Mira melangkah mengikuti lurusnya cat pembatas jalan yang bewarna putih di bawah kakinya. Ia memandang kebawah dan memikirkan sesuatu. Sesuatu akan kehidupannya. Gadis sekolahan itu terus memikirkannya selagi berjalan menuju kediamannya.
"Impian.. Apakah aku bisa meraihnya?".
kata Mira dalam hati.
Mira terus berjalan hingga tiba di depan rumahnya.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu setelahnya.
Impian itu... Dirasa sulit bagi seorang gadis bernama Mira.
Mendungnya langit menggambarkan suasana hati seorang Mira. Di dalam kamar, ia hanya menatap keluar jendela sambil menggerutu.
Kehidupan yang di jalaninya tidaklah mulus. Bahkan ia merasa ingin mengakhirinya walau usianya masih terkesan belia.
Di hari berikutnya... ia tetap menjalani keseharian yang dirasa membosankan. Sesampainya di rumah, ia mulai memikirkan kembali impian di tengah rasa sakit yang di rasakannya.
Di sebuah taman pada sore hari, Mira duduk di ayunan seorang diri. Taman itu sedang sepi ketika ia berada disana. Gadis tersebut mulai mengayunkan ayunan secara perlahan dan gerakannya semakin cepat.
"Aku ingin meraihnya!"
Ayunan yang di dudukinya itu sudah bergerak sangat kencang. Hingga Mira lepas dari pegangan rantai pengait ayunan. Dan...
Mira menyadari bahwa dirinya tidak merasakan sakit sedikitpun, meski ia sudah lepas dari ayunan tersebut.
Gadis kecil itu berada dalam pelukan seseorang. Pakaiannya terasa lembut dan menghangatkan.
Mira coba menatap ke arah wajah orang yang memeluknya itu.
"Lain kali berhati-hatilah. Sangat berbahaya bila kamu melakukannya sekencang itu."
ujar orang asing yang tidak ia ketahui itu.
Mira memandang wajahnya yang di selipi sebuah senyuman. Senyuman akan kedamaian dilihat oleh kedua matanya.
Lalu Mira diajak duduk di ayunan, dan orang asing itu mendorong ayunan yang di duduki oleh Mira tersebut.
"Bagaimana rasanya? Menyenangkan?"
tanya orang asing itu pada Mira.
Mira hanya mengangguk sembari menatap ke depan.
Cahaya mentari sore terlihat jelas serta menyilaukan mata. Mira memutuskan untuk menyudahi bermain ayunan. Kemudian ia duduk di sebuah kursi taman bersama orang asing yang baru ditemuinya.
"Mari kita berkenalan. Namaku Karel. Lalu siapa namamu?"
"Mira."
"Salam kenal, Mira."
Orang asing bernama Karel itu berkenalan dengan Mira dan keduanya kini sudah saling mengenal.
Kebersamaan mereka berdua berlangsung cukup lama setelah perkenalan tersebut. Mira mendengar apa yang dikatakan oleh Karel. Topik pembicaraan mereka bermula dari latar belakang sekolah Mira sebagai siswi smp, hingga masuk ke pembahasan keluarga. Saat pembahasa akhir itu, Mira mulai menunjukkan apa yang dirasakan oleh hati kecilnya.
Karel menyadari hal tersebut. Lalu ia coba menenangkan Mira dengan helusan lembut ke kepalanya.
Merasa tenang dan nyaman, membuat Mira bercerita mengenai kehidupan yang di alami olehnya secara nyata.
Cerita itu di iringi dengan rasa sedih hingga meneteskan air mata. Karel mendengarkannya sampai selesai. Dan lelaki yang usianya terpaut jauh dari Mira itu langsung memeluk gadis yang ada di sebelahnya.
"Aku paham akan perasaanmu. Kamu adalah gadis yang kuat."
Setelah pertemuan itu, Mira di antar pulang oleh Karel. Dengan mengendongnya, Mira merasa terbantu dan senang berada di dekat Karel. Walau pertemuan mereka baru terjadi hari ini.
Setibanya di rumah, Mira menatap Karel dengan rasa sedikit takut. Terlihat dari matanya yang tak siap menahan sesuatu. Karel pun mengetuk pintu rumah. Dan pintu pun terbuka.
Seseorang datang dan langsung memandang ke arah Mira. Seorang wanita tua memarahi gadis yang ada disebelah Karel, dan seketika menarik lengan dari Mira.
Mendengar gadis kecil itu kesakitan, Karel dengan spontan menghalaunya. Kemudian terjadilah adu mulut antara Karel dan wanita tua itu di depan rumah.
Keributan terjadi cukup lama. Sampai pada akhirnya Mira ikut bersuara dan meluapkan isi hatinya. Karel dan wanita itu mendengar apa yang dikatakan oleh Mira. Akhirnya Mira terduduk dan menangis sejadi-jadinya.
Medengar dan melihat tangisan itu, membuat Karel harus melakukan suatu upaya untuk Mira.
Karel mengajak wanita tua tersebut untuk berbicara mengenai Mira. Pembicaraan itu cukup panjang dengan penjelasan dari Karel yang menyesuaikan perasaan dari Mira.
Akhirnya pembicaraan itu membuka hati dari si wanita tua yang merupakan tante dari gadis bernama Mira tersebut.
Mira di bujuk masuk oleh Karel, lalu pintu di tutup setelahnya. Karel berharap sesuatu yang baik akan menghampiri kehidupan Mira.
Beberapa hari..Minggu.. Dan sebulan kemudian.
Mira bertemu dengan Karel di taman secara tidak sengaja. Gadis itu tampak senang dan langsung menghampiri Karel.
"Kamu penyelamatku!"
kata Mira pada Karel.
"Penyelamat apanya?"
"Kamu membuat tanteku mengerti dan membuka hatinya. Aku turut berterimakasih atas tindakanmu waktu itu."
Mira tersenyum lebar di akhir ucapan.
"Itulah yang harus dilakukan. Aku senang akhirnya dia mengerti akan dirimu."
"Kamu sebelumnya sudah melihatnya kan? Saat pembicaraan kita waktu itu?" tanya Mira.
"Soal luka yang ada di tubuhmu?"
Karel mengingat-ngingat.
"Benar! Sekarang sudah mulai sembuh! lihat ini."
Mira menunjukkan bagian yang terdapat luka, seperti di kaki dan lengannya.
"Syukurlah. Lalu bagaimana soal impianmu?"
tanya Karel ingin tahu.
"Impianku tetap ada dan akan berkembang seiring waktu!"
"Bagus. Belajarlah dan raih itu di masa depan!"
ujar Karel sambil mengacungkan jempol.
"Iya! Doakan ya! Aku butuh orang yang berpengaruh dalam hidupku juga soalnya untuk mencapai jalan impian itu."
harap Mira pada lelaki di depan matanya.
"Tentu saja. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu."
balas Karel dengan rasa senang.
Karel dan Mira menghadap ke arah matahari secara bersama. Pancaran sinar matahari kala warna langit sore yang indah itu menjadi momen yang berkesan bagi keduanya. Mira sudah menganggap Karel sebagai kakaknya, meskipun tidak sedarah. Sedangkan Karel demikian pula, menganggap Mira sebagai adik perempuannya.
----SELESAI-----