Megane merupakan istilah untuk orang berkacamata.
Istilah ini melekat pada benda yang melekat di sekitaran dua buah mata.
Lira merupakan gadis yang dikenal sebagai megane di kelasnya. Itu kata-kata yang diberikan oleh teman-temannya yang menyukai jejepangan. Dan Lira tidak mempermasalahkannya. Namun, setelah memberi nama megane tersebut, Lira tetap tidak mempunyai yang namanya teman. Teman, itu hanyalah kata kiasan baginya. Sebab megane di kelas itu terkesan cupu. Bahkan gaya hidupnya tidak keren layaknya anak sebaya yang senang bergaul di tempat yang menghibur. Sementara gadis megane bernama Lira ini hanyalah seorang kutubuku yang senang berdiam di perpustakaan sekolah dan hanya tempat itu saja yang selalu di kunjunginya.
Perkataan tidak gaul pun dilesatkan pada dirinya. Lira menerima apa adanya. Memang itulah kenyataan yang ada.
Di satu semester baru, Lira ingin mengunjungi perpustakaan sekolah. Akan tetapi perpustakaan sedang mengalami perbaikan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga membuat Lira tidak bisa datang kesana untuk beberapa masa.
Tanpa perpustakaan hidupnya seolah hampa.
Buku-buku yang ada di dalam ruangan itu seperti ingin di genggamnya. Namun, apalah daya. Kenyataan memanglah pahit bagi dirinya. Sekarang Lira hanya bisa membaca ulang buku yang dibawanya. Mengambil buku dari dalam tas, lalu membacanya di dalam ruang kelas. Percobaan membaca di ruang kelas pada jam istirahat tidaklah efektif. Lira akhirnya memutuskan untuk mencari tempat baru yang dirasa sepi dan tenang.
Di sebuah ujung lorong, terdapat ruangan tak terpakai dengan keadaan yang sangat berantakan. Lira memasuki ruangan yang ternyata tidak terkunci sama sekali. Setelah itu ia pun membaca buku disana. Sepi dan tidak terganggu oleh suara sedikit pun. Gadis megane itu membaca sampai jam istirahat berakhir. Setelah selesai membaca, Lira segera kembali ke kelas.
Saat memegang gagang pintu, tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan suara seseorang dari belakang.
Mendengar itu, Lira pun segera bergegas pergi karena sudah merasa ketakutan. Akan tetapi...
"Pintunya terkunci?!" Lira panik.
Berusaha membuka pintu hingga suara langkah kaki pun terdengar olehnya. Langkah kaki mulai mendekat dan dia tidak berani menoleh kebelakang karena rasa takutnya.
"Kau siapa?" tanya seseorang dari belakang.
"Aku murid sekolah ini!"
Lira masih panik ketakutan.
Kemudian sebuah tangan nenyentuh bahu dari Lira. Dan pintu pun langsung di dorong oleh Lira.
Akhirnya ia bisa keluar dari tempat itu.
Di lain hari, Lira membaca di tempat lain yang tiada orang di sekitar sana.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang menghampirinya.
"Kamu yang waktu itu kan?"
Lira memandang ke arah orang yang menghampirinya itu.
"Lari saat aku menghampirimu di ruangan yang tidak terpakai itu."
lanjutnya.
Lira baru ingat akan hal itu dan bertanya.
"Kamu kenapa bisa berada disana?"
"Aku sedang tidur disana. Kamu sendiri ngapain?"
"Aku...hanya membaca buku."
jawab Lira.
Terlihat nama yang ada di baju lelaki yang berbicara dengannya. Lira secara spontan membacanya.
"Aris"
"Kenapa kamu membacanya?"
"Eh maaf!"
Melihat gaya minta maaf Lira yang terkesan lucu tersebut, membuat lelaki bernama Aris itu tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
Lalu mereka berdua berkenalan dan berbincang selama sisa jam istirahat.
Pertemuan itu menjadikan keduanya sering bertemu di hari berikutnya. Lira mengisi waktu dengan membaca buku, serta Aris yang selalu tidur jam istirahat.
Keduanya menikmati momen tersebut.
Pada suatu hari, perpustakaan sudah dibuka kembali. Lira akhirnya bisa mengunjungi tempat itu dan bergegas pergi kesana.
Saat berjalan menuju perpustakaan, Lira berpas-pasan dengan Aris di sebuah lorong.
"Aris?"
"Lira?"
"Kamu mau kemana?"
tanya Aris.
"Mau ke perpustakaan, kalau kamu?"
balik bertanya.
"Sama."
balas Aris singkat.
"Kamu suka baca buku memangnya?"
Lira kembali bertanya.
"Kamu tahu sendiri."
jawab Aris.
Setibanya di perpustakaan, Lira mengambil buku dan duduk di sebuah kursi yang tersedia. Kemudian, ia memperhatikan gerak gerik Aris. Ternyata Lira tahu apa yang dilakukannya.
"Dia bahkan tidur disini."
Tak berapa lama, Aris menghampiri Lira dan berkata padanya.
"Aku numpang tidur di dekat sini. Jangan beritahu siapapun. Aku tidak akan mengganggumu. Janji!"
kata Aris dengan suara bisik.
"Baiklah."
Dengan mendadak, mata Lira terbuka lebar dan memperhatikan kebawah. Aris tidur di atas pangkuan pahanya dan sudah menyiapkan beberapa kursi lainnya untuk tempat kakinya.
"Terimakasih gadis megane hehe."
ucap Aris yang tertawa kecil sambil memejamkan mata.
Lira menghela nafas dan geleng-geleng kepala atas hal tersebut.
"Ada-ada saja kelakuan teman pertamaku ini."
Lira merasa sedikit senang dalam hatinya.
Mereka berdua menikmati momen itu sampai jam istirahat berakhir, seperti biasanya.
"Walau aku tidak gaul dan juga tidak punya banyak teman macam yang lainnya, tetapi masih ada orang yang mengerti akan diriku ini. Yaitu dia."
Lira menatap ke arah Aris yang sedang tidur di pangkuannya.
-----SELESAI-----