Pagi menyambut seorang gadis berparas manis nan cantik, dia adalah Garliona Evelyn, sebut saja namanya Lio. Gadis itu terduduk di tanah yang beralas rumput dengan buku di tangan nya jelas dia sedang membaca, namun ketenangan itu pudar setelah Lio mendengar seseorang memanggil namanya.
“Lio-!!” suara serak dan berat itu membuat sang pemilik nama menoleh.
“Oh Vano? Ada apa?”
Vano? Dia adalah bestie Lio, nama lengkapnya Devano Aldebaran. Vano adalah teman sejak kecil Lio, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama sampai-sampai orang-orang di sekitarnya jika melihat mereka seperti orang pacaran.
Vano menghampiri teman perempuanya itu dan ikut duduk di sampingnya, entah kenapa saat Vano saat berada di dekat Lio dia merasa damai dan nyaman. Tanpa permisi Vano langsung saja merebahkan kepalanya di paha Lio, namun aneh bukannya Lio menghindar tetapi malah mengusap serta memainkan rambut gondrong berwarna pirang itu.
“Lio di masa depan pokoknya Lio harus jadi istri Vano.” Ucapnya yang membuat gadis bernama Lio itu tertegun.
“Heh ngomongnya, masa depan belum ada yang tau Vano. Lagian kita kan masih SMA tahun depan baru lulus lah Vano dah mikir nikah.” Jawab Lio dengan pipi merona.
Vano melihat ke arah gadis di depannya yang tersipu malu hanya bisa terkekeh geli, begitulah Lio kalo dia merasa malu wajahnya berubah menjadi merah padam dan membuat orang di hadapanya merasa gemas.
“Oh ya, kenapa kesini? Bukanya katanya Vano sibuk?”celetuk gadis berambut hitam dan berponi itu.
“Iya emang Vano sibuk, tapi lagi kesal aja ama Ara abisnya dia di ajak kerja kelompok malah kecentilan ke Vano.” Gerutu lelaki bernama Vano dengan bibir di majuin.
“Heh kok bisa gitu?”
“Ga tau lah Vano lagi sebel, Lio makan eskrim yuk Vano traktir.” Dengan senyuman penuh arti Vano mengatakan hal itu.
Gadis itu Cuma menytujui ajakan Vano, secara Lio suka dengan makanan manis apa lagi dia suka makan coklat dan eskrim. Memang tahu betul Vano dengan hal-hal yang di sukai Lio, bayangin tuh ada seseorang yang lebih mengerti diri kita. Betapa manisnya lelaki bernama Vano itu tanpa bertanya dia sudah tahu apa yang akan di pesan teman perempuannya ini, yaps eskrim rasa vanila adalah eskrim kegemaran Lio.
Setelah makan eskrim kedua orang itu pulang ke rumanya, sesampainya di rumah Lio membersihkan diri nya dan istirahat. Saat dirinya merebahkan dirinya merasa ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, ups sungguh sial lihat lah siapa yang berdiri di depan pintunya. Dengan tatapan malas Lio menatap orang itu.
“KAKAK-!!!” Dengan girang orang yang notabenenya adalah adik Laki-laki Lio melompat ke ranjang busa milik sang kakak.
Namanya Axelle Jovandra Zexyline Arvy, panggil aja kepin dia anak ke dua setelah Lio. Dia sangat manja dengan kakak nya ini bukan hanya manja terkadang dia juga sering bikin kakak nya tertekan dengan celotehan receh nya, dengan tatapan malas Lio menyambut kedatangan adiknya itu.
“Kenapa? Kak Lio mau istirahat pin.” Ujar Lio sembari merebahkan badannya lagi.
“ikh kakak, Kepin mau peluk kakak.” Dengan wajah memelas lelaki yang mempunyai nama Kepin itu memeluk kakaknya yang berbaring.
Tanpa menggubris Lio memejamkan matanya dan tertidur, sungguh betapa lelahnya dia hari ini padahal Cuma duduk seharian di taman. Saat di tengah-tengah tidur hp nya tiba-tiba berdering, Lio menggeliat dan mencari sumber suara dia meraba-raba tempat tidur kemudian menemukan benda pipih lalu menggeser tanda hijau ke atas.
“Hallo?” setengah sadar Lio menjawab telpon itu.
“Hallo! Lu dimana ngab astagfirullah udah gue tunggu dari tadi, jangan bilang lu lupa?” suara berat dari telpon tentu itu laki-laki.
Bukan Lio kalo dia tak lupa dia ada janji dengan temannya Darren buat ketemuan di Caffe, secepat kilat dia melepas pelukan dari adiknya sehingga sang empu jatuh dari kasur. “akh” Kepin menggerang dan meringis kesakitan karena bokongnya mencium lantai.
“Hiks kakak tega ama Kepin, pantat Kepin sakit.” Rengek Kepin sambil berusaha berdiri dan memegangi pantatnya yang ngilu.
“Eh eh maap maap, Kakak buru-buru.” Lio menanggapi kocar-kacir kebingungan mencari handuk buat mandi.
“Kakak mau kemana sih? Kok pergi terus.” Decak nya malas sembari cemberut.
“Ada janji ama Ren kakak lupa malah ketiduran astagfirullah.” Teriaknya dari kamar mandi.
Secepat kilat Lio mengganti pakaian dan bersiap, tanpa memperdulikan Kepin yang masih rebahan di kasurnya Lio langsung saja pergi keluar. Benar sekali sesampainya di Caffe ada dua manik yang menatapnya tajam bagaikan silet, dengan tersenyum Lio mendekati Darren yang sudah duduk dan memesan minuman.
“Sorry-sorry gue ketiduran hehe.” Lio cengengesan.
“Serius dong kita kan mau kerja kelompok weh.” Oceh Darren.
“Maap gue kecapean habis jalan-jalan ama Vano tadi.” Lio membela diri.
“Idih ama crush lu, kapan jadiannya mbak? Kalian udah gitu dari masuk SMA loh, ga kasihan Vano di gantung mulu?” Jelas Darren menasehati temannya.
“Bodo amat, udah ayok belajar!” Ajak Lio mengalihkan pembicaraan,
Sungguh lio sangat tidak suka saat dirinya di tanyai hal sensitif seperti itu, dia ada sedikit trauma dengan namanya cinta. Karena dulu dia pernah punya kekasih tapi hampir aja dia di jebak oleh pacarnya, tentu yang menyelamatkan Lio adalah Vano. Beh udah kek superhero aja kan? Memang dia memiliki kepekaan yang tinggi, mari kita kembali ke dua si joli yang sedang belajar.
Mereka beradu argumen satu sama lain dan akhirnya mendapati jalan tengah, capek? Jangan tanya, pusing? Apa lagi soal fisika yang bisa bikin siswa menjadi gila. Setelah Lio dan Darren selesai ia baru ingat adik-adik nya belum makan di rumah, jadi sebelum pulang dia membeli makanan untuk ke dua adik nya.
Sesampainya di rumah Lio langsung di serbu dengan Kepin dan Zergan, Zergan? Anak terakhir nama lengkapnya Zergan Aldebaran. Dia memiliki kepribadian yang lebih cuek dari Kepin, orang tua? Ayah mereka Revano Dastine berada di luar negeri dan setiap bulannya dia mengirim uang untuk kebutuhan Lio dan adik-adiknya setiap hari. Mama? Tentu ada dia adalah Crystal Akselia Geraldine yang sekarang sedang main entah kemana.
Begitulah kehidupan Lio harus merawat kedua adiknya, dan juga mengurus dirinya. Suatu hari ada seseorang yang pindah ke samping rumah Lio, pemuda tampan seperti artis idol. Pemuda itu bertamu di kediaman Lio. Dia begitu sopan dan murah senyum namanya Adinata Danial Ariansyah, namun satu kekurangan dia yaitu beda kepercayaan.
Lio dan Rian semakin hari semakin akrab, di tambah Rian selalu membantu Lio saat Lio terjebak dalam masalah. Contohnya sekarang Lio terlambat buat kesekolah dan akhirnya Rian yang mengantarnya, sungguh baik dia. Lio selalu berpikir akan kah dia sudah punya kekasih? Hal itu dilihat oleh Vano yang kebetulan baru datang ke sekolah.
“Siapa?” tanyanya singkat, “Dia Rian, tetangga Lio. Kenapa?”jawab Lio dengan senyuman. Namun sayang Vano hanya melenggang pergi setelah mendengar jawaban dari gadis yang ia sukai itu, Lio cukup merasa heran akan hal itu.
Sepulang sekolah Lio berpas-pasan dengan Vano di gerbang dan kebetulan Rian juga ada di depan gerbang, tentu dengan senyum terlukis di wajahnya.
“Hai Lio-!” panggilnya sembari melambaikan tangan.
“Hai juga, loh Rian kenapa ada di sini?” Tanya Lio.
“Ga papa sih kebetulan lewat, ayo pulang aku antar!” Ajak Rian.
Di sisi lain Vano begitu tidak suka melihat gadis yang ia sukai dekat dengan pria lain, seperdetik Vano meraih tangan Lio dan.....
“Lio pulang bareng gue, ayo Lio-!” Ucapnya dengan tegas.
“Eh Vano?!” Seru Lio yang kaget karena tangannya di tarik oleh Vano.
Entah apa yang ada di pikiran lelaki ini, mungkin saja cemburu? Secara mana ada pria atau wanita melihat orang yang di sukainya dekat dengan orang lain. Itulah yang sekarang ini Vano rasakan. Vano dan Lio melenggang pergi lewat depan Rian yang duduk di sepeda motornya, dengan senyum yang tidak luntur Rian melihat Vano dan Lio pergi kemudian menyusulnya.
Sesampainya di depan rumah Lio mengucapkan terimakasih pada Vano sembari mengajak vano buat masuk ke dalam. Dan lagi-lagi Rian menyapa Lio dan Vano? Tentu tidak senang, di dalam Kepin dan Zergan sedang main vidio game kesukaan mereka.
“Kak Lio pulang-!” Salam Lio yang di ikuti Vano.
“Kakak-!!!” Teriak Kepin sembari berlari mendekati kakaknya dan menerjang nya dengan pelukan, ya inilah Kepin jauh dari kakak nya hanya setengah hari saja sudah lebay. “Ciee kakak, bawa doi hahaha” ejek Kepin yang membuat Lio sangat malu, oh tuhan berilah Lio kekuatan super buat menahan malu.
“Ssssstttt-!! Diem, Vano duduk atau gak gabung aja sama mereka Lio buatin minuman sama camilan dulu.” Ujar Lio memandang Vano dan Kepin secara bergantian.
Vano yang mendengar perintah Lio segera ia meletakkan tasnya dan bergabung sama Kepin dan Zergan yang sedang asik main vidio game, sesaat setelahnya Lio kembali dengan minuman dan camilan. Dan ikut duduk sembari melihat Kepin,Zergan, dan Devano main vidio game.
“Lio-!”Panggil Vano, sang pemilik nama menatap lelaki berambut gondrong dan pirang itu.
“Kenapa van?” Tanya Lio, “Vano gak suka liat Lio ama laki-laki tadi” “Loh kenapa? Rian orang baik loh, dia juga sering bantu Lio.”jawab Lio terheran-heran.
“Intinya Vano gak suka Lio deket-deket sama dia, depan nya aja kelihatan baik tapi belum tentu belakang ikutan baik bukan?”Vano yang cemburu memberi pengrtian pada teman perempuannya itu.
Lio hanya mengangguk dan coba buat membantah pendapat Devano, tapi Lio sudah tau kalo yang namanya Devano orangnya keras kepala. Akhirnya Lio mencoba buat menjauhi lelaki yang namanya Rian itu, tetapi sama saja mau bagaimanapun ia menghindar lelaki bernama Rian itu terus saja muncul di depannya.
Hari minggu waktunya Lio beberes rumah, dia hendak menjemur bedcover tapi keberatan. Lagi-lagi Rian yang membantunya, astaga ya tuhan bagaimana bisa Lio menjauh dari lelaki yang baik dan sering membantunya ini? haruskah Lio pindah rumah?entahlah semakin Lio menghindar tapi malah sering bertemu.
“Lio-! Are you okay? Kalo keberatan biar Rian bantu.” Rian mengajukan diri, “I’m okay kok, Lio bisa sendiri hehe.” Dengan tumpukan bed cover yang menutupi wajahnya menjawab pertanyaan Rian. Tanpa permisi Rian mengambil tumpukan itu dan membawanya untuk di jemur, “gak usah gengsi minta bantuan Lio, lagian kan Lio gak hidup sendiri haha.”
Yah Lio hanya menanggapinya dengan senyum dan anggukan, “Oh ya Lio-!, Rian tau kok temen Lio yang kemarin ga suka Lio deket sama Rian.”ujarnya dengan tersenyum, mendengar hal itu Lio hanya terdiam. Ya tuhan sekarang ini ingin sekali Lio pergi jauh tapi sayangnya gak bisa, “Ehm i-itu urusan Lio sama Vano, bukan urusan Rian. Lio jadi gak enak sama Rian secara Rian selalu ada saat Lio dalam masalah.” Lio berbicara.
“Jadi sebab itu belakangan ini Lio menghindari Rian?”tanya Rian, sekarang senyum itu pudar dia bertanya dengan raut wajah yang datar.
“Ehm i-iya.” Jawabnya dengan ragu.
“Itu salah Lio-! Seharusnya gak gitu, kita tetanggaan bisa kan pake cara lain? Ga harus menghindar kaya gini?”jelas Rian memberi penjelasan pada tetangganya itu.
“Cara lain gimana? Lio jadi ngerasa serba salah, nanti kalo Lio deket sama Rian, Vano bakal nyeramahin Lio. Nanti kalo Lio ngehindar dari Rian sama aja, Lio bingung.” Sekarang di wajah Lio terukir senyuman, yang membingungkan.
Rian yang mendengar tetangganya itu hanya bisa tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, “Biarin aja mengalir semestinya, jangan menghindar nanti Rian malah jadi kepikiran juga!” Pintanya, setelah mengtakan itu dia masuk ke dalam rumahnya.
Yah memang benar kata Rian biarkan takdir yang berjalan dan kita hanya mengikuti takdir, mungkin takdir tidak bisa kita ubah tetapi kita bisa saja membuat rencana untuk kedepannya. Hari-hari terus berjalan, bagaimana dengan Lio dan Rian? Yah mereka tetap berteman akrab, Rian juga sering main dan numpang makan di rumah Lio. Sedangkan Lio dan Vano? Tentu masih sama tapi terkadang juga sering berantem hanya gara-gara Vano cemburu.