasakan mataku semakin berat dan tidak bisa ku paksa untuk terbuka lagi.
Dalam tidurku aku bermimpi bertemu dengan Aron pria bernetra biru yang selalu memandang aku penuh dengan tatapan tajam.
Aku pun terbangun dari tidurku, dan menuju ke dapur untuk mengambil air, ketika aku sudah berada di dalam dapur kulihat ada sekelebat bayangan melintas di depan pintu dekat kamar mandi, aku pun langsung menyebut nama Tuhanku dalam hati, sambil terus berdoa aku pun membuka mataku dan apa yang kulihat ternyata Papanya Dian sementara duduk di ruang keluarga sambil matanya menatap ke arah laptop, ya mungkin Pak Hendra masih bekerja menyelesaikan pekerjaannya.
"Kirana!!" Sebuah suara mengagetkan aku yang sedari tadi memegang gelas penuh air minum itu.
"Eh Vicko maaf aku lagi melamun!" ucapku sekenanya.
"Ayo Kiran, tidak baik malam malam kelayapan keluar kamar sendirian kalau perlu bawa saja teko berisi air ke dalam kamar biar kamu bisa minum di dalam kamar tanpa menggangu tidur orang lain." ucap Vicko sambil mengambil teko dan mengisi penuh dengan air kemudian kami pun kembali ke kamar.
Vicko dan Dony tidur di sebelah kami yang di batasi dengan sekat.
Aku pun kembali merebahkan diriku di samping Dian dan mulai memejamkan mata.
Aku pun bermimpi bertemu lagi pria tampan nan dingin itu yang tak lain adalah Aron.
Dalam mimpi itu Aron mengajakku untuk berjalan diatas awan, berkeliling alam semesta ini.
Aron terlihat sangat tampan dengan kemeja biru mix putih yang membalut tubuh atletisnya itu.
Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi lagi karena ketika aku membuka mata, cahaya matahari telah masuk ke dalam kamar dan menyilaukan mata ini.
Dian sudah tidak ada di sampingku lagi, mungkinkah Dian sudah bangun dan melakukan pekerjaan di dapur?
Aku pun bangun dan merapikan tempat tidur dan seger masuk kamar mandi dan mulai merilekskan otot otot tubuhku yang kurasa kaku akibat mimpi semalam.
Setelah mandi, secepatnya aku berganti pakaian dan menyisir rambutku, mengoleskan sedikit krim bimbalo kesukaanku di wajahku agar tidak kelihatan kusam.
Setelah itu aku beranjak ke arah dapur, saat hendak masuk ke dalam dapur aku bertemu Dian, Vicko dan Dony.
"Hei putri tidur apakah kamu benar benar bangun?"ucap Dony menggoda.
"Ya, aku semalaman tidak bisa memejamkan mata sehingga baru bisa bangun sekarang."Ucapku sambil tersenyum.
"Ayo sarapan!"Ajak Dian sambil menarik tanganku dan kami berempat pun menuju ke ruang makan.
"Selamat Pagi Pak dan Ibu!"Ucap kami berempat serempak.
"Pagi juga anak anak, ayo mari silahkan duduk dan kita sarapan pagi bersama sama."Ucap Pak Hendra sambil mempersilahkan kami untuk duduk dan makan bersama mereka.
Sebelum makan, Pak Hendra mengatakan bahwa ia dan istrinya akan ke kota untuk sebuah bisnis mungkin selama dua atau tiga hari di sana.
"Baik Pak kami akan menjaga rumah, sambil berlibur di sekitar desa ini."ucap Dony penuh semangat.
**
"Don, apa kamu yakin mau berkeliling desa ini?"Tanyaku pada Dony yang terkenal dengan arogannya itu, sebenarnya tidak arogan sih cuma apapun yang ia lakukan dan ia perbuat menurut aku itu termasuk dalam arogan.
"Hei putri tidur, apa kamu mau ikut kita ke rumah neneknya Dian?"Tanya Dony sambil duduk di bangku sebelahku.
"Tujuan kita kemari kan untuk jalan jalan Don, masa aku kesini untuk tidur tidur saja?"ucapku sedikit kesal.
"Kita harus bertanya dulu sama kamu tidak ada salahnya kan?"sambung Dony lagi.
"Iya bawel!!"Kataku sambil tersenyum dan hendak melangkah masuk ke dalam kamar tapi langsung ditarik Dony hingga aku terduduk di pangkuannya.
"Dony bercandanya jangan kelewatan deh, aku tahu kamu naksir aku kan tapi Don, kamu itu sudah ku anggap seperti kakak bagiku!"ucapku setengah berbisik.
"Sebagai seorang Kakak kamu harusnya melindungi aku bukan seperti pagar makan tanaman begini."Ucapku lagi sambil tersenyum dan melepaskan diri dari pelukan Dony.
Kulihat Dony menghela nafasnya dengan kasar dan bangun dari duduknya kemudian melangkah ke arah Dian dan Vicko.
Vicko yang sudah tahu, apa yang terjadi tadi pun menghibur Dony.
"Sudahlah Don, perlahan lahan kamu kasih perhatian ekstra padanya,aku yakin pasti dia akan berbalik arah dan membalas semua perasaan kamu padanya!"ucap Vicko penuh rasa empati pada sahabatnya itu.
"Aku yakin lagunya Zigaz"Sahabat jadi Cinta" akan menjadi kenyataan."Ucap Dony pada Vicko.
"Tapi harus diimbangi dengan perhatian kamu Dony!"Ucap Dian pada Dony yang tak lain adalah sepupu Dony.
Dian dan Dony adalah saudara sepupu dari ibu.
Dian dan Vicko sudah berpacaran, sedangkan Dony masih jomblo alias masih sendiri dan mendambakan perhatian dan cinta dari Kirana.
**
"Semuanya sudah siap, ayo berangkat!"ucap Dian sambil mengeluarkan empat buah sepeda dari gudang yang sudah di bersihkan oleh Pak Udin untuk mereka pagi tadi.
"Wah, sepedanya sangat bagus Dian?"ucapku tanpa merasa malu dan baper.
"Kamu bisa kan pakai sepeda?"Tanya Dian lagi.
"Iya walaupun aku baru belajar tapi aku yakin kalau aku bisa menggunakan sepeda secara langsung."Ucapku percaya diri.
"Kalau kamu gak bisa bilang ya biar aku bonceng kamu!"ucap Dony penuh perhatian.
"Makasih Don, justru aku tidak bisa makanya aku harus belajar Don!"ucapku menolak perkataanya secara halus.
"Baiklah kalau kamu capek mengayuh sepedaku bilang ke aku ya Kiran?"ucap Dony lagi dan ku balas dengan anggukan kepalaku.
Setelah semua persiapan kami beres kami pun pamit pada bibi inem agar dia tidak khawatir dengan kepergian kami.
Sepanjang jalan aku benar benar sangat menikmati pemandangan alam yang indah disepanjang jalan yang kami lalui.
"Kirana, kalau capek bilang ya biar aku tenang!"ucap Dony setengah berteriak karena jarak kami bersepeda lumayan agak jauh apalagi aku masih tahap belajar.
Dengan susah payah ku kayuh sepedaku hingga berdekatan kembali dengan mereka bertiga.
**
Beberapa menit kemudian kami pun menemukan rumah milik neneknya Dian.
Kami pun bersalaman dengan Nenek dan Kakek Dian yang ternyata adalah pejuang kemerdekaan Indonesia tahun 1945 silam.
Mereka sangat ramah kepada kami, mereka merasa terhibur karena ada cucu dan teman temannya berkunjung ke rumah mereka.
"Ayo anak anak silahkan masuk dan istrahat, biar bisa berkeliling desa ini lagi "Ucap Kakek Dian yang sudah sangat lanjut usia tapi masih terlihat gagah berani.
Setelah kami beristirahat, Dian mengajak kami ke belakang rumah neneknya, disana ada sebuah rumah kecil berisi lukisan jaman dulu dan juga buku buku cerita jaman dulu yang membuat aku penasaran.
"Dian!! apa aku boleh membaca beberapa buku itu?"ucapku sambil tersenyum pada sahabatku itu.
"Boleh dong, aku juga sering membaca buku buku itu saat berkunjung kesini."ucap Dian sambil tersenyum dan mempersilahkan aku mengambil beberapa buku dan masuk ke dalam ruangan baca berukuran mini itu.
Ketika melangkah ke arah buku buku yang agak kuno kakiku terantuk dan aku nyaris jatuh tetapi langsung di peluk Oleh Dony yang entah kapan ia berada tepat disamping aku.
Dan tanpa sengaja lukisan tua yang terpampang di tembok itu pun jatuh dan retak sedikit kacanya.
"Maaf Dian, aku benar benar tidak sengaja!"ucapku pada Dian sambil memelas.
"Tidak apa apa Kiran, nanti aku bilang ke Kakek ya?"ucapku sambil menunduk.
"Ah sudahlah nanti aku saja yang bilang ke Kakek!"ucap Dian sambil merangkul pundakku dan kembali berjalan menuju Vicko yang tengah asyik membaca buku cerita klasik itu.
Ketika kami tengah asyik berdebat, datanglah Kakek Dian dan menyapa kami yang membuat jantungku berdetak kencang karena takut dimarahi Kakek Dian.
"Kek, maaf tadi aku menjatuhkan lukisan itu dan bingkai kacanya retak Kek! ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Tidak apa apa, karena kamu mengakui kesalahan kamu maka lukisan itu jadi milikmu tolong disimpan dengan baik baik ya,kacanya tidak perlu diganti biar aroma klasik dari lukisan itu tetap terasa."Ucap sang Kakek sambil tersenyum.
Aku merasakan kalau senyum Kakek seperti menyembunyikan sebuah rahasia terpendam yang tak pernah diketahui oleh siapapun.
Aku pun akhirnya menerima lukisan yang telah dibungkus oleh sang Kakek dengan rasa gembira.
"Akhirnya ia berpindah tangan juga, semoga kalian berjodoh ya Nak?"Gumam Kakek Dian dalam hatinya.
Dengan senyuman yang merekah dibibir tua itu akhirnya aku pun menerima bingkisan itu dengan penuh rasa berdebar, apa yang aku lakukan ini apakah benar atau salah tetapi aku sudah menerima lukisan itu tanpa merasa bersalah justru sangat mendebarkan jantungku ini.
Setelah dirasa cukup, kami pun pamit pulang ke rumah Dian yang jaraknya hanya dua kilometer saja dari rumah Kakek.
Sepanjang jalan, hatiku masih terus berdebar membawa lukisan kuno itu.
Aku merasa ada sebuah tatapan aneh dari sekitar jalanan yang kami lewati, aku merasa banyak mata memandang ke arahku.
Ku serahkan semua kekhawatiran aku pada Sang Maha Esa, ku harap aku tidak lagi merasa cemas dan berdebar.
Beberapa menit kemudian kami pun telah tiba dirumah besar milik Dian itu.
"Ayo sahabat sahabatku kita istrahat sejenak dan mandi kemudian makan dan mulai membaca buku buku yang kalian ambil dari ruang baca Kakek."Kata Dian sambil tersenyum.
Dengan langkah gontai, aku pun menuju kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhku dengan air hangat yang sudah disediakan di dalam kamar mandi itu.
Selesai mandi, aku pun berganti pakaian dan menyisir rambut panjangku lalu beranjak ke ruang makan, disana semua sahabatku sudah menunggu ku.
"Maaf ya,aku terlambat!"ucapku sambil menarik kursi untuk duduk.
"Santai aja tuan putri!"ucap Dony sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu kecapaian ya hari ini kita menuju Desa Kakek Dian hanya menggunakan sepeda?"tanya Vicko sambil mengambil piring dan memasukkan nasi serta lauk pauk ke dalam piringnya.
Kami berempat pun makan dengan khidmat.
Selama makan diantara kami tak ada satupun yang saling berbicara, itulah kebiasaan kami yang sudah ditanamkan oleh orang tua kami sejak kecil dulu.
**
Selesai makan kami semua duduk berkumpul di ruang belakang dekat taman dan kolam renang.
Tak terasa hari sudah malam, aku merasakan sesuatu hal yang aneh terjadi.
Hatiku berdebar tak menentu tatkala kulihat sepasang mata biru menatap tajam ke arahku, dan saat itu yang paling mendebarkan lagi adalah semua sahabatku seakan terhipnotis dan tertidur pulas bahkan tak ada satu pun diantara mereka yang membuka matanya hanya aku yang masih melek, padahal makan malam baru saja lewat dan malam pun baru saja turun menguasai buana panca tengah ini.
Tiba tiba kulihat pria bernetra biru itu datang dan mengelus rambutku, aku hendak berbicara tetapi tak bisa karena lidah ku kelu, aku merasa seperti terbang diatas awan awan.
"Hai, apa kamu melupakan aku Kiran?"ucap Pria yang duduk tepat di sampingku itu.
Aku seperti kerbau dicocol hidungnya, menurut dan diam saja tanpa mencerna apa kata kata yang baru saja dia ucapkan, sedangkan di dalam tubuhku ini aku merasakan darahku berdesir menatap mata biru itu dan wajah tampan itu, wajahnya seperti Aron tetapi bukan Aron yang ku kenal karena wajah rambut Aron berwarna keemasan saat bertemu denganku diatas bis itu, tapi pria ini berambut hitam pekat dan beralis tebal.
"Maaf aku lupa siapa kamu!"ucapku sambil memaksakan diriku untuk tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku pada pria misterius itu.
"Rumahku tak jauh dari sini juga, sebenarnya tadi aku mau bareng kalian pergi ke tempatnya Nenek Dian tetapi aku terlambat karena kalian sudah berangkat."ucap pria netra biru itu lagi.
"Ayo aku tunjukkan sesuatu yang bakal kamu kenang selamanya,"ucap pria itu sambil memegang erat tanganku dan kami pun berjalan menuju ke tempat dimana ia memarkir mobilnya.
"Ini sudah malam, kamu mau mengajakku ke mana?"ucapku sedikit terbata.
"Namaku Arion!"ucapnya sambil memasang seat belt pada pinggangku, saat itu kurasakan cairan keringat keluar dari keningku.
"Jangan takut padaku, aku sudah menunggu kamu selama bertahun tahun lamanya dan hari ini adalah hari dimana aku berusia dua puluh tahun dan aku harap kamu mau kan menemani aku melewati malam ini!!"ucapnya sedikit memaksa.
"Iya boleh ayo pergi!"Ucapku tiba tiba dengan suara tegas tanpa takut apapun.
Kita berdua pun pergi ke suatu tempat yang sangat indah, aku baru pertama kali melihat itu semua.
Aku merasa tenang dan nyaman, melihat keindahan alam yang terpampang di hadapan kami.
"Arion!! Tempatnya sungguh indah, aku suka tempat ini!"ucapku sambil tersenyum dan tanpa sadar aku pun memeluk erat tubuh pria tampan di hadapanku itu.
Terasa dingin menusuk sampai ke tulang tulangku.
"Kamu kedinginan Kirana,mari ku buatkan api unggun agar kamu tak kedinginan."ucapnya sambil mulai menyalakan api unggun untuk kami berdua.
Arion membuat sebuah api unggun dan kami pun duduk sambil bercerita, aku bersandar di dadanya dan tangannya memeluk pinggangku dengan sangat erat.
"Arion, maaf aku merepotkan kamu!"ucapku sambil tetap pada posisi seperti itu.
Kami berdua pun bercerita tentang kehidupan masa lalu dan masa sekarang, aku merasakan kalau ada sebuah keanehan dalam diri Arion tetapi aku tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
Hingga tengah malam aku tak tahu apa yang terjadi padaku hingga aku tertidur pulas dalam dekapan pria asing yang hangat itu.
"Kamu tidak tahu betapa aku menunggu kamu selama berabad abad Kirana, akhirnya hari ini aku menemukan dirimu, aku akan selalu protektif pada dirimu agar kamu tidak disakiti oleh siapapun."ucap Arion sambil menatap wajah cantik di hadapannya itu yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak dan sebuah kecupan dingin mendarat tepat di kening Kirana.
**
Pagi harinya Kirana bangun dengan penuh rasa gembira, ketika ia membuka matanya ia melihat Dian masih terlelap.
"Sejak kapan aku dikamar ini?Siapa yang membawaku ke kamar ini?"berbagai pertanyaan muncul dalam benakku.
"Apa yang terjadi malam tadi sungguh diluar dugaan ku!!" gumamku pada diriku sendiri.
Aku pun bergegas untuk mandi dan melakukan kegiatan seperti biasanya.
**
Malam berikutnya pun sama seperti yang aku alami, malam kemarin.
"Arion, kamu dari mana saja kenapa siang kami tak menemui diriku disini?"tanyaku dengan sedikit manja.
"Siang aku membantu ayahku, maafkan aku ya?"ucapnya sambil tersenyum tipis dan mengelus rambutku dengan penuh rasa sayang.
**
Malam berikutnya pun demikian aku selalu menghilang dari kamar bersama pria asing itu menuju tempat favorit kami, dimana Arion sangat memanjakan diriku sehingga tanpa sadar aku pun jatuh cinta pada pria itu.
Apabila aku tak melihatnya rasanya hatiku tak tenang ingin terus bersamanya, hingga tiba waktunya bagi kami untuk kembali ke kota M di mana kami harus pulang karena liburan telah usai, aku merasa sangat kehilangan aku merasa hampa tak bisa bertemu lagi dengan pria pujaaanku itu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti aku sangat tersiksa karena tidak pernah bertemu lagi dengan Arion pria yang sudah mencuti hatiku, pria itu sungguh kejam ia menyiksa aku seperti ini.
Aku berharap suatu saat ketika aku bertemu lagi dengannya aku akan buat perhitungan dengannya agar dia kapok untuk tidak meninggalkan aku lagi.
**
Suatu hari di kampus, ketika kami sedang duduk di bangku taman. Kala itu musim dingin matahari hampir saja tidak kelihatan aku duduk di samping Dian sambil menikmati semangkuk bakso untuk menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
Tiba tiba muncul seorang pria tampan memakai jas almamater kampus tempatku berkuliah, dan pria tampan itu seolah olah menatap ke arahku, bahkan semua gadis disitu memuji ketampanannya, wajah itu adalah wajah yang sangat kukenal.
Tiba tiba aku bangun dari dudukku dan berjalan menuju ke arah pria itu.
"Arion?"Panggilku lirih tapi dia mendengar suaraku.
Pria itu berbalik dan menatap wajahku sambil tersenyum.
"Kamu jahat Arion, kamu mempermainkan hatiku, kenapa kamu tidak kasih kabar sama sekali Arion?"aku bertanya dengan berbagai pertanyaan yang membuat pria itu tersenyum manis padaku.
"Kamu merindukan aku?"pria itu balik bertanya dan membuka lebar kedua tangannya.
"Aku bukan saja merindukan kamu Arion, tetapi aku sangat tersiksa dengan rindu ini, perasaan ini, aku benar benar tak ingin jauh darimu lagi Arion!"ucapku sambil melangkah mendekatinya dan memeluk pria itu dengan penuh haru dan bahagia.
"Jujur Arion aku jatuh cinta padamu!Aku tak mau kehilangan kamu lagi Arion!" ucapku sambil memeluk erat tubuh pria itu.
"Aku juga mencintaimu Kirana!"Ucap Arion sambil mendaratkan sebuah kecupan di keningku.
Lambat Laun kecupan itu berubah menjadi gigitan gigitan kecil dan tanpa terasa aku terjebak dalam kecupan itu, entah apa yang dilakukan oleh Arion aku pasrah, karena aku sudah jatuh cinta pada pria itu.
Tamat.